Surah An-Nahl Ayat 35-37; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Nahl Ayat 35-37

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Nahl Ayat 35-37 ini, menerangkan bahwa Allah tidak memaksa seorang manusia pun untuk beriman kepada Nya dan tidak memaksa manusia untuk menjadi musyrik. Pilihan iman, dan kesyirikan, sepenuhnya berada di tangan manusia sendiri.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah Swt dalam ayatnya menekankan bahwa Allah Swt telah mengutus para nabi untuk seluruh umat-Nya yang akan membimbing manusia menuju jalan kebenaran.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl Ayat 35-37

Surah An-Nahl Ayat 35
وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِن دُونِهِ مِن شَيْءٍ نَّحْنُ وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِن دُونِهِ مِن شَيْءٍ كَذَلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Terjemahan: Dan berkatalah orang-orang musyrik: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatupun tanpa (izin)-Nya”.

Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum mereka; maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.

Tafsir Jalalain: وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُو (Dan berkatalah orang-orang musyrik) dari kalangan penduduk Mekah لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِن دُونِهِ مِن شَيْءٍ نَّحْنُ وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِن دُونِهِ مِن شَيْءٍ (Jika Allah menghendaki niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami,

dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu pun tanda izin-Nya) yaitu mengharamkan bahirah dan saibah. Ini berarti bahwa kemusyrikan kami dan pengharaman kami ini berdasarkan kehendak-Nya karena Dia rela terhadapnya.

Maka Allah berfirman menyanggah mereka: كَذَلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ (Demikianlah yang diperbuat oleh orang-orang sebelum mereka) artinya mereka telah mendustakan rasul-rasul mereka tentang apa yang didatangkan oleh para rasul itu.

فَهَلْ (maka tidak ada) عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (kewajiban atas para rasul selain dari menyampaikan amanat Allah dengan terang) dan mereka tidak berkewajiban untuk memberi hidayah.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala memberi khabar tentang terperdayanya orang-orang musyrik dengan apa yang mereka berada dalam kemusyrikan dan alasan-alasan kemusyrikan itu, mereka pun berdalil dengan takdir,

mereka berkata: لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِن دُونِهِ مِن شَيْءٍ نَّحْنُ وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِن دُونِهِ مِن شَيْءٍ (Jika Allah menghendaki niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia baik kami maupun bapak-bapak kami dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu tanpa [izin]-Nya)

Adapun ucapan mereka bahwa seandainya Allah Ta’ala benci terhadap apa yang kami kerjakan, tentunya Allah telah mengingkarinya dengan menurunkan siksa-Nya, dan mengapa Allah menguasakan hal tersebut kepada kami?

Baca Juga:  Surah Al-Furqan Ayat 63-67; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Allah Ta’ala berfirman untuk menolak atas tuduhan mereka: فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (Maka tidak ada kewajiban atas para Rasul, selain dari menyampaikan [amanat Allah] dengan terang)

maksudnya, permasalahan bukanlah seperti yang kalian duga, sesungguhnya Allah bukan hanya mengingkari perbuatan kalian, akan tetapi Allah benar-benar mengingkari dan melarang perbuatan itu.

Tafsir Kemenag: Allah swt lalu menjelaskan tipu daya orang-orang musyrik dan alasan mereka untuk mendustakan Rasulullah saw dan pengikut-pengikutnya. Mereka mengemukakan alasan bahwa mereka menyembah berhala-berhala karena Allah telah merestui peribadatan itu. Kalau Allah menghendaki mereka menyembah Allah Yang Maha Esa, tentulah mereka tidak akan menyembah sesuatu apa punselain Allah swt.

Demikian juga penetapan mereka terhadap: bahirah (unta betina yang telah beranak lima kali dan anak kelima itu jantan), sibah (unta betina yang dibiarkan pergi ke mana saja lantaran suatu nazar), wasilah (domba betina yang melahirkan anak kembar sedangkan anaknya jantan dan betina), dan ham (unta jantan yang tidak boleh diganggu gugat lagi karena telah membuahi unta betina sepuluh kali), sebagai binatang yang haram, menurut mereka sudah direstui Allah.

Allah swt menyangkal alasan yang mereka kemukakan dan menolak dugaan mereka yang salah itu. Allah tidak membenarkan apa yang mereka kerjakan karena Allah telah menyampaikan petunjuk melalui rasul-Nya. Rasul telah menyampaikan bimbingan kepada kaumnya ke jalan yang benar melalui perantaraan wahyu-Nya.

Surah An-Nahl Ayat 36
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Terjemahan: Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

Tafsir Jalalain: وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا (Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat) seperti Aku mengutus kamu kepada mereka أَنِ (untuk) artinya untuk menyerukan اعْبُدُوا اللَّهَ (Sembahlah Allah) esakanlah Dia وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ (dan jauhilah thaghut,’) berhala-berhala itu janganlah kalian sembah.

فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ (maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah) lalu ia beriman وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ (dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti) telah ditentukan عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ (kesesatan baginya) menurut ilmu Allah, sehingga ia tidak beriman.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 51-55; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

فَسِيرُوا (Maka berjalanlah kalian) hai orang-orang kafir Mekah فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan) rasul-rasul mereka, yakni kebinasaan yang akan mereka alami nanti.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan Allah Ta’ala berfirman dalam ayat yang mulia ini: وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ (Dan sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul pada tiap-tiap umat [untuk menyerukan] sembahlah Allah [saja] dan jauhilah thaghut itu)

maka bagaimana mungkin setelah itu Allah membiarkan salah seorang dari orang-orang musyrik untuk berkata: لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِن دُونِهِ مِن شَيْءٍ (Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia)

Maka kehendak Allah Ta’ ala yang bersifat syar’iyyah, yang mereka gunakan untuk alasan adalah manfiy (tidak ada), karena Allah telah melarang mereka dari itu semua melalui lisan para Rasul-Nya.

Adapun kehendak-Nya yang bersifat kauniyyah yaitu penguasaan semua itu terhadap mereka secara takdir, bukanlah merupakan dalil untuk mereka, karena Allah Ta’ala menciptakan neraka dan penghuninya yang berupa syaitan dan orang-orang kafir, sedangkan Dia tidak ridha kekufuran terhadap hamba-Nya.

Dan Allah dalam hal itu memiliki hujjah (dalil) yang sangat mengena, dan hikmah yang sangat pasti. Kemudian sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberi khabar, bahwa Dia benar-benar mengingkari mereka dengan menurunkan siksa di dunia setelah para Rasul itu memberi peringatan.

Maka dari itu Allah berfirman: فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (Maka di antara umat itu ada orang-orang yang di beri petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya, maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan [para Rasul]).

maksudnya tanyakanlah olehmu bagaimana kesudahan orang-orang yang menentang para Rasul dan mendustakan kebenaran.

Tafsir Kemenag: Allah swt menjelaskan bahwa para rasul itu diutus sesuai dengan sunatullah yang berlaku pada umat sebelumnya. Mereka itu adalah pembimbing manusia ke jalan yang lurus. Bimbingan rasul-rasul itu diterima oleh orang-orang yang dikehendaki oleh Allah dan membawa mereka kepada kesejahteraan dunia dan kebahagiaan akhirat.

Allah swt menjelaskan bahwa Dia telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umat yang terdahulu, seperti halnya Dia mengutus Nabi Muhammad saw kepada umat manusia seluruhnya. Oleh sebab itu, manusia hendaklah mengikuti seruannya dan meninggalkan segala larangannya.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 125; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah An-Nahl Ayat 37
إِن تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَن يُضِلُّ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ

Terjemahan: Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong.

Tafsir Jalalain: إِن تَحْرِصْ (Jika kamu sangat mengharapkan) hai Muhammad عَلَى هُدَاهُ (agar mereka dapat petunjuk) sedangkan Allah telah menyesatkan mereka niscaya kamu tidak akan mampu melakukan hal itu.

فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَن يُضِلُّ (maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya) dapat dibaca yudhillu dan yudhallu, artinya orang yang dikehendaki-Nya sesat وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ (dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong”) yang dapat mencegah azab Allah atas diri mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah Ta’ala memberi khabar kepada Rasul-Nya bahwa harapannya agar mereka mendapat petunjuk, tidak ada manfaatnya bagi mereka, jika Allah benar-benar berkehendak untuk menyesatkan mereka.

Dan Allah telah berfirman dalam ayat yang mulia ini: إِن تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَن يُضِلُّ (Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang di sesatkan-Nya).

وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ (Dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong) maksudnya, menyelamatkan mereka dari siksa-Nya dan ikatan-Nya.

Tafsir Kemenag: Allah swt lalu menjelaskan kepada Nabi Muhammad saw agar jangan kecewa menghadapi keingkaran kaumnya dan pembangkangan yang berlebihan, padahal Rasul sendiri sangat menginginkan mereka menjadi orang-orang yang beriman.

Allah swt menjelaskan kepada Rasulullah saw bahwa meskipun dia sangat mengharapkan agar kaumnya mendapat petunjuk dan mengikuti seruannya,

harapan tersebut tidak ada gunanya apabila Allah tidak menghendaki mereka mendapat petunjuk karena mereka telah menentukan pilihannya sendiri. Mereka itu berpaling dari bimbingan wahyu dan tertarik kepada tipu daya setan sehingga terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan dan kemusyrikan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah An-Nahl Ayat 35-37 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S