Surah An-Nahl Ayat 103; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Nahl Ayat 103

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Nahl Ayat 103 ini, menerangkan “sebagian orang yang mengingkari malah bertindak lebih jauh. Mereka tidak hanya mengatakan bahwa hanya ayat-ayat yang diubah saja yang termasuk buatan Nabi Muhammad Saw,

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Namun juga seluruh Al-Quran merupakan karya Nabi Muhammad Saw, bahkan isi dan bahasanya malah dinisbatkan kepada selain nabi. Mereka mengatakan, “Muhammad terlebih dahulu mempelajari masalah-masalah ini lalu kemudian mengaku sebagai nabi.”

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl Ayat 103

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِّسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ

Terjemahan: Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya Al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.

Tafsir Jalalain: وَلَقَدْ (Dan sesungguhnya) lafal qad di sini menunjukkan makna tahqiq. نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ (Kami mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya ia itu diajarkan kepadanya) yakni Alquran itu بَشَرٌ (oleh seorang manusia.”) dimaksud adalah seorang pendeta Nasrani yang Nabi saw. pernah berkunjung kepadanya,

lalu Allah swt. menyanggah melalui firman-Nya: لِّسَانُ (Padahal bahasa) atau logat يُلْحِدُونَ (yang mereka tuduhkan) mereka sangkakan إِلَيْهِ (kepada Muhammad) bahwa ia belajar daripadanya أَعْجَمِيٌّ (adalah bahasa ajam sedangkan ini) yakni Alquran ini,

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 89; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ (adalah dalam bahasa Arab yang terang) memiliki kejelasan dan kefasihan, maka mengapa bahasa ini diajarkan oleh orang asing?.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman seraya memberitahukan tentang kaum musyrikin, yaitu tentang kebohongan, sikap mengada-ada, dan dusta dalam ucapan mereka yang menyatakan bahwa seseorang telah mengajari Muhammad dengan al-Qur’an yang dibawakan kepada kami.

Mereka menunjuk seorang A’jami (non-Arab) yang ada di tengah-tengah mereka, yang dia adalah seorang pedagang yang berjualan di Shaf a. Mungkin Rasulullah duduk di dekatnya dan berbicara kepadanya tentang sedikit hal.

Orang itu tidak bisa berbahasa Arab atau mungkin memahami bahasa Arab tetapi hanya sedikit saja, sekedar untuk menjawab sapaan yang mesti ditanggapi.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman seraya membantah mereka terhadap tindakan mereka yang mengada-ada tersebut: لِّسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ (Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan [bahwa] Muhammad belajar kepadanya [adalah] bahasa Ajam, sedang al-Qur’an adalah dalam bahasa Arab yang terang) Yakni, al-Qur’an.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 9; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Lalu bagaimana mungkin orang yang membawa al-Qur’an dengan kefasihan, balaghah, dan berbagai maknanya yang sempurna lagi mencakup, yang ia lebih sempurna daripada makna-makna setiap Kitab yang diturunkan kepada Bani Israil, bagaimana mungkin dia belajar dari orang yang tidak bisa berbahasa Arab (A’jami)? Hal seperti itu hanya dikemukakan oleh orang yang kurang sehat akalnya.

Tafsir Kemenag: Allah swt menjelaskan bahwa orang-orang musyrik Mekah menuduh Nabi Muhammad saw menerima pelajaran Al-Qur’an dari seseorang. Menurut mereka, orang itu seorang laki-laki asing, bukan bangsa Arab, yang selalu mengajarkan kitab-kitab lama di tengah-tengah mereka.

Tetapi tuduhan itu tidak benar karena Al-Qur’an tersusun dalam bahasa Arab yang indah dan padat isinya, bagaimana orang asing menciptakannya? Sampai sejauh mana orang yang bukan bangsa Arab Quraisy merasakan keindahan bahasa Arab dan kemudian menyusunnya dalam bahasa yang indah dan padat seperti Al-Qur’an? Apalagi kalau dikatakan bahwa orang itu menjadi pengajar Nabi. Mengenai siapa orang asing itu, bermacam-macam riwayat menjelaskannya.

Di antaranya ada yang mengatakan bahwa orang asing itu adalah seorang budak Romawi yang beragama Nasrani, yang dipelihara oleh Bani Hadrami. Namun demikian, dari riwayat yang bermacam-macam itu, tidak ada satu pun yang dapat menjadi pegangan.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 12-13; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Besar kemungkinan tuduhan itu hanya tipu muslihat orang-orang musyrik yang sengaja dilontarkan kepada Nabi saw dan kaum Muslimin. Pemimpin-pemimpin Quraisy yang berdagang ke Syam (Syria) sedikit banyaknya sudah pernah mendengar isi Kitab Taurat dan Injil karena hubungan mereka dengan orang-orang Ahli Kitab.

Karena Al-Qur’an itu memuat isi Taurat, lalu mereka mengira tentulah ada orang asing (‘ajam) yang beragama Nasrani mengajarkan isi Al-Qur’an itu kepada Nabi.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah An-Nahl Ayat 103 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S