Surah Ar-Ra’d Ayat 33; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Ar-Ra'd Ayat 33

Pecihitam.org – Kandungan Surah Ar-Ra’d Ayat 33 ini, Al-Quran menegaskan, Allah adalah Zat yang Maha Kuasa, yang menguasai dan mengatur seluruh alam semesta, termasuk manusia dan segala urusannya. Allah Swt mengutarakan pertanyaan kepada manusia, supaya akal dan fitrahnya bisa membedakan mana yang benar, mana yang salah dan bisa menerima kebenaran.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Mereka yang tidak ingin mendapatkan hidayah dari Allah, niscaya tak ada sesuatu atau siapapun yang bisa memberikan petunjuk kepada mereka dan mengantarkannya kepada kebahagiaan hakiki.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d Ayat 33

أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَىٰ كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ ۗ وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ قُلْ سَمُّوهُمْ ۚ أَمْ تُنَبِّئُونَهُ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي الْأَرْضِ أَمْ بِظَاهِرٍ مِنَ الْقَوْلِ ۗ بَلْ زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مَكْرُهُمْ وَصُدُّوا عَنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Terjemahan: Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)? Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah: “Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu”. Atau apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi, atau kamu mengatakan (tentang hal itu) sekadar perkataan pada lahirnya saja. Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh syaitan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorangpun yang akan memberi petunjuk.

Tafsir Jalalain: أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ (Maka apakah Tuhan yang menjaga) yakni mengawasi عَلَىٰ كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ (setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya) yaitu berupa amal kebaikan dan keburukan, sama keadaan-Nya dengan berhala-berhala yang tidak demikian keadaannya; tentu saja tidak.

Pengertian ini ditunjukkan oleh firman selanjutnya, yaitu وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ قُلْ سَمُّوهُمْ (Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah, “Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu.”) kepada-Nya, siapakah berhala-berhala itu,

Baca Juga:  Surah Ar-Ra'd Ayat 31; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

أَمْ (atau) bahkan apakah تُنَبِّئُونَهُ (kalian hendak memberitakan kepada Allah) menceritakan kepada-Nya بِمَا (mengenai apa) yakni sekutu لَا يَعْلَمُ (yang tidak diketahui)-Nya فِي الْأَرْضِ (di bumi) istifham atau kata tanya di sini mengandung pengertian ingkar; artinya jelas tidak ada sekutu itu, sebab jika sekutu itu ada niscaya Dia akan mengetahuinya, Maha Tinggi Allah dari semua sekutu أَمْ (atau) bahkan mereka menamakannya sebagai sekutu-sekutu Allah.

بِظَاهِرٍ مِنَ الْقَوْلِ (kalian mengatakan sekadar perkataan pada lahirnya) dengan sangkaan yang batil, lagi hal itu tidak ada kenyataannya pada batinnya.

بَلْ زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مَكْرُهُمْ (Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan memandang baik tipu daya mereka) yang dimaksud ialah kekafiran mereka.

وَصُدُّوا عَنِ السَّبِيلِ (dan dihalanginya dari jalan yang benar) yaitu hidayah. وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ (Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tak ada seorang pun baginya yang akan memberi petunjuk).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَىٰ كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ (Maka apakah Rabb yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya [sama dengan yang tidak demikian sifatnya?])

Maksudnya adalah menjaga mereka, mengawasi semua makhluk yang bernafas, mengetahui segala perbuatan orang-orang yang berbuat baik maupun buruk, tak ada rahasia sedikitpun yang tidak diketahui-Nya.

Apakah Rabb yang memiliki sifat-sifat seperti itu sama dengan berhala-berhala yang mereka sembah, yang tidak mendengar dan tidak melihat, tidak berakal dan tidak memiliki manfaat untuk diri mereka sendiri maupun untuk penyembah-penyembahnya. Juga tidak dapat memberi pertolongan untuk melenyapkan kesulitan kepada dirinya sendiri maupun kepada para penyembahnya.

Jawaban dari pertanyaan itu tidak disebutkan lagi, karena sudah cukup dimengerti dari susunan kalimatnya, yaitu firman-Nya: وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ (Mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah) Yaitu berhala-berhala, sekutu-sekutu dan sembahan-sembahan yang mereka anggap sebagai Rabb di samping Allah.

Baca Juga:  Surah An Nas; Terjemahan, Tafsir dan Keistimewaannya

قُلْ سَمُّوهُمْ (Katakanlah: “Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu.”) Maksudnya, beritahukanlah mereka itu tentang kami, dan jelaskanlah tentang keyakinan mereka yang keliru sehingga mereka tahu. Karena sebenarnya mereka itu tidak punya hakikat (kenyataan).

Oleh karena itu, Allah berfirman: أَمْ تُنَبِّئُونَهُ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي الْأَرْضِ (Atau apakah kalian hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi) Maksudnya, apa yang tidak ada (yang mereka ada-adakan), karena kalau memang hal itu ada di bumi, pasti Allah mengetahuinya, karena tidak ada sesuatu pun yang terahasiakan bagi Allah.

أَمْ بِظَاهِرٍ مِنَ الْقَوْلِ (Atau kalian mengatakan [tentang hal itu] sekedar perkataan pada lahirnya saja) Mujahid mengatakan: “Dengan kata-kata dugaan.”

Adh-Dhahhak dan Qatadah mengatakan: “Dengan kata-kata yang bathil (tidak benar).” Maksudnya, kalian menyembah berhala-berhala itu hanyalah berdasarkan kepada dugaan kalian, bahwa berhala itu dapat memberikan manfaat kepada kalian dan dapat pula membahayakan kalian, dan kalian sebut mereka sebagai Ilah (Tuhan).

بَلْ زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مَكْرُهُمْ (Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan [oleh syaitan] memandang baik tipu-daya mereka) Mujahid berkata: “Perkataan mereka, maksudnya kesesatan yang ada pada mereka, dan ajakan mereka pada kesesatan di malam dan siang hari.”

وَصُدُّوا عَنِ السَّبِيلِ (Dan dihalanginya dari jalan yang benar) orang yang membacanya dengan shad difathah, maknanya: “Setelah syaitan menggoda mereka dan bahwa apa yang mereka lakukan itu benar, mereka pun mengajak kepadanya dan menghalangi orang lain untuk mengikuti jalan para Rasul.” Sedang orang yang membacanya dengan shad didhammah, artinya: “Karena godaan syaitan, bahwa apa yang mereka lakukan itu benar, maka mereka terhalang dari jalan Allah.”

Baca Juga:  Surah Yusuf Ayat 56-57; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Karena itu Allah berfirman: وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ (Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada baginya seorang pun yang akan dapat memberinya petunjuk).

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang musyrik itu benar-benar bodoh dalam sikap ingkar mereka. Mereka menjadikan sekutu- sekutu bagi Allah dalam beribadah. Apakah ada yang memelihara, mengawasi dan menghitung kebaikan dan keburukan yang dilakukan setiap orang yang menyembah patung ini?

Katakan kepada mereka, wahai Muhammad, “Berilah nama dan sifat-sifat mereka yang sebenarnya itu! Apakah mereka itu hidup? Apakah mereka dapat melindungi diri sendiri dari bahaya?

Kalau mereka merupakan batu-batu yang tak dapat mendatangkan keuntungan dan kerugian, lalu apakah kalian menipu diri sendiri dengan memberitahukan Allah tentang sesuatu di bumi yang menurut dugaan kalian tidak diketahui oleh Allah? Atau, apakah mereka kalian tempatkan pada posisi yang disembah dengan ucapan-ucapan yang selalu kalian sebut.

Yang benar adalah bahwa tipu daya mereka yang palsu itu telah menguasai diri mereka. Oleh sebab itu, mereka terpalingkan dari jalan yang benar sehingga tersesat.

Orang yang kesesatannya seperti kesesatan mereka, tidak akan dapat ditunjuki oleh siapa pun, karena dirinya sendiri telah memalingkan diri dari petunjuk.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Ar-Ra’d Ayat 33 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S