Surah Al-Qomar Ayat 1-5; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Qomar Ayat 1-5

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Qomar Ayat 1-5 ini, sebelum membahas kandungan ayat terlebih dahulu kita membahas isi surah. Ayat pertama Surah ini mengetuk pendengaran sembari mengingatkan kita akan dekatnya hari kiamat dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari itu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ayat berikutnya menjelaskan sikap orang-orang kafir yang terus-menerus ingkar terhadap mukjizat. Surah ini meminta Rasulullah saw. agar berpaling dari mereka dan memberikan batas kepada mereka hingga datangnya suatu hari di mana mereka keluar dari kubur bagaikan belalang yang beterbangan.

Ayat-ayat berikutnya mengulas kadaan umat-umat terdahulu dengan rasul-rasul mereka dan azab yang menimpa mereka. Di sela-sela beberapa kisah itu, Surah ini mengingatkan bahwa al-Qur’ân itu mudah dipahami dan dipelajari bagi orang-orang yang mencari nasihat dan pelajaran.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qomar Ayat 1-5

Surah Al-Qomar Ayat 1
ٱقۡتَرَبَتِ ٱلسَّاعَةُ وَٱنشَقَّ ٱلۡقَمَرُ

Terjemahan: “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan.

Tafsir Jalalain: Al-Qamar (Bulan) ٱقۡتَرَبَتِ ٱلسَّاعَةُ (Telah dekat datangnya saat itu) dimaksud hari kiamat وَٱنشَقَّ ٱلۡقَمَر (dan telah terbelah bulan) menjadi dua bagian; yang satu di atas bukit Abu Qubais dan yang lainnya tampak di atas bukit Qaiqa’an; hal itu merupakan mukjizat bagi Nabi saw. yaitu sewaktu orang-orang Quraisy memintanya, lalu Nabi saw. bersabda, “Saksikanlah oleh kalian.” Demikianlah menurut keterangan hadis yang diketengahkan oleh Asy Syaikhain.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah swt. memberitahukan tentang semakin dekatnya hari kiamat, kekosongan dan berakhirnya dunia. Sebagaimana yang difirmankan-Nya: (“Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar ia disegerakan.”) (an-Nahl: 1).

Dia juga berfirman: (“Telah dekat kepada manusia hari menghisap segala amal mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling.”) (al-Anbiyaa’: 1)

Dan hal itu telah disebutkan dalam beberapa hadits. Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, ia berkata: “Kami pernah duduk bersama Rasululllah saw. sedang matahari berada di bagian barat setelah asyah, maka beliau bersabda: “Umur kalian dibanding dengan umur orang-orang terdahulu seperti yang tersisa dari siang yang telah berlalu ini.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad, ia bercerita: “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Jarak antara diutusnya aku dengan hari kiamat seperti ini.” Beliau mengisyaratkan (menunjukkan) jari telunjuk dan jari tengahnya. Hadits ini diriwayatkan juga oleh Bukhari dan Muslim, dari hadits Abu Hazim Salamah bin Dinar.

Dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Wahb as-Sawa-i, ia berkata: “Rasulullah bersabda: ‘Jarak antara diutusnya aku dengan hari kiamat seperti ini dan ini, hampir saja dia mendahuluiku.”

Al-A’masy menggabungkan antara jari telunjuk dengan jari tengah(nya).

Firman Allah Ta’ala: وَٱنشَقَّ ٱلۡقَمَرُ (“dan bulan telah terbelah”). Peristiwa tersebut pernah terjadi pada zaman Rasulullah saw. sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadits mutawatir dengan sanad-sanad yang shahih. Dan dalam hadits shahih juga disebutkan dari Ibnu Mas’ud, bahwasannya ia berkata: “Lima perkara yang telah terjadi: Penaklukan kota Romawi, kepulan asap, kematian, siksaan yang keras, dan terbelahnya bulan.”

Dan demikian itu merupakan perkara yang telah disepakati oleh para ulama, bahwa terbelahnya bulan itu telah terjadi pada zaman Nabi saw. dan termasuk salah satu mukjizat yang hebat.

Tafsir Kemenag: Allah menyatakan bahwa hari Kiamat hampir datang, pada waktu kehidupan dunia akan berakhir. Dalam ayat lain yang bersamaan maksudnya Allah berfirman: Ketetapan Allah pasti datang, maka janganlah kamu meminta agar dipercepat (datang)nya. (an-Nahl/16: 1)

Allah berfirman: Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akhirat). (al-Anbiya’/21: 1) Pada waktu itu bulan akan pecah bercerai-berai akibat penyimpangan dari peredarannya, sebagaimana diutarakan dalam ayat-ayat yang lain yang bersamaan maksudnya: Apabila langit terbelah. (al-Insyiqaq/84: 1)

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 63-65; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dan firman-Nya: Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan. (at-Takwir/81: 1-2) Banyak lagi ayat lain yang menunjukkan kejadian yang sangat dahsyat yang akan terjadi ketika hancurnya alam ini dengan tibanya hari Kiamat. Kebanyakan mufasir berpendapat bahwa kejadian tersebut pada ayat pertama telah terjadi dan bulan telah terbelah dua pada masa Nabi Muhammad saw, lima tahun sebelum beliau hijrah.

Menurut hadis yang diriwayatkan al-Bukhari, Muslim dan Ibnu Jarir dari Anas bin Malik bahwa penduduk Mekah meminta kepada Nabi Muhammad saw, agar mengemukakan suatu mukjizat sebagai bukti kerasulannya, maka Allah memperlihatkan kepada mereka bulan terbelah dua, sehingga mereka melihat “Jabal Nur” berada di antara dua belahan bulan tersebut.

Diriwayatkan pula dari Sahih alBukhari, Muslim dan para perawi-perawi hadis lainnya dari Ibnu Mas’ud bahwa: “Bulan telah terbelah pada masa Nabi Muhammad saw, menjadi dua belah, sebelah berada di atas bukit dan yang lain berada di bawahnya, seraya Nabi Muhammad saw berseru, “Saksikanlah!”

Abu Dawud meriwayatkan pula bahwa, “Telah terjadi pembelahan bulan pada masa Nabi Muhammad saw, maka orang-orang Quraisy berkata, “Ini adalah sihir anak Abu Kabsyah.” Lalu seorang dari mereka berkata, “Tunggulah dahulu berita yang dibawa oleh para musafir yang tiba, karena Muhammad saw tak sanggup mensihirkan semua manusia.”

Lalu tibalah para musafir membawa berita kejadian tersebut. Lalu dalam riwayat al-Baihaqi terdapat tambahan, “Lalu mereka bertanya kepada para musafir yang berdatangan dari semua penjuru, jawaban mereka, “Sungguh kami telah melihatnya,” lalu Allah menurunkan ayat ini, “Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan.”

Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang terbelahnya bulan. Sebagian berpendapat bahwa bulan itu memang telah terbelah pada masa Nabi sebagai bagian dari mukjizatnya. Tetapi sebagian mufasir berpendapat bulan pasti terbelah bukan terjadi pada masa nabi, tetapi akan terjadi nanti pada saat hari Kiamat. Hal ini disebabkan karena hilangnya keseimbangan daya tarik menarik antar planet.

Tafsir Quraish Shihab: Ayat pertama Surah ini mengetuk pendengaran sembari mengingatkan kita akan dekatnya hari kiamat dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari itu. Ayat berikutnya menjelaskan sikap orang-orang kafir yang terus-menerus ingkar terhadap mukjizat.

Surah ini meminta Rasulullah saw. agar berpaling dari mereka dan memberikan batas kepada mereka hingga datangnya suatu hari di mana mereka keluar dari kubur bagaikan belalang yang beterbangan.

Ayat-ayat berikutnya mengulas kadaan umat-umat terdahulu dengan rasul-rasul mereka dan azab yang menimpa mereka. Di sela-sela beberapa kisah itu, Surah ini mengingatkan bahwa al-Qur’ân itu mudah dipahami dan dipelajari bagi orang-orang yang mencari nasihat dan pelajaran.

Selanjutnya, dijelaskan pula bahwa orang-orang kafir Mekah bukanlah orang yang terkuat jika dibandingkan dengan umat-umat terdahulu dan bukan orang yang akan terhindar dari azab. Terakhir, Surah ini ditutup dengan ancaman terhadap para pendusta yang membangkang berupa kesudahan mereka pada hari ketika wajah mereka diseret ke neraka.

Lalu dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah siksaan neraka jahanam yang dahulu kalian dustakan.” Sedangkan orang-orang yang bertakwa merasa tenang di dalam surga, tempat tinggal mereka. Suatu tempat yang menyenangkan di sisi Tuhan yang berkuasa.]] Hari kiamat telah dekat, dan bulan pasti akan terbelah.

Surah Al-Qomar Ayat 2
وَإِن يَرَوۡاْ ءَايَةً يُعۡرِضُواْ وَيَقُولُواْ سِحۡرٌ مُّسۡتَمِرٌّ

Terjemahan: “Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus”.

Tafsir Jalalain: وَإِن يَرَوۡاْ (Dan jika mereka melihat) yaitu orang-orang kafir Quraisy ءَايَةً (sesuatu tanda) suatu mukjizat yang timbul dari Nabi saw. يُعۡرِضُواْ وَيَقُولُواْ (mereka berpaling dan berkata,) “Ini adalah سِحۡرٌ مُّسۡتَمِرٌّ (sihir yang kuat) sihir yang paling kuat”, berasal dari kata Al Mirrah; artinya kuat atau terus menerus.

Baca Juga:  Surah Al-Qomar Ayat 6-8; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah Ta’ala: وَإِن يَرَوۡاْ ءَايَةً (“Dan jika mereka [orang-orang musyrikin] melihat suatu tanda”) yakni dalil, hujjah dan bukti, يُعۡرِضُواْ (“mereka berpaling”) maksudnya mereka tidak mau tunduk karenanya, bahkan mereka menjauhkan diri dan meninggalkannya di belakang punggung mereka.

وَيَقُولُواْ سِحۡرٌ مُّسۡتَمِرٌّ (“Dan mereka berkata: ‘[Ini adalah] sihir yang terus menerus.’ Maksudnya , mereka mengatakan: “Hujjah-hujjah yang kami saksikan ini hanya merupakan sihir yang ditujukan kepada kami.” Dan kata “mustamirr” berarti menghilang. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid, Qatadah, dan lain-lain. Artinya, akan berakhir, menghilang, dan tidak akan terus menerus.

Tafsir Kemenag: Kaum musyrik melihat suatu bukti tentang kebenaran kerasulan Muhammad, maka mereka berpaling dan mendustakan serta mengingkarinya sambil berkata bahwa, “Ini adalah sihir yang memesonakan kita yang akan terus-menerus dilakukannya.”

Demikianlah jika memang tidak ada iman, maka meskipun pikirannya dapat menerima kebenaran Al-Qur’an dan secara empirik terlihat pada perbuatan dan perilaku Nabi yang membuktikan kerasulan beliau, tetapi mereka tetap ingkar pada kebenaran yang ada di depan mata mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Apabila orang-orang kafir melihat mukjizat yang besar, mereka menolak untuk mempercainya. Mereka berkata, “Itu adalah rentetan sihir yang datang berurutan!”

Surah Al-Qomar Ayat 3
وَكَذَّبُواْ وَٱتَّبَعُوٓاْ أَهۡوَآءَهُمۡ وَكُلُّ أَمۡرٍ مُّسۡتَقِرٌّ

Terjemahan: “Dan mereka mendutakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya

Tafsir Jalalain: وَكَذَّبُواْ (Dan mereka mendustakan) Nabi saw. وَٱتَّبَعُوٓاْ أَهۡوَآءَهُمۡ (dan mengikuti hawa nafsu mereka) dalam perkara yang batil وَكُلُّ أَمۡر (sedangkan tiap-tiap urusan) atau perkara yang baik dan perkara yang buruk مُّسۡتَقِرٌّ (telah ada ketetapannya) bagi pemiliknya masing-masing, yaitu adakalanya masuk ke surga atau ke neraka.

Tafsir Ibnu Katsir: وَكَذَّبُواْ وَٱتَّبَعُوٓاْ أَهۡوَآءَهُمۡ (“Dan mereka mendustakan [nabi] dan mengikuti hawa nafsu mereka.” Maksudnya, mereka mendustakan kebenaran pada saat kebenaran itu datang kepada mereka serta mengikuti apa yang diperintahkan oleh fikiran dan hawa nafsu mereka karena kebodohan dan kepicikan akal fikiran mereka.

Firman-Nya: وَكُلُّ أَمۡرٍ مُّسۡتَقِرٌّ (“Sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya.”) Qatadah mengatakan: “Artinya, bahwa kebaikan itu pasti akan berpihak kepada orang-orang yang baik dan keburukan itu pasti akan menimpa orang-orang yang berbuat keburukan.

Tafsir Kemenag: Kaum musyrik mendustakan kebenaran yang disampaikan kepada mereka oleh Nabi Muhammad saw, dan mengikuti hawa nafsu karena kebodohan mereka. Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa sesuatu itu akan berhenti pada sasaran yang telah ditetapkan, sesuai dengan ketetapan Allah. Karena itu persoalan orang-orang musyrik akan berhenti pada kehinaan di dunia dan azab yang kekal di akhirat, sedang persoalanmu hai Muhammad saw akan berhenti pada kemenangan di dunia dan surga di akhirat.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka mendustakan rasul-rasul dan mengikuti hawa nafsu mereka, padahal setiap perkara akan berakhir dengan ketetapannya masing-masing.

Surah Al-Qomar Ayat 4
وَلَقَدۡ جَآءَهُم مِّنَ ٱلۡأَنۢبَآءِ مَا فِيهِ مُزۡدَجَرٌ

Terjemahan: “Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran).

Tafsir Jalalain: وَلَقَدۡ جَآءَهُم مِّنَ ٱلۡأَنۢبَآءِ (Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah) berita-berita tentang dibinasakan-Nya umat-umat yang telah mendustakan rasul-rasul mereka مَا فِيهِ مُزۡدَجَر (yang di dalamnya terdapat cegahan) bagi mereka untuk melakukan hal yang serupa.

Lafal Muzdajar adalah Mashdar atau Isim yang menunjukkan arti tempat, sedangkan huruf Dal-nya merupakan pergantian dari Ta Wazan Ifta’ala. Bila dikatakan Izdajartuhu atau Zajartuhu maka artinya, aku mencegahnya dengan keras. Huruf Maa adalah Maushulah atau Maa Maushufah.

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 30-33 ; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah Ta’ala: وَلَقَدۡ جَآءَهُم مِّنَ ٱلۡأَنۢبَآءِ (“Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa berita tentang kisah umat-umat yang mendustakan para Rasul serta berbagai hukuman, adzab, dan siksaan yang menimpa mereka yang juga telah dibacakan kepada mereka di dalam al-Qur’an ini, مَا فِيهِ مُزۡدَجَرٌ (“Yang di dalamnya terdapat cegahan [dari kekafiran].”) yakni, pada kisah-kisah tersebut terdapat larangan berbuat syirik dan terus menerus dalam kedustaan.

Tafsir Kemenag: Kaum musyrik yang mendustakan kerasulan Muhammad dan mengikuti hawa nafsu, telah mengetahui beberapa kisah tentang umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul, sehingga Allah menurunkan azab kepada mereka, sebagaimana tersebut dalam AlQur’an.

Namun kisah-kisah itu tidak berkesan di hati mereka dan tidak dapat mencegah kekafiran, lalu Allah membinasakan mereka, sedang di akhirat nanti akan disiksa sesuai dengan perbuatan syirik yang telah menghiasi jiwa mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Aku bersumpah bahwa berita tentang umat-umat terdahulu dan tentang fakta-fakta alam yang cukup memberi peringatan telah datang kepada orang-orang kafir.

Surah Al-Qomar Ayat 5
حِكۡمَةٌۢ بَٰلِغَةٌ فَمَا تُغۡنِ ٱلنُّذُرُ

Terjemahan: “Itulah suatu hikmah yang sempurna maka peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka).

Tafsir Jalalain: حِكۡمَةٌۢ (Itulah suatu hikmah) merupakan Khabar dari Mubtada yang tidak disebutkan, atau menjadi Badal dari lafal Maa, atau dari lafal Muzdajir بَٰلِغَةٌ (yang sempurna) maksudnya, hikmah yang lengkap فَمَا تُغۡنِ (tetapi tiada berguna) tidak ada gunanya bagi mereka ٱلنُّذُرُ (peringatan-peringatan itu)

lafal An Nudzur adalah bentuk jamak dari lafal Nadziirun yang bermakna Mundzirun, yakni hal-hal yang dijadikan peringatan buat mereka. Lafal Maa boleh dikatakan sebagai huruf Nafi atau Istifham Inkari; jika dianggap sebagai Istifham Inkari berarti kedudukannya sebagai Maf’ul Muqaddam.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah selanjutnya: حِكۡمَةٌۢ بَٰلِغَةٌ (“Itulah suatu hikmah yang sempurna.”). yakni di dalam petunjuk yang diberikan Allah Ta’ala kepada orang yang diberi-Nya petunjuk dan penyesatan orang yang Dia sesatkan. فَمَا تُغۡنِ ٱلنُّذُرُ (“Maka, peringatan-peringatan itu tidak berguna [bagi mereka])”. Maksudnya, masihkah peringatan bermanfaat bagi orang yang ditetapkan sengsara oleh Allah Ta’ala dan hatinya dikunci?

Lalu, siapakah yang dapat memberikan petunjuk selain Allah? Dan ayat ini sebagaimanan firman-Nya: “Katakanlah: ‘Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat, maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepadamu semua.” (al-An’Am: 149).

Tafsir Kemenag: Kisah tersebut mengandung hikmah yang sangat tinggi nilainya dalam memberi petunjuk bagi manusia kepada jalan yang benar, tetapi hikmah dan peringatan yang terkandung dalam kisahkisah itu tidak berguna lagi bagi mereka karena hati nurani mereka telah terkunci mati. Firman Allah: Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang yang tidak beriman. (Yunus/10: 101).

Tafsir Quraish Shihab: Yang datang kepada mereka itu merupakan hikmah yang amat besar. Tetapi apalah gunanya peringatan- peringatan itu bagi orang yang tidak mau menerimanya?

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Qomar Ayat 1-5 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S