Surah Ar-Rum Ayat 33-37; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Ar-Rum Ayat 33-37

Pecihitam.org – Kandungan Surah Ar-Rum Ayat 33-37 ini, menerangkan satu bentuk negatif prilaku manusia, yaitu bila ditimpa kesusahan, mereka mendekatkan diri kepada Allah. Lalu setelah kesusahan itu hilang dan berganti dengan keberuntungan, mereka kembali menyekutukan Allah.

Selanjutnya memperingatkan manusia yang ingkar kepada Allah, tidak sabar, dan tidak bersyukur, bahwa nikmat itu adalah karunia-Nya. Nikmat itu datang dari Allah, bukan dari selain-Nya. Selanjutnya Allah mempertanyakan apakah orang-orang musyrik itu memiliki sulthan (hujjah atau landasan) yang bersumber dari Allah yang dapat membenarkan perbuatan syirik mereka.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Rum Ayat 33-37

Surah Ar-Rum Ayat 33
وَإِذَا مَسَّ ٱلنَّاسَ ضُرٌّ دَعَوْا۟ رَبَّهُم مُّنِيبِينَ إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَآ أَذَاقَهُم مِّنْهُ رَحْمَةً إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُم بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ

Terjemahan: Dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat daripada-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhannya,

Tafsir Jalalain: وَإِذَا مَسَّ ٱلنَّاسَ (Dan apabila manusia disentuh) orang-orang kafir Mekah ضُرٌّ (oleh suatu bahaya) oleh suatu marabahaya دَعَوْا۟ رَبَّهُم مُّنِيبِينَ (mereka menyeru Tuhannya dengan kembali) yakni bertobat إِلَيْهِ (kepada-Nya) bukan kepada selain-Nya,

ثُمَّ إِذَآ أَذَاقَهُم مِّنْهُ رَحْمَةً (kemudian apabila Tuhan merasakan kepada mereka hanya sedikit saja rahmat) umpamanya dengan diturunkan hujan kepada mereka إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُم بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ (tiba-tiba sebagian daripada mereka mempersekutukan Tuhannya).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman memberikan kabar tentang manusia yang berada dalam keadaan terjepit, mereka berdoa kepada Allah Mahaesa Yang tidak ada sekutu bagi-Nya. jika mereka dilimpahkan berbagai nikmat, tiba-tiba segolonga mereka yang berada dalam keadaan lapang, berbuat musyrik kepada Allah dan menyembah kepada selain-Nya.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan satu bentuk negatif prilaku manusia, yaitu bila ditimpa kesusahan, mereka mendekatkan diri kepada Allah. Lalu setelah kesusahan itu hilang dan berganti dengan keberuntungan, mereka kembali menyekutukan Allah.

Kesusahan itu bisa berupa kemelaratan, sakit, musibah, bencana, dan sebagainya. Ungkapan bahwa kesusahan itu hanya “menyentuhnya” berarti hanya ringan dan sesaat dari masa hidupnya yang panjang, tidak sampai “menimpanya” dengan dahsyat. Namun demikian, hanya dengan sentuhan sedikit kesusahan saja, mereka sudah merasa dunia ini gelap. Mereka segera berdoa kepada Allah agar segera dilepaskan dari kesusahan itu.

Doa itu mereka iringi dengan mendekatkan diri kepada Allah. Mereka rajin beribadah, memohon ampun atas dosa-dosanya, dan berjanji akan patuh melaksanakan perintah-perintah Allah pada masa yang akan datang. Dengan demikian, mereka kembali kepada fitrah mereka.

Akan tetapi, kepatuhan mereka itu hanya sebentar, yaitu selama kesusahan itu masih terasa. Ketika kesusahan itu diganti Allah dengan “mencicipkan” kepadanya sedikit kebahagiaan saja, sebagian mereka sudah lupa diri dan kembali menyekutukan Allah.

Menyekutukan Allah itu maksudnya mempercayai adanya unsur lain yang berperan dalam membuat mereka beruntung atau susah, baik berupa berhala, setan, ataupun manusia. Satu kesalahan besar jika mereka memandang keuntungan usaha itu sebagai hasil usaha dan kerja keras mereka sendiri, sehingga mereka tidak mensyukuri nikmat itu.

Mereka juga tidak menggunakan nikmat tersebut menurut semestinya sebagaimana yang dikehendaki oleh Pemberinya, Allah. Dengan demikian, mereka mengotori fitrah mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Apabila manusia tertimpa suatu bahaya–dalam bentuk penyakit atau kesusahan–mereka berlindung kepada Allah. Mereka berdoa dan kembali kepada-Nya dengan meminta agar menghilangkan kesulitan dari diri mereka. Kemudian apabila Allah menghilangkan kesulitan dari mereka dan memberikan karunia-Nya, tiba-tiba segolongan dari mereka segera menyekutukan Allah.

Surah Ar-Rum Ayat 34
لِيَكْفُرُوا۟ بِمَآ ءَاتَيْنَٰهُمْ فَتَمَتَّعُوا۟ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

Terjemahan: sehingga mereka mengingkari akan rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka. Maka bersenang-senanglah kamu sekalian, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu).

Tafsir Jalalain: لِيَكْفُرُوا۟ بِمَآ ءَاتَيْنَٰهُمْ (Sehingga mereka mengingkari akan rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka) makna yang terkandung di dalam Ayat ini adalah ancaman yang ditujukan kepada mereka yang ingkar itu.

فَتَمَتَّعُوا۟ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ (Maka bersenang-senanglah kamu sekalian, kelak kalian akan mengetahui) akibat daripada bersenang-senang kalian itu; di dalam ungkapan Ayat ini terkandung makna sindiran bagi orang-orang yang ketiga atau dhamir gaib.

Tafsir Ibnu Katsir: لِيَكْفُرُوا۟ بِمَآ ءَاتَيْنَٰهُمْ (“Sehingga mereka mengingkari akan rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka.”) huruf lam pada Ayat ini adalah lam ‘aaqibah [lam yang menunjukkan tentang akibat suatu peristiwa] menurut pendapat sebagian ulama.

Sedangkan menurut ulama yang lainnya, laam nya adalah lam ta’liil [lam yang menunjukkan alasan hukum sebuah kasus], akan tetapi laam itu adalah ‘illat tentang ketentuan Allah kepada mereka.

Kemudian Allah mengancam mereka dengan firman-Nya: فَتَمَتَّعُوا۟ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ (“Maka bersenang-senanglah kammu sekalian, kelak kamu akan mengetahui [akibat perbuatanmu].”)

Sebagian ulama berkata: “Demi Allah, seandainya yang mengancamku adalah seorang penjaga yang ahli, niscaya akupun takut kepadanya. Bagaimana kalau yang mengancam di dalam Ayat ini adalah Rabb yang berkata terhadap segala sesuatu: kun fayakuun [“jadilah” maka jadilah ia].

Tafsir Kemenag: Ayat ini memperingatkan manusia yang ingkar kepada Allah, tidak sabar, dan tidak bersyukur, bahwa nikmat itu adalah karunia-Nya. Nikmat itu datang dari Allah, bukan dari selain-Nya. Firman Allah:

Baca Juga:  Surah Ar-Rum Ayat 28-29; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. Tetapi di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (Luqman/31:20)

Manusia tidak boleh mengingkari nikmat itu karena tidak ada yang selain Allah yang dapat memberikan nikmat sehebat itu, sebagaimana difirmankan-Nya:

Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh (sesembahanmu) selain Allah. Sebenarnya orang-orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata. (Luqman/31:11)

Dalam Ayat 34 ini, Allah memerintahkan mereka, “Bersenang-senanglah!” Perintah ini merupakan ejekan atas kedurhakaan mereka. Dengan demikian, perintah ini bukanlah perintah yang sebenarnya, tetapi ancaman agar mereka menghentikan perbuatan menyembah dan memohon kepada selain Allah dan mengingkari nikmat-Nya tersebut.

Apalagi perintah bersenang-senang itu diiringi ancaman “kelak kalian akan mengetahuinya.” Dengan demikian, bersenang-senang itu hanya mereka nikmati sementara, yaitu paling lama selama sisa-sisa hidup mereka di dunia.

Sedangkan di akhirat nanti, mereka akan memperoleh siksaan dan azab yang dahsyat atas kesyirikan dan keingkaran mereka. Azab dapat terjadi di dunia, dan pasti di akhirat. Dengan demikian, keingkaran mereka di dunia tidak akan membawa keuntungan apa-apa.

Oleh karena itu, sebelum ajal menjemput, mereka yang kafir dengan berprilaku syirik dan tidak mensyukuri nikmat hendaklah bertobat. Tobat itu harus sesegera mungkin karena tobat pada waktu napas sudah di tenggorokan tidak diterima Allah, sebagaimana terjadi pada Fir’aun (lihat Surah Yunus/10: 90-91).

Tafsir Quraish Shihab: Sehingga akibat dari keadaan mereka itu adalah bahwa mereka mengingkari nikmat yang diberikan Allah. Maka bersenang-senanglah sekehendak kalian, wahai orang-orang yang durhaka, niscaya kalian akan mengetahui kesudahan kalian.

Surah Ar-Rum Ayat 35
أَمْ أَنزَلْنَا عَلَيْهِمْ سُلْطَٰنًا فَهُوَ يَتَكَلَّمُ بِمَا كَانُوا۟ بِهِۦ يُشْرِكُونَ

Terjemahan: Atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan, lalu keterangan itu menunjukkan (kebenaran) apa yang mereka selalu mempersekutukan dengan Tuhan?

Tafsir Jalalain: أَمْ (Atau pernahkah) lafal am menunjukkan arti yang sama dengan hamzah yang menunjukkan makna ingkar, yaitu bukankah أَنزَلْنَا عَلَيْهِمْ سُلْطَٰنًا (Kami menurunkan kepada mereka keterangan) yakni hujah dan Kitab فَهُوَ (lalu keterangan itu menunjukkan) mengungkapkan dengan jelas يَتَكَلَّمُ بِمَا كَانُوا۟ بِهِۦ يُشْرِكُونَ (tentang apa yang mereka selalu mempersekutukannya dengan Tuhan?) Apakah kitab dan hujah tersebut memerintahkan mereka untuk berbuat musyrik, tentu saja tidak dan tidak akan ada.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemdian Allah berfirman mengingkari orang-orang musyrik tentang perkara yang mereka perselisihkan tentang penyembahan kepada selain-Nya tanpa dalil, hujjah dan bukti. أَمْ أَنزَلْنَا عَلَيْهِمْ سُلْطَٰنًا (“Atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan?”) yaitu dalil, فَهُوَ يَتَكَلَّمُ (“lalu keterangan itu menunjukkan”) berbicara tentang, بِمَا كَانُوا۟ بِهِۦ يُشْرِكُونَ (“Kebenaran apa yang mereka selalu mempersekutukan dengan Rabb”), dan ini adalah istifham inkari [pertanyaan yang menunjukkan pengingkaran], artinya mereka tidak memiliki semua itu sedikitpun.

Tafsir Kemenag: Selanjutnya Allah mempertanyakan apakah orang-orang musyrik itu memiliki sulthan (hujjah atau landasan) yang bersumber dari Allah yang dapat membenarkan perbuatan syirik mereka. Suatu akidah yang benar harus memiliki landasan yang benar.

Sulthan secara harfiah berarti “kekuatan nyata yang tidak dapat dibantah”. Maksudnya adalah sebuah kitab suci dan seorang rasul dari Allah. Suatu kepercayaan hanya dapat disebut agama bila memiliki unsur-unsur itu di samping Tuhan. Kepercayaan syirik orang kafir Quraisy itu tidak didasarkan atas wahyu dan tidak diajarkan oleh seorang nabi dari Allah. Berarti kepercayaan itu salah.

Dengan demikian, ungkapan dalam bentuk pertanyaan Ayat itu sekali lagi maksudnya adalah pengingkaran atau penolakan. Diungkapkan demikian supaya tajam masuknya ke dalam hati manusia. Akidah syirik itu sesat karena tidak ada dasarnya, tidak pernah diajarkan Allah, tidak pernah disampaikan rasul-Nya, dan tidak terdapat di dalam kitab suci-Nya. Oleh karena itu, akidah syirik itu akan diperiksa Allah secara ketat dan penganutnya tidak akan lolos dari hukuman-Nya, sebagaimana dinyatakan Ayat berikut:

Dan barang siapa menyembah tuhan yang lain selain Allah, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung. (al-Mu’minun/23: 117)

(36) Perilaku kedua yang dapat mengantarkan manusia kepada kesyirikan adalah bila mereka diberi rahmat sedikit saja oleh Allah, mereka lupa daratan. Akan tetapi, bila ditimpa kemalangan sedikit saja, mereka putus asa lalu ingkar.

Dalam Ayat ini, Allah juga menyatakan “mencicipkan” yang berarti bahwa yang dikaruniakan itu hanya sedikit. Karunia itu antara lain berupa harta benda. Oleh karena itu, bagaimana pun banyak harta, itu tidak ada bandingannya dengan kebahagiaan yang akan diberikan-Nya di akhirat. Akan tetapi, sebagian manusia ada yang terlena dengan karunia Allah di dunia itu, lalu lupa daratan. Mereka mengingkari Allah, dan tidak mempedulikan lagi semua perintah dan larangan-Nya.

Baca Juga:  Surah Ar-Rum Ayat 52-53; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Mereka mau mengorbankan kebahagiaan mereka yang abadi di akhirat itu hanya dengan kenikmatan yang tidak berarti dan sementara di dunia. Akibatnya, mereka akan diazab kelak di akhirat.

Sebaliknya, bila mereka mendapat penderitaan yang diakibatkan kesalahan mereka sendiri, mereka cepat putus asa. Potongan Ayat ini mengisyaratkan bahwa dunia itu tidak selamanya menyenangkan, tetapi akan diselingi kesusahan. Senang dan susah itu memang dipergilirkan oleh Allah, sebagaimana firman-Nya: ?Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan?. (al-Anbiya’/21: 35)

Oleh karena itu, manusia tidak boleh cepat terlena bila memperoleh nikmat dan tidak boleh cepat putus asa bila mendapat kesusahan.

Dalam Ayat ini dinyatakan bahwa mereka putus asa karena perbuatan tangan mereka sendiri. Itu berarti bahwa mereka melakukan kesalahan itu dengan sengaja. Seharusnya mereka mengakui kesalahan itu dan cepat bertobat. Tetapi tidak demikian, mereka menjauh dari Allah dan tidak minta tolong kepada-Nya. Karena merasa tidak mampu menghadapi kesusahan itu, mereka putus asa dan bersikap pesimis.

Dengan demikian, mereka melawan fitrahnya, karena orang yang berdiri di atas fitrah adalah yang selalu mendekatkan diri kepada Allah (lihat Ayat 31 di atas) dan selalu bersikap optimis.

Prilaku itu dilukiskan dalam Ayat lain: Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh-kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir, kecuali orang-orang yang melaksanakan salat. (al-Ma’arij/70: 19-22)

Dalam Ayat-Ayat itu diterangkan bahwa prilaku tidak sabar, gelisah, dan kikir itu adalah sifat sebagian manusia, tidak semuanya. Mereka yang konsisten dalam melaksanakan salat tidak akan berprilaku demikian, karena setiap waktu mereka berkomunikasi dengan Allah.

Dengan demikian, mereka tidak akan kehilangan akal ketika mendapat kesusahan dan tidak akan lupa daratan ketika menerima nikmat. Mereka sabar ketika mendapat kesulitan, dan bersyukur ketika memperoleh kebahagiaan, sebagaimana dinyatakan dalam hadis berikut:

Aneh keadaan orang Mukmin, Allah tidak akan memutuskan sesuatu keputusan kecuali hal itu baik baginya. Jika dia ditimpa kegembiraan dia berterima kasih, hal itu adalah baik baginya. Jika dia ditimpa kemalangan dia bersabar, hal itu adalah baik baginya. (RiwAyat Ahmad dan Muslim dari suhaib)

Tafsir Quraish Shihab: Apakah Kami akan meninggalkan mereka dalam kesesatan dan tidak pernah mencela impian-impian mereka. Tidak! Bahkan Kami telah menurunkan kepada mereka keterangan yang akan memberikan kesaksian tentang apa yang mereka sekutukan.

Surah Ar-Rum Ayat 36
وَإِذَآ أَذَقْنَا ٱلنَّاسَ رَحْمَةً فَرِحُوا۟ بِهَا وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌۢ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ إِذَا هُمْ يَقْنَطُونَ

Terjemahan: Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.

Tafsir Jalalain: وَإِذَآ أَذَقْنَا ٱلنَّاسَ (Dan apabila Kami rasakan kepada manusia) yakni orang-orang kafir Mekah dan orang-orang kafir lainnya رَحْمَةً (suatu rahmat) yakni suatu nikmat فَرِحُوا۟ بِهَا (niscaya mereka gembira dengan rahmat itu) mereka merasa bangga dengannya.

وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌۢ (Dan apabila mereka ditimpa musibah) yaitu marabahaya بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ إِذَا هُمْ يَقْنَطُونَ (disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa) mereka putus harapan dari rahmat Allah. Orang beriman harus bersyukur bila diberi rahmat dan bila ditimpa marabahaya harus berdoa kepada Rabbnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَإِذَآ أَذَقْنَا ٱلنَّاسَ رَحْمَةً فَرِحُوا۟ بِهَا وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌۢ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ إِذَا هُمْ يَقْنَطُونَ (“Apabila Kami rasakan suatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah [bahaya] disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.”) ini merupakan pengingkaran kepada manusia dimanapun dia berada, kecuali orang-orang yang dipelihara dan diberi taufik oleh Allah.

Sesungguhnya manusia jika ditimpa kenikmatan maka dia akan berbangga diri dengan merasa bergembira terhadap dirinya dan menyombongkan diri terhadap orang lain. Sedangkan jika ditimpa kesulitan, dia merasa putus asa dan kecewa terhadap adanya kebaikan yang akan diraih sesudahnya.

إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ (“Kecuali orang-orang yang sabar [terhadap bencana], dan mengerjakan amal-amal shalih.”)(Huud: 11). Yaitu mereka bersabar di saat kesulitan dan beramal shalih di waktu lapang, sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadits shahih:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal itu tidak terdapat melainkan pada seorang Mukmin. Jika ia ditimpa kelapangan ia bersyukur, maka itu merupakan kebaikan baginya dan jika ia ditimpa kesulitan ia bersabar, maka itu pun merupakan kebaikan baginya.”

Tafsir Kemenag: Selanjutnya Allah mempertanyakan apakah orang-orang musyrik itu memiliki sulthan (hujjah atau landasan) yang bersumber dari Allah yang dapat membenarkan perbuatan syirik mereka. Suatu akidah yang benar harus memiliki landasan yang benar.

Sulthan secara harfiah berarti “kekuatan nyata yang tidak dapat dibantah”. Maksudnya adalah sebuah kitab suci dan seorang rasul dari Allah. Suatu kepercayaan hanya dapat disebut agama bila memiliki unsur-unsur itu di samping Tuhan. Kepercayaan syirik orang kafir Quraisy itu tidak didasarkan atas wahyu dan tidak diajarkan oleh seorang nabi dari Allah. Berarti kepercayaan itu salah.

Baca Juga:  Surah Al-Fath Ayat 27-28; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dengan demikian, ungkapan dalam bentuk pertanyaan Ayat itu sekali lagi maksudnya adalah pengingkaran atau penolakan. Diungkapkan demikian supaya tajam masuknya ke dalam hati manusia. Akidah syirik itu sesat karena tidak ada dasarnya, tidak pernah diajarkan Allah, tidak pernah disampaikan rasul-Nya, dan tidak terdapat di dalam kitab suci-Nya. Oleh karena itu, akidah syirik itu akan diperiksa Allah secara ketat dan penganutnya tidak akan lolos dari hukuman-Nya, sebagaimana dinyatakan Ayat berikut:

Dan barang siapa menyembah tuhan yang lain selain Allah, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung. (al-Mu’minun/23: 117).

Tafsir Quraish Shihab: Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, mereka berlebih-lebihan dalam kegembiraan mereka. Sebaliknya, apabila mereka ditimpa kesulitan yang disebabkan oleh dosa-dosa yang mereka perbuat, tiba-tiba mereka merasa putus asa dari kasih sayang Allah.

Surah Ar-Rum Ayat 37
أَوَلَمْ يَرَوْا۟ أَنَّ ٱللَّهَ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Terjemahan: Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezeki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.

Tafsir Jalalain: أَوَلَمْ يَرَوْا۟ (Dan apakah mereka tidak memperhatikan) tidak mengetahui أَنَّ ٱللَّهَ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ (bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rezeki) meluaskannya لِمَن يَشَآءُ (bagi siapa yang dikehendaki-Nya) sebagai ujian وَيَقْدِرُ (dan Dia pula yang membatasinya) yang menyempitkannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya sebagai cobaan buatnya.

إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang percaya) pada tanda-tanda kekuasaan Allah itu.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: أَوَلَمْ يَرَوْا۟ أَنَّ ٱللَّهَ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ (“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rizky bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia [pula] yang menyempitkan [rizky itu].”) yaitu Dia-lah Rabb yang mengatur lagi melakukan semua itu dengan kebijaksanaan dan keadilan-Nya.

Dia memberikan keluasan kepada suatu kaum dan memberikan kesempitan kepada kaum yang lain. إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda [kekuasaan Allah] bagi kaum yang beriman.”)

Tafsir Kemenag: Perilaku cepat lupa diri ketika memperoleh kesenangan dan putus asa ketika memperoleh kesusahan itu terjadi karena mereka menjauh dari Allah. Akibatnya mereka tidak menyadari bahwa yang mengatur rezeki manusia adalah Allah.

Allah-lah yang melapangkan rezeki seseorang dan menahan rezeki yang lain sesuai dengan kebijaksanaan-Nya. Perbedaan rezeki itu terjadi karena perbedaan kemampuan, dan perbedaan kemampuan mengakibatkan perbedaan posisi manusia dalam kehidupan. Karena perbedaan posisi itulah, maka seluruh lapangan pekerjaan dapat diisi manusia sesuai dengan kemampuannya itu. Allah berfirman:

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (az-Zukhruf/43:32)

Kenyataan itu bagi yang beriman memberikan pelajaran bahwa Allah ada dan Mahakuasa serta Mahabijaksana. Baik kelapangan maupun keterbatasan rezeki keduanya adalah ujian dari Allah, mampukah yang diberi-Nya rezeki menggunakannya sesuai dengan yang dikehendaki Allah, dan mampukah yang rezekinya terbatas menyadari keterbatasannya.

Di samping itu, nikmat Allah tidak hanya bersifat materi, tetapi juga non-materi, seperti kesehatan, ketenangan hidup, nama baik, dan sebagainya. Sering terjadi bahwa Allah mencurahkan nikmat yang bersifat materi kepada seseorang, tetapi membatasi nikmat non-materi.

Sebaliknya sering Allah membatasi nikmat yang bersifat materi kepada seseorang, tetapi mencurahkan nikmat non-materi-Nya. Itu menunjukkan bahwa Allah Mahakuasa dan Mahabijaksana, sehingga manusia seharusnya mengimani-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Apakah mereka tidak mengetahui hal-hal yang dapat mengantarkan kepada keimanan dan tidak pula mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki kepada orang yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan orang yang dikehendaki-Nya, sesuai dengan kebijakan-Nya? Sesungguhnya di dalam hal itu terdapat tanda-tanda yang jelas bagi kaum yang mempercayai kebenaran.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Ar-Rum Ayat 33-37 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG