Surah Al-Waqiah Ayat 27-40; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Waqiah Ayat 27-40

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Waqiah Ayat 27-40 ini, diterangkan mengenai kedudukan golongan kanan, ialah suatu golongan yang mempunyai pangkat yang tinggi dan kedudukan yang mulia. dijelaskan pelbagai nikmat dan kesenangan yang disediakan bagi penghuni surga, kenikmatan dan kesenangan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga siapa pun dan bahkan belum pernah diduga, dan dilamunkan oleh khayalan dan hati siapa pun.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dijelaskan bahwa nikmat dan kesenangan tersebut disediakan untuk golongan kanan yang sebahagian besar terdiri dari umat-umat pengikut nabi dan rasul terdahulu, dan sebahagian besar lagi terdiri dari pengikut-pengikut Nabi Muhammad saw.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Waqiah Ayat 27-40

Surah Al-Waqiah Ayat 27
وَأَصۡحَٰبُ ٱلۡيَمِينِ مَآ أَصۡحَٰبُ ٱلۡيَمِينِ

Terjemahan: “Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu.

Tafsir Jalalain: وَأَصۡحَٰبُ ٱلۡيَمِينِ مَآ أَصۡحَٰبُ ٱلۡيَمِينِ (Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu).

Tafsir Ibnu Katsir: Setelah Allah menceritakan tempat kembali orang-orang terdahulu, yakni orang-orang yang mendekatkan diri, maka Dia menjelaskan keadaan أَصۡحَٰبُ ٱلۡيَمِينِ [orang-orang yang termasuk golongan kanan], mereka adalah orang-orang yang suka berbuat baik, sebagaimana yang dikatakan oleh Maimun bin Mihran, bahwa kedudukan أَصۡحَٰبُ ٱلۡيَمِينِ itu berada di bawah orang-orang yang mendekatkan diri kepada-Nya. Di mana Dia telah berfirman: وَأَصۡحَٰبُ ٱلۡيَمِينِ مَآ أَصۡحَٰبُ ٱلۡيَمِينِ (“Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu.”)

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini diterangkan mengenai kedudukan golongan kanan, ialah suatu golongan yang mempunyai pangkat yang tinggi dan kedudukan yang mulia. Sudah menjadi kebiasaan dalam bahasa Arab dan juga dalam bahasa Indonesia, dalam menjelaskan sesuatu yang penting, biasa diulangi sebutannya dengan tanda tanya.

Maka karena demikian pentingnya kedudukan golongan kanan, dalam ayat ini Allah menegaskan, “Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan tersebut.” Sesudah itu baru diiringi penjelasan yang lebih terperinci mengenai kenikmatan dan kebahagiaan dari golongan kanan tersebut.

Tafsir Quraish Shihab: Mengenai golongan kanan, tidak ada seorang pun yang tahu ganjaran golongan kanan.

Surah Al-Waqiah Ayat 28
فِى سِدۡرٍ مَّخۡضُودٍ

Terjemahan: “Berada di antara pohon bidara yang tak berduri,

Tafsir Jalalain: فِى سِدۡرٍ (Berada di antara pohon bidara) atau dikenal dengan nama pohon Nabaq مَّخۡضُودٍ (yang tidak berduri) tidak ada durinya.

Tafsir Ibnu Katsir: maksudnya keadaan yang mereka alami dan tempat kembali mereka. Kemudian Allah menafsirkan hal itu seraya berfirman: فِى سِدۡرٍ مَّخۡضُودٍ (“Berada di bawah pohon bidara yang tidak berduri”) Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Mujahid, Abul Ahwash, Qasamah bin Zuhair, as-Safar bin Qais, al-Hasan, Qatadah, ‘Abdullah bin Katsir, as-Suddi, Abu Harzah, dan lain-lain mengatakan: “Yaitu pohon yang tidak berduri.” Dan dari Ibnu ‘Abbas: “Yakni pohon yang dipenuhi dengan buah-buahan.”

Secara lahiriyah, yang dimaksud dengan hal itu bahwa pohon bidara ketika di dunia mempunyai banyak duri dan sedikit buahnya. Sebaliknya, di akhirat pohon bidara itu mempunyai banyak buah dan tidak berduri.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, secara terperinci diterangkan bahwa mereka golongan kanan, yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanannya adalah penghuni surga yang akan bersenangsenang dan bergembira dalam taman surga yang di antara pohonpohonnya terdapat pohon bidara yang tidak berduri dan pohon pisang yang bersusun-susun buahnya.

Mereka bersuka-ria di bawah naungan berbagai macam pohon yang rindang, di mana tercurah air yang mengalir dan pohon-pohon yang lain dengan buahnya yang lezat serta berbuah sepanjang masa tanpa mengenal musim, dengan kelezatan cita rasanya dan pohon-pohon bunga yang wangi lagi semerbak harum baunya yang dapat menikmatinya kapan dan di mana pun mereka berada, tanpa ada yang melarang akan apa yang dikehendakinya.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka berada di antara pohon bidara yang tidak berduri dan pohon pisang yang bersusun-susun buahnya, naungan yang terbentang luas, air yang dituangkan ke bejana sesuka mereka, buah-buahan yang banyak macam dan jenisnya yang tidak terputus-putus setiap masa dan tidak terlarang bagi yang menghendakinya dan kasur yang tebal dan empuk.

Surah Al-Waqiah Ayat 29
وَطَلۡحٍ مَّنضُودٍ

Terjemahan:”dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya),

Tafsir Jalalain: وَطَلۡحٍ (Dan pohon pisang) yang juga dikenal dengan nama pohon muz مَّنضُودٍ (yang bersusun-susun) buahnya mulai dari bagian atas hingga bagian bawahnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah: وَطَلۡحٍ مَّنضُود (“dan pohon pisang yang bersusun-susun [buahnya]”) thalhun adalah pohon besar yang terdapat di daerah Hijaz. Bentuk mufrad (tunggal)nya adalah thalhatun yang ia adalah pohon yang banyak durinya. Dan mengenai hal ini Ibnu Jarir telah mengungkapkan dalam sebuah syair: “Petunjukknya memberitahukan kabar gembira kepadanya seraya berkata, besok kalian akan melihat pohon pisang dan gunung-gunung.”

Mengenai firman-Nya: mandluud, Mujahid mengatakan: “Yakni, buahnya bersusun-susun.” As-Suddi mengungkapkan: “Mandluud berarti terikat.” Dan Ibnu ‘Abbas mengungkapkan: “Pohon ini menyerupai pohonn thalh di dunia, tetapi pohon tersebut mempunyai buah yang lebih manis dari madu. Al-Jauhari mengatakan: “Meurut bahasa al-thalhu berarti ath-thalhu.” wallaaHu a’lam.

Masih mengenai firman Allah: wa thalhim mandluud (“dan pohon pisag yang bersusun-susun [buahnya]”) Ibnu Jarir mempunyai pendapat lain, dimana ia mengatakan: “Kata itu bermakna pisang.” Ia menceritakan bahwa hal yang sama juga telah diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas dan Abu Hurairah, al-Hasan, ‘Ikrimah, Qasamah bin Zuhair, Qatadah dan Abu Harzah. Hal ini juga dikatakan oleh Mujahid dan Ibnu Zaid. Dan ia menambahkan: “Penduduk Yaman menyebutnya sebatang pisang.” Dan Ibnu Jarir tidak menceritakan pendapat lain selain pendapat tersebut.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, secara terperinci diterangkan bahwa mereka golongan kanan, yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanannya adalah penghuni surga yang akan bersenangsenang dan bergembira dalam taman surga yang di antara pohonpohonnya terdapat pohon bidara yang tidak berduri dan pohon pisang yang bersusun-susun buahnya.

Mereka bersuka-ria di bawah naungan berbagai macam pohon yang rindang, di mana tercurah air yang mengalir dan pohon-pohon yang lain dengan buahnya yang lezat serta berbuah sepanjang masa tanpa mengenal musim, dengan kelezatan cita rasanya dan pohon-pohon bunga yang wangi lagi semerbak harum baunya yang dapat menikmatinya kapan dan di mana pun mereka berada, tanpa ada yang melarang akan apa yang dikehendakinya.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka berada di antara pohon bidara yang tidak berduri dan pohon pisang yang bersusun-susun buahnya, naungan yang terbentang luas, air yang dituangkan ke bejana sesuka mereka, buah-buahan yang banyak macam dan jenisnya yang tidak terputus-putus setiap masa dan tidak terlarang bagi yang menghendakinya dan kasur yang tebal dan empuk.

Baca Juga:  Surah Al-Mu'min Ayat 30-35; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah Al-Waqiah Ayat 30
وَظِلٍّ مَّمۡدُودٍ

Terjemahan: “dan naungan yang terbentang luas,

Tafsir Jalalain: وَظِلٍّ مَّمۡدُودٍ (Dan naungan yang terbentang luas) untuk selama-lamanya.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah: وَظِلٍّ مَّمۡدُودٍ (“dan naungan yang terbentang luas.”) Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah yang disampaikan kepada Nabi saw. beliau bersabda: “Sesunggunya di dalam surga terdapat sebatang pohon, [jika] orang yang berkendaraan berjalan di bawahnya selama seratus tahun, ia tetap berada di bawah naungannya dan tidak pernah berhasil menaklukkannya. Jika kelian berkendak, bacalah: وَظِلٍّ مَّمۡدُودٍ (“dan naungan yang terbentang luas.”) (HR Muslim dan at-Tirmidzi)

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, secara terperinci diterangkan bahwa mereka golongan kanan, yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanannya adalah penghuni surga yang akan bersenangsenang dan bergembira dalam taman surga yang di antara pohonpohonnya terdapat pohon bidara yang tidak berduri dan pohon pisang yang bersusun-susun buahnya.

Mereka bersuka-ria di bawah naungan berbagai macam pohon yang rindang, di mana tercurah air yang mengalir dan pohon-pohon yang lain dengan buahnya yang lezat serta berbuah sepanjang masa tanpa mengenal musim, dengan kelezatan cita rasanya dan pohon-pohon bunga yang wangi lagi semerbak harum baunya yang dapat menikmatinya kapan dan di mana pun mereka berada, tanpa ada yang melarang akan apa yang dikehendakinya.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka berada di antara pohon bidara yang tidak berduri dan pohon pisang yang bersusun-susun buahnya, naungan yang terbentang luas, air yang dituangkan ke bejana sesuka mereka, buah-buahan yang banyak macam dan jenisnya yang tidak terputus-putus setiap masa dan tidak terlarang bagi yang menghendakinya dan kasur yang tebal dan empuk.

Surah Al-Waqiah Ayat 31
وَمَآءٍ مَّسۡكُوبٍ

Terjemahan: “dan air yang tercurah,

Tafsir Jalalain: وَمَآءٍ مَّسۡكُوبٍ (Dan air yang tercurah) maksudnya air yang mengalir terus selama-lamanya.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman-Nya lebih lanjut: وَمَآءٍ مَّسۡكُوبٍ (“Dan air yang tercurah”). Ats-Tsauri mengatakan: “Yakni air yang mengalir tidak pada salurannya.” Dan ini telah diterangkan dalam menafsirkan firman Allah: fiiHaa anHaarum mim maa-in ghairi aasin (“Di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan aromanya.”)(Muhammad: 15)

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, secara terperinci diterangkan bahwa mereka golongan kanan, yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanannya adalah penghuni surga yang akan bersenangsenang dan bergembira dalam taman surga yang di antara pohonpohonnya terdapat pohon bidara yang tidak berduri dan pohon pisang yang bersusun-susun buahnya.

Mereka bersuka-ria di bawah naungan berbagai macam pohon yang rindang, di mana tercurah air yang mengalir dan pohon-pohon yang lain dengan buahnya yang lezat serta berbuah sepanjang masa tanpa mengenal musim, dengan kelezatan cita rasanya dan pohon-pohon bunga yang wangi lagi semerbak harum baunya yang dapat menikmatinya kapan dan di mana pun mereka berada, tanpa ada yang melarang akan apa yang dikehendakinya.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka berada di antara pohon bidara yang tidak berduri dan pohon pisang yang bersusun-susun buahnya, naungan yang terbentang luas, air yang dituangkan ke bejana sesuka mereka, buah-buahan yang banyak macam dan jenisnya yang tidak terputus-putus setiap masa dan tidak terlarang bagi yang menghendakinya dan kasur yang tebal dan empuk.

Surah Al-Waqiah Ayat 32
وَفَٰكِهَةٍ كَثِيرَةٍ

Terjemahan: “dan buah-buahan yang banyak,

Tafsir Jalalain: وَفَٰكِهَةٍ كَثِيرَةٍ (Dan buah-buahan yang banyak).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: wa faakiHatin katsiiratin. Laa maqthuu’atiw walaa mamnuu’atin (“Dan buah-buahan yang banyak. Yang tidak berhenti [buahnya] dan tidak terlarang mengambilnya.”) maksudnya di sisi mereka terdapat banyak buah-buahan yang beraneka ragam warnanya, yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pula terbersit di dalam hati manusia.

Dan dalam kitab ash-Shahihain disebutkan dalam penyebutan masalah sidratul Muntaha: “Ternyata daun-daunnyaitu seperti telinga gajah dan buah pohon bidaranya seperti tempayan yang sangat indah.”).

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, secara terperinci diterangkan bahwa mereka golongan kanan, yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanannya adalah penghuni surga yang akan bersenangsenang dan bergembira dalam taman surga yang di antara pohonpohonnya terdapat pohon bidara yang tidak berduri dan pohon pisang yang bersusun-susun buahnya.

Mereka bersuka-ria di bawah naungan berbagai macam pohon yang rindang, di mana tercurah air yang mengalir dan pohon-pohon yang lain dengan buahnya yang lezat serta berbuah sepanjang masa tanpa mengenal musim, dengan kelezatan cita rasanya dan pohon-pohon bunga yang wangi lagi semerbak harum baunya yang dapat menikmatinya kapan dan di mana pun mereka berada, tanpa ada yang melarang akan apa yang dikehendakinya.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka berada di antara pohon bidara yang tidak berduri dan pohon pisang yang bersusun-susun buahnya, naungan yang terbentang luas, air yang dituangkan ke bejana sesuka mereka, buah-buahan yang banyak macam dan jenisnya yang tidak terputus-putus setiap masa dan tidak terlarang bagi yang menghendakinya dan kasur yang tebal dan empuk.

Surah Al-Waqiah Ayat 33
لَّا مَقۡطُوعَةٍ وَلَا مَمۡنُوعَةٍ

Terjemahan: “yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya.

Tafsir Jalalain: لَّا مَقۡطُوعَةٍ (Yang tidak berhenti) buahnya. karena musim-musiman وَلَا مَمۡنُوعَةٍ (dan tidak terlarang mengambilnya) artinya, ia boleh diambil tanpa harus membayarnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah: لَّا مَقۡطُوعَةٍ وَلَا مَمۡنُوعَةٍ (“Yang tidak berhenti [buahnya] dan tidak terlarang mengambilnya.”) maksudnya tidak akan berhenti karena datang musim dingin dan musim panas, bahkan tersedia untuk dimakan sepanjang masa. Kapanpun mereka inginkan, maka mereka akan mendapatkannya.

Tidak ada sesuatu pun yang menahan mereka dari ketentuan yang telah digariskan oleh Allah bagi mereka. Qatadah mengemukakan: “Tidak ada yang menghalangi mereka untuk mengambilnya, baik itu pagar maupun dari duri dan tidak juga jarak yang jauh. Dan telah dikemukakan dalam hadits, jika seseorang mengambil buah, maka tempatnya akan diganti oleh buah yang lain.”

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, secara terperinci diterangkan bahwa mereka golongan kanan, yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanannya adalah penghuni surga yang akan bersenangsenang dan bergembira dalam taman surga yang di antara pohonpohonnya terdapat pohon bidara yang tidak berduri dan pohon pisang yang bersusun-susun buahnya.

Mereka bersuka-ria di bawah naungan berbagai macam pohon yang rindang, di mana tercurah air yang mengalir dan pohon-pohon yang lain dengan buahnya yang lezat serta berbuah sepanjang masa tanpa mengenal musim, dengan kelezatan cita rasanya dan pohon-pohon bunga yang wangi lagi semerbak harum baunya yang dapat menikmatinya kapan dan di mana pun mereka berada, tanpa ada yang melarang akan apa yang dikehendakinya.

Baca Juga:  Surah Al-Waqiah Ayat 41-56; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Mereka berada di antara pohon bidara yang tidak berduri dan pohon pisang yang bersusun-susun buahnya, naungan yang terbentang luas, air yang dituangkan ke bejana sesuka mereka, buah-buahan yang banyak macam dan jenisnya yang tidak terputus-putus setiap masa dan tidak terlarang bagi yang menghendakinya dan kasur yang tebal dan empuk.yang sangat panas.

Surah Al-Waqiah Ayat 34
وَفُرُشٍ مَّرۡفُوعَةٍ

Terjemehan: “dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.

Tafsir Jalalain: وَفُرُشٍ مَّرۡفُوعَةٍ (Dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk) yang diletakkan di atas dipan-dipan.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَفُرُشٍ مَّرۡفُوعَةٍ (“Dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk”) yakni tinggi, dapat dijadikan tempat tidur dan sangat menyenangkan.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat-ayat ini, lebih diperinci kesenangan dan kegembiraan yang dinikmati oleh para penghuni surga tersebut ialah bahwa mereka akan duduk di atas kasur tebal berlapis-lapis, empuk dan halus yang isinya terbuat dari sutra, di atas ranjang kencana yang bertahtakan emas dan permata, dengan diciptakan pasangannya ialah bidadari-bidadari yang cantik jelita dan suci tak pernah haid dan hamil selama-lamanya, yang selalu dalam keadaan perawan sepanjang masa; bidadari-bidadari yang cantik jelita dan lemah gemulai itu berpakaian serba sutra yang halus dan sangat menarik, dengan hiasan gelang, kalung, dan anting-anting yang menambah kecantikannya yang asli, ditambah lagi dengan semerbak harum wanginya yang sangat menggiurkan.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka berada di antara pohon bidara yang tidak berduri dan pohon pisang yang bersusun-susun buahnya, naungan yang terbentang luas, air yang dituangkan ke bejana sesuka mereka, buah-buahan yang banyak macam dan jenisnya yang tidak terputus-putus setiap masa dan tidak terlarang bagi yang menghendakinya dan kasur yang tebal dan empuk.

Surah Al-Waqiah Ayat 35
إِنَّآ أَنشَأۡنَٰهُنَّ إِنشَآءً

Terjemahan: “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung

Tafsir Jalalain: إِنَّآ أَنشَأۡنَٰهُنَّ إِنشَآء ً(Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dengan langsung) maksudnya, bidadari-bidadari yang jelita lagi cantik itu Kami ciptakan tanpa melalui proses kelahiran terlebih dahulu.

Tafsir Ibnu Katsir: firman Allah selanjutnya: إِنَّآ أَنشَأۡنَٰهُنَّ إِنشَآءً (“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka [bidadari-bidadari] dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya. [Kami ciptakan mereka] untuk golongan kanan.”)

Dlamir [kata ganti] dalam ayat ini berlaku untuk yang tidak disebut, tetapi ketika redaksi ayat memberikan indikasi, yaitu cerita tentang kasur-kasur itu, menunjukkan adanya wanita-wanita yang berbaring di atasnya, maka cukuplah dengan menyebutkan kasur untuk mewakili keberadaan mereka, dan dlamir kembali kepada mereka.

Sebagaimana difirmankan Allah yang artinya: “Ingatlah ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang pada waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada sore. Maka ia berkata: ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik [kuda] sehingga aku lalai mengingat Rabb-ku sampai kuda itu hilang dari pandangan.’” (Shaad: 31-32) maksudnya adalah matahari. Demikian menurut pendapat para ahli tafsir.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat-ayat ini, lebih diperinci kesenangan dan kegembiraan yang dinikmati oleh para penghuni surga tersebut ialah bahwa mereka akan duduk di atas kasur tebal berlapis-lapis, empuk dan halus yang isinya terbuat dari sutra, di atas ranjang kencana yang bertahtakan emas dan permata, dengan diciptakan pasangannya ialah bidadari-bidadari yang cantik jelita dan suci tak pernah haid dan hamil selama-lamanya, yang selalu dalam keadaan perawan sepanjang masa; bidadari-bidadari yang cantik jelita dan lemah gemulai itu berpakaian serba sutra yang halus dan sangat menarik, dengan hiasan gelang, kalung, dan anting-anting yang menambah kecantikannya yang asli, ditambah lagi dengan semerbak harum wanginya yang sangat menggiurkan.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya Kami yang memulai penciptaan bidadari dalam bentuk gadis-gadis perawan. Bidadari tersebut sangat dicintai oleh pasangan-pasangan mereka. Masing-masing dengan umur yang berdekatan. Mereka itu disediakan untuk golongan kanan.

Surah Al-Waqiah Ayat 36
فَجَعَلۡنَٰهُنَّ أَبۡكَارًا

Terjemahan: “dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.

Tafsir Jalalain: فَجَعَلۡنَٰهُنَّ أَبۡكَارًا (Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan) yakni perawan semuanya; setiap kali suami-suami mereka menggaulinya, para suami itu menjumpai mereka dalam keadaan perawan kembali; dan tidak ada rasa sakit dikala menggaulinya.

Tafsir Ibnu Katsir: firman Allah selanjutnya: فَجَعَلۡنَٰهُنَّ أَبۡكَارًا (“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka [bidadari-bidadari] dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya. [Kami ciptakan mereka] untuk golongan kanan.”)

Dlamir [kata ganti] dalam ayat ini berlaku untuk yang tidak disebut, tetapi ketika redaksi ayat memberikan indikasi, yaitu cerita tentang kasur-kasur itu, menunjukkan adanya wanita-wanita yang berbaring di atasnya, maka cukuplah dengan menyebutkan kasur untuk mewakili keberadaan mereka, dan dlamir kembali kepada mereka.

Sebagai mana difirmankan Allah yang artinya: “Ingatlah ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang pada waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada sore. Maka ia berkata: ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik [kuda] sehingga aku lalai mengingat Rabb-ku sampai kuda itu hilang dari pandangan.’” (Shaad: 31-32) maksudnya adalah matahari.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat-ayat ini, lebih diperinci kesenangan dan kegembiraan yang dinikmati oleh para penghuni surga tersebut ialah bahwa mereka akan duduk di atas kasur tebal berlapis-lapis, empuk dan halus yang isinya terbuat dari sutra, di atas ranjang kencana yang bertahtakan emas dan permata, dengan diciptakan pasangannya ialah bidadari-bidadari yang cantik jelita dan suci tak pernah haid dan hamil selama-lamanya, yang selalu dalam keadaan perawan sepanjang masa,

bidadari-bidadari yang cantik jelita dan lemah gemulai itu berpakaian serba sutra yang halus dan sangat menarik, dengan hiasan gelang, kalung, dan anting-anting yang menambah kecantikannya yang asli, ditambah lagi dengan semerbak harum wanginya yang sangat menggiurkan.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya Kami yang memulai penciptaan bidadari dalam bentuk gadis-gadis perawan. Bidadari tersebut sangat dicintai oleh pasangan-pasangan mereka. Masing-masing dengan umur yang berdekatan. Mereka itu disediakan untuk golongan kanan.

Surah Al-Waqiah Ayat 37
عُرُبًا أَتۡرَابًا

Terjemahan: “penuh cinta lagi sebaya umurnya.

Tafsir Jalalain: عُرُبًا (Penuh cinta) dapat dibaca ‘Uruban atau ‘Urban, bentuk jamak dari lafal ‘Aruubun, artinya wanita yang sangat mencintai suaminya dan sangat merindukannya أَتۡرَابًا (lagi sebaya umurnya) setara umurnya; bentuk jamak dari lafal Turbun.

Baca Juga:  Surah Al-Waqiah Ayat 75-82; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: firman Allah selanjutnya: عُرُبًا أَتۡرَابًا (“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka [bidadari-bidadari] dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya. [Kami ciptakan mereka] untuk golongan kanan.”)

Dlamir [kata ganti] dalam ayat ini berlaku untuk yang tidak disebut, tetapi ketika redaksi ayat memberikan indikasi, yaitu cerita tentang kasur-kasur itu, menunjukkan adanya wanita-wanita yang berbaring di atasnya, maka cukuplah dengan menyebutkan kasur untuk mewakili keberadaan mereka, dan dlamir kembali kepada mereka.

Sebagaimana difirmankan Allah yang artinya: “Ingatlah ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang pada waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada sore. Maka ia berkata: ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik [kuda] sehingga aku lalai mengingat Rabb-ku sampai kuda itu hilang dari pandangan.’” (Shaad: 31-32) maksudnya adalah matahari.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat-ayat ini, lebih diperinci kesenangan dan kegembiraan yang dinikmati oleh para penghuni surga tersebut ialah bahwa mereka akan duduk di atas kasur tebal berlapis-lapis, empuk dan halus yang isinya terbuat dari sutra, di atas ranjang kencana yang bertahtakan emas dan permata, dengan diciptakan pasangannya ialah bidadari-bidadari yang cantik jelita dan suci tak pernah haid dan hamil selama-lamanya, yang selalu dalam keadaan perawan sepanjang masa; bidadari-bidadari yang cantik jelita dan lemah gemulai itu berpakaian serba sutra yang halus dan sangat menarik, dengan hiasan gelang, kalung, dan anting-anting yang menambah kecantikannya yang asli, ditambah lagi dengan semerbak harum wanginya yang sangat menggiurkan.

Tafsir Quraish Shihab: esungguhnya Kami yang memulai penciptaan bidadari dalam bentuk gadis-gadis perawan. Bidadari tersebut sangat dicintai oleh pasangan-pasangan mereka. Masing-masing dengan umur yang berdekatan. Mereka itu disediakan untuk golongan kanan.

Surah Al-Waqiah Ayat 38
لِّأَصۡحَٰبِ ٱلۡيَمِينِ

Terjemahan: “(Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan,

Tafsir Jalalain: لِّأَصۡحَٰبِ ٱلۡيَمِينِ (Untuk golongan kanan) menjadi Shilah dari lafal Ansya-naahunna, atau dari lafal Ja’alnaahunna. Yakni Kami ciptakan atau Kami jadikan mereka untuk golongan kanan. Golongan kanan itu adalah,.

Tafsir Ibnu Katsir: firman Allah selanjutnya: لِّأَصۡحَٰبِ ٱلۡيَمِينِ (“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka [bidadari-bidadari] dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya. [Kami ciptakan mereka] untuk golongan kanan.”)

Dlamir [kata ganti] dalam ayat ini berlaku untuk yang tidak disebut, tetapi ketika redaksi ayat memberikan indikasi, yaitu cerita tentang kasur-kasur itu, menunjukkan adanya wanita-wanita yang berbaring di atasnya, maka cukuplah dengan menyebutkan kasur untuk mewakili keberadaan mereka, dan dlamir kembali kepada mereka.

Sebagaimana difirmankan Allah yang artinya: “Ingatlah ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang pada waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada sore. Maka ia berkata: ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik [kuda] sehingga aku lalai mengingat Rabb-ku sampai kuda itu hilang dari pandangan.’” (Shaad: 31-32) maksudnya adalah matahari.

Tafsir Kemenag: Setelah dijelaskan pelbagai nikmat dan kesenangan yang disediakan bagi penghuni surga, kenikmatan dan kesenangan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga siapa pun dan bahkan belum pernah diduga, dan dilamunkan oleh khayalan dan hati siapa pun.

Dijelaskan bahwa nikmat dan kesenangan tersebut disediakan untuk golongan kanan yang sebahagian besar terdiri dari umat-umat pengikut nabi dan rasul terdahulu, dan sebahagian besar lagi terdiri dari pengikut-pengikut Nabi Muhammad saw.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya Kami yang memulai penciptaan bidadari dalam bentuk gadis-gadis perawan. Bidadari tersebut sangat dicintai oleh pasangan-pasangan mereka. Masing-masing dengan umur yang berdekatan. Mereka itu disediakan untuk golongan kanan.

Surah Al-Waqiah Ayat 39
ثُلَّةٌ مِّنَ ٱلۡأَوَّلِينَ

Terjemahan: “(yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu.

Tafsir Jalalain: ثُلَّةٌ مِّنَ ٱلۡأَوَّلِينَ (segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu).

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah Ta’ala: ثُلَّةٌ مِّنَ ٱلۡأَوَّلِينَ وَثُلَّةٌ مِّنَ ٱلۡءَاخِرِينَ (“[yaitu] segolongan besar dari orang-orang terdahulu dan segolongan besar pula dari orang-orang kemudian.”) yaitu satu golongan dari kalangan orang-orang yang hidup pertama dan satu golongan lainnya dari kalangan orang-orang yang hidup terakhir.

Tafsir Kemenag: Setelah dijelaskan pelbagai nikmat dan kesenangan yang disediakan bagi penghuni surga, kenikmatan dan kesenangan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga siapa pun dan bahkan belum pernah diduga, dan dilamunkan oleh khayalan dan hati siapa pun.

Dijelaskan bahwa nikmat dan kesenangan tersebut disediakan untuk golongan kanan yang sebahagian besar terdiri dari umat-umat pengikut nabi dan rasul terdahulu, dan sebahagian besar lagi terdiri dari pengikut-pengikut Nabi Muhammad saw.

Tafsir Quraish Shihab: Golongan kanan itu adalah kelompok yang banyak dari umat-umat terdahulu dan umat Muhammad.

Surah Al-Waqiah Ayat 40
وَثُلَّةٌ مِّنَ ٱلۡءَاخِرِينَ

Terjemahan: “dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian.

Tafsir Jalalain: وَثُلَّةٌ مِّنَ ٱلۡءَاخِرِينَ (Dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian).

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah Ta’ala: ثُلَّةٌ مِّنَ ٱلۡأَوَّلِينَ وَثُلَّةٌ مِّنَ ٱلۡءَاخِرِينَ (“[yaitu] segolongan besar dari orang-orang terdahulu dan segolongan besar pula dari orang-orang kemudian.”) yaitu satu golongan dari kalangan orang-orang yang hidup pertama dan satu golongan lainnya dari kalangan orang-orang yang hidup terakhir.

Tafsir Kemenag: Setelah dijelaskan pelbagai nikmat dan kesenangan yang disediakan bagi penghuni surga, kenikmatan dan kesenangan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga siapa pun dan bahkan belum pernah diduga, dan dilamunkan oleh khayalan dan hati siapa pun.

Dijelaskan bahwa nikmat dan kesenangan tersebut disediakan untuk golongan kanan yang sebahagian besar terdiri dari umat-umat pengikut nabi dan rasul terdahulu, dan sebahagian besar lagi terdiri dari pengikut-pengikut Nabi Muhammad saw.

Tafsir Quraish Shihab: Golongan kanan itu adalah kelompok yang banyak dari umat-umat terdahulu dan umat Muhammad.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Waqiah Ayat 27-40 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S