Surah Ar-Rahman Ayat 65-78; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Ar-Rahman Ayat 65-78

Pecihitam.org – Kandungan Surah Ar-Rahman Ayat 65-78 ini, Allah menerangkan bahwa selain dua surga yang tersebut terdahulu ada lagi dua surga yang disediakan untuk orang-orang mukmin dari golongan Ashsabul-yamin. Yaitu dua surga yang terdahulu diperuntukkan bagi golongan orang-orang yang terdahulu beriman dan dua surga yang lain diperuntukkan bagi golongan Ashabul-yamin dari orang yang beriman kemudian.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Rahman Ayat 65-78

Surah Ar-Rahman Ayat 65
وَمِن دُونِهِمَا جَنَّتَانِ

Terjemahan: Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi

Tafsir Jalalain: وَمِن دُونِهِمَا (Dan selain dari kedua surga itu) yakni kedua surga yang telah disebutkan tadi جَنَّتَانِ (ada dua surga lagi) yaitu bagi orang yang takut akan saat menghadap kepada Rabbnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Kedua surga ini di bawah dua surga sebelumnya dalam (hal) tingkatan, keutamaan, maupun kedudukannya. Demikian yang ditegaskan melalui nash al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman: وَمِن دُونِهِمَا جَنَّتَانِ (“dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi”).

Pembahasannya telah diuraikan sebelumnya, bahwa bejana dua surga dan segala yang ada di dalamnya terbuat dari emas dan bejana dua surga dan segala yang ada di dalamnya terbuat dari emas dan bejana dua surga lainnya yang terbuat dari perak. Dua surga pertama adalah untuk orang-orang yang mendekatkan diri (al-Muqarrabuun), sedang dua surga berikutnya adalah milik ash-haabul yamiin.

Mengenai firman-Nya: وَمِن دُونِهِمَا جَنَّتَانِ (“Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi.”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Yakni, berada di bawah keduanya.” Sedangkan Ibnu Zaid mengatakan: “Maksudnya, dua surga lainnya yang keutamaannya lebih rendah.”

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa selain dua surga yang tersebut terdahulu ada lagi dua surga yang disediakan untuk orang-orang mukmin dari golongan Ashsabul-yamin. Yaitu dua surga yang terdahulu diperuntukkan bagi golongan orang-orang yang terdahulu beriman dan dua surga yang lain diperuntukkan bagi golongan Ashabul-yamin dari orang yang beriman kemudian.

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah dalam hadisnya: Dua surga dari emas untuk Muqarrabin dan dua buah lagi surga dari perak untuk Ashabul-yamin.” (Riwayat Ibnu Jarir, Ibnu Abi hatim, Ibnu Mardawaih dari Abu Musa)

Maka nikmat Tuhan yang manakah yang masih didustakan oleh jin dan manusia?.

Tafsir Quraish Shihab: Selain dua surga itu masih ada dua surga lain.

Surah Ar-Rahman Ayat 63
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalain: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Ibnu Katsir: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)

Tafsir Kemenag: Maka nikmat Tuhan yang manakah yang masih didustakan oleh jin dan manusia?.

Tafsir Quraish Shihab: Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian ingkari?

Surah Ar-Rahman Ayat 64
مُدۡهَآمَّتَانِ

Terjemahan: Kedua surga itu (kelihatan) hijau tua warnanya.

Tafsir Jalalain: مُدۡهَآمَّتَانِ (Kedua surga itu hijau tua warnanya) kelihatan hijau pekat karena sangat hijaunya.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan disini, Allah Ta’ala berfirman: مُدۡهَآمَّتَانِ (“kedua surga itu [terlihat] hijau tua warnanya”) maksudnya, kedua surga itu tampak berwarna hitam karena pengairan yang sangat melimpah.

Dan mengenai firman-Nya: مُدۡهَآمَّتَانِ (“kedua surga itu [terlihat] hijau tua warnanya”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Keduanya tampak hijau tua kehitaman karena pengairan yang sangat melimpah.”

Tafsir Kemenag: Di dalam dua surga yang lain itu terdapat tumbuhtumbuhan dan bunga-bungaan yang hijau tua warnanya. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang didustakan oleh jin dan manusia?.

Tafsir Quraish Shihab: Kedua surga itu berwarna hijau tua sehingga, karena begitu hijaunya, tampak kehitam-hitaman.

Surah Ar-Rahman Ayat 65
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalain: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Ibnu Katsir: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)

Tafsir Kemenag: Maka nikmat Tuhan yang manakah yang didustakan oleh jin dan manusia?.

Tafsir Quraish Shihab: Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian ingkari?

Surah Ar-Rahman Ayat 66
فِيهِمَا عَيۡنَانِ نَضَّاخَتَانِ

Terjemahan: Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang memancar.

Tafsir Jalalain: فِيهِمَا عَيۡنَانِ نَضَّاخَتَانِ (Di dalam kedua surga itu ada dua mata air yang memancar) bagaikan air mancur.

Tafsir Ibnu Katsir: نَضَّاخَتَانِ (“Yang memancar”). Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: “Artinya air yang sangat melimpah dan air yang mengalir itu lebih kuat dari air yang memancar.” Dan mengenai firman-Nya: نَضَّاخَتَانِ (“Yang memancar”) adl-Dlahhak berkata: “Keduanya penuh dengan air yang terus mengalir dan tidak pernah putus.”

Tafsir Kemenag: Ayat ini mengungkapkan bahwa di dalam surga ada dua mata air yang memancarkan air, berbeda dengan air pada surga yang terdahulu. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang didustakan oleh jin dan manusia?.

Tafsir Quraish Shihab: Di dalam kedua surga itu terdapat mata air yang memancar terus, tidak terputus.

Baca Juga:  Surah Ar-Rahman Ayat 37-45; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah Ar-Rahman Ayat 67
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalain: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Ibnu Katsir: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)

Tafsir Kemenag: Maka nikmat Tuhan yang manakah yang didustakan oleh jin dan manusia?.

Tafsir Quraish Shihab: Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian ingkari?

Surah Ar-Rahman Ayat 68
فِيهِمَا فَٰكِهَةٌ وَنَخۡلٌ وَرُمَّانٌ

Terjemahan: Di dalam keduanya (ada macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima.

Tafsir Jalalain: فِيهِمَا فَٰكِهَةٌ وَنَخۡلٌ وَرُمَّانٌ (Di dalam keduanya ada buah-buahan dan kurma serta delima) buah kurma dan delima itu menurut suatu pendapat adalah sebagaimana aslinya, tetapi menurut pendapat yang lain tidak seperti bentuk aslinya.

Tafsir Ibnu Katsir: فِيهِمَا فَٰكِهَةٌ وَنَخۡلٌ وَرُمَّانٌ (“Di dalam keduanya ada [macam-macam] buah-buahan dan kurma serta delima.” Firman Allah Ta’ala: وَنَخۡلٌ وَرُمَّانٌ (kurma serta delima) ini tidak termasuk dalam bab ‘athaf (penyambungan) yang khusus pada yang umum, sebagaimana yang ditetapkan oleh al-Bukhari dan selainnya. Penyebutan kurma dan delima itu secara khusus karena kemuliaannya atas buah-buahan lainnya.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa pada kedua surga tersebut terdapat buah-buahan yang beraneka ragam cita rasanya di antaranya kurma dan delima. Disebutkannya kurma dan delima walaupun keduanya termasuk ke dalam jenis buah-buahan, karena ada perbedaan dengan buah-buahan yang lain sebab keduanya terdapat pada musim gugur dan musim dingin. Di samping itu kurma adalah buah-buahan bergizi, dan delima dapat dijadikan obat.

Tafsir Quraish Shihab: Di dalam kedua surga itu terdapat pula aneka ragam buah-buahan, kurma dan delima. (1)

(1) Ayat ini secara khusus menyebut dua nama buah, yaitu kurma dan delima, karena kedua buah itu memang mempunyai beberapa keistimewaan seperti yang kelak dibuktkan oleh ilmu pengetahuan modern. Secara kimiawi buah kurma mempunyai kandungan gula yang tinggi, sekitar 75%.

Kandungan gula terbesar terdapat pada tebu dan cairan yang dihasilkan dari buah-buahan manis seperti anggur yang disebut fruktosa. Kurma merupakan buah yang mudah terbakar yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh dalam memproduksi tenaga dan kalori yang sangat tinggi. Tampaknya di situlah letak hikmahnya mengapa Allah memerintahkan Maryam untuk memakan kurma muda sebagai pengganti energi yang dikeluarkan saat melahirkan.

Selain itu, buah kurma juga mengandung zat kalsium, zat besi, fosforus yang cukup tinggi dan sangat diperlukan tubuh, sedikit zat asam, vitamin A dan B–yang dapat melindungi tubuh dari penyakit pelagra–protein dan lemak. Kandungan yang begitu kaya itu menjadikan buah kurma sebagai bahan makanan yang sempurna.

Sedangkan delima, isi atau perasannya mengandung asam sitrat dengan kadar yang sangat tinggi–jika dibandingkan dengan jenis buah-buahan lainnya–yang, ketika terjadi pembakaran, sangat membantu mengurangi keasaman urine dan darah yang pada gilirannya dapat mencegah penyakit encok atau sengal pada tubuh.

Asam sitrat itu yang terkandung dalam buah delima juga dapat membantu membentuk sebagian batu ginjal. Perasan buah delima ini juga mengandung kadar gula yang cukup, sekitar 11%, untuk mempermudah pembakaran dan menghasilkan energi.

Selain itu, kulit buah delima juga mempunyai kegunaan karena mengandung astringen yang dapat melindungi perut dari mencret, di samping dapat dimanfaatkan untuk membasmi cacing pita.

Surah Ar-Rahman Ayat 69
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalain: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Ibnu Katsir: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)

Tafsir Kemenag: Maka nikmat Allah yang manakah yang didustakan oleh jin dan manusia?.

Tafsir Quraish Shihab: Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian ingkari?

Surah Ar-Rahman Ayat 70
فِيهِنَّ خَيۡرَٰتٌ حِسَانٌ

Terjemahan: Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.

Tafsir Jalalain: فِيهِنَّ (Di dalam surga-surga itu) di kedua surga dan apa-apa yang ada di dalamnya itu خَيۡرَٰتٌ (ada bidadari-bidadari yang baik-baik) akhlaknya حِسَانٌ (lagi cantik-cantik) rupanya.

Tafsir Ibnu Katsir: Setelah itu Allah Ta’ala berfirman: فِيهِنَّ خَيۡرَٰتٌ حِسَانٌ (“di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.”) Ada yang mengatakan: “Yang dimaksud dengan خَيۡرَٰتٌ adalah kebaikan yang sangat banyak lagi indah.” Demikian yang dikemukakan oleh Qatadah. Dan ada pula yang menyatakan:

“Kata خَيۡرَٰتٌ merupakan jamak dari kata ‘khairah’ yang berarti wanita shalih yang sangat menawan, berakhlak mulia dan berwajah cantik.” Demikian yang dikemukakan oleh Jumhur Ulama.

Tafsir Kemenag: Ayat ini mengungkapkan bahwa di dalam surga-surga ada bidadari-bidadari yang baik budi pekertinya dan cantik rupanya.

Tafsir Quraish Shihab: Di dalam surga-surga itu terdapat bidadari-bidadari yang baik akhlaknya dan cantik wajahnya.

Surah Ar-Rahman Ayat 71
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalain: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Baca Juga:  Surah Ar-Rahman Ayat 46-53; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)

Tafsir Kemenag: Maka nikmat Tuhan yang manakah yang didustakan oleh jin dan manusia?.

Tafsir Quraish Shihab: Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian ingkari?

Surah Ar-Rahman Ayat 72
حُورٌ مَّقۡصُورَٰتٌ فِى ٱلۡخِيَامِ

Terjemahan: (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah.

Tafsir Jalalain: حُورٌ (Bidadari-bidadari itu-sangat jelita) mata mereka sangat jelita مَّقۡصُورَٰتٌ (mereka dipingit) tertutup فِى ٱلۡخِيَامِ (di dalam kemah-kemah) yang terbuat dari permata yang dilubangi, keadaan mereka diserupakan dengan gadis-gadis yang dipingit di dalam kemahnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Setelah itu Allah berfirman: حُورٌ مَّقۡصُورَٰتٌ فِى ٱلۡخِيَامِ (“[bidadari-bidadari] yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah.”) bidadari yang menundukkan pandangannya (sendiri) adalah lebih baik daripada bidadari yang ditundukkan pandangannya, meskipun semuanya sangat menggiurkan.

Dan mengenai firman Allah Ta’ala: فِى ٱلۡخِيَامِ (“di dalam tenda-tenda”) Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Bakar bin ‘Abdillah bin Qais, dari ayahnya bahwa Rasulullah telah bersabda:

“Sesungguhnya di surga terdapat rumah yang terbuat dari mutiara berlubang yang luasnya enampuluh mil. Pada setiap sudutnya terdapat penghuni yang dapat melihat orang lain, yang mereka selalu dikelilingi oleh orang-orang Mukmin.”)

Hadits tersebut juga diriwayatkan dari hadits Abu ‘Imran, dan ia mengatakan: “tiga puluh mil” dan diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu ‘Imran.

Tafsir Kemenag: Ayat ini mengungkapkan bahwa bidadari-bidadari itu adalah perempuan yang baik akhlaknya dan cantik rupanya dengan mempunyai mata yang indah, manis, putih, bersih sekeliling hitamnya, dipingit di dalam rumah, bukan yang berkeliaran di jalanjalan.

Tafsir Quraish Shihab: Bidadari-bidadari itu mempunyai mata yang begitu indah. Mereka dipingit dalam rumah.

Surah Ar-Rahman Ayat 73
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalain: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Ibnu Katsir: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)

Tafsir Kemenag: Maka nikmat Tuhan yang manakah yang didustakan oleh jin dan manusia?.

Tafsir Quraish Shihab: Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian ingkari?

Surah Ar-Rahman Ayat 74
لَمۡ يَطۡمِثۡهُنَّ إِنسٌ قَبۡلَهُمۡ وَلَا جَآنٌّ

Terjemahan: Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.

Tafsir Jalalain: لَمۡ يَطۡمِثۡهُنَّ إِنسٌ قَبۡلَهُمۡ (Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka) sebelum oleh suami-suami mereka وَلَا جَآنٌّ (dan tidak pula oleh jin).

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah Ta’alaa: لَمۡ يَطۡمِثۡهُنَّ إِنسٌ قَبۡلَهُمۡ وَلَا جَآنٌّ (“Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka [penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka] dan tidak pula oleh jin.”) penafsiran ayat ini telah diberikan sebelumnya.

Tafsir Kemenag: Ayat ini mengungkapkan bahwa bidadari itu tidak pernah disentuh oleh manusia atau pun jin sebelum datang penghuni surga yang menjadi suami mereka. Hanya suami-suami mereka inilah yang berhak menyentuh mereka. Pengulangan pernyataan ini, dimana sebelumnya telah disebutkan dalam ayat 56 Surah ar-Rahman ini, adalah untuk menunjukkan bahwa mereka sungguh suci dan kesucian mereka terpelihara sangat baik.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka tak pernah didekati, sebelum oleh pasangannya, oleh manusia dan jin.

Surah Ar-Rahman Ayat 75
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalain: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Ibnu Katsir: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)

Tafsir Kemenag: Oleh karena itu, maka nikmat Tuhan yang manakah yang didustakan oleh jin dan manusia?

Tafsir Quraish Shihab: Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian ingkari?

Surah Ar-Rahman Ayat 76
مُتَّكِـِٔينَ عَلَىٰ رَفۡرَفٍ خُضۡرٍ وَعَبۡقَرِىٍّ حِسَانٍ

Terjemahan: Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah.

Tafsir Jalalain: مُتَّكِـِٔينَ (Mereka bersandarkan) suami-suami mereka bertelekan; I’rab lafal ayat ini sama dengan sebelumnya عَلَىٰ رَفۡرَفٍ خُضۡرٍ (pada bantal-bantal yang hijau) merupakan bentuk jamak dari lafal Rafrafatun, artinya permadani atau bantal وَعَبۡقَرِىٍّ حِسَانٍ (dan bergelarkan pada permadani-permadani yang indah) merupakan bentuk jamak dari lafal ‘Abqariyyah, artinya permadani.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman-Nya lebih lanjut: مُتَّكِـِٔينَ عَلَىٰ رَفۡرَفٍ خُضۡرٍ وَعَبۡقَرِىٍّ حِسَانٍ (“mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah”) ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: ar-rafrafu bermakna yang menjadi tempat penimpanan.”

Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, ‘Ikrimah, al-Hasan, Qatadah, adl-Dlahhak dan lain-lain. Sedangkan al-‘Ala’ bin Zaid mengatakan: ar-rafrafu ini seperti tempat-tempat penyimpanan di dekat ranjang yang mudah dijangkau.”

Dan firman Allah Ta’ala: وَعَبۡقَرِىٍّ حِسَانٍ (“dan permadani-permadani yang indah”) Ibnu ‘Abbas, Qatadah, adl-Dlahhak dan as-Suddi mengatakan: “al-‘abqariyyun berarti bantal.” Sa’id bin Jubair berkata: “Yakni bantal yang paling bagus.” Sedangkan al-Khalil bin Ahmad mengatakan:

“Setiap sesuatu yang berharga dari laki-laki dan selainnya menurut masyarakat Arab disebut sebagai ‘abqari’. Dan darinya, muncullah sabda Rasulullah saw mengenai ‘Umar: “fa lam ara ‘abqariyyan yafrii faryahu” (“Aku tidak pernah melihat seorang jenius yang dapat menghasilkan karyanya seperti dia.”).

Baca Juga:  Surah Al-Jatsiyah Ayat 21-23; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Apapun ukurannya, maka sifat penghuni kedua surga yang pertama lebih tinggi dan lebih luhur daripada sifat yang ada pada dua surga lainnya. Dimana mengenai dua surga yang pertama, Allah Ta’ala berfirman:

(“Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera.”) dimana Dia menyifati bagian dalam permadani dan tidak menyinggung bagian luarnya, dan Dia hanya memuji bagian dalamnya, yang sudah barang tentu bagian luarnya lebih indah. Kemudian Dia menyifati para penghuninya dengan kebaikan, yang ia merupakan tingkatan dan puncak tertinggi.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Jibril ketika ia ditanya tentang Islam, lalu iman dan kemudian ihsan. Demikian itu di antara beberapa sisi pengutamaan dua surga pertama atas dua surga lainnya. Dan kita memohon kepada Allah al-Kariim al-Wahhab agar Dia menjadikan kita semua termasuk penghuni surga yang pertama.

Tafsir Kemenag: Ayat ini mengungkapkan bahwa penghuni-penghuni surga itu duduk santai di atas bantal-bantal yang hijau, besar-besar dan permadani-permadani yang indah-indah, indah rupanya dan indah tenunannya, dan di sebelah dalamnya terbuat dari sutra.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka bertelekan di atas singgasana yang mempunyai penutup hijau dan hamparan yang indah dan menakjubkan.

Surah Ar-Rahman Ayat 77
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalain: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Ibnu Katsir: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)

Tafsir Kemenag: Oleh karena itu, maka nikmat Tuhan yang manakah yang didustakan oleh jin dan manusia?

Tafsir Quraish Shihab: Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian ingkari?

Surah Ar-Rahman Ayat 78
تَبَٰرَكَ ٱسۡمُ رَبِّكَ ذِى ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ

Terjemahan: Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia.

Tafsir Jalalain: تَبَٰرَكَ ٱسۡمُ رَبِّكَ ذِى ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ (Maha Agung nama Rabbmu Yang mempunyai kebesaran dan Karunia) penafsirannya sebagaimana sebelumnya, dan lafal Ismi pada ayat ini merupakan Isim Zaaid atau Isim yang ditambahkan.

Tafsir Ibnu Katsir: Setelah itu Allah Ta’ala berfirman: تَبَٰرَكَ ٱسۡمُ رَبِّكَ ذِى ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ (“Mahaagung Nama Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan karunia.”) maksudnya, Dia-lah yang memang berhak dibesarkan sehingga tidak boleh didurhakai, dan berhak dimuliakan sehingga Dia layak diibadahi, serta berhak disyukuri sehingga Dia tidak boleh diingkari, dan Dia juga berhak diingat sehingga tidak layak untuk dilupakan.

Firman-Nya: ذِى ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ (“Yang mempunyai kebesaran dan karunia”) yakni yang mempunyai keagungan dan kebesaran. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Darda’, ia bercerita: “Rasulullah saw. bersabda: “Ajillullaaha yaghfirlakum” (“Muliakanlah Allah, niscaya Allah memberikan ampunan kepada kalian.”).

Dan dalam hadits yang lain disebutkan: “Sesungguhnya di antara banyak pengagungan Allah adalah memuliakan orang muslim yang beruban, orang yang mempunyai kekuasaan, serta orang yang membawa (menghafal) al-Qur’an secara tidak berlebih-lebihan padanya dan tidak pula terlalu jauh (pelit) darinya.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Rabi’ah bin ‘Amir, ia bercerita: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Biasakanlah mengucapkan: yaa Dzal Jalaali wal Ikraam(yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan).” Diriwayatkan oleh an-Nasa-i, dari hadits ‘Abdullah bin al-Mubarak.

Dan ucapan Ibnu Mas’ud: “Biasakanlah mengucapkan: “Biasakanlah mengucapkan: yaa Dzal Jalaali wal Ikraam(yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan).” Maksudnya adalah terus menerus karena “al-idzodzuu” sama dengan “al-ilhaah”. Mengenai masalah tersebut Ibnu Katsir mengatakan: “Makna “al-idzodzu” ini saling berdekatan. Wallahu a’lam.

Dan dalam kitab Shahih Muslim dan kitab-kitab as Sunan yang empat juga disebutkan dari hadits ‘Abdullah bin al Harits, dari ‘Aisyah, ia berkata: “Jika Rasulullah hendak salam, beliau tidak duduk –yakni setelah shalat- kecualidengan sekedar membaca: allaahumma antas salaam wa mingkas salaam tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam.” (Ya Allah, Engkau Mahasejahtera, dari-Mu-lah kesejahteraan. Mahasuci Engkau, wahai Rabb yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”).

Demikianlah akhir penafsiran surah ar-Rahman. Walillaahil hamdu wal minnah.

Tafsir Kemenag: Ayat ini mengungkapkan bahwa, hanya Allah-lah yang mempunyai kebesaran dan karunia atas segala nikmat yang diberikan-Nya, nikmat yang sangat banyak dan ganjaran yang sangat berharga. Ini adalah pelajaran bagi hamba-Nya bahwa semuanya itu adalah rahmat-Nya. Dia yang menjadikan langit dan bumi, surga dan neraka, menyiksa orang-orang berdosa, memberi pahala kepada orang-orang yang menaati-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Mahatinggi dan Mahasuci nama Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan karunia.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Ar-Rahman Ayat 65-78 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S