Surah Ar-Rum Ayat 20-21; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Ar-Rum Ayat 20-21

Pecihitam.org – Kandungan Surah Ar-Rum Ayat 20-21 ini, menerangkan adanya tanda-tanda kebesaran Allah pada diri manusia sendiri. Manusia diciptakan dari tanah, sedangkan tanah itu benda mati tidak bergerak. tanda-tanda kekuasaan Allah yaitu kehidupan bersama antara laki-laki dan perempuan dalam sebuah perkawinan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Rum Ayat 20-21

Surah Ar-Rum Ayat 20
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنتُم بَشَرٌ تَنتَشِرُونَ

Terjemahan: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.

Tafsir Jalalain: وَمِنْ آيَاتِهِ (Dan di antara tanda-tanda-Nya) yang menunjukkan akan kekuasaan-Nya أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ (ialah Dia menciptakan kalian dari tanah) asal kalian yaitu Nabi Adam ثُمَّ إِذَا أَنتُم بَشَرٌ (kemudian tiba-tiba kalian menjadi manusia) yang terdiri dari darah dan daging تَنتَشِرُونَ (yang berkembang biak) di muka bumi.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: وَمِنْ آيَاتِهِ (“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya.”) yang menunjukkan keagungan-Nya dan kesempurnaan-Nya ialah, Dia menciptakan bapak kalian, Adam dari tanah. ثُمَّ إِذَا أَنتُم بَشَرٌ تَنتَشِرُونَ (“Kemudian tiba-tiba kamu [menjadi] manusia yang berkembang biak.”) asal kalian adalah dari tanah, kemudian dari air yang hina, lalu dibentuk menjadi segumpal darah, lalu segumpal daging, lalu menjadi tulang-tulang yang berbentuk manusia, kemudian Allah membalut tulang-tulang itu dengan daging dan meniupkan ruh ke dalam tubuhnya. Lalu dia dapat mendengar dan melihat.

Kemudian dia keluar dari perut ibunya sebagai anak kecil yang lemah kekuatannya dan daya geraknya. Dan semakin panjang umurnya semakin sempurna pula kekuatan dan daya geraknya, hingga menjadi kondisi sekarang ini, mampu membangun kota-kota dan benteng-benteng pertahanan, melakukan perjalanan ke berbagai pelosok dunia, mengarungi samudera, mengelilingi berbagai benua dan mengumpulkan berbagai harta.

Diapun memiliki pemikiran, pendalaman, kejelian, pendapat, ilmu dan wawasan tentang perkara-perkara dunia dan akhirat sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Mahasuci Rabb yang memberikan kekuasaan kepada mereka, memperjalankan, mengatur dan mendistribusikan dalam berbagai jenis kehidupan dan usaha serta terjadinya berbagai tingkatan di kalangan mereka dalam bidang ilmu, pemikiran, kebaikan dan keburukan, kekayaan dan kemiskinan serta kebahagiaan dan kecelakaan.

Maka firman Allah: وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنتُم بَشَرٌ تَنتَشِرُونَ (“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakanmu dari tanah, Kemudian tiba-tiba kamu [menjadi] manusia yang berkembang biak.”)

Imam Ahmad meriwAyatkan dari Abu Musa, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menciptakan Adam dari satu genggaman yang digenggam-Nya dari seluruh bumi. Lalu datanglah anak-anak Adam sesuai dengan bumi, ada yang putih, merah, hitam, dan pada yang di antara yang demikian.

Ada pula yang jahat, baik, senang dan yang berduka serta ada yang di antara yang demikian.” Hadits ini diriwAyatkan juga oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dari beberapa jalan, dari ‘auf al-A’raby. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih.”

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan adanya tanda-tanda kebesaran Allah pada diri manusia sendiri. Manusia diciptakan dari tanah, sedangkan tanah itu benda mati tidak bergerak. Sehubungan dengan kejadian manusia dari tanah itu, Rasulullah saw bersabda seperti berikut:

Sesungguhnya Allah telah menjadikan Adam dari segumpal tanah yang diambil-Nya dari segala macam tanah. Kemudian datanglah anak-anak Adam menurut tanah asal mereka. Mereka ada yang putih, merah, hitam, dan sebagainya; ada pula yang jelek, baik, sederhana, bersedih, dan sebagainya. (RiwAyat Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Abu Musa al-Asy’ari)

Al-Qur’an banyak menerangkan tentang asal kejadian manusia. Dalam Surah al-Mu’minun umpamanya Allah berfirman: Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (berasal) dari tanah. (al-Mu’minun/23: 12)

Dalam Surah al-Mu’minun di atas diterangkan kejadian manusia itu berasal dari sari pati tanah. Ini adalah suatu kejadian yang tidak langsung dari manusia. Akan tetapi, dalam Ayat 20 ini disebutkan asal kejadian itu langsung dari tanah dan segera diikuti dengan gambaran manusia yang bergerak dan bertebaran.

Hal ini untuk dibandingkan antara proses dan arti tanah yang mati dan tak bergerak dengan manusia yang hidup dan bergerak, sesuai dengan firman Allah dalam Ayat sebelumnya, “Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup.”

Baca Juga:  Surah Ar-Rum Ayat 17-19; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Hal itu adalah kejadian yang luar biasa dan menjadi tanda kekuasaan Allah. Hal itu juga mengisyaratkan adanya hubungan yang kuat antara manusia dan bumi sebagai tempat hidup mereka, dan tempat bertemu dengan asal kejadian itu. Manusia dan bumi dalam jagat raya ini tunduk pada hukum-hukum Allah yang berlaku padanya.

Proses perpindahan dari bentuk tanah yang tidak bergerak dan tidak berarti kepada bentuk manusia yang bergerak dan mulia ialah suatu perpindahan yang mengandung unsur kebangkitan pada ciptaan Allah. Hal ini menggerakkan perasaan untuk mengucapkan syukur dan tasbih kepada-Nya, dan menggerakkan hati untuk mengagungkan Pencipta Yang Mahamulia itu.

Al-Qur’an menetapkan kenyataan itu agar manusia memperhatikan ciptaan Allah, dan memikirkan proses perpindahan dari tanah menjadi manusia. Dalam kejadian manusia, Al-Qur’an tidak memerinci proses pertumbuhan dan perkembangan manusia dari tanah sampai menjadi manusia, karena Al-Qur’an adalah kitab hidayah bukan sepenuhnya berisi ilmu pengetahuan sehingga hanya memuat isyarat-isyaratnya saja.

Adapun ahli ilmu pengetahuan telah mencoba menetapkan berbagai teori bagi pertumbuhan manusia, untuk menghubungkan mata rantai proses kejadian tersebut.

Teori-teori ilmiah mungkin benar dan mungkin pula salah. Apa yang benar sekarang mungkin dibatalkan di masa yang akan datang, sesuai dengan kemajuan teknologi modern untuk menyelidiki suatu masalah. Perlu untuk dipahami bahwa ilmu pengetahuan dan Al-Qur’an sama-sama berasal dari Allah, sehingga tidak akan terjadi kontradiksi. Jika pada suatu saat teori ilmu pengetahuan salah, maka kesalahan itu pada manusia. Sementara pernyataan Al-Qur’an tetap benar. Ada persimpangan jalan antara pandangan Al-Qur’an terhadap manusia dengan pandangan teori-teori ilmiah tersebut.

Al-Qur’an memuliakan manusia dan menetapkan bahwa padanya ada hembusan roh ciptaan Allah. Tuhan menciptakannya dari tanah menjadi manusia, dan memberikan kepada mereka keistimewaan-keistimewaan yang membedakan mereka dengan binatang. Pandangan seperti ini sama sekali tidak ditemukan dalam teori-teori ilmiah, yang berdasarkan materi semata, dan tidak ada hubungannya dengan Allah sama sekali.

Bagaimana Allah menekankan mengenai pentingnya peran tanah dalam penciptaan makhluk dan juga manusia, tidak hanya dinyatakan pada Ayat di atas, namun juga pada Surah al-hijr/15: 26, 28, 33 dan beberapa Ayat lainnya, di antaranya:

Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukan-Nya ajal dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan di sisi-Nya, kemudian kamu masih terus menerus ragu-ragu. (al-An’am/6: 2)

Dia telah menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan Dia menciptakan jin dari nyala api yang murni. Maka nikmat Tuhan kamu berdua yang manakah yang kamu berdua ingkari? (ar-Rahman/55: 14)

Menurut ilmu pengetahuan, dua komponen penting yang harus ada dalam permulaan terjadinya kehidupan adalah material genetika dan membran sel. Kedua material ini saling bekerjasama mendukung kehidupan. Di dalam keduanya, materi tanah liat dominan.

Hal ini dibuktikan dengan dilakukannya penelitian terhadap tanah lempung yang disebut dengan “montmorilenite clay”. Penelitian menemukan bahwa lempung jenis ini dapat merangsang dengan cepat pembentukan kantung membran yang berisi cairan (membranous fluid-filled sac).

Penelitian juga membuktikan bahwa cairan yang ada di dalam kantung membran juga mengandung material tanah liat. Kantung ini ternyata dapat tumbuh dengan cara pembelahan sederhana. Cara pembelahan ini merupakan gambaran dari apa yang terjadi pada sel yang primitif.

Dari paparan ini dapat kita katakan bahwa informasi Al-Qur’an tentang asal kejadian manusia dari tanah adalah benar dan dibuktikan oleh penelitian ilmiah.

Tafsir Quraish Shihab: Di antara bukti-bukti kesempurnaan kekuasaan-Nya adalah bahwa Dia menciptakan asal kalian dari tanah yang sama sekali tidak memiliki kehidupan. Kemudian kalian menjadi manusia yang berpencaran di bumi untuk berusaha mendapatkan apa yang dapat mempertahankan hidup kalian.

Surah Ar-Rum Ayat 21
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Terjemahan: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Baca Juga:  Surah An-Nur Ayat 14-15; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Jalalain: وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا (Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri) Siti Hawa tercipta dari tulang rusuk Nabi Adam sedangkan manusia yang lainnya tercipta dari air mani laki-laki dan perempuan لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا (supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya) supaya kalian merasa betah dengannya,

وَجَعَلَ بَيْنَكُم (dan dijadikan-Nya di antara kamu sekalian) semuanya مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً (rasa kasih sayang. إِنَّ فِي ذَلِكَ (Sesungguhnya pada yang demikian itu) hal yang telah disebutkan itu لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir) yakni yang memikirkan tentang ciptaan Allah swt.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا (“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri.”) yaitu Dia menciptakan untuk kalian wanita-wanita yang akan menjadi istri kalian dari jenis kalian sendiri.
لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا (“Supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.”)

sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Dia-lah yang menciptakanmu dari diri yang satu dan daripadanya. Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya.”)(al-A’raaf: 189). Yaitu Hawa yang diciptakan Allah dari tulang rusuk bagian kiri Adam.

Seandainya Allah menciptakan anak Adam seluruhnya laki-laki dan menjadikan wanita dari jenis yang lainnya, seperti dari bangsa jin atau hewan, niscaya perasaan kasih sayang di antara mereka dan di antara berbagai pasangan tidak akan tercapai, bahkan akan terjadi ketidak senangan seandainya pasangan-pasangan itu berbeda jenis.

Kemudian di antara rahmat-Nya kepada manusia adalah menjadikan pasangan-pasangan mereka dari jenis mereka sendiri serta menjadikan perasaan cinta dan kasih sayang di antara mereka. Dimana adakalanya seorang laki-laki mengikat wanita dikarenakan rasa cinta atau rasa kasih sayang dengan lahirnya seorang anak, seling membutuhkan nafkah dan kasih sayang di antara keduanya.

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”)

Tafsir Kemenag: Dalam Ayat berikut ini diterangkan tanda-tanda kekuasaan Allah yaitu kehidupan bersama antara laki-laki dan perempuan dalam sebuah perkawinan. Manusia mengetahui bahwa mereka mempunyai perasaan tertentu terhadap jenis yang lain.

Perasaan dan pikiran-pikiran itu ditimbulkan oleh daya tarik yang ada pada masing-masing mereka, yang menjadikan yang satu tertarik kepada yang lain, sehingga antara kedua jenis, laki-laki dan perempuan, itu terjalin hubungan yang wajar. Mereka melangkah maju dan berusaha agar perasaan-perasaan dan kecenderungan-kecenderungan antara laki-laki dengan perempuan tercapai.

Puncak dari semuanya itu ialah terjadinya perkawinan antara laki-laki dengan perempuan. Dalam keadaan demikian, bagi laki-laki hanya istrinya perempuan yang paling baik, sedang bagi perempuan hanya suaminya laki-laki yang menarik hatinya. Masing-masing merasa tenteram hatinya dengan adanya pasangan itu.

Semuanya itu merupakan modal yang paling berharga dalam membina rumah tangga bahagia. Dengan adanya rumah tangga yang berbahagia, jiwa dan pikiran menjadi tenteram, tubuh dan hati mereka menjadi tenang, kehidupan dan penghidupan menjadi mantap, kegairahan hidup akan timbul, dan ketenteraman bagi laki-laki dan perempuan secara menyeluruh akan tercapai.

Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, (istrinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu).

Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhan Mereka (seraya berkata), “Jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami akan selalu bersyukur.” (al-A’raf/7: 189)

Khusus mengenai kata-kata mawaddah (rasa kasih) dan rahmah (sayang), Mujahid dan ‘Ikrimah berpendapat bahwa yang pertama adalah sebagai ganti dari kata “nikah” (bersetubuh) dan yang kedua sebagai kata ganti “anak”. Jadi menurut Mujahid dan ‘Ikrimah, maksud ungkapan Ayat “bahwa Dia menjadikan antara suami dan istri rasa kasih sayang” ialah adanya perkawinan sebagai yang disyariatkan Tuhan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan dari jenisnya sendiri, yaitu jenis manusia, akan terjadi persenggamaan yang menyebabkan adanya anak-anak dan keturunan.

Baca Juga:  Surah Ar-Rum Ayat 22-23; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Persenggamaan merupakan suatu yang wajar dalam kehidupan manusia, sebagaimana adanya anak-anak yang merupakan suatu yang umum pula.

Ada yang berpendapat bahwa mawaddah bagi anak muda, dan rahmah bagi orang tua. Ada pula yang menafsirkan bahwa mawaddah ialah rasa kasih sayang yang makin lama terasa makin kuat antara suami istri. Sehubungan dengan mawaddah itu Allah mengutuk kaum Lut yang melampiaskan nafsunya dengan melakukan homoseks, dan meninggalkan istri-istri mereka yang seharusnya menjadi tempat mereka melimpahkan rasa kasih sayang dan melakukan persenggamaan. Allah berfirman:

Dan kamu tinggalkan (perempuan) yang diciptakan Tuhan untuk menjadi istri-istri kamu? (asy-Syu’ara’/26: 166)

Dalam Ayat ini, Allah memberitahukan kepada kaum laki-laki bahwa “tempat tertentu” itu ada pada perempuan dan dijadikan untuk laki-laki. Dalam hadis diterangkan bahwa para istri semestinya melayani ajakan suaminya, kapan saja ia menghendaki, namun harus melihat kondisi masing-masing, baik dari segi kesehatan ataupun emosional. Dengan demikian, akan terjadi keharmonisan dalam rumah tangga. Nabi saw bersabda:

Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada seseorang lelaki pun yang mengajak istrinya untuk bercampur, tetapi ia (istri) enggan, kecuali yang ada di langit akan marah kepada istri itu, sampai suaminya rida kepadanya.

Dalam lafal yang lain, hadis ini berbunyi, “Apabila istri tidur meninggalkan ranjang suaminya maka malaikat-malaikat akan melaknatinya hingga ia berada di pagi hari. (RiwAyat Muslim dari Abu Hurairah)

Dalam Ayat ini dan Ayat-Ayat yang lain, Allah menetapkan ketentuan-ketentuan hidup suami istri untuk mencapai kebahagiaan hidup, ketenteraman jiwa, dan kerukunan hidup berumah tangga. Apabila hal itu belum tercapai, mereka semestinya mengadakan introspeksi terhadap diri mereka sendiri, meneliti apa yang belum dapat mereka lakukan serta kesalahan-kesalahan yang telah mereka perbuat.

Kemudian mereka menetapkan cara yang paling baik untuk berdamai dan memenuhi kekurangan tersebut sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah, sehingga tujuan perkawinan yang diharapkan itu tercapai, yaitu ketenangan, saling mencintai, dan kasih sayang.

Demikian agungnya perkawinan itu, dan rasa kasih sayang ditimbulkannya, sehingga Ayat ini ditutup dengan menyatakan bahwa semuanya itu merupakan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah bagi orang-orang yang mau menggunakan pikirannya. Akan tetapi, sedikit sekali manusia yang mau mengingat kekuasaan Allah yang menciptakan pasangan bagi mereka dari jenis mereka sendiri (jenis manusia) dan menanamkan rasa cinta dan kasih sayang dalam jiwa mereka.

Suatu penelitian ilmiah menunjukkan bahwa setelah meneliti ribuan pasangan suami istri (pasutri) maka disimpulkan bahwa setelah diadakan korelasi, maka antara kedua pasangan tadi terdapat banyak kesamaan, baik secara psikologis maupun secara fisik. Maksud “jenis kamu sendiri” di sini adalah dari sisi psikis dan fisik yang sama sehingga mereka mempunyai kesamaan antara keduanya.

Hanya dengan hidup bersama pasangan yang serasa akrab (familiar) dengannya, maka akan tumbuh perasaan mawaddah dan rahmah, kasih sayang dan perasaan cinta. Oleh karena itu, teman hidup harus dipilih dari jenis, kelompok fisik, dan kejiwaan yang mempunyai kemiripan yang serupa dengannya.

Tafsir Quraish Shihab: Dan di antara tanda-tanda kasih sayang-Nya adalah bahwa Dia menciptakan bagi kalian, kaum laki-laki, istri-istri yang berasal dari jenis kalian untuk kalian cintai. Dia menjadikan kasih sayang antara kalian dan mereka. Sesungguhnya di dalam hal itu semua terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir tentang ciptaan Allah.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Ar-Rum Ayat 20-21 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S