Surah An-Nahl Ayat 114-117; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Nahl Ayat 114-117

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Nahl Ayat 114-117 ini, mengajak manusia untuk menjaga keseimbangannya dalam memakan makanan. Tidak ekstrim kiri dan kanan. Oleh karenanya Allah menyebut makanan apa saja yang dapat dimakan. Al-Quran berdasarkan kebutuhan manusia mengatakan, “Kalian diperkenankan memakan daging, namun tidak setiap daging.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Jauhkan diri kalian dari memakan daging yang dicekik, mati (bangkai) dan daging hewan yang tidak disembelih. Begitu juga kalian haram memakan daging hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah.” Perbuatan ini sama halnya dengan berdusta kepada Tuhan.

Barangsiapa yang berdusta kepada Allah Swt, tidak akan mendapatkan keuntungan di dunia dan akherat. Tempat bagi orang-orang yang berdusta kepada Allah Swat adalah api neraka.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl Ayat 114-117

Surah An-Nahl Ayat 114
فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Terjemahan: Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.

Tafsir Jalalain: فَكُلُوا (Maka makanlah) hai orang-orang yang beriman مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ (yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepada kalian dan syukurilah nikmat Allah jika kalian hanya kepada-Nya saja menyembah).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman seraya memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk memakan rizki yang halal lagi baik yang telah diberikan-Nya, serta mensyukurinya. Sesungguhnya Dialah yang memberikan dan mengaruniakan nikmat yang hanya Dia yang berhak mendapatkan penghambaan, yang tiada sekutu bagi-Nya.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah menyuruh kaum Muslimin untuk memakan makanan yang halal dan baik dari rezeki yang diberikan Allah swt kepada mereka, baik makanan itu berasal dari binatang maupun tanaman. Makanan yang halal ialah makanan dan minuman yang dibenarkan oleh agama untuk dimakan dan diminum.

Makanan yang baik ialah makanan dan minuman yang dibenarkan untuk dimakan atau diminum oleh kesehatan, termasuk di dalamnya makanan yang bergizi, enak, dan sehat.

Makanan yang halal lagi baik inilah yang diperintahkan oleh Allah untuk dimakan dan diminum. Makanan yang dibenarkan oleh ilmu kesehatan sangat banyak, dan pada dasarnya boleh dimakan dan diminum.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 91-92; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah An-Nahl Ayat 115
إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Terjemahan: Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Tafsir Jalalain: إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atas kalian bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barang siapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.).

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan hal-hal yang diharamkan bagi mereka yang memang berbahaya bagi mereka dalam memeluk agama dan dunia mereka, baik yang berupa bangkai, darah, dan daging babi:

وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ (Dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah) Artinya, binatang yang disembelih dengan menyebut selain nama Allah. Meskipun demikian; فَمَنِ اضْطُرَّ (Barangsiapa yang terpaksa memakannya) yaitu, yang dia butuhkan, tanpa penganiayaan dan tidak pula melampaui batas.

فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (Maka sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapemurah) Pembahasan mengenai ayat seperti ini telah disampaikan pada surat al-Baqarah, yang sudah mencukupi sehingga tidak perlu dilakukan pengulangan. Segala puji dan sanjungan hanya bagi Allah semata.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah menjelaskan makanan yang diharamkan bagi orang-orang Islam. Makanan yang diharamkan dalam ayat ini ialah bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih atas nama berhala atau lainnya selain nama Allah. Pengharaman terhadap makanan tersebut semata-mata hak dan kebijaksanaan Allah swt dalam membimbing hamba-hamba-Nya.

Surah An-Nahl Ayat 116
وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

Terjemahan: Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 76; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Jalalain: وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ (Dan janganlah kalian mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidah kalian) yang sering digambarkan oleh lisan kalian الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ (secara dusta, Ini halal dan ini haram) terhadap apa yang tidak dihalalkan oleh Allah dan apa yang tidak diharamkan oleh-Nya,

لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ (untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah) dengan menisbatkan hal itu kepada-Nya. إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ (Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya untuk menempuh jalan orang-orang musyrik dalam menghalalkan dan mengharamkan sebutan- sebutan yang mereka istilahkan hanya berdasarkan pendapat mereka sendiri, seperti misalnya, al-bahiirah, as-saa-ibah, al-washiilah, al-haam, dan lain-lainnya yang mereka buat sendiri pada masa Jahiliyyah.

Maka Allah Ta’ala berfirman: وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ (Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah).

Yang termasuk dalam hal ini adalah orang yang melakukan suatu bid’ah yang tidak didasarkan pada sandaran syari’at, atau orang yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, atau mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah hanya berdasarkan pada pendapat dan hawa nafsunya saja.

Kemudian Allah mengancam tindakan hal tersebut seraya berfirman: إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ (Sesungguhnya orang yang mengadakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung) Yakni, di dunia dan juga di akhirat. Adapun di dunia adalah berupa kenikmatan yang sangat sedikit, sedangkan di akhirat mereka akan mendapatkan adzab yang sangat pedih.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah swt melarang kaum Muslimin mengharam-kan atau menghalalkan makanan menurut selera dan hawa nafsu mereka, sebagaimana orang-orang musyrik.

Mereka mempunyai kebiasaan meng-haramkan atau menghalalkan binatang semata-mata didasarkan nama istilah yang mereka tetapkan sendiri untuk binatang itu, misalnya: bahirah, sa’ibah, wasilah, dan ham.

Surah An-Nahl Ayat 117
مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Baca Juga:  Penjelasan Makna Syukur yang Terdapat dalam Ayat Al-Quran Menurut Para Ahli Bahasa

Terjemahan: (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.

Tafsir Jalalain: Bagi mereka yang mengada-adakan kedustaan atas nama Allah مَتَاعٌ قَلِيلٌ (kesenangan yang sedikit) di dunia وَلَهُمْ (dan bagi mereka) kelak di akhirat عَذَابٌ أَلِيمٌ (azab yang pedih) azab yang menyakitkan.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Swt. melalui firman-Nya: Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras. (Luqman: 24),

Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung. (Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka. (Yunus: 69-70)”

Tafsir Kemenag: Allah menegaskan lagi bahwa mereka yang mengada-adakan ketentuan dan hukum yang sama sekali tidak ada dasarnya dari kitab Allah dan rasul-Nya, tapi semata-mata dari hawa nafsu, pasti tidak akan memperoleh keberhasilan dunia dan akhirat.

Jika ada keuntungan dari kelakuan itu, maka keuntungannya sangatlah sedikit dibandingkan dengan kerugian dan bahaya yang diakibatkan dari perbuatan itu.

Dalam sejarah banyak peristiwa menyedihkan terjadi akibat pendapat-pendapat keagamaan yang tidak bersumber dari kitab suci. Pendapat itu kadang-kadang diadakan hanyalah untuk memenuhi keinginan dan kepentingan penguasa yang menjadikan agama sebagai alat memperkuat kekuasaan dan penguat hawa nafsunya.

Yang halal diharamkan dan yang haram dihalalkan oleh orang yang hendak memperoleh keuntungan duniawi. Mereka lupa bahwa kesenangan duniawi itu sedikit dan terbatas pada umur mereka yang pendek. Tetapi di dalam kehidupan akhirat yang abadi, mereka akan menerima azab dari Allah disebabkan kelancangan lidah mereka ketika berbohong kepada Allah.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah An-Nahl Ayat 114-117 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S