Surah Al-Waqiah Ayat 75-82; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Waqiah Ayat 75-82

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Waqiah Ayat 75-82 ini, menjelaskan Allah bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Qur’an guna menunjukkan betapa pentingnya hal tersebut. Al-Qur’an diturunkan sekaligus dari Lauh Mahfudz ke langit paling dekat pada malam Lailatul Qadar (malam yang sangat mulia).

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kemudian, diturunkan lagi secara berangsur-angsur menurut keperluannya dari langit dunia kepada Nabi Muhammad saw hingga selesai seluruhnya dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari.

Allah menegaskan bahwa sumpah dalam bagian-bagian Al-Qur’an tersebut sangat besar artinya karena hal itu mengandung isyarat terhadap agungnya kekuasaan Allah dan kesempurnaan kebijaksanaan-Nya dan keluasan rahmat-Nya dan tidak menyianyiakan hamba-Nya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Waqiah Ayat 75-82

Surah Al-Waqiah Ayat 75
فَلَآ أُقۡسِمُ بِمَوَٰقِعِ ٱلنُّجُومِ

Terjemahan: Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran.

Tafsir Jalalain: فَلَآ أُقۡسِمُ (Maka Aku bersumpah) huruf Laa di sini adalah Zaidah ِمَوَٰقِعِ ٱلنُّجُومِ (dengan nama tempat-tempat terbenamnya bintang-bintang) tempat-tempat bintang-bintang tenggelam.

Tafsir Ibnu Katsir: Yang menjadi pendapat jumhur, bahwa hal itu merupakan sumpah dari Allah atas apa yang dikehendaki-Nya terhadap para hamba-hamba-Nya, dan hal itu merupakan dalil yang menunjukkan keagungan-Nya. Kemudian sebagian mufasir mengatakan: “Kata =laa= [tidak] di sini merupakan zaa-idah [tambahan], yang diperkirakan maknanya adalah Aku [Allah] bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang.

Demikian juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Sa’id bin Jubair dari Sa’id bin Jubair. Dan yang menjadi jawaban adalah: innaHuu laqur-aanun kariim (“Sesungguhnya al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia.”)

Dan ulama lainnya mengatakan: “Kata =laa= tersebut bukan zaa-idah yang tidak mempunyai arti apapun, tetapi kata itu diletakkan di awal qasam [sumpah] dengan fungsi menafikan. Seperti ungkapan ‘Aisyah ra: “Tidak, demi Allah, tangan Rasulullah saw. tidak pernah sekalipun menyentuh tangan wanita.”

Demikian perkiraan makna ayat tersebut, [yakni] “Aku tidak bersumpah dengan beredarnya bintang-bintang.” Tidaklah seperti yang kalian dakwakan dan yakini bahwa al-Qur’an ini adalah sihir atau perdukunan, tetapi ia adalah al-Qur’an yang mulia.”

Ibnu Jarir menceritakan bahwa sebagian penduduk Arab berkata: “Firman-Nya: falaa uqsimu; artinya kejadiannya tidak seperti yang kalian katakan. Kemudian Dia menyertakan Qasam [sumpah] setelah itu sehingga dikatakan “uqsimu”.

Dan para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai firman Allah بِمَوَٰقِعِ ٱلنُّجُومِ (“Dengan tempat beredarnya bintang-bintang”) Hakim bin Jubair menceritakan dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas: “Yakni bintang-bintang al-Qur’an, dimana dia diturunkan secara keseluruhan pada malam Lailatul Qadar dari langit tertinggi ke langit dunia, kemudian turun secara berangsur-angsur beberapa tahun setelah itu.” Kemudian Ibnu ‘Abbas membaca ayat ini.

Adh-Dhahhak menceritakan dari Ibnu ‘Abbas: “Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan dari sisi Allah dari Lauhul Mahfudz melalui para malaikat mulia, penulis di langit dunia, lalu para malaikat itu menyampaikannya kepada Jibril secara berangsur selama 20 malam, kemudian Jibril menyampaikannya kepada Muhammad saw. secara berangsur selama 20 tahun. Dan itulah makna firman-Nya:

فَلَآ أُقۡسِمُ بِمَوَٰقِعِ ٱلنُّجُومِ (“Maka, Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang”) yakni bintang-bintang al-Qur’an. Demikianlah yang dikatakan oleh ‘Ikrimah, Mujahid, as-Suddi, dan Abu Hazrah. Dan Mujahid juga mengatakan: “Yakni tempat bintang-bintang di langit.” Dan ada yang mengatakan: “Yakni tempat muncul dan terbitnya.”

Hal yang sama juga disampaikan oleh al-Hasan, Qatadah, dan menjadi pilihan Ibnu jarir. Dan dari Qatadah disebutkan: “Yang dimaksud dengan ‘tempat beredarnya’ adalah tempat turunnya.” Sedangkan dari al-Hasan disebutkan: “Yang dimaksudkan dengan hal itu adalah bertebarannya bintang kelak pada hari kiamat.”

Tafsir Kemenag: Sebagian ahli tafsir menjelaskan ayat ini, bahwa Allah bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Qur’an guna menunjukkan betapa pentingnya hal tersebut. Al-Qur’an diturunkan sekaligus dari Lauh Mahfudz ke langit paling dekat pada malam Lailatul Qadar (malam yang sangat mulia).

Kemudian, diturunkan lagi secara berangsur-angsur menurut keperluannya dari langit dunia kepada Nabi Muhammad saw hingga selesai seluruhnya dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari. Masa turunnya bagian-bagian Al-Qur’an tersebut mengandung arti penting, kebijaksanaan turunnya sebagian-sebagian yaitu tiap surah atau tiap ayat antara lain ialah agar tiap surah atau ayat itu dapat dimengerti secara lebih luas dan lebih mendalam.

Allah menegaskan bahwa sumpah dalam bagian-bagian Al-Qur’an tersebut sangat besar artinya karena hal itu mengandung isyarat terhadap agungnya kekuasaan Allah dan kesempurnaan kebijaksanaan-Nya dan keluasan rahmat-Nya dan tidak menyianyiakan hamba-Nya.

Dalam ayat 75, Allah bersumpah untuk meyakinkan terhadap hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang menggambarkan kemahakuasaan-Nya terhadap alam jagat raya ini, yakni suatu “tempat beredarnya bintang-bintang.” Andaikan ketika manusia mampu melihat bagaimana teraturnya bintang-bintang yang selalu bergerak pada orbitnya masing-masing dengan aman dan serasi, tentulah mereka akan berpendapat lain.

Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi barulah diketahui betapa banyaknya kumpulan bintang-bintang di angkasa raya yang tidak terhitung jumlahnya. Para pakar astrofisika dan astronomi menjelaskan bahwa mata telanjang tidak akan mungkin mampu melihat isi jagat yang luas tidak berbatas.

Sistem Tata Surya yang terdiri dari jutaan bintang bahkan mungkin lebih (termasuk di dalamnya bumi kita ini) hanyalah menjadi bagian kecil dari Galaksi Bimasakti yang memuat lebih dari 100 milyar bintang. Bimasakti pun itu hanyalah satu dari 500 milyar lebih galaksi dalam jagat raya yang diketahui, subhanallah! Semua bintang-bintang itu beredar pada orbitnya, termasuk matahari kita.

Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah: Dan matahari beredar di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Mahaperkasa dan Maha Mengetahui. (Yasin/36: 38) Berdasarkan pengamatan para pakar, matahari bergerak dalam kecepatan yang tinggi kira-kira 720, 000 km per jam mengarah ke bintang Vega dalam satu orbit tertentu dalam sistem Solar Apex.

Bersama-sama dengan matahari, dan semua planet dan satelit yang berada dalam lingkungan sistem Tata Surya (sistem solar) juga turut bergerak pada jarak yang sama. Semua benda-benda langit ini bergerak menempati orbit-orbit yang telah dihisab (diperhitungkan). Untuk berapa juta tahun, semuanya ‘berenang’ melintasi orbit masing-masing dalam keseimbangan dan susunan yang sempurna bersama-sama dengan yang lain.

Orbit-orbit dalam alam semesta juga dimiliki oleh galaksi-galaksi yang bergerak pada kecepatan yang besar dalam orbit-orbit yang telah ditetapkan. Ketika bergerak, tidak ada satupun benda-benda langit ini yang memotong orbit atau bertabrakan dengan benda langit lainnya.

Bagaimanapun, hal ini secara jelas diterangkan kepada manusia dalam Al-Qur’an yang diwahyukan ketika itu, karena Al-Qur’an sebenarnya adalah kalam dari Sang Penguasa, Yang Maha Menjaga dan Memelihara Kestabilan Alam Semesta ini.

Tafsir Quraish Shihab: Aku benar-benar bersumpah demi tempat-tempat tenggelamnya bintang-bintang di penghujung malam, yaitu waktu-waktu untuk salat tahajud dan istigfar. Sumpah itu–bila kalian pikirkan kandungannya–sangat penting dan mempunyai pengaruh yang amat dalam. (1) (1) Dua ayat ini menjelaskan betapa pentingnya sumpah yang diucapkan itu.

Bintang merupakan benda langit yang bersinar sendiri. Di antara bintang-bintang itu, yang paling dekat dengan planet kita adalah matahari dengan jarak ± 500 tahun cahaya. Sedang bintang yang terdekat berikutnya berjarak ± 4 tahun cahaya. Energi yang kita dapatkan dari matahari merupakan komponen utama kehidupan.

Baca Juga:  Tadabbur Surah Ali Imran ayat 116-121; Tafsir dan Terjemahan

Seandainya jarak antara matahari dan bumi lebih jauh atau lebih dekat dari yang ada sekarang, kehidupan ini akan menjadi demikian sulit dan bahkan hampir mustahil. Di samping itu, besar-kecilnya bintang-bintang itu pun beragam pula. Ada yang berukuran besar dan ada pula yang berukuran lebih kecil.

Di antara yang berukuran besar itu adalah matahari yang jaraknya dengan bumi seperti yang ada sekarang. Selain itu, terdapat pula gugusan bintang yang disebut tandan, beredar di luar angkasa dan sesekali melintasi galaksi Bimasakti.

Pada saat melintasi Bimasakti itu, apabila secara kebetulan gugusan itu menabrak tata surya kita, maka akan terjadi kehancuran. Begitu juga bila terjadi, umpamanya, suatu bintang mendekati matahari, maka akan merusak keseimbangan dan akhirnya membawa kepada kehancuran juga. Dari itu, tanda-tanda kebesaran Allah yang dapat dijadikan pelajaran tampak pada alam semesta yang Dia ciptakan dan Dia atur.

Surah Al-Waqiah Ayat 76
وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ

Terjemahan: Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui.

Tafsir Jalalain: وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ (Sesungguhnya sumpah itu) sumpah dengan memakai namanya ita لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ (adalah sumpah yang besar kalau kalian mengetahui) jika kalian termasuk orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan niscaya kalian mengetahui besarnya sumpah ini.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: wa innaHuu laqasamul lau ta’lamuuna ‘adhiim (“Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar seandainya kamu mengetahui.”) maksudnya, sesungguhnya sumpah yang telah Aku ucapkan itu merupakan sumpah yang besar jika kalian mengetahui. Besar karena kebesaran Yang Mengucapkannya.

Tafsir Kemenag: Sebagian ahli tafsir menjelaskan ayat ini, bahwa Allah bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Qur’an guna menunjukkan betapa pentingnya hal tersebut. Al-Qur’an diturunkan sekaligus dari Lauh Mahfudz ke langit paling dekat pada malam Lailatul Qadar (malam yang sangat mulia).

Kemudian, diturunkan lagi secara berangsur-angsur menurut keperluannya dari langit dunia kepada Nabi Muhammad saw hingga selesai seluruhnya dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari. Masa turunnya bagian-bagian Al-Qur’an tersebut mengandung arti penting, kebijaksanaan turunnya sebagian-sebagian yaitu tiap surah atau tiap ayat antara lain ialah agar tiap surah atau ayat itu dapat dimengerti secara lebih luas dan lebih mendalam.

Allah menegaskan bahwa sumpah dalam bagian-bagian Al-Qur’an tersebut sangat besar artinya karena hal itu mengandung isyarat terhadap agungnya kekuasaan Allah dan kesempurnaan kebijaksanaan-Nya dan keluasan rahmat-Nya dan tidak menyianyiakan hamba-Nya.

Dalam ayat 75, Allah bersumpah untuk meyakinkan terhadap hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang menggambarkan kemahakuasaan-Nya terhadap alam jagat raya ini, yakni suatu “tempat beredarnya bintang-bintang.” Andaikan ketika manusia mampu melihat bagaimana teraturnya bintang-bintang yang selalu bergerak pada orbitnya masing-masing dengan aman dan serasi, tentulah mereka akan berpendapat lain.

Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi barulah diketahui betapa banyaknya kumpulan bintang-bintang di angkasa raya yang tidak terhitung jumlahnya. Para pakar astrofisika dan astronomi menjelaskan bahwa mata telanjang tidak akan mungkin mampu melihat isi jagat yang luas tidak berbatas.

Sistem Tata Surya yang terdiri dari jutaan bintang bahkan mungkin lebih (termasuk di dalamnya bumi kita ini) hanyalah menjadi bagian kecil dari Galaksi Bimasakti yang memuat lebih dari 100 milyar bintang. Bimasakti pun itu hanyalah satu dari 500 milyar lebih galaksi dalam jagat raya yang diketahui, subhanallah! Semua bintang-bintang itu beredar pada orbitnya, termasuk matahari kita.

Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah: Dan matahari beredar di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Mahaperkasa dan Maha Mengetahui. (Yasin/36: 38) Berdasarkan pengamatan para pakar, matahari bergerak dalam kecepatan yang tinggi kira-kira 720, 000 km per jam mengarah ke bintang Vega dalam satu orbit tertentu dalam sistem Solar Apex.

Bersama-sama dengan matahari, dan semua planet dan satelit yang berada dalam lingkungan sistem Tata Surya (sistem solar) juga turut bergerak pada jarak yang sama. Semua benda-benda langit ini bergerak menempati orbit-orbit yang telah dihisab (diperhitungkan). Untuk berapa juta tahun, semuanya ‘berenang’ melintasi orbit masing-masing dalam keseimbangan dan susunan yang sempurna bersama-sama dengan yang lain.

Orbit-orbit dalam alam semesta juga dimiliki oleh galaksi-galaksi yang bergerak pada kecepatan yang besar dalam orbit-orbit yang telah ditetapkan. Ketika bergerak, tidak ada satupun benda-benda langit ini yang memotong orbit atau bertabrakan dengan benda langit lainnya.

Bagaimanapun, hal ini secara jelas diterangkan kepada manusia dalam Al-Qur’an yang diwahyukan ketika itu, karena Al-Qur’an sebenarnya adalah kalam dari Sang Penguasa, Yang Maha Menjaga dan Memelihara Kestabilan Alam Semesta ini.

Tafsir Quraish Shihab: Aku benar-benar bersumpah demi tempat-tempat tenggelamnya bintang-bintang di penghujung malam, yaitu waktu-waktu untuk salat tahajud dan istigfar. Sumpah itu–bila kalian pikirkan kandungannya–sangat penting dan mempunyai pengaruh yang amat dalam. (1) (1) Dua ayat ini menjelaskan betapa pentingnya sumpah yang diucapkan itu. Bintang merupakan benda langit yang bersinar sendiri.

Di antara bintang-bintang itu, yang paling dekat dengan planet kita adalah matahari dengan jarak ± 500 tahun cahaya. Sedang bintang yang terdekat berikutnya berjarak ± 4 tahun cahaya. Energi yang kita dapatkan dari matahari merupakan komponen utama kehidupan.

Seandainya jarak antara matahari dan bumi lebih jauh atau lebih dekat dari yang ada sekarang, kehidupan ini akan menjadi demikian sulit dan bahkan hampir mustahil. Di samping itu, besar-kecilnya bintang-bintang itu pun beragam pula. Ada yang berukuran besar dan ada pula yang berukuran lebih kecil.

Di antara yang berukuran besar itu adalah matahari yang jaraknya dengan bumi seperti yang ada sekarang. Selain itu, terdapat pula gugusan bintang yang disebut tandan, beredar di luar angkasa dan sesekali melintasi galaksi Bimasakti. Pada saat melintasi Bimasakti itu, apabila secara kebetulan gugusan itu menabrak tata surya kita, maka akan terjadi kehancuran.

Begitu juga bila terjadi, umpamanya, suatu bintang mendekati matahari, maka akan merusak keseimbangan dan akhirnya membawa kepada kehancuran juga. Dari itu, tanda-tanda kebesaran Allah yang dapat dijadikan pelajaran tampak pada alam semesta yang Dia ciptakan dan Dia atur.

Surah Al-Waqiah Ayat 77
إِنَّهُۥ لَقُرۡءَانٌ كَرِيمٌ

Terjemahan: Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia,.

Tafsir Jalalain: إِنَّهُۥ (Sesungguhnya ini) yakni yang dibacakan kepada kalian لَقُرۡءَانٌ كَرِيمٌ (adalah Alquran yang sangat mulia).

Tafsir Ibnu Katsir: إِنَّهُۥ لَقُرۡءَانٌ كَرِيمٌ (“Sesungguhnya al-Qur’an itu adalah bacaan yang sangat mulia.”) maksudnya, sesungguhnya al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad saw. ini adalah Kitab yang sangat agung. Fii kitaabim maknuun (“Pada kitab yang terpelihara [Lauhul Mahfudz]”) yakni di dalam kitab yang diagungkan lagi terpelihara dan dihormati.

Baca Juga:  Surah Hud Ayat 112-113; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Tafsir Kemenag: Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an ini adalah wahyu ilahi yang mengandung faedah dan kemanfaatan yang tiada terhingga dan berisi ilmu serta petunjuk pasti yang membawa kebahagiaan kepada manusia untuk kehidupan dunia dan akhirat, dan membacanya termasuk ibadah. Al-Qur’an merupakan sumber ilmu tauhid, ilmu fiqih, ilmu tasawuf, dan lain-lain.

Al-Qur’an terjamin kesuciannya, hanya Malaikat al-Muqarrabin yang pernah menyentuhnya dari Lauh Mahfudz, yaitu Malaikat Jibril yang ditugaskan menyampaikannya kepada Nabi Muhammad saw. Mengenai ayat 79, sebagian ahli tafsir berbeda pendapat. Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan. (al- Waqi’ah/56: 79)

Jumhur ulama mengistimbatkan bahwa ayat 79 ini melarang orang-orang yang berhadas, baik hadas kecil maupun hadas besar, menyentuh atau memegang mushaf Al-Qur’an, berdasarkan hadis Mu’adh bin Jabal, Rasul bersabda, “Tidak boleh menyentuh mushaf kecuali orang suci.” Pendapat inilah yang dianut oleh sebagian besar umat Islam Indonesia.

Ada dua pendapat tentang hukum menyentuh mushaf yaitu: 1. Imam empat mazhab berpendapat tidak boleh menyentuh mushaf tanpa wudu. Menurut Imam Nawawi, firman Allah: la yamassuhu illal-muthahharun bermakna tidak menyentuh mushaf ini kecuali orang suci dari hadas. 2. Mazhab az-¨ahiri berpendapat boleh menyentuh mushaf tanpa wudu dengan alasan bahwa Rasulullah saw pernah mengirim surat yang ada ayat Al-Qur’annya kepada Heraklius padahal dia non muslim dan tidak berwudu.

Anak kecil membawa tempat menulis Al-Qur’an dan buku yang ada tulisan Al-Qur’an diperbolehkan oleh para ulama. Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an ini sesungguhnya diturunkan dari Tuhan yang menguasai alam semesta. Sebagai pedoman hidup untuk dibaca, dihafal, dipahami dan diamalkan. Maka sungguh sesatlah orang-orang yang menuduh bahwa Al-Qur’an ini sihir atau syair.

Tafsir Quraish Shihab: Aku bersumpah, bahwa ini adalah benar-benar al-Qur’ân yang banyak manfaatnya dan terpelihara di al-Lawh al-Mahfûzh hingga tidak dapat diketahui kecuali oleh para malaikat yang dekat.

Surah Al-Waqiah Ayat 78
فِى كِتَٰبٍ مَّكۡنُونٍ

Terjemahan: pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh),

Tafsir Jalalain: فِى كِتَٰبٍ (Pada Kitab) yang tertulis dalam Kitab مَّكۡنُونٍ (yang terpelihara) yang dijaga, maksudnya Mushhaf Alquran.

Tafsir Ibnu Katsir: فِى كِتَٰبٍ (Pada Kitab) yang tertulis dalam Kitab مَّكۡنُونٍ (yang terpelihara) yang dijaga, maksudnya Mushhaf Alquran.

Tafsir Kemenag: Kemudian dijelaskan oleh Allah bahwa walaupun tanaman tersebut sangat baik pertumbuhan dan buahnya yang menimbulkan harapan untuk mendatangkan keuntungan berlimpah-limpah, namun apabila Allah menghendaki lain daripada itu, maka tanaman yang diharapkan itu dapat berubah menjadi tanaman yang tidak berbuah, hampa atau terserang berbagai macam penyakit dan hama, seperti hama wereng, hama tikus, dan sebagainya, sehingga pemiliknya tertegun dan merasa sedih, karena keuntungannya dalam sekejap mata menjadi kerugian yang luar biasa. Sedang untuk membayar berbagai macam pengeluaran seperti ongkos-ongkos mencangkul, menanam, menyiram, memupuk, dan membersihkan rumput merupakan beban berat dan merugikan baginya.

Tafsir Quraish Shihab: Jika Kami berkehendak, Kami akan menjadikan tanaman itu kering dan rusak sebelum matang. Maka kalian akan terus terheran-heran sambil mengatakan, “Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian setelah berusaha keras. Bahkan nasib kami buruk, tidak mendapatkan rezeki.”

Surah Al-Waqiah Ayat 79
لَّا يَمَسُّهُۥٓ إِلَّا ٱلۡمُطَهَّرُونَ

Terjemahan: tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan

Tafsir Jalalain: لَّا يَمَسُّهُۥٓ (Tidak menyentuhnya) adalah kalimat berita, tetapi mengandung makna perintah, yakni jangan menyentuhnya إِلَّا ٱلۡمُطَهَّرُونَ (kecuali orang-orang yang telah bersuci) yakni orang-orang yang telah menyucikan dirinya dari hadas-hadas.

Tafsir Ibnu Katsir: Pendapat ini adalah pendapat yang sangat bagus dan tidak keluar dari pendapat-pendapat sebelumnya. Dan para ulama lain mengatakan: لَّا يَمَسُّهُۥٓ إِلَّا ٱلۡمُطَهَّرُونَ (“Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan”) yakni suci dari junub dan hadat.” Mereka mengatakan:

“Lafadz ayat tersebut merupakan kabar, yang bermakna tuntutan.” Lebih lanjut mereka mengemukakan bahwa apa yang dimaksud dengan al-Qur’an di sini adalah al-Mushaf. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu ‘Umar ra. bahwa Rasulullah saw. telah melarang berpergian dengan membawa al-Qur’an ke negeri musuh karena khawatir akan direbut oleh mereka.”

Dalam hal itu mereka berdalil dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitabnya al-Muwaththa’, dari ‘Abdullah bin Abi Bakar bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm, bahwa dalam surah yang ditulis Rasulullah saw. kepada ‘Amr bin Hazm terdapat tulisan: “Tidak ada yang boleh menyentuh al-Qur’an kecuali orang yang berada dalam keadaan suci.”

Abu Dawud meriwayatkan dalam kitab al-Maraasiil, dari hadits az-Zuhri, ia bercerita: “Aku pernah membaca dalam lembaran ‘Abdullah bin Abi Bakar bin Muhammad bin ‘Umar bin Hazm, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: “Dan tidak ada yang boleh menyentuh al-Qur’an kecuali orang yang suci.”

Yang demikian itu merupakan penemuan yang sangat baik sekali, yang telah dibaca oleh az-Zuhri dan juga yang lainnya. Dan hal yang seperti ini sangat layak untuk diambil sebagai pegangan. wallaaHu a’lam.

Tafsir Kemenag: Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an ini adalah wahyu ilahi yang mengandung faedah dan kemanfaatan yang tiada terhingga dan berisi ilmu serta petunjuk pasti yang membawa kebahagiaan kepada manusia untuk kehidupan dunia dan akhirat, dan membacanya termasuk ibadah.

Al-Qur’an merupakan sumber ilmu tauhid, ilmu fiqih, ilmu tasawuf, dan lain-lain. Al-Qur’an terjamin kesuciannya, hanya Malaikat al-Muqarrabin yang pernah menyentuhnya dari Lauh Mahfudz, yaitu Malaikat Jibril yang ditugaskan menyampaikannya kepada Nabi Muhammad saw. Mengenai ayat 79, sebagian ahli tafsir berbeda pendapat. Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan. (al- Waqi’ah/56: 79)

Jumhur ulama mengistimbatkan bahwa ayat 79 ini melarang orang-orang yang berhadas, baik hadas kecil maupun hadas besar, menyentuh atau memegang mushaf Al-Qur’an, berdasarkan hadis Mu’adh bin Jabal, Rasul bersabda, “Tidak boleh menyentuh mushaf kecuali orang suci.” Pendapat inilah yang dianut oleh sebagian besar umat Islam Indonesia.

Ada dua pendapat tentang hukum menyentuh mushaf yaitu: 1. Imam empat mazhab berpendapat tidak boleh menyentuh mushaf tanpa wudu. Menurut Imam Nawawi, firman Allah: la yamassuhu illal-muthahharun bermakna tidak menyentuh mushaf ini kecuali orang suci dari hadas. 2. Mazhab az-¨ahiri berpendapat boleh menyentuh mushaf tanpa wudu dengan alasan bahwa Rasulullah saw pernah mengirim surat yang ada ayat Al-Qur’annya kepada Heraklius padahal dia non muslim dan tidak berwudu. Anak kecil membawa tempat menulis Al-Qur’an dan buku yang ada tulisan Al-Qur’an diperbolehkan oleh para ulama.

Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an ini sesungguhnya diturunkan dari Tuhan yang menguasai alam semesta. Sebagai pedoman hidup untuk dibaca, dihafal, dipahami dan diamalkan. Maka sungguh sesatlah orang-orang yang menuduh bahwa Al-Qur’an ini sihir atau syair.

Tafsir Quraish Shihab: Al-Qur’ân itu tidak disentuh kecuali oleh mereka yang tersucikan dari kotoran dan hadas, diturunkan dari Allah, Tuhan semua makhluk.

Surah Al-Waqiah Ayat 80
تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 106-109; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Terjemahan: Diturunkan dari Rabbil ‘alamiin.

Tafsir Jalalain: (Diturunkan) ia diturunkan (dari Rabb semesta alam).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah Ta’ala: tanziilum mir rabbil ‘aalamiin (“Diturunkan dari Rabb semesta alam”) maksudnya al-Qur’an itu diturunkan oleh Allah, Rabb seru sekalian alam. Bukan seperti yang mereka katakan bahwa ia merupakan sihir, perdukunan atau sya’ir, tetapi ia merupakan kebenaran yang tidak mengandung keraguan sama sekali, dan dibelakangnya tidak ada lagi kebenaran yang bermanfaat.

Tafsir Kemenag: Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an ini adalah wahyu ilahi yang mengandung faedah dan kemanfaatan yang tiada terhingga dan berisi ilmu serta petunjuk pasti yang membawa kebahagiaan kepada manusia untuk kehidupan dunia dan akhirat, dan membacanya termasuk ibadah.

Al-Qur’an merupakan sumber ilmu tauhid, ilmu fiqih, ilmu tasawuf, dan lain-lain. Al-Qur’an terjamin kesuciannya, hanya Malaikat al-Muqarrabin yang pernah menyentuhnya dari Lauh Mahfudz, yaitu Malaikat Jibril yang ditugaskan menyampaikannya kepada Nabi Muhammad saw. Mengenai ayat 79, sebagian ahli tafsir berbeda pendapat. Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan. (al- Waqi’ah/56: 79)

Jumhur ulama mengistimbatkan bahwa ayat 79 ini melarang orang-orang yang berhadas, baik hadas kecil maupun hadas besar, menyentuh atau memegang mushaf Al-Qur’an, berdasarkan hadis Mu’adh bin Jabal, Rasul bersabda, “Tidak boleh menyentuh mushaf kecuali orang suci.” Pendapat inilah yang dianut oleh sebagian besar umat Islam Indonesia.

Ada dua pendapat tentang hukum menyentuh mushaf yaitu: 1. Imam empat mazhab berpendapat tidak boleh menyentuh mushaf tanpa wudu. Menurut Imam Nawawi, firman Allah: la yamassuhu illal-muthahharun bermakna tidak menyentuh mushaf ini kecuali orang suci dari hadas. 2. Mazhab az-¨ahiri berpendapat boleh menyentuh mushaf tanpa wudu dengan alasan bahwa Rasulullah saw pernah mengirim surat yang ada ayat Al-Qur’annya kepada Heraklius padahal dia non muslim dan tidak berwudu. Anak kecil membawa tempat menulis Al-Qur’an dan buku yang ada tulisan Al-Qur’an diperbolehkan oleh para ulama.

Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an ini sesungguhnya diturunkan dari Tuhan yang menguasai alam semesta. Sebagai pedoman hidup untuk dibaca, dihafal, dipahami dan diamalkan. Maka sungguh sesatlah orang-orang yang menuduh bahwa Al-Qur’an ini sihir atau syair.

Tafsir Quraish Shihab: Al-Qur’ân itu tidak disentuh kecuali oleh mereka yang tersucikan dari kotoran dan hadas, diturunkan dari Allah, Tuhan semua makhluk.

Surah Al-Waqiah Ayat 81
أَفَبِهَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ أَنتُم مُّدۡهِنُونَ

Terjemahan: Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Quran ini?

Tafsir Jalalain: أَفَبِهَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ (Maka apakah terhadap firman ini) Alquran ini َنتُم مُّدۡهِنُونَ (kalian menganggapnya remeh?) meremehkan dan mendustakannya.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman-Nya: أَفَبِهَٰذَا ٱلۡحَدِيثِ أَنتُم مُّدۡهِنُونَ (“Maka apakah kamu menganggap remeh saja al-Qur’an ini?”) al-Aufi menceritakan dari Ibnu ‘Abbas ra: “Yakni orang-orang yang mendustakan dan tidak membenarkan.” Demikian pula yang dikatakan oleh adh-Dhahhak, Abu Harzah, dan as-Suddi. Mengenai firman-Nya: mudHinuun, Mujahid berkata: “Kalian cenderung kepada mereka.”

Tafsir Kemenag: Allah mencela orang-orang yang meremehkan Al-Qur’an, yang memandangnya sebagai ucapan manusia biasa, mereka juga mencemoohkan orang-orang yang berpegang kepada Al-Qur’an dan tidak membelanya bila ada orang-orang yang menghinanya.

Selanjutnya Allah swt mencela orang yang tidak mensyukuri nikmat-nikmat Tuhan yang dikaruniakan kepada mereka, malahan nikmat-nikmat tersebut mereka sambut dengan mendustakannya. Dalam ayat yang lain yang sama maksudnya Allah berfirman: Dan salat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. (al-Anfal/8: 35).

Tafsir Quraish Shihab: Apakah kalian berpaling dan memandang remeh kedudukan al-Qur’ân yang agung ini?

Surah Al-Waqiah Ayat 82
وَتَجۡعَلُونَ رِزۡقَكُمۡ أَنَّكُمۡ تُكَذِّبُونَ

Terjemahan: kamu mengganti rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan Allah.

Tafsir Jalalain: وَتَجۡعَلُونَ رِزۡقَكُمۡ أَنَّكُمۡ (Kalian menjadikan rezeki yang diberikan kepada kalian) yaitu berupa air hujan; kalian membalasnya تُكَذِّبُونَ (dengan mendustakan) rezeki yang diberikan Allah kepada kalian berupa air hujan itu karena kalian telah mengatakan, “Kami di beri hujan oleh bintang anu”.

Tafsir Ibnu Katsir: وَتَجۡعَلُونَ رِزۡقَكُمۡ أَنَّكُمۡ تُكَذِّبُونَ (“Kamu [mengganti] rizky [yang Allah berikan] dengan mendustakan [Allah].” Sebagian mereka mengatakan: “Kata lain, kalian berdusta sebagai ganti rasa syukur.” Ibnu Jarir menceritakan, dan ia telah menyebutkan dari al-Haitsam bin ‘Adi, bahwa di antara bahasa Azad Syunu-ah; maa razaqa fulaanun; berarti rasa syukur fulan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali, ia bercerita: Rasulullah saw bersabda: “Dan kamu [mengganti] rizky [yang Allah berikan]” beliau mengatakan: “Rasa syukur kalian berupa pendustaan yang kalian lakukan. Kalian mengatkan: ‘Kami dihujani dengan bintang ini dan bintang itu dan itu.”

Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Ahmad bin Mani’ dari Husein bin Muhammad al-Marwazi dengan lafadznya. At-Tirmidzi mengatakan: “Hadits tersebut hasan gharib.”

Dan dalam kitabnya, al-Muwaththa’, Imam Malik meriwayatkan dari Zaid bin Khalid al-Juhani, bahwasannya ia pernah berkata: Rasulullah saw. pernah mengerjakan shalat shubuh bersama kami di Hudaibiyyah setelah turun hujan pada suatu malam.

Setelah selesai, Rasulullah saw. menghadap orang-orang seraya bersabda: “Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan oleh Rabb kalian?” para shahabat menjawab: “Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Allah telah berfirman: ‘Hamba-hamba-Ku yang mukmin dan yang kafir kepada-Ku telah memasuki waktu pagi.

Adapun orang yang berkata: kami diberi hujan oleh karunia dan rahmat-Nya; maka yang demikian itu adalah orang-orang yang beriman kepada-Ku dan kufur terhadap bintang. Adapun orang yang mengatakan: kami telah diberi hujan oleh bintang ini dan bintang itu; maka dengan demikian ia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.”

Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab ash-Shahihain dan Abu Dawud serta an-Nasa-i, semuanya bersumber dari hadits Malik.

Tafsir Kemenag: Allah mencela orang-orang yang meremehkan Al-Qur’an, yang memandangnya sebagai ucapan manusia biasa, mereka juga mencemoohkan orang-orang yang berpegang kepada Al-Qur’an dan tidak membelanya bila ada orang-orang yang menghinanya.

Selanjutnya Allah swt mencela orang yang tidak mensyukuri nikmat-nikmat Tuhan yang dikaruniakan kepada mereka, malahan nikmat-nikmat tersebut mereka sambut dengan mendustakannya. Dalam ayat yang lain yang sama maksudnya Allah berfirman: Dan salat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. (al-Anfal/8: 35).

Tafsir Quraish Shihab: Lalu, yang seharusnya mensyukuri rezeki, kalian malah mendustakan al-Qur’ân.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Waqiah Ayat 75-82 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S