Surah An Nisa Ayat 33-34; Seri Tadabbur Al Qur’an

An Nisa Ayat 33-34

Pecihitam.org– Surah An Nisa Ayat 33-34 menyebutkan bahwa Allah SWT menyuruh kita untuk memberikan hak atau bagian warisan kepada setiap orang yang berhak mendapatkannya. Janganlah karena iri atau dengki, lalu ingin mendapatkan bagian lebih daripada orang lain sehingga bagian orang tersebut tidak diberikan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir
Surah An Nisa Ayat 33-34

Surah An Nisa Ayat 33
وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ ۚ وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ فَآتُوهُمْ نَصِيبَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدًا

Terjemahan: Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.

Tafsir: Bagi setiap laki-laki dan perempuan, Kami jadikan pewaris yang berhak menerima harta peninggalan dan menjadi penerus mereka. Mereka adalah kedua orangtua, kerabat, dan orang-orang yang telah dijanjikan oleh si mayit akan diberi warisan dari selain jalur kerabat, sebagai imbalan atas pertolongan yang harus mereka berikan bila diminta. Berilah hak mereka dan jangan menguranginya. Sesungguhnya Allah mengawasi segala sesuatu dan selalu hadir menyaksikan segala yang kalian perbuat.

Surah An Nisa Ayat 34
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Baca Juga:  Surah Al-Isra Ayat 11; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Terjemahan: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Tafsir: Suami memiliki hak memelihara, melindungi dan menangani urusan istri, karena sifat-sifat pemberian Allah yang memungkinkan mereka melakukan hal-hal yang ia lakukan itu, dan kerja keras yang ia lakukan untuk membiayai keluarga.

Oleh karena itu, yang disebut sebagai istri yang salehah adalah istri yang taat kepada Allah dan suami, dan menjaga segala sesuatu yang tidak diketahui langsung oleh suami. Karena, memang, Allah telah memerintahkan dan menunjukkan istri untuk melakukan hal itu. Kepada istri yang menampakkan tanda-tanda ketidakpatuhan, berilah nasihat dengan perkataan yang menyentuh, jauhi ia di tempat tidur, kemudian beri hukuman berupa pukulan ringan yang tidak melukai, ketika ia tidak menampakkan perbaikan.

Jika dengan salah satu cara itu ia sadar dan kembali mematuhi suami, maka suami tidak boleh menempuh cara lain yang lebih kejam dengan maksud menyakiti dan menganiaya istri. Allah sungguh lebih mampu–untuk melakukan itu–dan membalas suami, jika suami terus menyakiti dan menganiaya istri.

Baca Juga:  Surah Al-Hijr Ayat 51-56; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Penjelasaan dan Hikmah Surah An Nisa Ayat 33-34

Surah An Nisa Ayat 33

  1. مَوَالِيَ : menjadi ahli waris. وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ: orang-orang yang mengikat janji dengan kalian.
  2. Allah telah menentukan hak waris. Ada Ash-hahabul furudh, yakni orang-orang yang sudah ditentukan bagiannya, misalnya ½, ¼, dsb. Ada ash-hahbul ‘ashobah, yakni orang yang memperoleh bagian dari sisa yang telah ditentukan itu. Jadi intinya, baik laki-laki maupun perempuan itu memiliki hak warisan.

Surah An Nisa Ayat 34

  1. Laki-laki sebut sebagai qawwam, yang merupakan shighah mubalaghah, diambil dari kata qiyam. Kata ini artinya berdiri atas sesuatu dan menjaganya. Jadi laki-laki memiliki kelebihan dengan tanggung jawab untuk menjaga, menafkahi, mendidik dan memelihara istri-istrinya. Hal ini dengan sebab sesuatu yang telah Allah utamakan satu di antara yang lain. Allah SWT menggunakan kalimat بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ tidak menggunakan dengan yang lain, misalnya بما فضل الرجال علي النساء Di sinilah letak ketinggian Ilmu balaghah atau sastra Al Qur’an. Kalimat tersebut memberikan makna bahwa, kebaikan atau kelebihan itu diartikan untuk kebaikan dan maslahah bagi kedua belah pihak, maka di sini sedikitpun tidak tersirat mendeskriminasikan, atau merendahkan wanita. Karena suami sama dengan istri, dan sebaliknya.
  2. Allah SWT membebani tanggung jawab terhadap laki-laki, dengan menjadikan laki-laki sebagai qawwam, yakni laki-laki bertugas untuk menjaga seluruh kepentingan istrinya. Baik di dunia maupun di akhirat. Maka dilanjutkan di dalam surah At-Tahrim ayat 6 disebutkan: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka).
  3. Di dalam ayat ini disebutkan وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ. Salah satu bentuk keutamaan ini adalah sebab laki-laki berkewajiban untuk menafkahi istrinya, karena itulah laki-laki wajib bekerja, mencari nafkah dan mencukupi kebutuhan kelurganya dan tidak boleh menelantarkan keluarganya dalam segala aspek. Baik dalam masalah agama maupun duniawi.
  4. حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ: menjaga kesucian dan kehormatannya saat suami tidak ada. Ini tidak harus diartikan sebagai istri selingkuh, tapi bisa diartikan bahwa sebagai seorang istri ia harus pandai-pandai mengatur dapur rumah dan keuangan walupun suami tidak mengawasinya.
  5. فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ: kalau sudah kembali taat, hati-hati kamu, jangan mencari-cari masalah. Jangan mengungkap kesalahan lagi, ini menyakitkan sehingga istri akan menderita secara batin. Islam mengajari kita menjadi suami yang sayang, ramah, dan harmonis membahagiakan lahir dan batin.
  6. Allah SWT telah memberikan ancaman kepada para suami إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا : jika saumi merasa tinggi, Allah itu Maha tinggi. Maka jadilah suami yang taat sehingga keluarga jadi sakinah, mawaddah dan dirahmati oleh Allah.
Baca Juga:  Surah An Nisa Ayat 59; Seri Tadabbur Al Qur'an

Wallahu a’lam

M Resky S