Surah Al-Qalam Ayat 8-16; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Qalam Ayat 8-16

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Qalam Ayat 8-16 ini, Allah menegaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang benar-benar sesat, dan Ia akan menjadikan mereka hina di dunia. Untuk menyatakan kehinaan mereka itu, Allah akan memberi tanda di hidung mereka seperti belalai gajah, sehingga setiap orang mengetahui keadaan mereka yang sebenarnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qalam Ayat 8-16

Surah Al-Qalam Ayat 8
فَلَا تُطِعِ ٱلۡمُكَذِّبِينَ

Terjemahan: “Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).

Tafsir Jalalain: فَلَا تُطِعِ ٱلۡمُكَذِّبِينَ (Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah.).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman, sebagaimana Kami telah menganugerahkan nikmat kepadamu dan memberimu syariat yang lurus dan akhlak yang agung, فَلَا تُطِعِ ٱلۡمُكَذِّبِينَ (“Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan.

Tafsir Kemenag: Ayat ini memerintahkan Rasulullah saw agar tetap menolak segala macam tawaran, ajakan, dan keinginan orang-orang musyrik Mekah yang tidak mau mendengarkan ayat-ayat Allah, bahkan mereka mendustakannya. Rasulullah dilarang mengikuti mereka, karena mereka berada di jalan yang sesat sedang beliau telah berada di jalan yang lurus.

Pada ayat lain, Allah berfirman: Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan. (al-An’am/6: 116).

Tafsir Quraish Shihab: Maka janganlah kamu tinggalkan sikapmu yang berbeda dengan orang-orang yang mendustakan. Mereka menginginkan agar kamu sedikit bersikap lunak terhadap mereka sehingga mereka pun akan bersikap lunak terhadapmu sebagai balasan atas sikapmu.

Surah Al-Qalam Ayat 9
وَدُّواْ لَوۡ تُدۡهِنُ فَيُدۡهِنُونَ

Terjemahan: “Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).

Tafsir Jalalain: وَدُّواْ (Mereka menginginkan) mengharapkan لَوۡ (supaya) merupakan mashdariyah تُدۡهِنُ (kamu bersikap lunak) bersikap lembut terhadap mereka فَيُدۡهِنُونَ (lalu mereka bersikap lunak) pula terhadapmu; diathafkan kepada lafal tudhinu. Seandainya dijadikan sebagai jawab dari tamanni yang tersimpulkan dari lafal wadduu, maka sebelum huruf fa diperkirakan adanya lafal hum. Yakni, seandainya kamu bersikap lunak terhadap mereka, maka mereka pun akan bersikap lunak pula terhadapmu.

Tafsir Ibnu Katsir: وَدُّواْ لَوۡ تُدۡهِنُ فَيُدۡهِنُونَ (Maka mereka menginginkan agar kamu bersikap lunak, lalu mereka bersikap lunak.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Seandainya kamu memberi keringanan kepada mereka, niscaya mereka akan memberi keringanan pula.” Mujahid mengatakan: “Mereka menginginkan agar kamu bersikap lunak, yakni engkau cenderung kepada tuhan-tuhan mereka dan meninggalkan kebenaran yang ada padamu.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang musyrik ingin agar Rasulullah mengikuti dan memenuhi permintaan, dan memperkenankan ajakan mereka agar Rasulullah bersikap lunak terhadap mereka. Jika Rasulullah dan kaum Muslimin mau bersikap lunak terhadap mereka, maka mereka akan bersikap lunak pula terhadap beliau dan kaum Muslimin.

Menurut suatu riwayat, orang-orang Quraisy pernah menawarkan kepada Rasulullah agar bersedia mengurangi kegiatan dakwahnya, dan tidak lagi mencela berhala-berhala mereka. Bahkan mereka bersedia mengikuti ajaran Nabi selama sekali waktu, asalkan setelah itu Nabi dan pengikutnya mengikuti ajaran mereka sekali waktu, begitu secara bergilir.

Ajakan ini tentu saja ditolak oleh Nabi karena tidak sesuai dengan dakwah yang dibawanya untuk meninggalkan kemusyrikan dan mengganti dengan ajaran tauhid. Ajakan ini bermula ketika Rasulullah menyampaikan agama Allah kepada orang-orang musyrik Mekah dengan terang-terangan dan penuh keberanian, walaupun pada waktu itu kaum Muslimin dalam keadaan lemah dan musuh dalam keadaan kuat.

Seluruh alasan-alasan yang dikemukakan Rasulullah yang berhubungan dengan bukti kebenaran risalahnya tidak dapat dijawab oleh orang-orang musyrik. Bahkan sebaliknya, jawaban mereka itu menunjukkan kelemahan kepercayaan yang mereka anut.

Oleh karena itu, mereka meminta Rasulullah agar bersikap lunak terhadap mereka dan menghentikan celaan-celaan beliau kepada berhala-berhala yang mereka sembah. Jika Rasulullah saw bersedia menerima tawaran itu, maka mereka bersedia pula memenuhi keinginan-keinginan beliau, seperti bersikap lunak terhadap Rasulullah saw dan kaum Muslimin.

Mereka juga bersedia ikut menyembah Allah di samping tetap dibolehkan menyembah tuhan-tuhan mereka dan melaksanakan kebiasaan nenek moyang mereka. Mereka juga bersedia mencarikan istri yang disenangi Nabi saw atau mengumpulkan harta yang diinginkannya.

Dilandasi keinginan untuk meringankan penderitaan yang sedang dialami sahabat-sahabatnya akibat siksaan yang dilakukan orang-orang musyrik, maka terlintas dalam pikiran Nabi Muhammad untuk bersikap lunak terhadap orang-orang musyrik dengan menerima sebahagian tawaran mereka.

Maka turunlah ayat ini yang memperingatkan Nabi saw agar jangan sekali-kali bersikap lunak terhadap mereka, tetapi tetap seperti biasa, yaitu mengambil sikap keras dan tegas. Ayat ini senada dengan firman Allah:

Dan sekiranya Kami tidak memperteguh (hati)mu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka. Jika demikian, tentu akan Kami rasakan kepadamu (siksaan) dua kali lipat di dunia ini dan dua kali lipat setelah mati, dan engkau (Muhammad) tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami. (al-Isra’/17: 74-75)

Jika dikaji maksud ayat ini, akan diketahui bahwa ada tujuan tertentu dari orang-orang musyrik, yang tidak boleh diketahui oleh Rasulullah, dalam mengemukakan tawaran mereka kepada beliau. Mereka ingin menipu Rasulullah saw dengan ajakan itu, dimana jika diterima, maka agama Islam yang baru disampaikan itu akan bercampur dengan unsur-unsur syirik. Akan terjadi saling mempengaruhi antara kedua macam kepercayaan itu, sehingga agama Islam tidak lagi mempunyai akidah tauhid yang murni.

Teguran Allah kepada Rasulullah saw ini juga merupakan teguran kepada seluruh kaum Muslimin, agar mereka berhati-hati dalam soal akidah. Jangan sekali-kali memasukkan ke dalam akidah Islam unsur syirik walaupun sedikit.

Tafsir Quraish Shihab: Maka janganlah kamu tinggalkan sikapmu yang berbeda dengan orang-orang yang mendustakan. Mereka menginginkan agar kamu sedikit bersikap lunak terhadap mereka sehingga mereka pun akan bersikap lunak terhadapmu sebagai balasan atas sikapmu.

Surah Al-Qalam Ayat 10
وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ

Terjemahan: “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,

Tafsir Jalalain: وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٍ (Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah) dengan cara yang batil مَّهِينٍ (lagi hina) yakni rendah.

Tafsir Ibnu Katsir: وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ (“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina.”) yang demikian itu karena pendusta dengan kelemahan dan kehinaannya sering berlindung kepada sumpah-sumpah palsu dan berani memakai nama-nama Allah Ta’ala serta menggunakannya setiap saat dan bukan pada tempatnya.

Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Kata al-maHiin berarti orang yang berdusta.” Sedangkan Mujahid mengemukakan: “Kata itu berarti yang lemah hatinya.” Adapun al-Hasan mengatakan: “Setiap orang yang suka bersumpah adalah orang yang sombong, hina, lagi lemah.”

Tafsir Kemenag: Dalam ayat-ayat ini, Allah mengingatkan dan memerintahkan Nabi Muhammad agar: 1. Tidak mengikuti keinginan orang-orang yang mudah mengucapkan sumpah, karena yang suka bersumpah itu hanyalah seorang pendusta. Sedangkan dusta itu pangkal kejahatan dan sumber segala macam perbuatan maksiat.

Oleh karena itu pula, agama Islam menyatakan bahwa dusta itu salah satu dari tanda-tanda orang munafik. Nabi Muhammad bersabda, sebagaimana diriwayatkan al-Bukhari:Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara, ia berdusta, jika dipercaya, ia khianat, dan jika berjanji, ia tidak menepati janjinya. (Riwayat al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidhi, dan an-Nasa’i dari Abu Hurairah)

Orang yang suka bersumpah adalah orang yang tidak baik. Orang yang tidak baik pikiran dan maksudnya kepada orang lain menyangka bahwa orang lain demikian pula kepadanya. Oleh karena itu, untuk meyakinkan orang lain akan kebenaran dirinya, ia pun bersumpah.

1. Tidak mengikuti orang yang berpikiran hina dan menyesatkan, seperti ajakan mengikuti agama mereka dalam beberapa hal. 2. Tidak mengikuti orang yang selalu mencela orang lain, dan menyebut-nyebut keburukan orang lain baik secara langsung atau tidak. 3. Tidak mengikuti orang-orang yang suka memfitnah seperti mempengaruhi orang agar tidak senang kepada seseorang yang lain, dan berusaha menimbulkan kekacauan.

Baca Juga:  Surah Al-Qalam Ayat 42-47; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Allah menyatakan bahwa fitnah dengan pengertian kekacauan itu lebih besar akibatnya dari pembunuhan. Dan bunuhlah mereka di mana kamu temui mereka, dan usirlah mereka dari mana mereka telah mengusir kamu. Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. (al-Baqarah/2: 191)

1. Tidak mengikuti orang-orang yang suka melarang perbuatan baik dan menghalangi orang lain berbuat kebaikan atau dia sendiri tidak suka berbuat baik. 2. Tidak mengikuti orang yang biasa mengerjakan perbuatan yang melampaui batas, seperti orang-orang yang suka melanggar perintah Allah dan tidak menghentikan perbuatan-perbuatan yang dilarang-Nya. Allah berfirman:

Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar batas-batas hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di dalamnya dan dia akan mendapat azab yang menghinakan. (an-Nisa’/4: 14) 1. Tidak mengikuti orang-orang yang biasa mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat karena ia adalah orang yang tidak mempunyai harga diri dan akhlak yang baik.

Perbuatan dosa itu akan menghilangkan harga diri dan bertentangan dengan akhlak yang mulia. Allah tidak menyukai orang-orang yang suka mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa. Dia berfirman: Dan janganlah kamu berdebat untuk (membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat dan bergelimang dosa. (an-Nisa’/4: 107)

1. Tidak mengikuti orang-orang yang suka berbuat kejam dan tidak mempunyai sifat belas kasihan. Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, sifat kejam dan tidak mempunyai rasa belas kasihan berlawanan dengan sifat-sifat Allah.

Salah satu sebab agama Islam tersiar dengan cepat di Jazirah Arab ialah karena sikap Nabi Muhammad yang lemah-lembut. Seandainya ia bersikap kasar dan kejam, niscaya orang akan menghindarinya. Allah berfirman:

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. (Ali ‘Imran/3: 159) 1.

Tidak mengikuti orang-orang yang tidak diketahui asal-usulnya, yaitu: 1. Orang-orang yang tidak diketahui keadaannya, dari mana asalnya, apa pekerjaannya, bagaimana budi pekertinya, dan sebagainya. 2. Orang yang tidak diketahui asal usulnya dan tidak jelas maksud dan tujuannya serta apa motif yang ada di balik ajakannya.

Tafsir Quraish Shihab: Jangan tinggalkan sikapmu yang berbeda dengan setiap orang yang banyak bersumpah, hina, banyak mencela, suka menebar isu yang dapat memecah belah masyarakat, banyak menghalangi perbuatan baik, melampaui batas lagi banyak dosa, keras hati dan kasar serta terkenal dengan kejahatannya, melebihi sifat-sifatnya yang tercela itu.

Surah Al-Qalam Ayat 11
هَمَّازٍ مَّشَّآءٍۢ بِنَمِيمٍ

Terjemahan: “yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,

Tafsir Jalalain: هَمَّازٍ (Yang banyak mencela) atau sering mengumpat َّشَّآءٍۢ بِنَمِيمٍ (yang kian ke mari menghambur fitnah) yakni berjalan ke sana dan ke mari di antara orang-orang dengan maksud merusak mereka, yakni menghasut mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: هَمَّازٍ Ibnu ‘Abbas dan Qatadah mengatakan: “Yakni, orang yang suka berbuat ghibah.” مَّشَّآءٍۢ بِنَمِيمٍ (“Yang kian kemari menghamburkan fitnah.”) yakni yang berjalan di tengah-tengah umat manusia serta memprofokasi mereka serta menyebarluaskan pembicaraan untuk mengaburkan yang sudah jelas. Dan telah ditegaskan di dalam kitab ash-shahihain, dari hadits Mujahid dari Thawus, dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata:

“Rasulullah saw. pernah melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda: “Kedua orang [yang berada dalam kuburan] ini sedang diadzab. Keduanya tidak diadzab karena dosa besar.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat-ayat ini, Allah mengingatkan dan memerintahkan Nabi Muhammad agar: 1. Tidak mengikuti keinginan orang-orang yang mudah mengucapkan sumpah, karena yang suka bersumpah itu hanyalah seorang pendusta. Sedangkan dusta itu pangkal kejahatan dan sumber segala macam perbuatan maksiat.

Oleh karena itu pula, agama Islam menyatakan bahwa dusta itu salah satu dari tanda-tanda orang munafik. Nabi Muhammad bersabda, sebagaimana diriwayatkan al-Bukhari:Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara, ia berdusta, jika dipercaya, ia khianat, dan jika berjanji, ia tidak menepati janjinya. (Riwayat al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidhi, dan an-Nasa’i dari Abu Hurairah)

Orang yang suka bersumpah adalah orang yang tidak baik. Orang yang tidak baik pikiran dan maksudnya kepada orang lain menyangka bahwa orang lain demikian pula kepadanya. Oleh karena itu, untuk meyakinkan orang lain akan kebenaran dirinya, ia pun bersumpah. 1. Tidak mengikuti orang yang berpikiran hina dan menyesatkan, seperti ajakan mengikuti agama mereka dalam beberapa hal.

1. Tidak mengikuti orang yang selalu mencela orang lain, dan menyebut-nyebut keburukan orang lain baik secara langsung atau tidak. 2. Tidak mengikuti orang-orang yang suka memfitnah seperti mempengaruhi orang agar tidak senang kepada seseorang yang lain, dan berusaha menimbulkan kekacauan.

Allah menyatakan bahwa fitnah dengan pengertian kekacauan itu lebih besar akibatnya dari pembunuhan. Dan bunuhlah mereka di mana kamu temui mereka, dan usirlah mereka dari mana mereka telah mengusir kamu. Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. (al-Baqarah/2: 191)

1. Tidak mengikuti orang-orang yang suka melarang perbuatan baik dan menghalangi orang lain berbuat kebaikan atau dia sendiri tidak suka berbuat baik. 2. Tidak mengikuti orang yang biasa mengerjakan perbuatan yang melampaui batas, seperti orang-orang yang suka melanggar perintah Allah dan tidak menghentikan perbuatan-perbuatan yang dilarang-Nya. Allah berfirman:

Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar batas-batas hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di dalamnya dan dia akan mendapat azab yang menghinakan. (an-Nisa’/4: 14) 1. Tidak mengikuti orang-orang yang biasa mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat karena ia adalah orang yang tidak mempunyai harga diri dan akhlak yang baik.

Perbuatan dosa itu akan menghilangkan harga diri dan bertentangan dengan akhlak yang mulia. Allah tidak menyukai orang-orang yang suka mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa. Dia berfirman: Dan janganlah kamu berdebat untuk (membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat dan bergelimang dosa. (an-Nisa’/4: 107)

1. Tidak mengikuti orang-orang yang suka berbuat kejam dan tidak mempunyai sifat belas kasihan. Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, sifat kejam dan tidak mempunyai rasa belas kasihan berlawanan dengan sifat-sifat Allah.

Salah satu sebab agama Islam tersiar dengan cepat di Jazirah Arab ialah karena sikap Nabi Muhammad yang lemah-lembut. Seandainya ia bersikap kasar dan kejam, niscaya orang akan menghindarinya. Allah berfirman:

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. (Ali ‘Imran/3: 159) 1.

Tidak mengikuti orang-orang yang tidak diketahui asal-usulnya, yaitu: 1. Orang-orang yang tidak diketahui keadaannya, dari mana asalnya, apa pekerjaannya, bagaimana budi pekertinya, dan sebagainya. 2. Orang yang tidak diketahui asal usulnya dan tidak jelas maksud dan tujuannya serta apa motif yang ada di balik ajakannya.

Tafsir Quraish Shihab: Jangan tinggalkan sikapmu yang berbeda dengan setiap orang yang banyak bersumpah, hina, banyak mencela, suka menebar isu yang dapat memecah belah masyarakat, banyak menghalangi perbuatan baik, melampaui batas lagi banyak dosa, keras hati dan kasar serta terkenal dengan kejahatannya, melebihi sifat-sifatnya yang tercela itu.

Surah Al-Qalam Ayat 12
مَّنَّاعٍ لِّلۡخَيۡرِ مُعۡتَدٍ أَثِيمٍ

Terjemahan: “yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa,

Tafsir Jalalain: مَّنَّاعٍ لِّلۡخَيۡرِ (Yang banyak menghalangi perbuatan baik) artinya sangat kikir tidak mau membelanjakan hartanya kepada hak-hak yang diwajibkan atas dirinya مُعۡتَدٍ (yang melampaui batas) sangat aniaya أَثِيمٍ (lagi banyak dosa) banyak melakukan perbuatan dosa.

Tafsir Ibnu Katsir: مَّنَّاعٍ لِّلۡخَيۡرِ مُعۡتَدٍ أَثِيمٍ (“Yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa.”) yakni menolak memberikan kebaikan yang dimiliki dan yang ada padanya. Mu’tadin (“Yang melampaui batas.”) dalam mengambil apa yang dihalalkan Allah baginya, dimana dia melanggar batas yang ditetapkan syariat. Atsiim (“Lagi banyak dosa.”) yakni dalam melakukan berbagai hal yang haram.

Baca Juga:  Surah Yusuf Ayat 93-95; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Tafsir Kemenag: Dalam ayat-ayat ini, Allah mengingatkan dan memerintahkan Nabi Muhammad agar: 1. Tidak mengikuti keinginan orang-orang yang mudah mengucapkan sumpah, karena yang suka bersumpah itu hanyalah seorang pendusta. Sedangkan dusta itu pangkal kejahatan dan sumber segala macam perbuatan maksiat.

Oleh karena itu pula, agama Islam menyatakan bahwa dusta itu salah satu dari tanda-tanda orang munafik. Nabi Muhammad bersabda, sebagaimana diriwayatkan al-Bukhari:Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara, ia berdusta, jika dipercaya, ia khianat, dan jika berjanji, ia tidak menepati janjinya. (Riwayat al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidhi, dan an-Nasa’i dari Abu Hurairah)

Orang yang suka bersumpah adalah orang yang tidak baik. Orang yang tidak baik pikiran dan maksudnya kepada orang lain menyangka bahwa orang lain demikian pula kepadanya. Oleh karena itu, untuk meyakinkan orang lain akan kebenaran dirinya, ia pun bersumpah. 1. Tidak mengikuti orang yang berpikiran hina dan menyesatkan, seperti ajakan mengikuti agama mereka dalam beberapa hal.

1. Tidak mengikuti orang yang selalu mencela orang lain, dan menyebut-nyebut keburukan orang lain baik secara langsung atau tidak. 2. Tidak mengikuti orang-orang yang suka memfitnah seperti mempengaruhi orang agar tidak senang kepada seseorang yang lain, dan berusaha menimbulkan kekacauan.

Allah menyatakan bahwa fitnah dengan pengertian kekacauan itu lebih besar akibatnya dari pembunuhan. Dan bunuhlah mereka di mana kamu temui mereka, dan usirlah mereka dari mana mereka telah mengusir kamu. Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. (al-Baqarah/2: 191)

1. Tidak mengikuti orang-orang yang suka melarang perbuatan baik dan menghalangi orang lain berbuat kebaikan atau dia sendiri tidak suka berbuat baik. 2. Tidak mengikuti orang yang biasa mengerjakan perbuatan yang melampaui batas, seperti orang-orang yang suka melanggar perintah Allah dan tidak menghentikan perbuatan-perbuatan yang dilarang-Nya. Allah berfirman:

Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar batas-batas hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di dalamnya dan dia akan mendapat azab yang menghinakan. (an-Nisa’/4: 14) 1. Tidak mengikuti orang-orang yang biasa mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat karena ia adalah orang yang tidak mempunyai harga diri dan akhlak yang baik.

Perbuatan dosa itu akan menghilangkan harga diri dan bertentangan dengan akhlak yang mulia. Allah tidak menyukai orang-orang yang suka mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa. Dia berfirman: Dan janganlah kamu berdebat untuk (membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat dan bergelimang dosa. (an-Nisa’/4: 107)

1. Tidak mengikuti orang-orang yang suka berbuat kejam dan tidak mempunyai sifat belas kasihan. Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, sifat kejam dan tidak mempunyai rasa belas kasihan berlawanan dengan sifat-sifat Allah.

Salah satu sebab agama Islam tersiar dengan cepat di Jazirah Arab ialah karena sikap Nabi Muhammad yang lemah-lembut. Seandainya ia bersikap kasar dan kejam, niscaya orang akan menghindarinya. Allah berfirman:

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. (Ali ‘Imran/3: 159) 1.

Tidak mengikuti orang-orang yang tidak diketahui asal-usulnya, yaitu: 1. Orang-orang yang tidak diketahui keadaannya, dari mana asalnya, apa pekerjaannya, bagaimana budi pekertinya, dan sebagainya. 2. Orang yang tidak diketahui asal usulnya dan tidak jelas maksud dan tujuannya serta apa motif yang ada di balik ajakannya.

Tafsir Quraish Shihab: Jangan tinggalkan sikapmu yang berbeda dengan setiap orang yang banyak bersumpah, hina, banyak mencela, suka menebar isu yang dapat memecah belah masyarakat, banyak menghalangi perbuatan baik, melampaui batas lagi banyak dosa, keras hati dan kasar serta terkenal dengan kejahatannya, melebihi sifat-sifatnya yang tercela itu.

Surah Al-Qalam Ayat 13
عُتُلٍّۢ بَعۡدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ

Terjemahan:”yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya,

Tafsir Jalalain: عُتُلٍّۢ (Yang kaku kasar) wataknya kaku lagi kasar بَعۡدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ (selain dari itu, yang terkenal kejahatannya) dia adalah seseorang yang dianggap sebagai orang Quraisy, padahal dia bukan dari kalangan mereka, yaitu Walid bin Mughirah. Ayahnya menjulukinya sebagai orang Quraisy setelah ia berumur delapan belas tahun.

Ibnu Abbas r.a. mengatakan, bahwa kami belum pernah mengetahui, bahwa Allah swt. menyifati seseorang dengan sifat-sifat yang tercela sebagaimana yang telah dilakukan-Nya terhadap Walid, sehingga keaiban itu tetap menempel pada diri Walid untuk selama-lamanya. Dan bertaalluq kepada lafal zaniim, zharaf yang terdapat pada sebelumnya.

Tafsir Ibnu Katsir: عُتُلٍّۢ بَعۡدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ (“Yang kaku kasar, selain dari itu yang terkenal kejahatannya.”) kata al-‘utull berarti kata-kata kasar. Dan makna yang benar adalah yang suka mengumpulkan lagi sangat kikir. Imam Ahmad meriwayatkan dari Haritsah bin Wahb, dia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: “Maukah kalian aku bertahu tentang penghuni surga. Setiap orang lemah lagi rendah hati. Yang jika bersumpah dengan nama Allah, niscaya dia akan menepatinya. Dan maukah kalian aku beritahu tentang penghuni neraka. yaitu setiap orang yang kasar, keras, lagi sombong.”

Tafsir Kemenag: Dalam ayat-ayat ini, Allah mengingatkan dan memerintahkan Nabi Muhammad agar: 1. Tidak mengikuti keinginan orang-orang yang mudah mengucapkan sumpah, karena yang suka bersumpah itu hanyalah seorang pendusta. Sedangkan dusta itu pangkal kejahatan dan sumber segala macam perbuatan maksiat.

Oleh karena itu pula, agama Islam menyatakan bahwa dusta itu salah satu dari tanda-tanda orang munafik. Nabi Muhammad bersabda, sebagaimana diriwayatkan al-Bukhari:Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara, ia berdusta, jika dipercaya, ia khianat, dan jika berjanji, ia tidak menepati janjinya. (Riwayat al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidhi, dan an-Nasa’i dari Abu Hurairah)

Orang yang suka bersumpah adalah orang yang tidak baik. Orang yang tidak baik pikiran dan maksudnya kepada orang lain menyangka bahwa orang lain demikian pula kepadanya. Oleh karena itu, untuk meyakinkan orang lain akan kebenaran dirinya, ia pun bersumpah. 1. Tidak mengikuti orang yang berpikiran hina dan menyesatkan, seperti ajakan mengikuti agama mereka dalam beberapa hal.

1. Tidak mengikuti orang yang selalu mencela orang lain, dan menyebut-nyebut keburukan orang lain baik secara langsung atau tidak. 2. Tidak mengikuti orang-orang yang suka memfitnah seperti mempengaruhi orang agar tidak senang kepada seseorang yang lain, dan berusaha menimbulkan kekacauan.

Allah menyatakan bahwa fitnah dengan pengertian kekacauan itu lebih besar akibatnya dari pembunuhan. Dan bunuhlah mereka di mana kamu temui mereka, dan usirlah mereka dari mana mereka telah mengusir kamu. Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. (al-Baqarah/2: 191)

1. Tidak mengikuti orang-orang yang suka melarang perbuatan baik dan menghalangi orang lain berbuat kebaikan atau dia sendiri tidak suka berbuat baik. 2. Tidak mengikuti orang yang biasa mengerjakan perbuatan yang melampaui batas, seperti orang-orang yang suka melanggar perintah Allah dan tidak menghentikan perbuatan-perbuatan yang dilarang-Nya. Allah berfirman:

Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar batas-batas hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di dalamnya dan dia akan mendapat azab yang menghinakan. (an-Nisa’/4: 14) 1. Tidak mengikuti orang-orang yang biasa mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat karena ia adalah orang yang tidak mempunyai harga diri dan akhlak yang baik.

Perbuatan dosa itu akan menghilangkan harga diri dan bertentangan dengan akhlak yang mulia. Allah tidak menyukai orang-orang yang suka mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa. Dia berfirman: Dan janganlah kamu berdebat untuk (membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat dan bergelimang dosa. (an-Nisa’/4: 107)

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 77-79; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

1. Tidak mengikuti orang-orang yang suka berbuat kejam dan tidak mempunyai sifat belas kasihan. Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, sifat kejam dan tidak mempunyai rasa belas kasihan berlawanan dengan sifat-sifat Allah.

Salah satu sebab agama Islam tersiar dengan cepat di Jazirah Arab ialah karena sikap Nabi Muhammad yang lemah-lembut. Seandainya ia bersikap kasar dan kejam, niscaya orang akan menghindarinya. Allah berfirman:

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. (Ali ‘Imran/3: 159) 1.

Tidak mengikuti orang-orang yang tidak diketahui asal-usulnya, yaitu: 1. Orang-orang yang tidak diketahui keadaannya, dari mana asalnya, apa pekerjaannya, bagaimana budi pekertinya, dan sebagainya. 2. Orang yang tidak diketahui asal usulnya dan tidak jelas maksud dan tujuannya serta apa motif yang ada di balik ajakannya.

Tafsir Quraish Shihab: Jangan tinggalkan sikapmu yang berbeda dengan setiap orang yang banyak bersumpah, hina, banyak mencela, suka menebar isu yang dapat memecah belah masyarakat, banyak menghalangi perbuatan baik, melampaui batas lagi banyak dosa, keras hati dan kasar serta terkenal dengan kejahatannya, melebihi sifat-sifatnya yang tercela itu.

Surah Al-Qalam Ayat 14
أَن كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَ

Terjemahan: “karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak.

Tafsir Jalalain: أَن كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَ (Karena dia mempunyai banyak harta dan anak) bentuk asalnya adalah lian, dan bertaalluq kepada makna yang menunjukkan terhadap pengertiannya.

Tafsir Ibnu Katsir: Pendapat mengenai hal ini cukup banyak, yang semuanya merujuk kepada apa yang telah dikatakan, bahwa az-zaniim adalah yang terkenal dengan kejahatannya yang dengannya dia dapat dikenali di tengah-tengah masyarakat. Dan seringkali dipanggil dengan sebutan anak zina.

أَن كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَ ( “karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak )

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah memperingatkan Nabi Muhammad dan kaum Muslimin agar sekali-kali tidak mengikuti orang-orang yang mempunyai sifat-sifat di atas, sekalipun ia mempunyai harta yang banyak, kedudukan yang tinggi, kekuasaan yang besar, atau ia merasakan suatu kenikmatan dan kesenangan duniawi yang sifatnya sementara saja. Semua itu tidak akan ada manfaatnya di sisi Allah pada hari Kiamat.

Allah berfirman: Biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang yang Aku sendiri telah menciptakannya, dan Aku beri kekayaan yang melimpah, dan anak-anak yang selalu bersamanya, dan Aku beri kelapangan (hidup) seluas-luasnya. Kemudian dia ingin sekali agar Aku menambahnya. Tidak bisa! Sesungguhnya dia telah menentang ayat-ayat Kami (Al-Qur’an). Aku akan membebaninya dengan pendakian yang memayahkan.

Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan?, Sekali lagi, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian dia (merenung) memikirkan, lalu berwajah masam dan cemberut, kemudian berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri. (al-Muddatstsir/74: 11-23) .

Tafsir Quraish Shihab: Karena ia merasa mempunyai banyak harta dan anak, tetapi ia mendustakan ayat-ayat Kami dan menolak untuk menerimanya. Apabila dibacakan al-Qur’ân, ia berkata, “Ini adalah kisah-kisah dongeng umat terdahulu.”

Surah Al-Qalam Ayat 15
إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ

Terjemahan: “Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala”.

Tafsir Jalalain: إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا (Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami) yakni Alquran قَالَ (ia berkata) bahwa Alquran itu أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ (dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.”) Yaitu hanyalah kedustaan yang sengaja dibuat-buat guna menyenangkan hati kami sewaktu ia disebutkan atau diceritakan. Menurut suatu qiraat ada lafal a-an dengan memakai dua huruf Hamzah yang kedua-duanya difathahkan.

Tafsir Ibnu Katsir: إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ (“Karena dia mempunyai [banyak] harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: ‘[Ini adalah] dongeng-dongeng orang-orang dahulu kala.”) Allah Ta’ala berfirman:

“Ini sebagai balasan atas apa yang dikaruniakan Allah kepadanya berupa kekayaan dan anak, yaitu kufur terhadap ayat-ayat Allah serta berpaling darinya dan mengklaim bahwa ayat-ayat tersebut hanya dusta belaka, dan diambil dari dongeng orang-orang terdahulu.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa bila orang-orang musyrik Mekah mendengarkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an, mereka mengatakan Al-Qur’an itu tidak lain adalah perkataan Muhammad saja dan berisi dongeng-dongeng orang dahulu kala, sama sekali bukan wahyu yang disampaikan Allah kepadanya. Dalam ayat lain, Allah berfirman:

Lalu dia berkata, “(Al-Qur’an) ini hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Ini hanyalah perkataan manusia.” (al-Muddatstsir/74: 24-25) Di samping, orang-orang musyrik juga mengatakan bahwa Al-Qur’an itu adalah sihir yang dikemukakan seorang tukang sihir dan sebagainya.

Akan tetapi, dari semua tuduhan yang mereka lontarkan itu, dapat dipahami bahwa mereka melakukan hal demikian semata-mata karena telah kehilangan akal mencari alasan yang dapat dikemukakan untuk membantah kebenaran Al-Qur’an. Setiap kali mereka merenungkannya, semakin timbul kepercayaan dalam hati mereka kepada Al-Qur’an. Namun demikian, nafsu mereka masih mengalahkan kebenaran yang telah timbul dalam lubuk hati mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Karena ia merasa mempunyai banyak harta dan anak, tetapi ia mendustakan ayat-ayat Kami dan menolak untuk menerimanya. Apabila dibacakan al-Qur’ân, ia berkata, “Ini adalah kisah-kisah dongeng umat terdahulu.”

Surah Al-Qalam Ayat 16
سَنَسِمُهُۥ عَلَى ٱلۡخُرۡطُومِ

Terjemahan: “Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya).

Tafsir Jalalain: سَنَسِمُهُۥ عَلَى ٱلۡخُرۡطُومِ (Kelak akan Kami beri tanda dia di belalainya) Kami akan menjadikan tanda pada hidungnya, yang menyebabkannya cacat seumur hidup. Maka dia terpotong-potong hidungnya ketika perang Badar.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan disini Allah berfirman: سَنَسِمُهُۥ عَلَى ٱلۡخُرۡطُومِ (“Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai[nya].”) Ibnu Jarir mengatakan: “Kelak Kami [Allah] akan menjelaskan secara gamblang sehingga mereka benar-benar mengetahuinya dan tidak ada sedikitpun yang tersembunyi dari mereka, sebagaimana tidak ada yang Kami sembunyikan dari mereka tanda yang ada pada belalai.

Demikian pula yang disampaikan oleh Qatadah, sanasimuHuu ‘alal khurthuum (“Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai[nya].”) keburukan yang tidak bisa ditinggalkan oleh akhir dari apa yang dialaminya. Dan dalam sebuah riwayat darinya, yaitu tanda pada hidungnya. Al-‘Aufi menceritakan dari Ibnu ‘Abbas:

سَنَسِمُهُۥ عَلَى ٱلۡخُرۡطُومِ (“Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai[nya].”) yakni akan diperangi pada peperangan Badar, hingga akhirnya dia pun ditebas pedang dalam peperangan tersebut.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah menegaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang benar-benar sesat, dan Ia akan menjadikan mereka hina di dunia. Untuk menyatakan kehinaan mereka itu, Allah akan memberi tanda di hidung mereka seperti belalai gajah, sehingga setiap orang mengetahui keadaan mereka yang sebenarnya. Maksud memberi tanda di hidung mereka ialah agar semua orang mengetahui bahwa mereka adalah orang jahat dan banyak dosa, sehingga mudah dikenali.

Tafsir Quraish Shihab: Kami akan menjadikan tanda di hidung yang selalu menyertainya agar tanda itu dapat mempermalukannya di depan orang.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Qalam Ayat 8-16 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S