Surah Al-Qashash Ayat 76-77; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Qashash Ayat 76-77

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Qashash Ayat 76-77 ini, menerangkan bahwa Karun termasuk kaum Nabi Musa, dan masih terhitung salah seorang pamannya. Karun juga mempunyai nama lain, yaitu “al-Munawar” (bercahaya) karena wajahnya yang tampan. Ia paling banyak membaca kitab Taurat di antara teman-temannya dari Bani Israil, hanya dia munafik seperti halnya Samiri. Ia berlaku aniaya dan sombong terhadap sesama Bani Israil.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah menerangkan empat macam nasihat dan petunjuk yang ditujukan kepada Karun oleh kaumnya. Orang yang mengamalkan nasihat dan petunjuk itu akan memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qashash Ayat 76-77

Surah Al-Qashash Ayat 76
إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

Terjemahan: Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”.

Tafsir Jalalain: إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَى (Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa) dia adalah saudara sepupu Nabi Musa sendiri, yaitu anak saudara lelaki ayah Nabi Musa yang kawin dengan saudara perempuan ibu Nabi Musa, dan Karun beriman kepada Nabi Musa فَبَغَى عَلَيْهِمْ (maka ia berlaku aniaya terhadap mereka) yaitu bersifat takabur; sombong dan merasa paling banyak hartanya.

وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ (dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul) terasa berat apabila dipikul بِالْعُصْبَةِ (oleh sejumlah) segolongan أُولِي (orang-orang yang mempunyai) yang memiliki الْقُوَّةِ (kekuatan) maksudnya, kunci-kunci itu sangat berat dirasakan oleh mereka.

Huruf Ba yang ada pada lafal Bil ‘ushbah berfungsi untuk Ta’diyah. Menurut suatu pendapat dikatakan, bahwa jumlah mereka ada tujuh puluh orang; dan menurut pendapat yang lain dikatakan bahwa jumlah mereka ada empat puluh orang, sedangkan menurut yang lainnya lagi berjumlah sepuluh orang, dan menurut yang lainnya lagi selain dari itu.

Ingatlah إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ (ketika kaumnya berkata kepadanya) yaitu orang-orang yang beriman dari kalangan kaum Bani Israel berkata kepada Karun لَا تَفْرَحْ (“Janganlah kamu bangga) dan sombong karena memiliki banyak harta, إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ (sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”) dengan harta yang dimilikinya.

Tafsir Ibnu Katsir: Al-a’masy berkata dari al-Minhal bin ‘Amr dari Sa’id bin Jubair, bahwa Ibnu ‘Abbas berkata: إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَى (“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa.”) dia adalah anak pamannya.

Demikian pula yang dikatakan oleh Ibrahim an-Nakha’i, ‘Abdullah bin al-Harits bin Naufal, Simak bin Harb, Qatadah, Malik bin Dinar, Ibnu Juraij dan selain mereka, bahwa Qarun adalah anak dari pamannya Musa as.
Ibnu Juraij berkata: “Dia adalah Qarun bin Yash-hab bin Qahits. Dan Musa [adalah] bin ‘Imraan bin Qahits.”

Baca Juga:  Kontroversi dalam Memahami Seberapa Penting Asbabun Nuzul Al-Quran

Ibnu Juraij dan kebanyakan ahli ilmu berkata: “Bahwa Qarun adalah anak dari pamannya Musa.” wallaaHu a’lam.

Firman-Nya: وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ (“dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan.”) yaitu harta benda, مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ (“Yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.”) yaitu kunci-kunci itu berat sekali karena begitu banyaknya yang dibawa oleh sejumlah orang.

Al-A’masy berkata dari Khaitsamah: “Kunci-kunci perbendaharaan Qarun terbuat dari kulit. Setiap satu kunci seperti satu buah jari dan setiap satu kunci berada di sebuah kotak penyimpanannya.” Wallaahu a’lam.

Firman-Nya: إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ (“ketika kaumnya berkata kepadanya: ‘Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.’”) yaitu orang-orang shalih dari kaumnya menasehatinya. Maka mereka berkata dengan memberikan nasehat:

“Janganlah engkau terlalu bangga dengan apa yang engkau miliki.” Yang mereka maksudkan adalah, janganlah engkau sombong dengan harta yang engkau miliki.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ (“sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.”)

ibnu ‘Abbas berkata: “Yaitu orang-orang yang sombong.” Sedangkan Mujahid berkata: “Yaitu orang-orang yang sombong dan angkuh, tidak bersyukur kepada Allah atas karunia yang diberikan-Nya kepada mereka.”

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa Karun termasuk kaum Nabi Musa, dan masih terhitung salah seorang pamannya. Karun juga mempunyai nama lain, yaitu “al-Munawar” (bercahaya) karena wajahnya yang tampan. Ia paling banyak membaca kitab Taurat di antara teman-temannya dari Bani Israil, hanya dia munafik seperti halnya Samiri. Ia berlaku aniaya dan sombong terhadap sesama Bani Israil.

Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahateliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat. (asy-Syura/42: 27)

Kekayaan melimpah ruah dan perbendaharaan harta yang banyak yang diberikan Allah kepadanya, sehingga kunci-kunci tidak sanggup dipikul oleh sejumlah orang-orang yang kuat karena beratnya, menyebabkan ia sangat bangga, berlaku aniaya, dan sombong terhadap sesamanya serta memandang remeh dan hina mereka. Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa kunci-kunci perbendaharaan harta Karun dapat dibawa oleh empat puluh laki-laki yang kuat.

Sekalipun ia diperingatkan oleh kaumnya agar jangan terlalu membanggakan hartanya yang berlimpah-limpah dan kekayaan yang bertumpuk-tumpuk itu, karena Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri, tetapi ia tidak menggubrisnya sama sekali. Ia tetap bangga dan menyombongkan diri. Peringatan dan larangan terlalu gembira dan bangga atas pemberian Allah itu ditegaskan juga dalam ayat lain, sebagaimana firman Nya:

Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri. (al-hadid/57: 23)

Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. (an-Nisa’/4: 36).

Baca Juga:  Surah Al-Qashash Ayat 78; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Surat ini menyebutkan kisah Qârûn. Ia adalah salah seorang kaum Mûsâ yang bersikap sombong kepada mereka dengan diri dan hartanya. Allah telah memberikan kekayaan yang melimpah kepadanya. Jumlah kuncinya sangat banyak, sehingga terasa sangat berat untuk dibawa oleh sejumlah laki-laki yang kuat sekalipun.

Dan ketika ia tertipu oleh nikmat Allah yang dikaruniakan kepadanya dengan mengingkarinya, kaumnya menasihatinya dengan berkata, “Janganlah kamu tertipu dengan harta bendamu, dan jangan sampai kegembiraan dengan harta benda itu melupakanmu dari bersyukur kepada Allah.

Sesungguhnya Allah tidak berkenan terhadap orang-orang yang sombong dan terpedaya oleh harta benda.” Pelajaran yang dapat diambil dari kisah ini adalah bahwa orang-orang yang kafir kepada Muhammad saw. telah tertipu oleh harta mereka. Padahal, seperti dijelaskan al-Qur’ân, harta benda mereka sangat sedikit jika dibandingkan dengan harta Qârûn.

Surah Al-Qashash Ayat 77
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Terjemahan: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Tafsir Jalalain: وَابْتَغِ (Dan carilah) upayakanlah فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ (pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kalian) berupa harta benda الدَّارَ الْآخِرَةَ (kebahagiaan negeri akhirat) seumpamanya kamu menafkahkannya di jalan ketaatan kepada Allah وَلَا تَنسَ (dan janganlah kamu melupakan) jangan kamu lupa نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا (bagianmu dari kenikmatan duniawi) yakni hendaknya kamu beramal dengannya untuk mencapai pahala di akhirat.

وَأَحْسِن (dan berbuat baiklah) kepada orang-orang dengan bersedekah kepada mereka كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ (sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat) mengadakan الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ (kerusakan di muka bumi) dengan mengerjakan perbuatan-perbuatan maksiat. إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ (Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan) maksudnya Allah pasti akan menghukum mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: firman-Nya: وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا (“Dan carilah dari apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu [kebahagiaan] negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari [keselamatan] dunia ini.”) yaitu gunakanlah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu berupa harta yang melimpah dan kenikmatan yang panjang dalam berbuat taat kepada Rabbmu serta bertaqarrub kepada-Nya dengan berbagai amal-amal yang dapat menghasilkan pahala di dunia dan di akhirat.

وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا (“janganlah kamu melupakan bagianmu dari [keselamatan] dunia ini”) yaitu apa-apa yang dibolehkan Allah di dalamnya berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan pernikahan. Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak, dirimu memiliki hak, keluargamu memiliki hak serta orang yang berziarah kepadamu pun memiliki hak. Maka berikanlah setiap sesuatu dengan haknya.

Baca Juga:  Surah Al-Qashash Ayat 44-47; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ (“Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.”) yaitu berbuat baiklah kepada makhluk-Nya sebagaimana Dia telah berbuat baik kepadamu. وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ (“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi.”) yaitu janganlah semangatmu hanya menjadi perusak di muka bumi dan berbuat buruk kepada makhluk Allah. إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ (“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”)

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah menerangkan empat macam nasihat dan petunjuk yang ditujukan kepada Karun oleh kaumnya. Orang yang mengamalkan nasihat dan petunjuk itu akan memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat.

  1. Orang yang dianugerahi oleh Allah kekayaan yang berlimpah ruah, perbendaharaan harta yang bertumpuk-tumpuk, serta nikmat yang banyak, hendaklah ia memanfaatkan di jalan Allah, patuh dan taat pada perintah-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya untuk memperoleh pahala sebanyak-banyaknya di dunia dan akhirat.

Sabda Nabi saw: Manfaatkan yang lima sebelum datang (lawannya) yang lima; mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu senggangmu sebelum kesibukanmu dan hidupmu sebelum matimu. (Riwayat al-Baihaqi dari Ibnu ‘Abbas)

  1. Setiap orang dipersilakan untuk tidak meninggalkan sama sekali kesenangan dunia baik berupa makanan, minuman, pakaian, serta kesenangan-kesenangan yang lain sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran yang telah digariskan oleh Allah. Baik Allah, diri sendiri, maupun keluarga, mempunyai hak atas seseorang yang harus dilaksanakannya. Sabda Nabi Muhammad:

Kerjakanlah seperti kerjanya orang yang mengira akan hidup selamanya. Dan waspadalah seperti akan mati besok. (Riwayat al-Baihaqi dari Ibnu ‘Umar)

  1. Setiap orang harus berbuat baik sebagaimana Allah berbuat baik kepadanya, misalnya membantu orang-orang yang memerlukan, menyambung tali silaturrahim, dan lain sebagainya.
  2. Setiap orang dilarang berbuat kerusakan di atas bumi, dan berbuat jahat kepada sesama makhluk, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Tafsir Quraish Shihab: Dan jadikanlah sebagian dari kekayaan dan karunia yang Allah berikan kepadamu di jalan Allah dan amalan untuk kehidupan akhirat. Janganlah kamu cegah dirimu untuk menikmati sesuatu yang halal di dunia. Berbuat baiklah kepada hamba-hamba Allah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu dengan mengaruniakan nikmat-Nya.

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi dengan melampaui batas- batas Allah. Sesungguhnya Allah tidak meridai orang-orang yang merusak dengan perbuatan buruk mereka itu.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Qashash Ayat 76-77 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S