Surah An-Nahl Ayat 19-21; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Nahl Ayat 19-21

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Nahl Ayat 19-21 ini, Allah mengetahui seluruh amal perbuatan kalian, baik yang kalian rahasiakan pada jiwa kalain maupun yang kalian tampakkan kepada orang lain, dan Dia akan memberikan balasan kepada kalain atas perbuatan-perbuatan tersebut.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tuhan-tuhan sesembahan yang disembah oleh kaum musyrikin tidak mampu menciptakan apapun, meskipun barang yang amat kecil. Sebab tuhan-tuhan sesembahan itu(juga) makhluk-makhluk yang diciptakan sendiri oleh orang-orang kafir dengan tangan-tangan mereka.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl Ayat 19-21

Surah An-Nahl Ayat 19
وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ

Terjemahan: Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan.

Tafsir Jalalain: وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ (Dan Allah mengetahui apa yang kalian rahasiakan dan apa yang kalian lahirkan.).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah memberi khabar bahwa sesungguhnya Dia mengetahui hati dan rahasia-rahasia, sebagaimana Dia mengetahui sesuatu yang dhahir. Dan Dia akan membalas setiap orang dengan amal perbuatannya, pada han Kiamat, jika amal itu baik maka balasannya baik, dan jika amal itu buruk maka balasannya buruk pula.

Tafsir Kemenag: Allah swt menjelaskan bahwa Dia Maha Mengetahui segala apa yang dirahasiakan manusia. Maksudnya, Allah mengetahui apa yang ada dalam hati manusia, yang berbeda dengan apa yang mereka ucapkan dan kerjakan.

Surah An-Nahl Ayat 20
وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ

Baca Juga:  Surah Al-Anfal Ayat 2-4; Seri Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Terjemahan: Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang.

Tafsir Jalalain: وَالَّذِينَ يَدْعُونَ (Dan berhala-berhala yang mereka seru) dapat dibaca yad’uuna dan tad’uuna, artinya yang mereka sembah مِن دُونِ اللَّهِ (selain Allah) yang dimaksud adalah berhala-berhala

لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ (tidak dapat membuat sesuatu apa pun sedangkan berhala-berhala itu sendiri dibuat orang) mereka pahat dari batu atau dari bahan-bahan yang lain.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah memberi khabar bahwa berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah itu tidak dapat menciptakan suatu apa pun, dan bahkan berhala-berhala itu diciptakan, seperti apa yang di katakan Nabi Ibrahim al-Khalil yang artinya:

“Apakah kamu menyembah patung patung yang kamu pahat itu? Padahal Allahlah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS. Ash-Shaaffaat: 95-96)

Tafsir Kemenag: Allah swt menjelaskan kepada orang-orang musyrik bagaimana keadaan patung yang sebenarnya. Hal ini sebagai penegasan terhadap kebodohan mereka yang tidak dapat menilai keadaan yang sebenarnya dari patung-patung yang mereka sembah.

Allah swt menyatakan bahwa orang-orang yang menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah berarti menyembah sesuatu yang tidak dapat menciptakan suatu apapun. Apa yang mereka sembah itu hanyalah makhluk yang diciptakan oleh Allah.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 120-123; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Jadi patung-patung dan sembahan-sembahan lainnya itu tidak dapat memberikan pengaruh apa-apa karena hanya merupakan hasil pahatan manusia itu sendiri.

Surah An-Nahl Ayat 21
أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Terjemahan: (Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan.

Tafsir Jalalain: أَمْوَاتٌ (Berhala-berhala itu benda mati) tidak ada rohnya; lafal ini menjadi khabar yang kedua غَيْرُ أَحْيَاءٍ (tidak hidup) berkedudukan menjadi taukid atau pengukuh وَمَا يَشْعُرُونَ (dan mereka tidak mengetahui) berhala-berhala tersebut tidak mengetahui

أَيَّانَ (bilakah) menunjukkan makna waktu يُبْعَثُونَ (mereka akan dibangkitkan) yang dimaksud adalah makhluk semuanya; maka jika keadaannya demikian mengapa berhala-berhala itu mereka sembah? Kalau demikian berarti tiada tuhan melainkan hanya Yang Maha Pencipta, Yang Maha Hidup dan Yang Maha Mengetahui semua yang gaib.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ ([Berhala-berhala] itu benda mati tidak hidup) maksudnya berhala-berhala itu benda mati yang tidak ada ruh di dalamnya, maka ia tidak mendengar, tidak melihat dan tidak berakal.

وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ (Dan berhala-berhala itu tidak mengetahui bilakah penyembah penyembahnya akan dibangkitkan) maksudnya berhala-berhala itu tidak mengetahui kapan adanya Kiamat, dan bagaimana harus berharap, kemanfaatan, pahala, atau balasan kepada berhala-berhala ini, akan tetapi semua itu dapat diharapkan dari Rabb yang mengetahui segala sesuatu dan yang menciptakan segala sesuatu yang ada.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 30-32; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Allah swt lalu menjelaskan bahwa berhala-berhala itu adalah benda mati. Berhala itu tidak dapat memikirkan bagaimana seharusnya mengabulkan doa-doa yang mereka minta.

Allah swt menegaskan bahwa patung-patung itu bukanlah benda hidup yang dapat memberikan pengaruh, baik bagi dirinya maupun di luar dirinya. Berhala itu, baik disembah ataupun tidak, tidak akan memberikan faedah apa punjuga dan tidak akan pula menyebabkan kemudaratan.

Di akhir ayat, Allah swt menegaskan bahwa berhala-berhala itu tidak akan mengetahui dan merasakan bila penyembah-penyembahnya kelak dibangkitkan. Hanya Allah, pencipta jagat raya dan isinya saja yang mengetahuinya, sedang patung-patung itu tidak akan mengetahui apa-apa karena hanya merupakan benda-benda mati.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah An-Nahl Ayat 19-21 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S