Surah An-Naml Ayat 15-19; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Naml Ayat 15-19

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Naml Ayat 15-19 ini, menerangkan bahwa pada suatu ketika Sulaiman berjalan dengan tentaranya pada suatu daerah, yang menurut Qatadah, merupakan suatu daerah di lembah Syam. Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba Sulaiman mendengar suara raja semut yang memerintahkan kepada rakyatnya agar segera memasuki liangnya masing-masing, agar tidak terinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya.

Sulaiman dan tentaranya bisa menginjak mereka tanpa menyadarinya, karena semut makhluk yang amat kecil, sehingga Sulaiman dan bala tentaranya tidak melihatnya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml Ayat 15-19

Surah An-Naml Ayat 15
وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا وَقَالَا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِّنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ

Terjemahan: Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman”.

Tafsir Jalalain: وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ (Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Daud dan Sulaiman) yakni anak Daud عِلْمًا (ilmu) tentang peradilan di antara manusia dan bahasa burung serta lain-lainnya وَقَالَا (dan keduanya mengucapkan) sebagai tanda syukur mereka kepada Allah,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا (“Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan kami) dengan kenabian dan ditundukkannya jin, manusia dan setan-setan عَلَى كَثِيرٍ مِّنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ (dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman”).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala mengabarkan tentang nikmat yang diberikan kepada dua orang hamba dan Nabi-Nya yaitu Dawud dan puteranya, Sulaiman as. untuk itu Allah berfirman:

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا وَقَالَا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِّنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ (“Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Dawud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: ‘Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.”)

Ibnu Abi Hatim meriwAyatkan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menulis surat yang isinya: “Sesunggunya Allah tidak memberikan nikmat kepada hamba-Nya, lalu ia memuji Allah karenanya melainkan pujiannya itu lebih utama daripada nikmat-Nya itu sekalipun engkau tidak mengetahui hal tersebut kecuali di dalam kitab Allah yang diturunkan.”

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah menganugerahkan kepada Nabi Daud dan Nabi Sulaiman (putra Nabi Daud) ilmu pengetahuan, baik yang berhubungan dengan pengetahuan tentang Tuhan dan syariat-syariatnya, maupun yang berhubungan dengan pengetahuan umum, seperti kemampuan dan bakat memimpin dan mengatur bangsanya.

Kedua nabi ini tidak saja memiliki pengetahuan, tetapi juga mengamalkannya dengan baik. Dengan demikian, ilmu pengetahuan yang dipunyai oleh masing-masing nabi itu tidak hanya berfaedah bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi masyarakat dan umatnya di dunia dan di akhirat kelak.

Karena memperoleh nikmat yang tidak terhingga dari Allah, keduanya mensyukuri nikmat tersebut dengan mengucapkan: Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba yang beriman.

Sikap bersyukur Nabi Daud dan Nabi Sulaiman dalam menerima nikmat Allah itu merupakan sikap yang terpuji. Oleh karena itu, para ulama menganjurkan agar kaum Muslimin meneladani sikap tersebut. Mensyukuri nikmat berarti hamba yang menerima nikmat itu benar-benar merasakan bahwa yang diterimanya itu merupakan pernyataan kasih sayang Allah kepadanya dan merasa bahwa ia memang memerlukan nikmat Allah itu. Tanpa nikmat itu, ia tidak akan hidup dan merasakan kebahagiaan. Allah berfirman:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Ibrahim/14: 7).

Allah mengangkat Nabi Daud sebagai seorang kepala negara dan rasul Allah. Sebagai kepala negara, Allah menganugerahkan kepada Nabi Daud segala macam ilmu yang diperlukan. Di antara keutamaan dan ilmu yang dikaruniakan itu ialah:

  1. Allah menundukkan gunung dan burung kepada Daud. Gunung dan burung itu bertasbih bersama Daud pagi dan petang. Allah berfirman:

Sungguh, Kamilah yang menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) pada waktu petang dan pagi, dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masing sangat taat (kepada Allah). (sad/38: 18-19).

  1. Allah menganugerahkan kepada Daud pengetahuan melunakkan besi, sehingga ia dapat membuat baju besi dan keperluan lain, untuk memperkuat pemerintahan dan kerasulannya. Allah berfirman:.. dan Kami telah melunakkan besi untuknya. (Saba’/34: 10).
  2. Allah telah menguatkan kerajaan Daud dan menganugerahinya hikmah dan kebijaksanaan, sehingga ia dapat menyelesaikan dengan mudah perselisihan dan perkara yang diajukan kepadanya. Allah berfirman:

Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan hikmah kepadanya serta kebijaksanaan dalam memutuskan perkara. (sad/38: 20).

Menurut al-Baidhawi, yang dimaksud dengan firman Allah, “Dan Kami perkuat kerajaannya” ialah, “Kami (Allah) telah memperkuatnya dengan kekebalan, memenangkan peperangan, dan banyak mempunyai tentara.

  1. Allah menurunkan kepadanya kitab Zabur, sehingga beliau termasuk salah seorang dari empat orang rasul yang diturunkan kitab kepadanya. Allah berfirman:

“… Dan sungguh, Kami telah memberikan kelebihan kepada sebagian nabi-nabi atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (al-Isra’/17: 55).

  1. Allah memberikan kesanggupan kepadanya memahami pembicaraan burung, sebagaimana yang diterangkan pada Ayat berikut.

Tafsir Quraish Shihab: Itulah kisah tirani Fir’aun karena merasa dirinya seorang raja. Kini lihatlah penguasa yang adil, yang memadukan antara kenabian dan kekuasaan, pada diri Dawud dan putranya, Sulayman, ‘alayhima al-salam.

Kami telah mengajarkan kepada mereka ilmu yang luas menyangkut pengetahuan agama dan pengetahuan tentang hukum. Mereka berdua menegakkan keadilan, memuji Allah yang telah memberikan karunia kepada mereka sebagai kelebihan mereka atas hamba-hamba lain yang jujur dan tunduk pada kebenaran.

Surah An-Naml Ayat 16
وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِن كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ

Terjemahan: Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”.

Tafsir Jalalain: وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ (Dan Sulaiman telah mewarisi Daud) yakni kenabian dan ilmunya tidak kepada putra-putra Nabi Daud yang lainnya وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنطِقَ الطَّيْرِ (dan dia berkata, “Hai manusia! Kami telah diberi pengertian tentang ucapan burung) yakni ia memahami suara-suaranya dan apa yang dimaksudnya وَأُوتِينَا مِن كُلِّ شَيْءٍ (dan kami diberi segala sesuatu) sebagaimana yang telah diberikan kepada para nabi dan para raja. إِنَّ هَذَا (Sesungguhnya ini) semua yang diberikan ini لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ (benar-benar satu karunia yang nyata”).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ (“Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud”) yaitu dalam kerajaan dan kenabian. Yang dimaksud bukanlah warisan harta. Seandainya yang dimaksud adalah warisan harta, niscaya warisan tersebut tidak hanya dikhususkan kepada Sulaiman saja dan tidak diberikan kepada anak-anaknya yang lain. Karena Dawud memiliki 100 istri.

Baca Juga:  Surah Al-A'raf Ayat 54; Seri Tadabbur Al-Qur'an

Akan tetapi warisan yang dimaksud adalah warisan kerajaan dan kenabian. Karena para Nabi tidak mewarisi harta, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya: “Kami golongan nabi tidak mewariskan harta. Apa saja yang kami tinggalkan adalah menjadi harta shadaqah.” (Muttafaq ‘alaih)

Dia berkata: يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِن كُلِّ شَيْءٍ (“Hai manusia kami telah diberi pengertian tentang ucapan burung dan kami diberi segala sesuatu.”) Sulaiman mengabarkan tentang nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya berupa kerajaan yang lengkap dan kedudukan yang terhormat dapat menguasai manusia, jin dan burung. Di samping itu iapun mengerti bahasa burung dan hewan.

Hal tersebut adalah sesuatu yang belum pernah diberikan kepada seorang manusiapun sepanjang yang kita ketahui melalui berita yang disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya. akan tetapi Allah swt. telah mengajarkan kepada Sulaiman tentang dialog burung yang terbang di udara dan ucapan-ucapan hewan sesuai perbedaan jenisnya.

Untuk itu Allah swt berfirman: عُلِّمْنَا مَنطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِن كُلِّ شَيْءٍ (“kami telah diberi pengertian tentang ucapan burung dan kami diberi segala sesuatu.”) yang dibutuhkan oleh seorang raja. إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ (“Sesungguhnya semua itu benar-benar suatu karunia yang nyata.”) yakni yang jelas dan nyata dari Allah untuk kami.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa Sulaiman, putra Daud, menggantikan bapaknya sebagai raja dan rasul Allah. Menurut Ibnu ‘Athiyyah, Daud adalah raja dan rasul Allah yang diutus kepada Bani Israil. Jabatan ini dipegang Sulaiman setelah bapaknya meninggal dunia. Karena Sulaiman menerima kedua jabatan itu setelah bapaknya meninggal dunia, maka disebutlah dalam Ayat ini: Dan Sulaiman telah mewarisi Daud.

Menurut al-Kalbi, Nabi Daud mempunyai 19 orang anak laki-laki. Di antara mereka semua, hanya Sulaiman sendiri yang mewarisi ilmu pengetahuan dan kesanggupan mengendalikan pemerintahan dari bapaknya. Oleh karena itu pula, beliau yang menggantikan bapaknya sebagai kepala negara. Kemudian Allah juga mengangkat Sulaiman menjadi rasul.

Menurut Ensiklopedia Americana, Nabi Daud diangkat menjadi raja pada tahun 1002 Sebelum Masehi (SM), pada waktu ia berumur 37 tahun (ia dilahirkan pada tahun 1039 SM). Daud meninggal dunia pada tahun 962 SM, dan memerintah selama 40 tahun, yaitu 7 tahun di Hebron dan 33 tahun di Yerusalem.

Sebelum meninggal dunia, Daud menunjuk putranya yang bernama Sulaiman menjadi raja sesudahnya. Beliau meninggal setelah memberikan nasihat-nasihat dan pesan-pesan yang amat berharga kepada Sulaiman. Di antara nasihat dan pesan itu ialah agar melakukan ibadah kepada Allah, memelihara segala hukum, undang-undang, syariat, dan firman-Nya, sesuai dengan yang tersebut dalam Taurat Musa, serta mendirikan sebuah Haikal sebagai tempat beribadah kepada-Nya.

Setelah Nabi Daud meninggal dunia, mulailah Sulaiman memegang tampuk pemerintahan yaitu pada tahun 961 Sebelum Masehi. Sebagai seorang raja dan nabi, semua nasihat dan pesan Nabi Daud itu dilaksanakan dengan baik, sehingga kerajaan menjadi stabil dan mantap di tangannya, sampai beliau meninggal dunia. (Lihat “David”, Encyclopaedia Americana, Jilid 8, hlm. 526).

Di samping mewarisi kerajaan, ilmu pengetahuan, kenabian, dan kitab Zabur dari bapaknya, Sulaiman juga dianugerahi Allah dengan beberapa keutamaan yang lain. Oleh karena itu, dia bersyukur kepada Allah dengan mengatakan, “Wahai sekalian manusia, Allah telah menganugerahkan kepada kami pengertian dan pengetahuan tentang suara burung dan diberi segala sesuatu yang diperlukan. Sesungguhnya semua benar-benar suatu yang nyata.”

Nabi Sulaiman dengan kekuatan dan kesanggupan yang telah diberikan Allah kepadanya, dapat memahami suara-suara binatang yang lain, selain dari suara burung. Dalam Ayat ini, dikhususkan menyebutkan bahwa Sulaiman memahami suara burung karena burung adalah tentara khusus Nabi Sulaiman yang mempunyai keistimewaan khusus pula, seperti yang telah dilakukan oleh burung hud-hud.

Sebagaimana diketahui bahwa suara pada binatang merupakan bahasa isyarat yang berlaku di antara mereka. Suara-suara itu terdengar dalam bentuk dan nada yang bermacam-macam, seperti suara dalam keadaan riang berbeda dengan suara burung dalam keadaan ketakutan.

Suara kambing betina yang kehilangan anaknya berlainan dengan suara dikejar atau diterkam binatang buas. Nabi Sulaiman mengetahui maksud suara-suara binatang itu dengan kekuatan perasaan dan ilmu pengetahuan yang telah dilimpahkan Allah kepadanya. Menurut al-Baidhawi, apabila mendengar suara-suara burung, Nabi Sulaiman mengetahui makna dan maksud suara-suara itu dengan kekuatan perasaannya.

Dalam Ayat ini diterangkan pula bahwa Allah telah melimpahkan kepada Sulaiman segala macam kesanggupan dan segala sesuatu yang diperlukannya untuk mengendalikan pemerintahan negaranya. Dengan demikian, masa pemerintahan Nabi Sulaiman itu merupakan masa kejayaan Bani Israil.

Sebagian ahli tafsir menafsirkan Ayat “wa utina min kulli syai’in” (dan diberi segala sesuatu yang diperlukan), maksudnya ialah Allah telah menganugerahkan kepada Sulaiman hikmah, harta yang berlipat ganda, kekuatan yang besar dan luas sebagai seorang raja, dan menundukkan jin, manusia, burung, dan binatang lainnya.

Karena nikmat yang telah dilimpahkan itu, maka Nabi Sulaiman bersyukur kepada Allah dengan menyatakan bahwa segala nikmat yang telah dilimpahkan kepadanya, baik yang berupa pengetahuan, pemberian, keutamaan, dan sebagainya adalah suatu keistimewaan yang telah diberikan Allah kepadanya. Dengan berbagai karunia itu, Allah telah melebihkannya dari manusia-manusia yang lain.

Tafsir Quraish Shihab: Alkisah, tampuk kerajaan dan kekuasaan berpindah dari Nabi Dawud ‘alaihis salam. kepada putranya, Sulayman.
Sulayman berkata, “Wahai manusia, kami diajari bahasa burung, kami mendapatkan banyak karunia yang akan kita butuhkan dalam menjalankan pemerintahan. Sungguh nikmat-nikmat itu adalah karunia yang khusus diberikan oleh Allah kepada kami. “[1].

[1] Sulaiman adalah putra Dawud, raja dan nabi seperti ayahandanya, hidup sekitar tahun 974–937 S.M. Ia memperoleh mukjizat yang sangat unik seperti, antara lain, memahami bahasa burung. Hal itu lebih dapat dimengerti melalui penelitian belakangan ini bahwa masing-masing jenis burung memiliki bahasa khusus untuk saling berkomunikasi, baik melalui gerakan, suara atau isyarat.

Surah An-Naml Ayat 17
وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ

Terjemahan: Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).

Tafsir Jalalain: وَحُشِرَ (Dan dihimpunkan) dapat dikumpulkan لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ وَالطَّيْرِ (untuk Sulaiman bala tentaranya dari golongan jin, manusia dan burung-burung) di dalam perjalanan yang dilakukannya فَهُمْ يُوزَعُونَ (lalu mereka diatur dengan tertib) yakni dikumpulkan, kemudian digerakkan dengan teratur dan tertib.

Baca Juga:  Surah An-Naml Ayat 83-86; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu katsir: Firman Allah: وَ حُشِرَ لِسُلَیۡمٰنَ جُنُوۡدُہٗ مِنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ وَ الطَّیۡرِ فَہُمۡ یُوۡزَعُوۡنَ (“Dan dihimpunlah untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib [dalam] barisan.”) yakni dihimpun untuk Sulaiman berupa tentaranya yang berupa manusia, jin dan burung. Artinya, Sulaiman mengendarai mereka dengan penuh kebesaran.

Serta ada pula diantara mereka yang berada dalam satu barisan. Burung berada di atasnya, jika udara panas maka burung-burung itu menaunginya dengan sayap-sayapnya.

Firman-Nya: فَہُمۡ یُوۡزَعُوۡنَ (“lalu mereka diatur dengan tertib”) yakni posisi yang pertama ditata dengan posisi yang lain, agar tidak ada satupun yang keluar dari tempatnya yang teratur. Mujahid berkata: “Setiap golongan memiliki komandan yang dijadikan rujukan satu dengan yang lainnya seperti yang dilakukan oleh raja-raja saat ini, agar tidak saling mendahului.”

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa Sulaiman telah dapat membentuk bala tentara yang terdiri dari berbagai macam jenis makhluk, seperti jin, manusia, burung, dan binatang yang lain. Bala tentara itu setiap saat dapat dikerahkan untuk memerangi orang-orang yang tidak mau mengindahkan seruannya. Semua tentara itu berbaris rapi, bersatu, dan berkumpul di bawah kepemimpinannya.

Tafsir Quraish Shihab: Maka, secara tiba-tiba dan tanpa diduga, azab itu Kami turunkan kepada mereka. Dan mereka benar- benar tidak menyadari kedatangannya.

Surah An-Naml Ayat 18
حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Terjemahan: Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”;

Tafsir Jalalain: حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِ النَّمْلِ (Sehingga apabila mereka sampai di lembah semut) yaitu di kota Thaif atau di negeri Syam; yang dimaksud adalah semut-semut kecil dan semut-semut besar قَالَتْ نَمْلَ (berkatalah seekor semut) yaitu raja semut, sewaktu melihat bala tentara Nabi Sulaiman,

يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ (“Hai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarang kalian, agar kalian tidak diinjak) yakni tidak terinjak-injak سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”) semut dianggap sebagai makhluk yang dapat berbicara, mereka melakukan pembicaraan sesama mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِ النَّمْلِ (“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut”) yakni apabila Sulaiman as. dengan bala tentara dan pasukannya melintasi lembah semut: قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (“Seekor semut berkata: ‘Hai semut-semut masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya sedangkan mereka tidak menyadari.”)
Semut itu takut jika semut-semut lain terinjak oleh telapak-telapak kaki kuda. Maka ia memerintahkan mereka untuk masuk ke dalam sarang-sarang mereka. hal tersebut telah dipahami oleh Sulaiman as.

Tafsir kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa pada suatu ketika Sulaiman berjalan dengan tentaranya pada suatu daerah, yang menurut Qatadah, merupakan suatu daerah di lembah Syam. Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba Sulaiman mendengar suara raja semut yang memerintahkan kepada rakyatnya agar segera memasuki liangnya masing-masing, agar tidak terinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya. Sulaiman dan tentaranya bisa menginjak mereka tanpa menyadarinya, karena semut makhluk yang amat kecil, sehingga Sulaiman dan bala tentaranya tidak melihatnya.

Ayat ini memperlihatkan adanya komunikasi di antara semut dan kehidupan sosial di bawah kepemimpinan rajanya. Penelitian mengungkapkan bahwa untuk melaksanakan kehidupan sosial yang sangat terorganisasi ini, semut mempunyai kemampuan komunikasi yang canggih. Di bagian kepala semut terdapat seperangkat alat peraba yang dapat mengenali sinyal kimia maupun visual.

Otaknya terdiri atas sekitar setengah juta simpul syaraf, mempunyai mata yang berfungsi baik, dan sungut yang berfungsi sebagai hidung untuk mencium atau ujung jari untuk meraba. Tonjolan-tonjolan yang terletak di bawah mulutnya berfungsi sebagai pencecap. Sedang rambut-rambut yang ada di tubuhnya bereaksi terhadap sentuhan.

Walaupun banyak organ yang dimiliki semut untuk berkomunikasi, namun komunikasi utama yang dilakukan adalah komunikasi kimiawi. Mereka berkomunikasi dengan menggunakan feromon, suatu senyawa kimia seperti hormon yang mengeluarkan bau dan dihasilkan oleh salah satu kelenjar di dalam tubuh semut itu.

Dengan menggunakan hormon inilah semut berkomunikasi. Apabila seekor semut mengeluarkan feromon, maka semut lainnya akan menerimanya dengan cara mencium baunya atau menyentuhnya, dan bereaksi terhadapnya.

Tafsir Quraish Shihab: Hingga, katika Sulayman dan balatentaranya tiba di lembah semut, salah seekor semut itu berkata, “Wahai semut-semut sekalian, masuklah ke tempat persembunyian kalian, agar tidak binasa oleh Sulayman dan balatentaranya karena mereka tidak merasakan keberadaan kalian!”[1].

[1] Dari Ayat ini dapat dipahami bahwa semut adalah jenis hewan yang hidup bermasyarakat dan berkelompok. Di antara hal-hal unik yang merupakan keistimewaan hewan jenis ini, antara lain, adalah ketajaman indera dan sikapnya yang sangat berhati-hati.

Pada masyarakat semut dikenal etos kerja dan disiplin hidup berkelompok yang tinggi. Semut juga mempunyai tingkat kecerdasan dan kekuatan ingatan yang cukup tinggi, gemar bekerja keras dengan tingkat kesabaran yang tinggi pula, di samping merupakan hewan yang sangat cerdik dalam bekerja.

Hal ini terbukti bahwa masyarakat semut merupakan satu-satunya jenis binatang yang berpikir untuk menguburkan anggotanya yang mati, persis seperti manusia. Kelompok-kelompok semut sangat mementingkan untuk dapat saling bertemu di satu tempat dan dari waktu ke waktu. Untuk keperluan itu, mereka menentukan hari-hari tertentu yang sengaja dikhususkan untuk mengadakan pasar bersama, sebagai kesempatan untuk saling mengenal dan tukar menukar bahan makanan.

Kelompok-kelompok semut itu, pada saat bertemu, saling bertukar omongan dengan penuh perhatian dan saling bertanya tentang keadaan masing-masing. Di antara fenomena sosial lainnya dari kehidupan masyarakat semut, adalah bahwa mereka seringkali mengadakan semacam
“proyek gabungan”untuk membangun, seperti membangun jalan yang panjang, misalnya, dengan penuh keuletan yang mengundang rasa kagum.

“Proyek” semacam itu tidak hanya mereka lakukan pada siang hari, tetapi juga dilanjutkan pada malam-malam bulan purnama. Sedangkan pada malam-malam lainnya yang tak bercahaya rembulan, masyarakat semut tetap berada di sarangnya.

Dalam hal mengumpulkan, mengangkut dan menyimpan bahan makanan, semut memiliki cara yang amat unik. Jika seekor semut tidak kuat untuk mengangkat bawaannya dengan mulut seperti kebiasannya karena terlalu berat, dia akan menggerakkan barang bawaan itu dengan kaki belakang dan mengangkatnya dengan lengan.

Baca Juga:  Surah Al-Hajj Ayat 17; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Di antara kebiasaan lainnya yang unik bagi semut, apabila hendak menyimpan makanan berupa biji-bijian, dia akan memecahkan atau melobangi biji agar tidak dapat melembaga. Semut-semut akan memecahkan terlebih dahulu biji yang berukuran besar, agar gampang diangangkut dan dimasukkan dalam gudang penyimpanan.
Dan jika stok makanan mereka basah oleh hujan, semut-semut itu membawanya keluar agar mengering.

Surah An-Naml Ayat 19
فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

Terjemahan: maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.

Tafsir Jalalain: فَتَبَسَّمَ (Maka tersenyum) Nabi Sulaiman pada permulaannya ضَاحِكًا (tertawa) pada akhirnya مِّن قَوْلِهَا (karena mendengar perkataan semut itu) dia telah mendengarnya walaupun jaraknya masih jauh yakni tiga mil, kemudian suara itu dibawa oleh angin. Nabi Sulaiman menahan bala tentaranya sewaktu mereka hampir sampai ke lembah semut, sambil menunggu supaya semut-semut itu memasuki sarang-sarangnya terlebih dahulu. Bala tentara Nabi Sulaiman dalam perjalanan ini ada yang menaiki kendaraan dan ada pula yang berjalan kaki,

وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي (dan dia berdoa, “Ya Rabbku! Berilah aku) berilah aku ilham أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ (untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan) nikmat-nikmat itu عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ (kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang Saleh”) yakni para Nabi dan para Wali.

Tafsir Ibnu Katsir: فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ (“Maka dia tersenyum dan tertawa karena mendengar perkataan semut itu.

Dan dia berdoa: ‘Ya Rabbku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan mengerjakan amal shalih yang Engkau ridlai.”) Yaitu berilah ilham kepadaku untuk mensyukuri nikmat yang Engkau telah limpahkan kepadaku dengan mengajari aku pembicaraan burung-burung dan hewan-hewan serta nikmat yang Engkau limpahkan kepada kedua orang tuaku dengan ber-islam dan beriman kepada-Mu.

وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ (“dan mengerjakan amal shalih yang Engkau ridlai”) yaitu amal yang Engkau cintai dan ridlai. وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ (“Serta masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.”) yaitu jika Engkau wafatkan aku, maka kumpulkanlah aku dengan hamba-hamba-Mu yang shalih serta berada bersama wali-wali-Mu dalam kedudukan yang tinggi. wallaaHu a’lam. Maksudnya, Nabi Sulaiman memahami perkataannya dan dia tersenyum karenanya. Ini adalah yang sangat besar sekali.

Ibnu Abi Hatim berkata, bahwa Abu ash-Shiddiq an-Naji berkata: “Sulaiman bin Dawud as. keluar untuk minta diturunkan hujan, tiba-tiba seekor semut yang sedang berbaring tertelungkup mengangkat kedua kaki depannya ke arah langit, dan berdoa: ‘Ya Allah.

Sesungguhnya kami adalah makhluk diantara makhluk-Mu. Kami tidak dapat lepas dari hujan yang Engkau turunkan. Jika Engkau tidak turunkan hujan, niscaya kami akan binasa.’ Maka Sulaiman berkata: ‘Kembalilah kalian. Sesungguhnya kalian telah diberi hujan dengan sebab doa selain kalian.”

Di dalam shahih Muslim yang diriwAyatkan dari Abu Hurairah ra. dinyatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Seorang Nabi pernah digigit oleh seekor semut. Lalu ia memerintahkan menyerang sarang semut yang kemudian dibakarnya. Maka Allah memberikan wahyu kepadanya: ‘Apakah hanya karena satu semut menyengatmu, engkau membinasakan satu umat yang bertasbih; kenapa tidak satu ekor semut saja?’”

Tafsir Kemenag: Mendengar perkataan raja semut bahwa Sulaiman dan tentaranya tidak bermaksud membinasakan mereka dan berbuat jahat, membuat Sulaiman tersenyum. Raja semut itu juga mengatakan bahwa seandainya ada di antara semut-semut itu yang terinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, maka hal itu bukanlah sengaja dilakukannya, tetapi karena Sulaiman dan tentaranya tidak melihat mereka, karena tubuh mereka amat kecil.

Atas rahmat dan karunia yang telah diberikan Allah kepada Sulaiman berupa kemampuan memahami percakapan raja semut itu, dan adanya semacam anggapan baik dari raja semut terhadap Sulaiman dan bala tentaranya, maka Sulaiman berdoa kepada Allah, “Wahai Tuhanku Yang Pemberi Rahmat, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang terus-menerus mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada ibu-bapakku.

Jadikanlah aku sebagai seorang hamba-Mu yang selalu mengerjakan amal-amal saleh yang Engkau ridai, dan jadikanlah aku orang yang berkeinginan mengerjakan amal saleh itu. Bila aku meninggal dunia, masukkanlah aku ke dalam surga bersama-sama orang-orang yang saleh yang Engkau masukkan ke dalamnya dengan rahmat-Mu.”

Dari doa Nabi Sulaiman itu dipahami bahwa yang diminta oleh Sulaiman kepada Allah ialah kebahagiaan yang abadi di akhirat nanti. Sekalipun Allah telah melimpahkan beraneka ragam kesenangan dan kekuasaan duniawi kepadanya, namun ia tidak lupa diri karenanya. Ia yakin bahwa kesenangan duniawi itu adalah kesenangan yang sementara sifatnya dan tidak kekal.

Sikap Nabi Sulaiman pada waktu menerima nikmat Allah itu adalah sikap yang harus dicontoh dan dijadikan suri teladan oleh setiap kaum Muslimin. Berdoa dan bersyukurlah kepada Allah setiap mendapatkan nikmat-Nya, dan tidak bersikap mengingkari nikmat-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Sulayman tersenyum lepas mendengar perkataan semut yang sangat memperhatikan kemaslahatan dirinya. Sulayman yang menyadari karunia Allah pada dirinya berkata, “Ya Tuhanku, berikan aku ilham agar dapat mensyukuri nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan kepada orangtuaku.

Restuilah diriku untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan yang Engkau ridai.
Masukkanlah aku–dengan kasih sayang-Mu yang amat luas–ke dalam golongan manusia yang perbuatannya Engkau ridai.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama
kandungan Surah An-Naml Ayat 15-19 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG