Surah As-Saffat Ayat 27-37; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah As-Saffat Ayat 27-37

Pecihitam.org – Kandungan Surah As-Saffat Ayat 27-37 ini, menerangkan penolakan pemimpin mereka terhadap tuduhan tersebut. Para pemimpin itu menyatakan bahwa mereka tidak menyesatkan orang itu. Para pengikut sendirilah yang karena tabiatnya, menjadi kafir dan melakukan perbuatan syirik dan maksiat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah menegaskan bahwa azab ditimpakan kepada pemimpin-pemimpin dan pengikut-pengikutnya. Kedua golongan itu saling menuduh dan melempar tanggung jawab, namun mereka sama-sama dalam kesesatan. Yang menyesatkan tentulah menerima hukuman lebih berat.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah As-Saffat Ayat 27-37

Surah As-Saffat Ayat 27
وَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ يَتَسَآءَلُونَ

Terjemahan: Sebahagian dan mereka menghadap kepada sebahagian yang lain berbantah-bantahan.

Tafsir Jalalain: وَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ يَتَسَآءَلُونَ (Sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan”) saling cela-mencela dan saling bantah-membantah.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah menyebutkan bahwa orang-orang kafir saling berbantah di tempat berkumpul pada hari kiamat, sebagaimana mereka berbantahan di kerak api neraka.

Tafsir Kemenag: Pada hari Kiamat terjadi perdebatan antara pemimpin dengan pengikut-pengikutnya. Para pengikut itu melemparkan pertanggungjawaban kepada para pemimpin mereka atas kesesatan dan kekafiran mereka.

Mereka menyatakan bahwa para pemimpin itulah yang mencegah mereka berbuat kebaikan, dan menghalang-halangi mereka serta memaksa mereka untuk memeluk keyakinan pemimpin-pemimpin itu. Perbantahan mereka sebagaimana di atas itu dilukiskan oleh Allah dalam firman-Nya:

Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu melepaskan sebagian (azab) api neraka yang menimpa kami?” Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab, “Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya).” (al-Mu’min/40: 47-48).

Tafsir Quraish Shihab: Mereka saling berhadapan dan saling mencaci dan berbantah-bantahan satu sama lain. Mereka juga saling bertanya tentang nasib jelek yang mereka terima.

Surah As-Saffat Ayat 28
قَالُوٓاْ إِنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَأۡتُونَنَا عَنِ ٱلۡيَمِينِ

Terjemahan: Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka): “Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dan kanan.

Tafsir Jalalain: قَالُوٓاْ (Mereka berkata) yaitu sebagian dari pengikut-pengikut mereka berkata kepada para pemimpin mereka, إِنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَأۡتُونَنَا عَنِ ٱلۡيَمِينِ (“Sesungguhnya kalianlah yang datang kepada kami dari kanan”) maksudnya, dari segi yang kami merasa percaya kepada kalian karena kalian telah bersumpah kepada kami, bahwa kalian adalah orang-orang yang benar, karenanya kami percaya kepada kalian, dan kami mengikuti kalian. Maksudnya sesungguhnya kalian telah menyesatkan kami.

Tafsir Ibnu Katsir: إِنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَأۡتُونَنَا عَنِ ٱلۡيَمِينِ (“Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan.”) adh-Dhahhak berkata dari Ibnu ‘Abbas bahwa mereka berkata: “Kalian yang memaksa kami dengan kekuasaan kalian terhadap kami. Karena kami adalah orang-orang yang hina [rendah] dan kalian adalah orang-orang yang mulia.” Mujahid berkata:

“Yaitu dari kebenaran, dan orang-orang kafir mengatakannya kepada syaitan-syaitan.” ‘Ikrimah berkata: إِنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَأۡتُونَنَا عَنِ ٱلۡيَمِينِ (“Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan.”) yaitu dimana kami merasa kalian aman.”

Tafsir Kemenag: Pada hari Kiamat terjadi perdebatan antara pemimpin dengan pengikut-pengikutnya. Para pengikut itu melemparkan pertanggungjawaban kepada para pemimpin mereka atas kesesatan dan kekafiran mereka.

Mereka menyatakan bahwa para pemimpin itulah yang mencegah mereka berbuat kebaikan, dan menghalang-halangi mereka serta memaksa mereka untuk memeluk keyakinan pemimpin-pemimpin itu. Perbantahan mereka sebagaimana di atas itu dilukiskan oleh Allah dalam firman-Nya:

Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu melepaskan sebagian (azab) api neraka yang menimpa kami?” Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab, “Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya).” (al-Mu’min/40: 47-48).

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang lemah berkata kepada pembesar-pembesar mereka, “Kalian telah mendatangi kami dari suatu arah, yang kami kira ada kebaikan dan harapan, untuk mengalihkan kami dari kebenaran kepada kesesatan.”

Surah As-Saffat Ayat 29
قَالُواْ بَل لَّمۡ تَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ

Terjemahan: Pemimpin-pemimpin mereka menjawab: “Sebenarnya kamulah yang tidak beriman”.

Tafsir Jalalain: قَالُواْ (Mereka berkata) yakni pemimpin-pemimpin yang diikuti oleh mereka بَل لَّمۡ تَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ (“Sebenarnya kalianlah yang tidak beriman”) dan sesungguhnya tidak akan percaya penyesatan yang kami lakukan seandainya kalian adalah orang-orang yang beriman, niscaya kalian akan ingkar terhadap kami.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: قَالُواْ بَل لَّمۡ تَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ (“Pemimpin-pemimpin mereka menjawab: ‘Sebenarnya kamulah yang tidak beriman.’”) jin dan manusia yang menjadi pemimpin mereka berkata kepada para pengikutnya: “Urusannya tidak sebagaimana yang kalian kira. Bahkan, hati-hati kalian sejak dulu mengingkari keimanan dan menerima kekufuran serta kemaksiatan.”

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah menerangkan penolakan pemimpin mereka terhadap tuduhan tersebut. Para pemimpin itu menyatakan bahwa mereka tidak menyesatkan orang itu. Para pengikut sendirilah yang karena tabiatnya, menjadi kafir dan melakukan perbuatan syirik dan maksiat. Mereka mempersekutukan Allah dengan berhala dan patung dan berbuat macam-macam dosa yang menjadikan hatinya tertutup sehingga tidak lagi mengetahui jalan yang benar lagi baik.

Selanjutnya pemimpin-pemimpin itu membantah bahwa mereka memiliki kekuasaan atas pengikut-pengikutnya itu, menyesatkan dan mengkafirkannya serta tidak pernah menghalangi mereka menentukan pilihan, mana perbuatan yang buruk dan mana perbuatan yang baik. Tetapi kecenderungan pengikut-pengikut itu sendiri yang menyebabkan mereka berbuat kekafiran dan kemaksiatan.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang sombong itu berkata, “Kami tidak memalingkan kalian. Bahkan kalianlah yang enggan beriman dan memilih berpaling dari keimanan.

Baca Juga:  Surah As-Saffat Ayat 161-170; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah As-Saffat Ayat 30
وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنٍۭ بَلۡ كُنتُمۡ قَوۡمًا طَٰغِينَ

Terjemahan: Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas.

Tafsir Jalalain: وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنٍۭ (Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadap kalian) kami tidak mempunyai kemampuan untuk memaksa kalian mengikuti kami بَلۡ كُنتُمۡ قَوۡمًا طَٰغِينَ (bahkan kalianlah kaum yang melampaui batas) maksudnya, orang-orang yang sesat seperti kami.

Tafsir Ibnu Katsir: وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنٍۭ (“Dan sekali-sekali kami tidak berkuasa terhadapmu.”) yaitu tidak punya bukti kebenaran apa yang kami serukan kepadamu. بَلۡ كُنتُمۡ قَوۡمًا طَٰغِينَ (“Bahkan, kamulah kaum yang melampaui batas.”) yaitu, bahkan kalian dhalim dan melampaui batas kebenaran. Untuk itulah kalian memperkenankan kami dan meninggalkan kebenaran yang disampaikan oleh para Nabi kalian padahal para Nabi itu telah membawa hujjah-hujjah [bukti-bukti] yang benar, tetapi kalian menyelisihinya.

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah menerangkan penolakan pemimpin mereka terhadap tuduhan tersebut. Para pemimpin itu menyatakan bahwa mereka tidak menyesatkan orang itu. Para pengikut sendirilah yang karena tabiatnya, menjadi kafir dan melakukan perbuatan syirik dan maksiat. Mereka mempersekutukan Allah dengan berhala dan patung dan berbuat macam-macam dosa yang menjadikan hatinya tertutup sehingga tidak lagi mengetahui jalan yang benar lagi baik.

Selanjutnya pemimpin-pemimpin itu membantah bahwa mereka memiliki kekuasaan atas pengikut-pengikutnya itu, menyesatkan dan mengkafirkannya serta tidak pernah menghalangi mereka menentukan pilihan, mana perbuatan yang buruk dan mana perbuatan yang baik. Tetapi kecenderungan pengikut-pengikut itu sendiri yang menyebabkan mereka berbuat kekafiran dan kemaksiatan.

Tafsir Quraish Shihab: Sekali-kali kami tidak mempunyai kekuasaan terhadap kalian sehingga kami dapat merenggut kebebasan memilih kalian. Bahkan kalianlah kaum yang keluar dari kebenaran.

Surah As-Saffat Ayat 31
فَحَقَّ عَلَيۡنَا قَوۡلُ رَبِّنَآ إِنَّا لَذَآئِقُونَ

Terjemahan: Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa atas kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu).

Tafsir Jalalain: فَحَقَّ (Maka pastilah) atau tetaplah عَلَيۡنَا (atas kita) semua قَوۡلُ رَبِّنَآ (putusan Rabb kita) yakni azab-Nya, yaitu sebagaimana yang telah diungkapkan-Nya pada Ayat yang lain, “Sesungguhnya Aku akan penuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia bersama-sama.” (Q.S. As-Sajdah, 13). إِنَّا (sesungguhnya kita) semua لَذَآئِقُونَ (akan merasakan) azab dengan adanya keputusan itu, yang akhirnya membuat mereka berkata:.

Tafsir Ibnu Katsir: فَحَقَّ عَلَيۡنَا قَوۡلُ رَبِّنَآ إِنَّا لَذَآئِقُونَ (Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa atas kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Para pembesar itu berkata kepada orang-orang yang lemah: “Pastilah putusan [adzab] Allah menimpa kita. Sesungguhnya kita termasuk orang-orang yang celaka yang akan merasakan adzab pada hari kiamat.”

Tafsir Kemenag: Pada hari Kiamat penyembah-penyembah berhala itu mengakui bahwa mereka dulunya bersikap melampaui batas karena pembawaan dan tabiat mereka sendiri yang cenderung kepada kekafiran dan kejahatan. Maka sepatutnyalah bilamana pada hari Kiamat itu mereka menerima hukuman dari Allah.

Balasan baik atau buruk terhadap suatu perbuatan adalah akibat yang wajar, karena perbuatan itu dilakukan dengan penuh kesadaran. Maka masing-masing orang tidaklah perlu menyalahkan orang lain, kecuali kepada dirinya sendiri. Tidaklah wajar bila satu golongan lain saling menyalahkan. Masing-masing seharusnya menerima balasan atas perbuatannya.

Mereka yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya mendapat pahala dunia dan akhirat, dan mereka yang sesat akan masuk neraka. Demikian janji Tuhan yang disampaikan kepada manusia melalui rasul-rasul-Nya. Penyembah-penyembah berhala teman-teman setan mengetahui janji Tuhan itu namun mereka berpaling juga dari kebaikan dan ketaatan.

Golongan pemimpin-pemimpin pada waktu itu menyatakan bahwa merekalah yang menyesatkan pengikut-pengikutnya itu. Mereka berbuat demikian karena keinginan mereka agar pengikut-pengikut itu mengikuti jejak mereka. Namun sesungguhnya tabiat dan usaha-usaha pengikut-pengikut itu sendirilah yang menyebabkan mereka berbuat kekafiran dan durhaka sehingga dengan demikian mereka menderita azab seperti diperingatkan sebelumnya oleh para rasul.

Tafsir Quraish Shihab: Keputusan Tuhan telah ditentukan untuk kita, yaitu bahwa kita akan merasakan azab pada hari kiamat.

Surah As-Saffat Ayat 32
فَأَغۡوَيۡنَٰكُمۡ إِنَّا كُنَّا غَٰوِينَ

Terjemahan: Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat.

Tafsir Jalalain: فَأَغۡوَيۡنَٰكُمۡ (Maka kami telah menyesatkan kalian) sebagai penjelasan dari perkataan mereka yang disitir oleh firman-Nya إِنَّا كُنَّا غَٰوِينَ (sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat.).

Tafsir Ibnu Katsir: فَأَغۡوَيۡنَٰكُمۡ (“Maka kami menyesatkan kamu”) yaitu kami ajak kalian kepada kesesatan. إِنَّا كُنَّا غَٰوِينَ (“Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat.”) yaitu, kami hanya mengajak kalian kepada apa yang kami anut, lalu kalian memperkenankannya.

Tafsir Kemenag: Pada hari Kiamat penyembah-penyembah berhala itu mengakui bahwa mereka dulunya bersikap melampaui batas karena pembawaan dan tabiat mereka sendiri yang cenderung kepada kekafiran dan kejahatan. Maka sepatutnyalah bilamana pada hari Kiamat itu mereka menerima hukuman dari Allah.

Balasan baik atau buruk terhadap suatu perbuatan adalah akibat yang wajar, karena perbuatan itu dilakukan dengan penuh kesadaran. Maka masing-masing orang tidaklah perlu menyalahkan orang lain, kecuali kepada dirinya sendiri.

Tidaklah wajar bila satu golongan lain saling menyalahkan. Masing-masing seharusnya menerima balasan atas perbuatannya. Mereka yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya mendapat pahala dunia dan akhirat, dan mereka yang sesat akan masuk neraka.

Demikian janji Tuhan yang disampaikan kepada manusia melalui rasul-rasul-Nya. Penyembah-penyembah berhala teman-teman setan mengetahui janji Tuhan itu namun mereka berpaling juga dari kebaikan dan ketaatan.

Baca Juga:  Surah As-Saffat Ayat 149-160; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Golongan pemimpin-pemimpin pada waktu itu menyatakan bahwa merekalah yang menyesatkan pengikut-pengikutnya itu. Mereka berbuat demikian karena keinginan mereka agar pengikut-pengikut itu mengikuti jejak mereka. Namun sesungguhnya tabiat dan usaha-usaha pengikut-pengikut itu sendirilah yang menyebabkan mereka berbuat kekafiran dan durhaka sehingga dengan demikian mereka menderita azab seperti diperingatkan sebelumnya oleh para rasul.

Tafsir Quraish Shihab: Kami mengajak kalian kepada kesesatan dan kalian memenuhi ajakan kami itu. Tugas kami adalah menipu untuk mengajak manusia kepada kesesatan kami. Kesalahan bukan ada pada kami.

Surah As-Saffat Ayat 33
فَإِنَّهُمۡ يَوۡمَئِذٍ فِى ٱلۡعَذَابِ مُشۡتَرِكُونَ

Terjemahan: Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.

Tafsir Jalalain: Allah swt. berfirman, فَإِنَّهُمۡ يَوۡمَئِذٍ (Maka sesungguhnya mereka pada hari itu) pada hari kiamat فِى ٱلۡعَذَابِ مُشۡتَرِكُونَ (bersama-sama dalam azab) karena mereka bersekutu dalam kesesatan.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: فَإِنَّهُمۡ يَوۡمَئِذٍ فِى ٱلۡعَذَابِ مُشۡتَرِكُونَ (“Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam adzab”) yaitu seluruhnya berada di neraka dan masing-masing sesuai dengan keadaannya.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini Allah menegaskan bahwa azab ditimpakan kepada pemimpin-pemimpin dan pengikut-pengikutnya. Kedua golongan itu saling menuduh dan melempar tanggung jawab, namun mereka sama-sama dalam kesesatan. Yang menyesatkan tentulah menerima hukuman lebih berat. Mereka tidak hanya menanggung beban mereka sendiri, tetapi juga harus menanggung beban orang-orang yang mereka sesatkan.

Hukuman yang dijatuhkan Tuhan kepada kaum musyrikin itu sesuai dengan keadilan Tuhan terhadap hamba-hamba-Nya. Semua orang yang berdosa akan mendapat hukuman sesuai dengan kejahatannya. Demikian pula orang yang berbuat kebaikan akan diberi balasan sesuai dengan kebaikannya.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya, baik pengikut maupun orang-orang yang diikuti, semuanya bersama-sama akan disiksa pada hari kiamat.

Surah As-Saffat Ayat 34
إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفۡعَلُ بِٱلۡمُجۡرِمِينَ

Terjemahan: Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat.

Tafsir Jalalain: إِنَّا كَذَٰلِكَ (Sesungguhnya demikianlah) artinya, sebagaimana Kami memperlakukan mereka نَفۡعَلُ بِٱلۡمُجۡرِمِينَ (Kami berbuat terhadap orang-orang yang jahat) selain mereka. Yakni Kami pasti akan mengazab orang yang sesat beserta pengikut-pengikutnya.

Tafsir Ibnu Katsir: إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفۡعَلُ بِٱلۡمُجۡرِمِينَ (Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat.)

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini Allah menegaskan bahwa azab ditimpakan kepada pemimpin-pemimpin dan pengikut-pengikutnya. Kedua golongan itu saling menuduh dan melempar tanggung jawab, namun mereka sama-sama dalam kesesatan. Yang menyesatkan tentulah menerima hukuman lebih berat. Mereka tidak hanya menanggung beban mereka sendiri, tetapi juga harus menanggung beban orang-orang yang mereka sesatkan.

Hukuman yang dijatuhkan Tuhan kepada kaum musyrikin itu sesuai dengan keadilan Tuhan terhadap hamba-hamba-Nya. Semua orang yang berdosa akan mendapat hukuman sesuai dengan kejahatannya. Demikian pula orang yang berbuat kebaikan akan diberi balasan sesuai dengan kebaikannya.

Tafsir Quraish Shihab: Dengan siksa seperti itu, Kami akan mengazab orang-orang yang melanggar hak Allah dengan kemusyrikan dan perbuatan maksiat.

Surah As-Saffat Ayat 35
إِنَّهُمۡ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ يَسۡتَكۡبِرُونَ

Terjemahan: Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri,

Tafsir Jalalain: إِنَّهُمۡ (Sesungguhnya mereka) yaitu orang-orang tersebut; dialamatkan kepada mereka karena berdasarkan penjelasan selanjutnya yaitu كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ (dahulu apabila dikatakan kepada mereka, “Laa Ilaaha Illallaah”) Tiada Tuhan melainkan Allah, يَسۡتَكۡبِرُونَ (mereka menyombongkan diri.).

Tafsir Ibnu Katsir: ) yaitu di dunia. إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ يَسۡتَكۡبِرُونَ (“Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Laa ilaaHa illallaaH [tiada ilah yang berhak diibadahi melainkan Allah], mereka menyombongkan diri.”) yaitu menyombongkan diri untuk mengucapkannya, sebagaimana apa yang diucapkan oleh orang-orang beriman.

Ibnu Abi Hatim meriwAyatkan dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, hingga mereka mengucapkan: ‘laa ilaaHa illallaaH’, maka terpeliharalah dariku harta dan jiwanya kecuali dengan haknya. Sedangkan perhitungannya menjadi urusan Allah.”

Di dalam shahihain dari hadits Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Ilah [yang haq] kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Jika mereka melakukan hal itu, maka terpeliharalah darah dan harta mereka kecuali dengan hak Islam. Sedangkan hisab mereka menjadi urusan Allah Ta’ala.”

Dan Allah Ta’ala menurunkan dalam Kitab-Nya dan menyebutkan satu kaum yang menyombongkan diri, maka Allah berfirman: إِنَّهُمۡ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ يَسۡتَكۡبِرُونَ

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah menguraikan sebagian penyebab hukuman yang ditimpakan kepada orang-orang yang berdosa itu. Sewaktu di dunia mereka menolak ajaran tauhid ketika disampaikan kepada mereka dan berpaling tidak mau mendengarkan bacaan kalimat tauhid “La ilaha illallah” yang artinya, “tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah”. Alasan penolakan mereka ialah kemustahilan bagi mereka meninggalkan sembahan-sembahan nenek moyangnya.

Mereka mewarisi tradisi penyembahan berhala dan patung secara turun-temurun. Menurut mereka hal itu suatu kebenaran yang terus-menerus harus dipegang. Keyakinan itu tidak akan ditinggalkan hanya untuk mendengarkan perkataan seseorang penyair gila yang tidak patut didengarkan pembicaraannya dan tidak perlu pula didengar ajaran-ajarannya. Perkataan Nabi menurut mereka penuh dengan khayalan.

Pernyataan orang kafir yang diucapkan di hadapan Nabi sewaktu hidup di dunia dengan penuh kesombongan, menunjukkan bahwa mereka mengingkari keesaan Allah, dan mengingkari kerasulan Muhammad saw. Keingkaran pertama ialah penolakan dengan sombong mendengarkan ajaran tauhid dan keingkaran kedua, pernyataan ketidakmungkinan meninggalkan sembahan-sembahan itu untuk mematuhi Rasul yang dituduhnya seorang yang gila.

Baca Juga:  Surah As-Saffat Ayat 88-98; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Dahulu, ketika dikatakan Lâ ilâha illâ Allâh kepada mereka, dengan sombong dan angkuh mereka enggan menyatakannya.

Surah As-Saffat Ayat 36
وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجۡنُونٍۭ

Terjemahan: dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?”

Tafsir Jalalain: وَيَقُولُونَ أَئِنَّا (Dan mereka berkata, “Apakah sesungguhnya kami) lafal A-innaa dapat pula dibaca Ayinnaa لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجۡنُونٍۭ (harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?”) yakni demi karena Muhammad.

Tafsir Ibnu Katsir: وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجۡنُونٍۭ (“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ‘Laa ilaaHa illallaaH [tiada ilah yang berhak diibadahi melainkan Allah], mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata: ‘Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penya’ir gila?”) yaitu apakah kami harus meninggalkan penyembahan terhadap tuhan-tuhan kami dan tuhan-tuhan nenek moyang kami untuk [kemudian] memilih perkataan tukang sya’ir yang gila ini? Yang mereka maksud adalah Rasulullah saw.

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah menguraikan sebagian penyebab hukuman yang ditimpakan kepada orang-orang yang berdosa itu. Sewaktu di dunia mereka menolak ajaran tauhid ketika disampaikan kepada mereka dan berpaling tidak mau mendengarkan bacaan kalimat tauhid “La ilaha illallah” yang artinya, “tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah”. Alasan penolakan mereka ialah kemustahilan bagi mereka meninggalkan sembahan-sembahan nenek moyangnya.

Mereka mewarisi tradisi penyembahan berhala dan patung secara turun-temurun. Menurut mereka hal itu suatu kebenaran yang terus-menerus harus dipegang. Keyakinan itu tidak akan ditinggalkan hanya untuk mendengarkan perkataan seseorang penyair gila yang tidak patut didengarkan pembicaraannya dan tidak perlu pula didengar ajaran-ajarannya. Perkataan Nabi menurut mereka penuh dengan khayalan.

Pernyataan orang kafir yang diucapkan di hadapan Nabi sewaktu hidup di dunia dengan penuh kesombongan, menunjukkan bahwa mereka mengingkari keesaan Allah, dan mengingkari kerasulan Muhammad saw. Keingkaran pertama ialah penolakan dengan sombong mendengarkan ajaran tauhid dan keingkaran kedua, pernyataan ketidakmungkinan meninggalkan sembahan-sembahan itu untuk mematuhi Rasul yang dituduhnya seorang yang gila.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka mengatakan, “Apakah kami harus meninggalkan tuhan-tuhan yang kami sembah hanya karena omongan seorang penyair gila?”

Surah As-Saffat Ayat 37
بَلۡ جَآءَ بِٱلۡحَقِّ وَصَدَّقَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ

Terjemahan: Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya).

Tafsir Jalalain: Allah swt. berfirman: بَلۡ جَآءَ بِٱلۡحَقِّ وَصَدَّقَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ (Sebenarnya dia Muhammad telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul) yang juga datang membawa kebenaran, yaitu kalimat Laa Ilaaha Illallaah/tidak ada Tuhan selain Allah.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman sebagai pendustaan dan bantahan terhadap mereka: بَلۡ جَآءَ بِٱلۡحَقِّ (“Sebenarnya dia telah datang membawa kebenaran.”) yaitu Rasulullah saw. datang membawa kebenaran dalam seluruh syariat Allah Ta’ala berupa berita dan perintah. وَصَدَّقَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ (“Dan membenarkan para Rasul [sebelumnya].”) yaitu membenarkan apa-apa yang mereka kabarkan berupa sifat-sifat terpuji dan manhaj-manhaj yang benar. Dan beliau mengabarkan dari Allah Ta’ala tentang syariat dan perintah-Nya sebagaimana mereka [para Rasul] telah mengabarkan dahulu.

Tafsir Kemenag: Allah pada Ayat ini membantah tuduhan orang-orang kafir Mekah itu. Nabi Muhammad saw tidak pernah mengucapkan kalimat-kalimat khayalan sebagai penyair, tetapi sesungguhnya beliau pembawa dan pendukung kebenaran.

Ajaran tauhid yang disebarluaskan beliau tidak perlu lagi diragukan, sebab keesaan Tuhan itu dikukuhkan oleh pikiran yang sehat dan dapat dibuktikan dengan dalil-dalil yang nyata. Tidaklah patut bilamana Rasul itu dikatakan penyair padahal dia membawa ajaran yang benar. Ajaran yang sama telah dibawakan pula sebelumnya oleh para nabi-nabi terdahulu.

Ajaran tauhid yang dibawa beliau meneruskan ajaran tauhid yang dibawa oleh nabi-nabi dahulu, dan bukan sekali-kali buatan Muhammad saw. Jadi tuduhan kepada Rasul sebagai penyair dan orang gila hanyalah karena kebencian dan keingkaran semata-mata.

Allah pastilah akan menimpakan azab yang pedih dan hukuman yang berat kepada orang-orang kafir yang menuduh Rasul dengan tuduhan nista itu. Azab bagi mereka yang ingkar kepada ajaran rasul-rasul itu bisa jadi dirasakan di dunia ini, sebelum dirasakan di akhirat. Seperti azab yang diderita oleh kaum Samud, Fir’aun dan lain-lain. Namun Tuhan tidak akan menurunkan azab kepada manusia kecuali hanya sebagai balasan dan akibat dari perbuatan mereka sendiri. Allah berfirman:

Barangsiapa mengerjakan kebajikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa berbuat jahat maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba(-Nya). (Fushshilat/41: 46)

Tafsir Quraish Shihab: Sebenarnya, rasul mereka (Muhammad) telah datang membawa ajaran tauhid yang juga diserukan oleh semua rasul. Dan dengan ajaran itu ia telah membenarkan dakwah para rasul.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah As-Saffat Ayat 27-37 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S