Surah An-Najm Ayat 42-55; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Najm Ayat 42-55

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Najm Ayat 42-55 ini, menjelaskan bahwa sesungguhnya Dia-lah yang menjadikan mati dan hidup karena Dia adalah zat yang sanggup untuk menghidupkan, mematikan dan menghidupkan kembali. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah tempat kembali segala sesuatu pada hari Kiamat dan Ia akan menghisab yang kecil dan besar, lalu Ia memberi pahala atau siksa sesuai dengan perbuatan mereka masing-masing.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm Ayat 42-55

Surah An-Najm Ayat 42
وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ

Terjemahan: “dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu),

Tafsir Jalalain: وَأَنَّ (Dan bahwasanya) jika dibaca Anna berarti di’athafkan kepada kalimat sebelumnya, jika dibaca Inna berarti merupakan jumlah Isti-naf atau kalimat baru. Hal ini berlaku pula terhadap lafal yang sama yang jatuh sesudahnya, dengan demikian maka pengertian yang terkandung pada kalimat sesudah Anna pertama bukan termasuk ke dalam pengertian yang terkandung di dalam lembaran-lembaran Ibrahim إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ (kepada Rabbmulah kesudahan) tempat kembali sesudah mati, lalu Dia memberikan balasan yang setimpal kepada mereka masing-masing.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ (“Dan bahwasannya kepada Rabb-mulah kesudahan [segala sesuatu]”) yakni tempa kembali pada hari kiamat kelak. Ibnu Abi Hatim menceritakan dari ‘Amr bin Maimun al-Audi, ia berkata bahwa Mu’adz bin Jabal pernah berdiri di tengah-tengah kami, lalu ia bekata:

“Wahai bani Aud, sesungguhnya aku adalah utusan Rasulullah saw. kepada kalian. Ketahuilah bahwa tempat kembali kepada Allah itu bisa ke Surga atau ke Neraka.” Al-Baghawi menyebutkan dari Ubay bin Ka’ab, dari Nabi saw. mengenai firman-Nya: Allah berfirman:

وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ (“Dan bahwasannya kepada Rabb-mulah kesudahan [segala sesuatu]”) beliau berkata: “Tidak ada pemikiran terhadap Rabb [Allah].” Dan dalam hadits shahih disebutkan: “Syaitan akan mendatangi salah seorang di antara kalian seraya bertanya:

‘Siapakah yang telah menciptakan ini dan siapa pula yang menciptakan itu?’ Hingga akhirnya ia bertanya: ‘Siapakah yang menciptakan Rabb-mu?’ Dan jika salah seorang di antara kalian sampai pada hal tersebut, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dan menghentikan pertanyaan.” (Mutafaq ‘Alaihi).

Tafsir Kemenag: Allah tempat kembali segala sesuatu pada hari Kiamat dan Ia akan menghisab yang kecil dan besar, lalu Ia memberi pahala atau siksa sesuai dengan perbuatan mereka masing-masing.

Ayat ini merupakan peringatan keras bagi orang jahat, dan bujukan yang halus bagi orang-orang baik dan sebagai penghibur hati bagi Nabi Muhammad saw, seperti firman-Nya: Maka jangan sampai ucapan mereka membuat engkau (Muhammad) bersedih hati. Sungguh, Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan. (Yasin/36: 76).

Tafsir Quraish Shihab: Dan bahwa hanya kepada Tuhan–bukan kepada yang lain–segala sesuatu akan dikembalikan.

Surah An-Najm Ayat 43
وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ

Terjemahan: “dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,

Tafsir Jalalain: وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ (Dan bahwasanya Dia-lah yang membuat orang tertawa) yang menjadikan gembira siapa yang dikehendaki-Nya وَأَبۡكَىٰ (dan menangis) yang menjadikan sedih siapa yang dikehendaki-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah Ta’ala: وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضۡحَكَ وَأَبۡكَىٰ (“Dan bahwasannya Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” Maksudnya, Allah telah menciptakan tawa dan tangis serta sebab-sebab pada diri hamba-hamba-Nya. Yang keduanya merupakan dua hal yang berbeda.

Tafsir Kemenag: Allah-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis serta sebab-sebabnya. Maksudnya, Dia yang menjadikan manusia gembira karena perbuatannya yang baik, dan Dia yang menyebabkan manusia sedih, menangis dan prihatin karena perbuatannya, yaitu perbuatan yang menyenangkan atau menyusahkan.

Tafsir Quraish Shihab: Juga bahwa hanya Dia yang membuat orang dapat tertawa dan menangis dan menciptakan faktor- faktor penyebabnya.

Surah An-Najm Ayat 44
وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا

Terjemahan: “dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan,

Tafsir jalalain: وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا (Dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan yang menghidupkan) kembali pada hari berbangkit nanti.

Tafsir Ibnu Katsir: وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحۡيَا (“Dan bahwasannya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan.”)

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa sesungguhnya Dia-lah yang menjadikan mati dan hidup karena Dia adalah zat yang sanggup untuk menghidupkan, mematikan dan menghidupkan kembali. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun. (al-Mulk/67: 2).

Tafsir Quraish Shihab: Bahwa hanya Dia yang mematikan dan menghidupkan.

Surah An-Najm Ayat 45
وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ

Terjemahan: “dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.

Tafsir Jalalain: وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَر (Dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan) kedua jenis yang berpasangan وَٱلۡأُنثَىٰ (laki-laki dan perempuan).

Tafsir Ibnu Katsir: وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰ (“Dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan.”)

Tafsir Kemenag: Allah yang menciptakan laki-laki dan perempuan dari “air mani yang dipancarkan ke dalam rahim.” Kemudian dihembuskannya ruh, sehingga dia hidup dan bergerak. Ayat 45 kembali menjelaskan mengenai keberpasangan ciptaan. Uraiannya dapat dilihat pada beberapa ayat terdahulu, seperti: Yasin/36: 36; ar-Ra’d/13: 3; asy-Syu’ara’/26: 7; dan adhdzariyat/51: 49.

Ayat 46 menjelaskan penciptaan manusia yang datangnya dari pasangan laki-laki dan perempuan, sebagai tercantum dalam beberapa ayat sebelumnya. Air mani sebagai salah satu komponen pembentuk kehidupan diuraikan secara sepintas saja. Penjelasannya dapat ditemui pada beberapa uraian dalam ayat-ayat, seperti, alhajj/22: 5; al-Mu’minun/23: 13-14; dan Fathir/35: 11.

Dalam ayat ayat tersebut telah diuraikan secara sangat rinci bertahap-tahap dalam proses pengembangan embrio manusia. Bahkan mengenai air mani sendiri, dijelaskan, antara lain, pada ayat-ayat as-Sajdah/32: 7-9. Penjelasan selanjutnya, yang sangat ilmiah, ditemukan pada penjelasan dari Surah ath-thariq/86: 6-7 dan al-Insan/76: 2.

Baca Juga:  Surah An-Najm Ayat 56-62; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Bahwa Dia menciptakan pasangan–laki-laki dan perempuan, jantan dan betina–pada manusia dan binatang dari air mani yang memancar. (1) Ayat ini menunjukkan kemahakuasaan Allah yang menciptakan pasangan–laki-laki dan perempuan pada manusia dan jantan dan betina pada binatang–dari sperma yang proses pengeluarannya dilakukan bersama oleh laki-laki dan perempuan.

Meski kandungan sperma itu begitu halus dan sangat kecil, ia merupakan sumber kehidupan dan penghidupan. Dengan demikian, ayat ini merupakan salah satu bentuk kemukjizatan al-Qur’ân yang sejak dini telah mengungkap suatu fakta sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan, yaitu bahwa di dalam cairan laki-laki terdapat spermatozoa dan di dalam cairan wanita terdapat ovum. Apabila kedua cairan itu bertemu dan menyatu maka akan tejadi pembuahan dan kehamilan

Surah An-Najm Ayat 46
مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ

Terjemahan: “dari air mani, apabila dipancarkan.

Tafsir Jalalain: مِن نُّطۡفَةٍ (Dari nuthfah) yakni air mani إِذَا تُمۡنَىٰ (apabila dipancarkan) bila ditumpahkan ke dalam rahim.

Tafsir Ibnu Katsir: مِن نُّطۡفَةٍ إِذَا تُمۡنَىٰ (. Dari air mani, apabila dipancarkan.”)

Tafsir Kemenag: Allah yang menciptakan laki-laki dan perempuan dari “air mani yang dipancarkan ke dalam rahim.” Kemudian dihembuskannya ruh, sehingga dia hidup dan bergerak. Ayat 45 kembali menjelaskan mengenai keberpasangan ciptaan. Uraiannya dapat dilihat pada beberapa ayat terdahulu, seperti: Yasin/36: 36; ar-Ra’d/13: 3; asy-Syu’ara’/26: 7; dan adhdzariyat/51: 49.

Ayat 46 menjelaskan penciptaan manusia yang datangnya dari pasangan laki-laki dan perempuan, sebagai tercantum dalam beberapa ayat sebelumnya. Air mani sebagai salah satu komponen pembentuk kehidupan diuraikan secara sepintas saja. Penjelasannya dapat ditemui pada beberapa uraian dalam ayat-ayat, seperti, alhajj/22: 5; al-Mu’minun/23: 13-14; dan Fathir/35: 11.

Dalam ayat ayat tersebut telah diuraikan secara sangat rinci bertahap-tahap dalam proses pengembangan embrio manusia. Bahkan mengenai air mani sendiri, dijelaskan, antara lain, pada ayat-ayat as-Sajdah/32: 7-9. Penjelasan selanjutnya, yang sangat ilmiah, ditemukan pada penjelasan dari Surah ath-thariq/86: 6-7 dan al-Insan/76: 2.

Tafsir Quraish Shihab: Bahwa Dia menciptakan pasangan–laki-laki dan perempuan, jantan dan betina–pada manusia dan binatang dari air mani yang memancar. (1) Ayat ini menunjukkan kemahakuasaan Allah yang menciptakan pasangan–laki-laki dan perempuan pada manusia dan jantan dan betina pada binatang–dari sperma yang proses pengeluarannya dilakukan bersama oleh laki-laki dan perempuan.

Meski kandungan sperma itu begitu halus dan sangat kecil, ia merupakan sumber kehidupan dan penghidupan. Dengan demikian, ayat ini merupakan salah satu bentuk kemukjizatan al-Qur’ân yang sejak dini telah mengungkap suatu fakta sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan, yaitu bahwa di dalam cairan laki-laki terdapat spermatozoa dan di dalam cairan wanita terdapat ovum. Apabila kedua cairan itu bertemu dan menyatu maka akan tejadi pembuahan dan kehamilan

Surah An-Najm Ayat 47
وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ

Terjemahan: “Dan bahwasanya Dialah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati),

Tafsir jalalin: وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ (Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian) huruf Hamzah lafal An Nasy`ah boleh dibaca panjang dan boleh dibaca pendek ٱلۡأُخۡرَىٰ (yang lain) kejadian yang lain untuk dibangkitkan menjadi hidup kembali, sesudah penciptaan yang pertama.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah Ta’ala: وَأَنَّ عَلَيۡهِ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰ (“Dan bahwasannya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain [kebangkitan sesudah mati]”). Maksudnya sebagaimana Dia telah menciptakan kejadian permulaan, maka Dia pasti berkuasa untuk mengembalikan, yaitu kejadian yang terakhir pada hari kiamat.

Tafsir Kemenag: Allah yang menghidupkan manusia sesudah mati untuk membalas orang yang berbuat baik atau jahat sesuai dengan apa yang dikerjakannya.

Tafsir Quraish Shihab: Bahwa Dia menghidupkan kembali manusia setelah mati.

Surah An-Najm Ayat 48
وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ

Terjemahan: “dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan,

Tafsir Jalalain: (Dan bahwasanya Dia yang memberi kekayaan) kepada manusia berupa harta benda (dan yang memberikan kecukupan) Dia memberikan harta untuk mencukupi kebutuhan orang itu.

Tafsir Ibnu Katsir: وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ (“Dan bahwasannya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan.” Maksudnya, menyerahkan kepemilikan harta kepada hamba-hamba-Nya dan menjadikan harta itu sebagai hak milik yang sangat berharga bagi mereka. Mereka tidak perlu membeli terlebih dahulu. Ini merupakan kesempurnaan nikmat bagi mereka. Dan berkisar pada pengertian itulah ungkapan para ahli tafsir.

Tafsir Kemenag: Allah yang memberikan kekayaan atau kemiskinan bagi orang yang dikehendaki-Nya di antara hamba-Nya, sesuai dengan kesanggupan dan usaha masing-masing. Ayat ini menunjukkan kekuasaan yang sempurna, bahwa nuthfah (setetes mani) adalah sesuai bagian-bagiannya menurut kenyataan.

Dari nutfah ini Allah jadikan bermacam-macam anggota, tabiat yang berlain-lainan dan laki-laki atau perempuan, maka tidak ada orang yang mengaku dapat membuatnya, sebagaimana tidak ada yang mengaku menjadikan langit dan bumi selain Allah. Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah.” (Luqman/31: 25)

Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)? Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian (mani itu) menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, lalu Dia menjadikan darinya sepasang lakilaki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati? (al-Qiyamah/75: 36-40).

Tafsir Quraish Shihab: Wa annaHuu Huwa aghnaa wa aqnaa (“Dan bahwasannya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan.” Maksudnya, menyerahkan kepemilikan harta kepada hamba-hamba-Nya dan menjadikan harta itu sebagai hak milik yang sangat berharga bagi mereka. Mereka tidak perlu membeli terlebih dahulu. Ini merupakan kesempurnaan nikmat bagi mereka. Dan berkisar pada pengertian itulah ungkapan para ahli tafsir.

Surah An-Najm Ayat 49
وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ

Terjemahan: “dan bahwasanya Dialah yang Tuhan (yang memiliki) bintang syi’ra,

Baca Juga:  Tiga Keutamaan Membaca Surat Al-Fatihah

Tafsir Jalalin: وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ (Dan bahwasanya Dia-lah Rabb bintang syi’ra) nama bintang yang berada di belakang bintang Jauza; bintang itu pada zaman jahiliah disembah-sembah.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya lebih lanjut: وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعۡرَىٰ (“Dan bahwasannya Dia adalah Rabb [yang memiliki] bintang syi’ra.”) Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, Ibnu Zaid dan lain-lain berkata: “Ia termasuk bintang yang sangat terang yang diberi nama Marzamul Jauza’, yang disembah oleh sekelompok masyarakat Arab.”

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa Dia-lah Tuhan yang memiliki bintang Syi’ra, yang sangat gemerlapan ini, yang terbit beriringan dengan bintang Jauza’ di pertengahan musim panas. Mengkhususkan sebutan bintang ini dari planet-planet angkasa lainnya yang lebih besar dan lebih gemerlapan, karena bintang ini disembah pada zaman jahiliyah, yang menyembahnya adalah kabilah Himyar dan Khuza’ah.

Orang pertama yang mengadakan penyembahan ini adalah Abu Kabsyah. Dia adalah pembesar bangsa Arab, sehingga orang Quraisy menyatakan, bahwa Nabi Muhammad saw, adalah anak Abu Kabsyah, sebagai persamaan karena berbeda dalam hal prinsip agamanya dengan agama nenek moyang mereka.

Abu Kabsyah ini adalah salah seorang dari nenek Nabi Muhammad saw, dari pihak ibunya. Sebagaimana yang dikatakan Abu Sufyan ketika ia berada di hadapan Heraklius yang menjadi Pembesar Rum, “Sungguh telah menjadi besar persoalan anak Abu Kabsyah ini (Nabi saw).

Di antara bangsa Arab ada yang memuja bintang dan mengakui pengaruhnya terhadap alam semesta dan mereka membicarakan tentang masalah-masalah yang gaib ketika bintang itu terbit. Bintang Syi’ra ini ada dua, satu di antaranya berada di sebelah Syam (Palestina) dan yang lain berada di sebelah Yaman. Keterangan inilah yang dimaksudkan di sini yang disembah selain Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Bahwa Dia memberi kecukupan dan rasa puas dengan apa yang ia peroleh dan simpan.

Surah An-Najm Ayat 50
وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَ

Terjemahan: “dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum ‘Aad yang pertama,

Tafsir Jalalain: وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَ (Dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum ‘Ad yang pertama) menurut suatu qiraat harakat Tanwinnya diidgamkan kepada huruf Lam, bila huruf Lamnya didamahkan, tanpa memakai Hamzah. Ad adalah nama suatu kaum yang dikenal dengan nama kaum ‘Ad, sedangkan kaum yang lainnya adalah kaum Nabi Saleh.

Tafsir Ibnu Katsir: وَأَنَّهُۥٓ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَ (“Dan bahwasannya Dia telah membinasakan kaum ‘Aad yang pertama.”) yakni kaum Hud yang dikenal dengan ‘Aad bin Iram bin Saam bin Nuh, mereka adalah manusia yang paling kasar, kuat dan paling ingkar kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, lalu Allahpun membinasakan mereka.

Tafsir Kemenag: Allah yang membinasakan kaum ‘Ad yang pertama yaitu kaum Nabi Hud, dan yang dimaksud dengan kaum ‘Ad yang kedua ialah kaum Iram bin Sam bin Nuh. Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Ad? (yaitu) penduduk Iram (ibukota kaum ‘Ad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain. (al-Fajr/89: 6-8)

Kaum ‘Ad kedua ini golongan manusia yang sangat kuat dan banyak berbuat durhaka terhadap Allah dan Rasul-Nya, Kemudian Allah membinasakan mereka dengan angin yang sangat dingin dan kencang, Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan tujuh hari terus-menerus.

Tafsir Quraish Shihab: Dan bahwa Dia telah membinasakan kaum ‘Ad pertama, umat Nabi Hûd, dan membinasakan kaum Tsamûd, umat Nabi Shâlih. Tidak ada seorang pun yang tersisa hidup.

Surah An-Najm Ayat 51
وَثَمُودَاْ فَمَآ أَبۡقَىٰ

Terjemahan: “dan kaum Tsamud. Maka tidak seorangpun yang ditinggalkan-Nya (hidup).

Tafsir Jalalain: وَثَمُودَاْ (Dan kaum Tsamud) jika dibaca Sharf, dengan memakai Tanwin berarti nama kakek moyang, bila dibaca dengan tidak memakai Tanwin berarti nama suatu kabilah, berarti di’athafkan kepada lafal Ad. فَمَآ أَبۡقَىٰ (Maka tidak seorang pun yang ditinggalkan) hidup; maksudnya tiada seorang pun di antara mereka yang dibiarkan hidup oleh-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah selanjutnya: وَثَمُودَاْ فَمَآ أَبۡقَىٰ (“Dan kaum Tsamud. Maka tidak seorangpun yang ditinggalkan-Nya.”) maksudnya, Dia membinasakan mereka, sehingga tidak seorangpun dari mereka yang tersisa.

Tafsir Kemenag: Allah membinasakan kaum Samud dan tidak membiarkan mereka hidup, bahkan mereka disiksa dengan azab Tuhan yang sangat dahsyat, dalam ayat yang bersamaan maksudnya Allah berfirman: Maka adakah kamu melihat seorang pun yang masih tersisa di antara mereka? (al-haqqah/69: 8).

Tafsir Quraish Shihab: Dan bahwa Dia telah membinasakan kaum ‘Ad pertama, umat Nabi Hûd, dan membinasakan kaum Tsamûd, umat Nabi Shâlih. Tidak ada seorang pun yang tersisa hidup.

Surah An-Najm Ayat 52
وَقَوۡمَ نُوحٍ مِّن قَبۡلُ إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ

Terjemahan: “Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zalim dan paling durhaka,

Tafsir Jalalain: وَقَوۡمَ نُوحٍ مِّن قَبۡلُ (Dan Kaum Nuh sebelum itu) sebelum kaum Ad dan kaum Tsamud; kami binasakan mereka semuanya. إِنَّهُمۡ كَانُواْ هُمۡ أَظۡلَمَ وَأَطۡغَىٰ (Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling lalim dan paling durhaka) yakni kaum Nabi Nuh itu jauh lebih lalim dan lebih durhaka daripada kaum ‘Ad dan kaum Tsamud, karena Nabi Nuh tinggal bersama mereka dalam waktu yang lama sekali sebagaimana yang diungkapkan oleh Allah dalam firman-Nya,

“maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun.” (Q.S. Al ‘Ankabut, 14) Di samping mereka tidak mau beriman kepada Nabi Nuh, mereka juga menyakiti bahkan memukulinya.

Tafsir Ibnu Katsir: Wa qauma nuuhim ming qabl (“Dan kaum Nuh sebelum itu”) yakni sebelum orang-orang itu. InnaHum kaanuuHum adzlama wa athghaa (“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling dzalim dan paling durhaka.”) maksudnya, yang lebih ingkar dari orang-orang yang hidup setelahnya.

Baca Juga:  Surah An-Najm Ayat 27-30; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Allah membinasakan kaum Nuh sebelum kaum ‘Ad dan Samud. Mereka lebih zalim daripada kedua kaum ini, karena mereka adalah orang-orang yang pertama membuat kezaliman dan kedurhakaan sedangkan orang yang paling zalim, sebagaimana hadis Nabi, “Barang siapa mengadakan suatu perbuatan jahat, maka dia memikul dosanya.”

Kaum Nuh lebih durhaka daripada kaum ‘Ad dan Samud, karena mereka telah melampaui batas, padahal sejak lama mereka telah mendengar seruan Nabi Nuh, namun mereka tetap membangkang sehingga Nabi Nuh habis kesabarannya dan mendoakan kebinasaan mereka. Dan Nuh berkata,

“Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. (Nuh/71: 26) Ada seorang ayah yang membawa anaknya pergi menemui Nuh untuk memperingatkannya seraya mengatakan kepada anaknya,

“Wahai anakku! Ayahku dahulu membawa aku kepada orang ini, seperti sekarang aku membawamu. Awas engkau jangan mempercayainya!” Si ayah mati dalam kekafirannya sedang anaknya yang masih kecil hidup berpegang kepada wasiat ayahnya, sehingga seruan Nuh mengajar manusia beriman tidak mempengaruhi lagi anak itu.

Tafsir Quraish Shihab: Allah telah membinasakan kaum Nabi Nûh sebelum membinasakan ‘Ad dan Tsamûd. Sesungguhnya kaum Nabi Nûh lebih zalim dan lebih tiran daripada kaum ‘Ad dan Tsamûd.

Surah An-Najm Ayat 53
وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ أَهۡوَىٰ

Terjemhan: “dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah.

Tafsir Jalalain: وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ (Dan penduduk Mu’tafikah) yaitu negeri-negeri tempat tinggal kaum Nabi Luth أَهۡوَىٰ (yang telah dihancurkan) yaitu dijatuhkan dari atas langit sesudah diangkat dalam keadaan terbalik, lalu dijatuhkan ke bumi oleh malaikat Jibril atas perintah Allah swt.

Tafsir Ibnu Katsir: وَٱلۡمُؤۡتَفِكَةَ أَهۡوَىٰ (“Dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah”) yakni kota-kota tempat Luth. Kota-kota itu dibalikkan, sehingga bagian atas berubah menjadi bagian bawah. Dan kepada mereka diturunkan hujan batu dari sijjil [tanah panas] secara bertubi-tubi.

Tafsir Kemenag: Allah telah memusnahkan kaum Lut dengan menjungkirbalikkan negeri mereka dan menurunkan azab kepada mereka berupa hujan batu yang terbakar, sambil menghujani mereka dengan batu-batu dari tanah yang terbakar, bertubi-tubi.

Dalam ayat lain yang bersamaan maksudnya Allah berfirman: Dan Kami hujani mereka (dengan hujan batu), maka betapa buruk hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. (asy-Syu’ara’/26: 173) Inilah yang dikehendaki oleh Allah dengan firman-Nya,

“Allah menimpakan atas negeri mereka azab yang menimpanya.” Pengungkapan keadaan dengan kata-kata tersebut menunjukkan kehebatan azab yang menimpa mereka karena Allah membalikkanNya, yang atas menjadi bawah dan bawah menjadi atas.

Keterangan yang jelas dan nyata itu tak dapat meyakinkan mereka, bahkan membikin mereka ragu-ragu, mereka menertawakannya, walaupun Nabi Muhammad saw terus-menerus memperingatkan mereka. Sebenarnya mereka harus menangis atas kesalahan dan kelengahan mereka dan sembah sujud kepada Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Dan negeri-negeri kaum Lûth yang terbalik itu, Dialah yang membaliknya.

Surah An-Najm Ayat 54
فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ

Terjemahan: “lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya.

Tafsir Jalalain: فَغَشَّىٰهَا (Lalu Allah menimpakan atas negeri-negeri itu) batu-batu sesudah dibalikkan مَا غَشَّىٰ (azab besar yang menimpanya) di dalam ungkapan ayat azab yang dimaksud sengaja tidak disebutkan secara jelas, sebagai gambaran tentang kengeriannya yang tak terperikan, hingga tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata. Azab ini dijelaskan pula dalam surah Hud, melalui firman-Nya, “Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar.” (Q.S. Hud, 82).

Tafsir Ibnu Katsir: Oleh karena itu Dia berfirman: فَغَشَّىٰهَا مَا غَشَّىٰ (“Lalu Allah menimpakan atas negeri itu adzab besar yang menimpanya.”) yaitu berupa batu-batu yang telah dikirimkan Allah kepada mereka. (“Dan Kami hujani mereka dengan hujan batu, maka sangat jelek hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.”(asy-Syu’araa’: 173)

Firman-Nya: (“Maka terhadap nikmat Rabb-mu yang manakah kamu ragu-ragu?”) maksudnya, pada nikmat manakah yang telah dikaruniakan Allah kepadamu, wahai manusia yang kalian ragukan itu? Demikianlah yang dikemukakan oleh Qatadah.

Tafsir Kemenag: Allah telah memusnahkan kaum Lut dengan menjungkirbalikkan negeri mereka dan menurunkan azab kepada mereka berupa hujan batu yang terbakar, sambil menghujani mereka dengan batu-batu dari tanah yang terbakar, bertubi-tubi.

Dalam ayat lain yang bersamaan maksudnya Allah berfirman: Dan Kami hujani mereka (dengan hujan batu), maka betapa buruk hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. (asy-Syu’ara’/26: 173) Inilah yang dikehendaki oleh Allah dengan firman-Nya, “Allah menimpakan atas negeri mereka azab yang menimpanya.”

Pengungkapan keadaan dengan kata-kata tersebut menunjukkan kehebatan azab yang menimpa mereka karena Allah membalikkanNya, yang atas menjadi bawah dan bawah menjadi atas.

Keterangan yang jelas dan nyata itu tak dapat meyakinkan mereka, bahkan membikin mereka ragu-ragu, mereka menertawakannya, walaupun Nabi Muhammad saw terus-menerus memperingatkan mereka. Sebenarnya mereka harus menangis atas kesalahan dan kelengahan mereka dan sembah sujud kepada Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka kemudian ditimpa azab yang besar. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu ragukan?

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah An-Najm Ayat 42-55 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S