Surah An-Naml Ayat 91-93; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Naml Ayat 91-93

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Naml Ayat 91-93 ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad, yang telah menyampaikan kabar gembira kepada kaum Muslimin yang mengikuti petunjuknya, dan memberi peringatan kepada mereka yang mengingkarinya, untuk mengatakan bahwa segala puji bagi Allah atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya. Di antaranya adalah nikmat kenabian dan kerasulan, yang menyebabkan datangnya nikmat-nikmat yang lain, baik kenikmatan di dunia maupun akhirat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml Ayat 91-93

Surah An-Naml Ayat 91
إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Terjemahan: Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.

Tafsir Jalalain: إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ (“Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Rabb negeri ini) yakni Mekah الَّذِي حَرَّمَهَا (yang telah menjadihannya kota suci) suci dan aman, tidak boleh dialirkan darah manusia di dalamnya, dan tidak boleh seseorang pun dianiaya, serta binatang buruannya tidak boleh diburu dan pepohonannya tidak boleh ditebang. Yang demikian itu merupakan nikmat-nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kabilah Quraisy sebagai penduduknya, sehingga Allah tidak menurunkan azab atas negeri mereka dan selamat Pula dari fitnah-fitnah yang melanda kawasan negeri Arab lainnya وَلَهُ (dan kepunyaan-Nya-lah) yakni kepunyaan Allah swt.

كُلُّ شَيْءٍ (segala sesuatu) Dia adalah Rabb, pencipta dan pemilik semuanya وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ (dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri) kepada Allah yaitu dengan mentauhidkan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman mengabarkan kepada Rasul-Nya serta memerintahkannya untuk mengatakan: إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ (“Aku hanya diperintahkan untuk beribadah kepada Rabb negeri ini [Makkah] Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya lah segala sesuatu.”) menyandarkan rubbubiyyah-Nya kepada sebuah negeri sebagai cara penghormatan dan perhatian terhadapnya [Makkah].

Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Maka hendaklah mereka beribadah kepada Rabb pemilik rumah ini [Ka’bah]. Yang telah memberikan makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Quraisy: 3-4)

Firman Allah: الَّذِي حَرَّمَهَا (“Yang telah menjadikannya suci.”) yakni Yang menjadikannya tanah haram menurut hukum syar’i dan memberikan nilai yang tinggi dengan penghormatan Allah terhadapnya.

Sebagaimana telah ditetapkan di dalam ash-Shahihain, bahwa Ibnu ‘Abbas berkata: Rasulullah saw. pada hari fathu Makkah: “Sesungguhnya negeri ini telah diharamkan oleh Allah sejak hari penciptaan langit dan bumi. Maka dia adalah haram dengan kehormatan Allah hingga hari kiamat.

Tidak ada yang mencabut satu duri pun, tidak ada yang memburu binatang buruannya dan tidak ada yang mengambil barang temuannya kecuali untuk mengetahui siapa pemiliknya dan tidak dipotong tumbuh-tumbuhannya yang masih hidup.” (al-Hadits)

Telah tercantum pula di dalam kitab-kitab Shahih, kitab-kitab Hasan dan kitab-kitab Musnad dari jalan jama’ah yang memberi manfaat pasti sebagaimana dijelaskan di dalam tempatnya pada kitab-kitab hukum. Hanya milik Allah segala puji.

Firman Allah Ta’ala: وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ (“dan kepunyaan-Nyalah segala sesuatu”) termasuk bab ‘athaf umum yang khusus, yakni Dialah Rabb negeri ini serta Rabb dan Raja segala sesuatu, tidak ada ilah kecuali Dia. وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ (“Dan aku diperintahkan agar aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”) yaitu orang-orang yang bertauhid, ikhlas dan tunduk kepada perintah-perintah-Nya serta taat kepada-Nya.

Baca Juga:  Keutamaan Menghafal Al Quran, Bisa Membawa Tujuh Keluarganya Ke Surga

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad supaya menyampaikan kepada orang-orang musyrik Mekah bahwa beliau hanya disuruh Allah menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) yang telah dijadikan sebagai tanah Haram (Tanah Suci), diharamkan adanya pertumpahan darah atau berbuat kezaliman terhadap siapa pun di sana.

Penyebutan negeri Mekah secara khusus pada Ayat ini karena di sana terdapat Ka’bah, yaitu rumah peribadatan yang pertama kali dibangun di muka bumi ini sebagai tempat manusia menghadap ketika salat di mana pun mereka berada, sesuai dengan firman-Nya:

Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. (ali ‘Imran/3: 96)

Adapun yang wajib disembah hanya Allah, bukan berhala-berhala yang oleh diletakkan kaum musyrikin di sana, sesuai dengan firman Allah: Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka’bah), yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan. (Quraisy/106 : 3-4).

Ini merupakan celaan yang keras kepada orang-orang kafir Mekah yang tidak menyembah Allah yang mempunyai Baitullah, tetapi menyembah berhala-berhala yang mereka tempatkan di sekitarnya. Kepunyaan Allah segala sesuatu, baik di langit maupun bumi, dari segi ciptaan, pemilikan, dan pengurusannya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu, hanya Allah satu-satunya yang berhak disembah dan kepada-Nya Nabi saw diperintahkan supaya berserah diri dengan penuh keikhlasan dan ketauhidan yaitu jalan lurus atau agama Islam, sesuai dengan firman-Nya:

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus. Dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik.”(al-An’am/6: 161).

Tafsir Quraish Shihab: Katakan, wahai Muhammad, kepada manusia,
“Aku diperintahkan hanya untuk menyembah Allah, Tuhan Penjaga negeri Mekah yang mulia, suci dan aman. Di negeri ini tidak boleh ada pertumpahan darah, binatangnya pun tidak boleh dibunuh dan pohon-pohonnya tidak boleh ditebang.

Allah subhanahu wa ta’ala Pemilik dan Pencipta segala yang ada di alam semesta. Aku diperintah agar menjadi orang yang tunduk kepada-Nya.

Surah An-Naml Ayat 92
وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَن ضَلَّ فَقُلْ إِنَّمَا أَنَا مِنَ الْمُنذِرِينَ

Terjemahan: Dan supaya aku membacakan Al Quran (kepada manusia). Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan barangsiapa yang sesat maka katakanlah: “Sesungguhnya aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan”.

Tafsir Jalalain: وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ (Dan supaya aku membacakan Alquran) kepada kalian dengan bacaan yang mengajak kalian untuk beriman فَمَنِ اهْتَدَى (Maka barang siapa yang mendapat petunjuk) dari Alquran فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ (maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk kebaikan dirinya) karena dia sendirilah yang mendapat kan pahalanya وَمَن ضَلَّ (dan barang siapa yang sesat) dari jalan iman, dan sesat dari jalan petunjuk فَقُلْ (maka katakanlah) kepadanya,

إِنَّمَا أَنَا مِنَ الْمُنذِرِينَ (‘Sesungguhnya aku ini tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan.'”) yang menakut-nakuti kalian, maka tidak ada hak bagiku melainkan hanya menyampaikan saja. Ayat ini diturunkan sebelum ada perintah dari Allah untuk berperang.

Tafsir Ibnu katsir: firman-Nya: وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ (“Dan agar aku membacakan al-Qur’an”) yaitu kepada manusia, dimana aku sampaikan hal itu kepada mereka. Aku seorang penyampai dan pemberi peringatan. فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَن ضَلَّ فَقُلْ إِنَّمَا أَنَا مِنَ الْمُنذِرِينَ (“Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk, maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk dirinya. Dan barangsiapa yang sesat, maka katakanlah:

Baca Juga:  Surah At-Taubah Ayat 105; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

‘Sesungguhnya aku ini tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan.’”) yakni, aku memiliki suri tauladan dengan para Rasul yang mengancam kaum mereka dan menegakkan kewajiban atas mereka dalam menunaikan risalah serta membebaskan diri dari tugas mereka.

sedangkan perhitungan umat-umat mereka kembali kepada Allah Ta’ala, seperti firman Allah yang artinya: “Karena sesungguhnya tugasnya hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisap amalan mereka.” (ar-Ra’du: 40)

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini, Allah menerangkan bahwa Nabi Muhammad saw diperintahkan supaya membacakan Al-Qur’an kepada manusia, untuk mengungkap makna dan rahasia yang terkandung di dalamnya, dan menyerap dalil-dalil tentang kekuasaan Allah yang dapat dilihat pada alam semesta. Dengan demikian, beliau dapat menyelami hakikat hidup yang sebenarnya dan menerima limpahan karunia Allah kepadanya.

Nabi saw mengulang bacaan Ayat itu beberapa puluh kali sampai terbit fajar. Ketika membacanya tampaklah bagi beliau beberapa rahasia yang terkandung di dalamnya, sehingga beliau merasakan faedah membaca Ayat Al-Qur’an serta memahami isinya, sesuai dengan firman-Nya:

Demikianlah Kami bacakan kepadamu (Muhammad) sebagian Ayat-Ayat dan peringatan yang penuh hikmah. (ali ‘Imran/3: 58)

Firman Allah yang lain: Demikianlah, Kami telah mengutus engkau (Muhammad) kepada suatu umat yang sungguh sebelumnya telah berlalu beberapa umat, agar engkau bacakan kepada mereka (Al-Qur’an) yang Kami wahyukan kepadamu. (ar-Ra’d/13: 30)

Barang siapa yang mengikuti ajaran Al-Qur’an, beriman kepada Nabi Muhammad, dan menerima petunjuknya, maka sungguh ia telah menempuh jalan lurus menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Petunjuk itu adalah untuk kebaikan dirinya sendiri. Akan tetapi, barang siapa yang sesat, dan menyeleweng dari jalan lurus yang telah dirintis oleh Nabi, maka kemudaratan akan dirasakan oleh mereka sendiri. Nabi saw tidak akan menderita kerugian apa pun sebab tugas beliau hanya sekadar memberi peringatan sesuai dengan firman Allah:

Maka sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, dan Kamilah yang memperhitungkan (amal mereka). (ar-Ra’d/13: 40)

Dan firman Allah: Sungguh, engkau hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah pemelihara segala sesuatu. (Hud/11: 12)

Tafsir Quraish Shihab: Aku juga diperintahkan untuk selalu membaca Alquran, baik sebagai ibadah, perenungan maupun demi mengajak manusia kepada ajarannya.” Siapa yang mengikuti petunjuk Alquran dan beriman kepadanya, maka kebaikan dan pahalanya akan kembali kepada pelakunya, bukan kepada dirimu, Muhammad.

Dan siapa yang menyerong dari kebenaran dan tidak mengikuti dirimu, maka katakan kepadanya, “Aku hanyalah seorang rasul, pemberi peringatan dan penyampai pesan-pesan suci Tuhanku.”

Surah An-Naml Ayat 93
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ سَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ فَتَعْرِفُونَهَا وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Terjemahan: Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan”.

Tafsir Jalalain: وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ سَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ فَتَعْرِفُونَهَا (Dan katakanlah!, “Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kalian akan mengetahuinya) Allah memperlihatkannya kepada mereka dalam perang Badar, yaitu dengan dibunuhnya mereka dan sebagian lagi ada yang tertawan, serta para Malaikat memukuli muka dan belakang mereka, dan Allah menyegerakan mereka untuk masuk ke dalam neraka.

وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (Dan Rabbmu tiada lalai dari apa yang kalian kerjakan.”) lafal Taa’maluna dapat dibaca Ya’maluna. Dan sesungguhnya Allah menangguhkan mereka hanya sampai pada saatnya saja.

Baca Juga:  Penafsiran KH. Bisri Mustafa Tentang Ayat Kemajemukan

Tafsir Ibnu Katsir: وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ سَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ فَتَعْرِفُونَهَا (“Dan katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya.’”) yaitu milik Allah pujian yang tidak akan menyiksa seseorang kecuali setelah ditegakkannya hujjah dan peringatan kepadanya.

Untuk itu sebagaimana firman Allah yang artinya: “Kami akan memperlihatkan kepadanya tanda-tanda [kekuasaan] Kami di segenap ufuk dan pada diri merek sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an ini adalah benar.” (Fushilat: 53)

firman Allah: وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (“Dan Rabbmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan.”) bahkan Dialah saksi atas segala sesuatu.

Diceritakan dari Imam Ahmad, bahwasannya beliau bersenandung dengan dua bait syair ini: “Jika suatu hari engkau sendiri, maka janganlah engkau katakan aku sendiri. Akan tetapi, katakanlah aku memiliki pengawas.
Jangan engkau kira Allah lalai sesaatpun. Dan jangan kira apa yang tersembunyi dari-Nya itu akan hilang.”

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad, yang telah menyampaikan kabar gembira kepada kaum Muslimin yang mengikuti petunjuknya, dan memberi peringatan kepada mereka yang mengingkarinya, untuk mengatakan bahwa segala puji bagi Allah atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya. Di antaranya adalah nikmat kenabian dan kerasulan, yang menyebabkan datangnya nikmat-nikmat yang lain, baik kenikmatan di dunia maupun akhirat.

Allah telah memberi taufik kepada Nabi untuk memikul segala beban dalam melaksanakan seruan agama, dalam rangka ketaatan dan kepatuhan kepada Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih, Yang telah menyediakan keridaan dan pahala yang besar bagi hamba-hamba-Nya yang tulus ikhlas.

Allah telah memberikan kepada Nabi berbagai mukjizat, yang menunjukkan kebenaran risalah-Nya dan taufik untuk mengikuti jalan agama yang lurus. Rasul ingin sekali supaya umatnya membuka hati untuk dapat melihat bukti-bukti kebenaran. Akan tetapi, setan dan hawa nafsu telah sedemikian rupa mengelabui mata penglihatan mereka sehingga tidak dapat melihat kenyataan yang sebenarnya.

Jika mereka masih tetap juga membangkang dan keras kepala, maka ingatlah bahwa semua manusia akan mati. Mereka semua pada hari Kiamat akan dibangkitkan dari kuburan masing-masing dan dihadapkan ke hadirat Allah, yang akan memeriksa semua perbuatan yang mereka lakukan di dunia. Di sanalah nanti Allah akan memperlihatkan kepada orang-orang yang membangkang tanda-tanda kebesaran-Nya. Di sana juga nanti Allah akan memperlihatkan kepada mereka azab-Nya yang sangat pedih, sehingga mereka akan mengetahuinya. Di sana jugalah nanti mereka akan mengemukakan penyesalan yang tiada terhingga atas kekafiran mereka terhadap risalah nabi.

Penyesalan yang tiada arti dan manfaat lagi karena mereka telah menyia-nyiakan kesempatan dan umur yang telah lewat itu, sedang Tuhan tidak lalai dari apa yang mereka kerjakan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama
kandungan Surah An-Naml Ayat 91-93 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S