Surah Al-Qashash Ayat 78; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Qashash Ayat 78

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Qashash Ayat 78 ini, menerangkan reaksi Karun atas nasihat dan petunjuk yang diberikan oleh kaumnya. Dengan sombong ia berkata, “Harta yang diberikan Allah kepadaku adalah karena ilmu yang ada padaku. Allah mengetahui hal itu. Oleh karena itu, Ia rida padaku dan memberikan harta itu kepadaku.” Tidak sedikit manusia apabila ditimpa bahaya, ia kembali kepada Tuhan, dan berdoa sepenuh hati.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qashash Ayat 78

Surah Al-Qashash Ayat 78
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِندِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا وَلَا يُسْأَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ

Terjemahan: Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.

Tafsir Jalalain: قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ (Karun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu) harta yang ada padanya itu عَلَى عِلْمٍ عِندِي (karena ilmu yang ada padaku”) sebagai imbalan dari pengetahuan yang aku miliki; dia seorang yang paling ulung di kalangan Bani Israel mengenai kitab Taurat, sesudah Musa dan Harun.

Allah berfirman, أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ (Dan apakah ia tidak mengetahui bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya) yakni, bangsa-bangsa sebelumnya مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا (yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta?) maksudnya, Karun mengetahui kisah mereka, kemudian mereka dibinasakan oleh Allah.

وَلَا يُسْأَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ (Dan tidaklah perlu ditanyakan kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka) karena Allah mengetahui hal tersebut, maka mereka dimasukkan ke neraka tanpa dihisab lagi.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang jawaban Qarun kepada kaumnya ketika memberikan nasehat dan petunjuk kepada kebaikan, إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِندِي (“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta ini karena ilmu yang ada pada diriku.’”) yaitu aku tidak butuh pada apa yang kalian katakan. Allah Ta’ala telah memberikan harta ini kepadaku, karena Dia mengetahui bahwa aku berhak menerimanya dan karena Dia mencintaiku.

Maksud kalimat itu adalah, sesungguhnya aku diberi harta itu karena Allah mengetahui bahwa aku berhak menerimanya. Seperti firman Allah yang artinya: “Maka apabila manusia ditimpa bahaya, ia menyeru Kami. Kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami, ia berkata: ‘Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanya karena kepintaranku.’” (az-Zumar: 49) yaitu karena Allah mengetahui tentangku.

Baca Juga:  Surah Al-Qashash Ayat 52-55; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Diriwayatkan dari sebagian mereka [ahli tafsir], bahwasannya yang dikehendaki, إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِندِي (“Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada pada diriku.”) yaitu dia ahli dalam ilmu kimia. Pendapat ini amat lemah. Ilmu kimia [bagian dari ilmu sihir] pada hakekatnya adalah ilmu bathil. Karena perubahan benda tidak dapat dilakukan oleh sesuatupun kecuali oleh Allah.

Dia berfirman yang artinya: “Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, Maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, Tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan Amat lemah (pulalah) yang disembah.” (al-Hajj: 73)

Diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Siapakah yang lebih dhalim daripada orang yang membuat sesuatu seperti ciptaan-Ku. Maka ciptakanlah dzarrah, biji syair.’”

Hadits ini berkenaan dengan para penggambar [pemahat] yang menyerupai ciptaan Allah dalam gambar atau pahatan. Maka bagaimana pula dengan orang yang mengaku bahwa dia dapat merubah dzat sesuatu menjadi dzat yang lainnya? Ini adalah suatu kebohongan, kemustahilan, kebodohan dan kesesatan.

Mereka hanya mampu mencelup [menyepuh] bentuk-bentuk dhahir. Padahal itu suatu kedustaan, tipu daya dan muslihat, bahwa itu benar pada hakekatnya. Sesungguhnya tidaklah demikian, serta tidak ada menurut cara syar’i, bahwa benar ada seseorang yang mampu mampu melakukan cara tersebut yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, fasik dan pendusta.

Sedangkan perkara luar biasa yang diberikan Allah terhadap sebagian para wali-Nya, berupa mengubah sesuatu menjadi emas, perak atau lainnya, ini perkara yang tidak dipungkiri oleh setiap muslim dan mukmin. Akan tetapi ini bukan bagian dari proses kimia, namun hanya dari kehendak, pilihan dan perbuatan Rabb bumi dan langit.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Haiwah bin Syuraih al-Mishri, di saat orang meminta kepadanya. Akan tetapi dia tidak memiliki sesuatu untuk diberikannya dan dia melihat orang tersebut sangat membutuhkannya. Maka dia mengambil kerikil-kerikil dari tanah, menggenggamnya, kemudian diberikan kepada orang yang meminta itu, lalu tiba-tiba berubah menjadi emas merah. Hadits-hadits serta atsar-atsar banyak sekali, cukup panjang untuk dikemukakan. Yang shahih adalah makna yang pertama.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 97; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Untuk itu Allah berfirman menolak apa yang mereka sangka, bahwa Allah sangat perhatian terhadap mereka dengan diberikan-Nya harta, أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا (“Dan apakah ia tidak mengetahui bahwasannya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta.”) yaitu dahulu telah ada orang yang lebih banyak hartanya dan hal itu bukan karen kecintaan-Nya memberikan itu semua. bahkan Allah membinasakan mereka karena kekufuran dan tidak bersyukurnya mereka.

Untuk itu Allah berfirman: وَلَا يُسْأَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ (“Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu tentang dosa-dosa mereka.”) yaitu karena banyaknya dosa-dosa mereka.

Qatadah berkata: عَلَى عِلْمٍ عِندِي (“karena ilmu yang ada padaku”) yaitu karena kebaikanku. Alangkan indah tafsir ayat ini yang diberikan oleh Imam ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dimana ia berkata tentang firman-Nya: إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ (“Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada pada diriku.”) seandainya bukan karena keridlaan Allah kepadaku dan pengetahuan-Nya tentang keutamaanku, niscaya Dia tidak memberikanku harta ini, dan ia membaca:

أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا (“Dan apakah ia tidak mengetahui bahwasannya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta.”) dan ayat seterusnya.

Demikianlah orang yang sedikit ilmunya berkata jika melihat orang yang diberi keluasan oleh Allah. Seandainya dia tidak berhak, niscaya tidak diberikan.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan reaksi Karun atas nasihat dan petunjuk yang diberikan oleh kaumnya. Dengan sombong ia berkata, “Harta yang diberikan Allah kepadaku adalah karena ilmu yang ada padaku. Allah mengetahui hal itu. Oleh karena itu, Ia rida padaku dan memberikan harta itu kepadaku.”

Tidak sedikit manusia apabila ditimpa bahaya, ia kembali kepada Tuhan, dan berdoa sepenuh hati. Semua doa yang diketahuinya dibaca dengan harapan supaya bahaya yang menimpanya itu lenyap. Jika maksudnya itu tercapai, ia kemudian lupa kepada Tuhan yang mencabut bahaya itu darinya. Bahkan, ia mengaku bahwa hal itu terjadi karena kepintarannya, karena perhitungan yang tepat, dan sebagainya. Firman Allah:

Baca Juga:  Surah Al-Qashash Ayat 18-19; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Maka apabila manusia ditimpa bencana dia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan nikmat Kami kepadanya dia berkata, “Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya, itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (az-Zumar/39: 49)

Pengakuan seperti tersebut di atas ditolak oleh Allah dengan firman Nya, “Apakah ia lupa ataukah tidak pernah mengetahui bahwa Allah telah membinasakan umat dahulu sebelum dia, padahal mereka itu jauh lebih kuat dan lebih banyak harta yang dikumpulkannya.” Sekiranya Allah memberi seseorang harta kekayaan dan lainnya hanya karena kepintaran dan kebaikan yang ada padanya, sehingga Allah rida kepadanya, tentu Dia tidak akan membinasakan orang-orang dahulu yang jauh lebih kaya, kuat dan pintar dari Karun.

Orang yang diridai Allah tentu tidak akan dibinasakan-Nya. Tidakkah ia menyaksikan nasib Fir’aun yang mempunyai kerajaan besar dan pengikutnya yang banyak dengan sekejap mata dihancurkan oleh Allah.

Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa apabila Dia hendak mengazab orang-orang yang bergelimang dosa itu, Dia tidak akan menanyakan berapa banyak dosa yang telah diperbuatnya, begitu juga jenisnya, karena Dia Maha Mengetahui semuanya itu. Dalam ayat lain ditegaskan juga sebagai berikut:

Maka pada hari itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya. (ar-Rahman/55: 39)

Tafsir Quraish Shihab: Qârûn tidak menanggapi nasihat kaumnya dan melupakan karunia Allah kepadanya. Qârûn berpura-pura tidak mengetahui bahwa sebelumnya Allah telah menghancurkan banyak manusia yang lebih mampu untuk mengumpulkan harta dan lebih memiliki pengalaman dalam mengembangkan harta.

Orang-orang jahat tidak akan ditanya tentang dosa-dosa mereka, karena Allah telah mengetahui hal itu. Mereka akan masuk neraka tanpa penghitungan. Akan tetapi mereka hanya ditanya dengan pertanyaan yang menghinakan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Qashash Ayat 78 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S