Surah As-Saffat Ayat 88-98; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah As-Saffat Ayat 88-98

Pecihitam.org – Kandungan Surah As-Saffat Ayat 88-98 ini, mengisahkan Ibrahim melayangkan pandangannya ke bintang-bintang dengan berpikir secara mendalam bagaimana menghadapi kaumnya yang tetap bersikeras untuk menyembah patung, hanya dengan alasan mempertahankan warisan nenek moyang.

Sesudah melihat keadaan kaumnya tertegun menunduk-kan kepala, Nabi Ibrahim lalu berkata lagi kepada mereka bahwa tidak patut mereka menyembah patung-patung yang mereka pahat dengan tangannya sendiri.

Mereka mestinya bersyukur bahwa dari kalangan mereka sendiri, lahir seorang yang punya akal pikiran, yang mencegah penyembahan patung-patung itu.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah As-Saffat Ayat 88-98

Surah As-Saffat Ayat 88
فَنَظَرَ نَظۡرَةً فِى ٱلنُّجُومِ

Terjemahan: Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang.

Tafsir Jalalain: فَنَظَرَ نَظۡرَةً فِى ٱلنُّجُومِ (Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang) untuk mengelabui mereka, bahwasanya dia percaya kepada bintang-bintang itu, supaya mereka tidak menaruh rasa curiga terhadap dirinya.

Tafsir Ibnu Katsir: Qatadah mengatakan: “Bangsa Arab menyebut ‘orang yang berfikir’ sebagai orang yang sedang melihat bintang-bintang.” Artinya ia melihat ke langit seraya memikirkan mengenai apa yang melengahkan mereka.

Tafsir Kemenag: Kemudian Ibrahim melayangkan pandangannya ke bintang-bintang dengan berpikir secara mendalam bagaimana menghadapi kaumnya yang tetap bersikeras untuk menyembah patung, hanya dengan alasan mempertahankan warisan nenek moyang. Padahal, beliau sudah memberikan peringatan dan pengajaran kepada mereka, sebagaimana firman Allah:

(Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (al-Anbiya’/21: 52-53)

Sesudah berpikir dan mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh, beliau memutuskan untuk mengambil tindakan yang bahaya, yaitu menghancurkan semua patung sembahan itu.

Pada suatu saat, kaum Ibrahim datang untuk mengundangnya guna menghadiri hari besar mereka. Beliau menolak ajakan mereka secara halus dengan alasan kesehatannya terganggu. Selain untuk menghindari hadir dalam hari besar mereka, Nabi Ibrahim bermaksud melaksanakan rencananya untuk menghancurkan patung-patung, dan menyatakan perlawanan secara terbuka terhadap pemuja patung-patung itu.

Kaumnya tidak mengetahui rencana Nabi Ibrahim itu dan tidak pula mencurigainya. Juga tidak tampak pada sikapnya bahwa dia tidak jujur dalam perkataannya. Dengan demikian, upacara hari besar mereka berlangsung tanpa hadirnya Ibrahim.

Alasan terganggu kesehatannya untuk tidak menghadiri undangan kaumnya, padahal sebenarnya dia tidak sakit, tidaklah dipandang dusta yang terlarang dalam agama. Bahwa Ibrahim membohongi kaumnya memang benar. Rasulullah bersabda:

Nabi Ibrahim tidak berbohong kecuali tiga perkataan, dua di antaranya tentang zat Allah, yaitu kata-katanya “Saya sedang sakit” dan “sebenarnya yang besar ini yang memecahkannya”, dan kata-katanya mengenai istrinya Sarah “ini saudaraku”. (RiwAyat A.hmad dan asy-Syaikhan dari Abu Hurairah)

Kata-kata Nabi Ibrahim bahwa kesehatannya terganggu yang diucapkan di hadapan kaumnya sebenarnya untuk menghindari kehadirannya pada upacara hari besar kaumnya.

Ibrahim berkata, “Sesungguhnya kami dan bapak-bapakku berada dalam kesesatan yang nyata”. Mereka menjawab, “Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?”

Ibrahim berkata, “Sebenarnya Tuhan kamu adalah Tuhan langit dan bumi yang telah Dia ciptakan dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.”

Dalam perayaan hari besar itu, Nabi Ibrahim mempergunakan kesempatan untuk menghancurkan patung-patung kaumnya. Kata-kata Ibrahim bahwa patung yang paling besar ini yang memecahkannya, diucapkan sewaktu dia diperiksa oleh kaumnya tentang perkara penghancuran patung.

Sebenarnya dia sendiri yang memecahkan patung itu, tetapi dikatakan patung yang paling besarlah yang menghancurkannya, padahal kaumnya menyadari bahwa patung-patung itu tidak dapat berbuat apa-apa.

Kedua ucapan Ibrahim diucapkan dalam rangka perjuangannya menegakkan kalimat tauhid. Adapun ucapan yang ketiga, yaitu “Sarah itu saudaraku” padahal sebenarnya istrinya, diucapkan di hadapan raja ketika raja menginginkan Sarah.

Dengan demikian, ketiga perkataan yang diucapkan Ibrahim itu bukanlah kebohongan yang tercela dalam pandangan agama dan masyarakat. Rasulullah saw menjelaskan bahwa ketiga perkataan Nabi Ibrahim itu dibenarkan agama, seperti sabda Nabi saw:

Rasulullah bersabda tentang tiga perkataan Ibrahim dengan mengatakan bahwa tidak ada suatu dusta pun kecuali hal-hal yang dibenarkan agama Allah. (RiwAyat at-Tirmidzi dari Abu Sa’id)

Tafsir Quraish Shihab: Ibrâhîm kemudian melemparkan pandangan ke arah bintang-bintang untuk mencari argumentasi adanya Sang Pencipta alam ini. Lalu ia mendapatkan bintang-bintang itu berubah-ubah.

Surah As-Saffat Ayat 89
فَقَالَ إِنِّى سَقِيمٌ

Terjemahan: Kemudian ia berkata: “Sesungguhnya aku sakit”.

Tafsir Jalalain: فَقَالَ إِنِّى سَقِيمٌ (Kemudian ia berkata, “Sesungguhnya aku sakit”) maksudnya, aku akan mengalami sakit.

Tafsir Ibnu Katsir: Maka, Ibrahim pun berkata: فَقَالَ إِنِّى سَقِيمٌ (“Sesungguhnya aku sakit.”) yaitu lemah. Adapun hadits yang diriwAyatkan oleh Ibnu Jarir di sini, dari Abu Hurairah, bahwasannya Rasulullah saw. telah bersabda: “Ibrahim as. tidak berbohong kecuali tiga kali, dua di antaranya mengenai Dzat Allah Ta’ala, yaitu ucapannya: ‘Sesungguhnya aku sakit.’ (ash-shaaffaat: 89). Dan ucapannya: ‘Tidak, sebenarnya patung-patung besar itulah yang melakukannya.’ (al-Anbiyaa’: 63). Juga ucapannya tentang Sarah: ‘Dia adalah saudara perempuanku.’”

Hadits tersebut diriwAyatkan dalam kitab-kitab shahih dan juga kitab-kitab Sunan melalui beberapa jalan, tetapi hal tersebut tidak termasuk bab dusta sebenarnya, yang pelakunya layak mendapat celaan dan cacian. Sekali-sekali tidak, kebohongan seperti itu diperbolehkan, karena hal itu merupakan singgungan [strategi] dalam ucapan demi kepentingan syariat dan agama.

Tafsir Kemenag: Kemudian Ibrahim melayangkan pandangannya ke bintang-bintang dengan berpikir secara mendalam bagaimana menghadapi kaumnya yang tetap bersikeras untuk menyembah patung, hanya dengan alasan mempertahankan warisan nenek moyang. Padahal, beliau sudah memberikan peringatan dan pengajaran kepada mereka, sebagaimana firman Allah:

(Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (al-Anbiya’/21: 52-53)

Sesudah berpikir dan mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh, beliau memutuskan untuk mengambil tindakan yang bahaya, yaitu menghancurkan semua patung sembahan itu.

Pada suatu saat, kaum Ibrahim datang untuk mengundangnya guna menghadiri hari besar mereka. Beliau menolak ajakan mereka secara halus dengan alasan kesehatannya terganggu. Selain untuk menghindari hadir dalam hari besar mereka, Nabi Ibrahim bermaksud melaksanakan rencananya untuk menghancurkan patung-patung, dan menyatakan perlawanan secara terbuka terhadap pemuja patung-patung itu.

Kaumnya tidak mengetahui rencana Nabi Ibrahim itu dan tidak pula mencurigainya. Juga tidak tampak pada sikapnya bahwa dia tidak jujur dalam perkataannya. Dengan demikian, upacara hari besar mereka berlangsung tanpa hadirnya Ibrahim.

Alasan terganggu kesehatannya untuk tidak menghadiri undangan kaumnya, padahal sebenarnya dia tidak sakit, tidaklah dipandang dusta yang terlarang dalam agama. Bahwa Ibrahim membohongi kaumnya memang benar. Rasulullah bersabda:

Nabi Ibrahim tidak berbohong kecuali tiga perkataan, dua di antaranya tentang zat Allah, yaitu kata-katanya “Saya sedang sakit” dan “sebenarnya yang besar ini yang memecahkannya”, dan kata-katanya mengenai istrinya Sarah “ini saudaraku”. (RiwAyat A.hmad dan asy-Syaikhan dari Abu Hurairah)

Kata-kata Nabi Ibrahim bahwa kesehatannya terganggu yang diucapkan di hadapan kaumnya sebenarnya untuk menghindari kehadirannya pada upacara hari besar kaumnya.

Ibrahim berkata, “Sesungguhnya kami dan bapak-bapakku berada dalam kesesatan yang nyata”. Mereka menjawab, “Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?”

Ibrahim berkata, “Sebenarnya Tuhan kamu adalah Tuhan langit dan bumi yang telah Dia ciptakan dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.”

Dalam perayaan hari besar itu, Nabi Ibrahim mempergunakan kesempatan untuk menghancurkan patung-patung kaumnya. Kata-kata Ibrahim bahwa patung yang paling besar ini yang memecahkannya, diucapkan sewaktu dia diperiksa oleh kaumnya tentang perkara penghancuran patung. Sebenarnya dia sendiri yang memecahkan patung itu, tetapi dikatakan patung yang paling besarlah yang menghancurkannya, padahal kaumnya menyadari bahwa patung-patung itu tidak dapat berbuat apa-apa.

Kedua ucapan Ibrahim diucapkan dalam rangka perjuangannya menegakkan kalimat tauhid. Adapun ucapan yang ketiga, yaitu “Sarah itu saudaraku” padahal sebenarnya istrinya, diucapkan di hadapan raja ketika raja menginginkan Sarah.

Dengan demikian, ketiga perkataan yang diucapkan Ibrahim itu bukanlah kebohongan yang tercela dalam pandangan agama dan masyarakat. Rasulullah saw menjelaskan bahwa ketiga perkataan Nabi Ibrahim itu dibenarkan agama, seperti sabda Nabi saw:

Baca Juga:  Surah As-Saffat Ayat 71-74; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Rasulullah bersabda tentang tiga perkataan Ibrahim dengan mengatakan bahwa tidak ada suatu dusta pun kecuali hal-hal yang dibenarkan agama Allah. (RiwAyat at-Tirmidzi dari Abu Sa’id)

Tafsir Quraish Shihab: Dia memutuskan bahwa dia khawatir dirinya tersesat dan mendapatkan keyakinan yang salah.

Surah As-Saffat Ayat 90
فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ

Terjemahan: Lalu mereka berpaling daripadanya dengan membelakang.

Tafsir Jalalain: فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ (Lalu mereka berpaling daripadanya) menuju ke tempat perayaan mereka مُدۡبِرِينَ (dengan membelakangi).

Tafsir Ibnu Katsir: فَتَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ مُدۡبِرِينَ (“Lalu mereka berpaling darinya dengan membelakang.”) Oleh karena itu, Allah berfirman: “Lalu mereka berpaling darinya dan membelakang.” Yakni pergi menuju berhala-berhala itu setelah mereka keluar dengan cepat dan sembunyi-sembunyi.

Tafsir Kemenag: Kemudian Ibrahim melayangkan pandangannya ke bintang-bintang dengan berpikir secara mendalam bagaimana menghadapi kaumnya yang tetap bersikeras untuk menyembah patung, hanya dengan alasan mempertahankan warisan nenek moyang. Padahal, beliau sudah memberikan peringatan dan pengajaran kepada mereka, sebagaimana firman Allah:

(Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (al-Anbiya’/21: 52-53)

Sesudah berpikir dan mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh, beliau memutuskan untuk mengambil tindakan yang bahaya, yaitu menghancurkan semua patung sembahan itu.

Pada suatu saat, kaum Ibrahim datang untuk mengundangnya guna menghadiri hari besar mereka. Beliau menolak ajakan mereka secara halus dengan alasan kesehatannya terganggu. Selain untuk menghindari hadir dalam hari besar mereka, Nabi Ibrahim bermaksud melaksanakan rencananya untuk menghancurkan patung-patung, dan menyatakan perlawanan secara terbuka terhadap pemuja patung-patung itu. Kaumnya tidak mengetahui rencana Nabi Ibrahim itu dan tidak pula mencurigainya. Juga tidak tampak pada sikapnya bahwa dia tidak jujur dalam perkataannya.

Dengan demikian, upacara hari besar mereka berlangsung tanpa hadirnya Ibrahim. Alasan terganggu kesehatannya untuk tidak menghadiri undangan kaumnya, padahal sebenarnya dia tidak sakit, tidaklah dipandang dusta yang terlarang dalam agama. Bahwa Ibrahim membohongi kaumnya memang benar. Rasulullah bersabda:

Nabi Ibrahim tidak berbohong kecuali tiga perkataan, dua di antaranya tentang zat Allah, yaitu kata-katanya “Saya sedang sakit” dan “sebenarnya yang besar ini yang memecahkannya”, dan kata-katanya mengenai istrinya Sarah “ini saudaraku”. (RiwAyat A.hmad dan asy-Syaikhan dari Abu Hurairah)

Kata-kata Nabi Ibrahim bahwa kesehatannya terganggu yang diucapkan di hadapan kaumnya sebenarnya untuk menghindari kehadirannya pada upacara hari besar kaumnya.

Ibrahim berkata, “Sesungguhnya kami dan bapak-bapakku berada dalam kesesatan yang nyata”. Mereka menjawab, “Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?” Ibrahim berkata, “Sebenarnya Tuhan kamu adalah Tuhan langit dan bumi yang telah Dia ciptakan dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.”

Dalam perayaan hari besar itu, Nabi Ibrahim mempergunakan kesempatan untuk menghancurkan patung-patung kaumnya. Kata-kata Ibrahim bahwa patung yang paling besar ini yang memecahkannya, diucapkan sewaktu dia diperiksa oleh kaumnya tentang perkara penghancuran patung. Sebenarnya dia sendiri yang memecahkan patung itu, tetapi dikatakan patung yang paling besarlah yang menghancurkannya, padahal kaumnya menyadari bahwa patung-patung itu tidak dapat berbuat apa-apa.

Kedua ucapan Ibrahim diucapkan dalam rangka perjuangannya menegakkan kalimat tauhid. Adapun ucapan yang ketiga, yaitu “Sarah itu saudaraku” padahal sebenarnya istrinya, diucapkan di hadapan raja ketika raja menginginkan Sarah.

Dengan demikian, ketiga perkataan yang diucapkan Ibrahim itu bukanlah kebohongan yang tercela dalam pandangan agama dan masyarakat. Rasulullah saw menjelaskan bahwa ketiga perkataan Nabi Ibrahim itu dibenarkan agama, seperti sabda Nabi saw:

Rasulullah bersabda tentang tiga perkataan Ibrahim dengan mengatakan bahwa tidak ada suatu dusta pun kecuali hal-hal yang dibenarkan agama Allah. (RiwAyat at-Tirmidzi dari Abu Sa’id)

Tafsir Quraish Shihab: Lalu kaumnya berpaling darinya dan meninggalkan omongannya.

Surah As-Saffat Ayat 91
فَرَاغَ إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ فَقَالَ أَلَا تَأۡكُلُونَ

Terjemahan: Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata: “Apakah kamu tidak makan?

Tafsir Jalalain: فَرَاغَ (Kemudian ia pergi dengan diam-diam) atau Nabi Ibrahim berangkat dengan diam-diam menuju إِلَىٰٓ ءَالِهَتِهِمۡ (kepada berhala-berhala mereka) yang pada saat itu di hadapannya terdapat banyak hidangan makanan فَقَالَ (lalu ia berkata) dengan nada yang sinis ditujukan kepada berhala-berhala mereka itu, أَلَا تَأۡكُلُونَ (“Apakah kalian tidak makan?”) tetapi berhala-berhala itu diam saja.

Tafsir Ibnu Katsir: فَقَالَ أَلَا تَأۡكُلُونَ (“lalu ia berkata: ‘Apakah kamu tidak makan?’) yang demikian itu karena mereka telah meletakkan makanan di hadapan berhala-berhala itu sebagai makanan kurban agar berhala-berhala itu memberi berkah kepada mereka.

As-Suddi mengungkapkan bahwa Ibrahim as. masuk ke rumah tuhan-tuhan itu, dan ternyata mereka berada di ruangan yang besar, tepat di hadapan pintu ruangan itu terdapat patung besar yang di sampingnya terdapat patung-patung yang lebih kecil yang saling berdampingan satu dengan lainnya.

Setiap patung yang berikutnya, lebih kecil sampai akhirnya sampai di pintu ruangan tersebut. Dan ternyata mereka telah membuatkan makanan dan meletakkannya di hadapannya. Pada saat kembali, mereka mengatakan: “Tuhan-tuhan itu telah memberikan berkah pada makanan yang kita makan.”

Tafsir Kemenag: Sesudah kaumnya pergi, Ibrahim diam-diam menuju tempat patung-patung itu, lalu berkata dengan maksud mengejek, “Mengapa patung-patung itu tidak memakan makanan yang dihidangkan di hadapannya.” Sesajen itu disuguhkan oleh para penyembahnya pada hari-hari tertentu untuk mengharapkan berkah.

Tentu saja patung-patung itu tidak berkata apa-apa. Akan tetapi, Ibrahim bertanya lagi, “Mengapa patung-patung itu tidak menjawab pertanyaanku?” Kemudian patung-patung itu dipukulnya dengan keras sampai hancur kecuali sebuah patung yang paling besar.

Peristiwa ini menimbulkan kemarahan kaumnya. Lalu mereka mencari pelakunya dan memperoleh keterangan bahwa Ibrahimlah yang memecahkan patung-patung itu. Mereka cepat-cepat menemui Ibrahim dan menanyakan kepadanya, apakah benar dia memecahkan patung-patung itu.

Ibrahim mengelak dari pertanyaan itu dan mengatakan bahwa patung yang besar itulah yang memecahkannya. Setelah mendengar ucapan Ibrahim, kaumnya menundukkan kepala dan merenungkan diri masing-masing. Tidak ada yang dapat mereka perbuat terhadap patung besar itu, yang selama ini mereka sembah.

Tafsir Quraish Shihab: Kemudian dengan segera dan secara diam-diam ia pergi menuju patung-patung mereka. Kepada patung-patung tersebut ia menyodorkan makanan yang diletakkan oleh kaumnya di muka agar mendapat berkah. Dengan nada mengejek dan menghina, Ibrâhîm berkata, “Apakah kalian tidak makan?

Surah As-Saffat Ayat 92
مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ

Terjemahan: Kenapa kamu tidak menjawab?”

Tafsir Jalalain: Maka Ibrahim berkata, مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ (“Kenapa kalian tidak menjawab?”) ternyata berhala-berhala itu tidak juga menjawab.

Tafsir Ibnu Katsir: مَا لَكُمۡ لَا تَنطِقُونَ (“Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?”)

Tafsir Kemenag: Sesudah kaumnya pergi, Ibrahim diam-diam menuju tempat patung-patung itu, lalu berkata dengan maksud mengejek, “Mengapa patung-patung itu tidak memakan makanan yang dihidangkan di hadapannya.” Sesajen itu disuguhkan oleh para penyembahnya pada hari-hari tertentu untuk mengharapkan berkah.

Tentu saja patung-patung itu tidak berkata apa-apa. Akan tetapi, Ibrahim bertanya lagi, “Mengapa patung-patung itu tidak menjawab pertanyaanku?” Kemudian patung-patung itu dipukulnya dengan keras sampai hancur kecuali sebuah patung yang paling besar.

Peristiwa ini menimbulkan kemarahan kaumnya. Lalu mereka mencari pelakunya dan memperoleh keterangan bahwa Ibrahimlah yang memecahkan patung-patung itu. Mereka cepat-cepat menemui Ibrahim dan menanyakan kepadanya, apakah benar dia memecahkan patung-patung itu.

Ibrahim mengelak dari pertanyaan itu dan mengatakan bahwa patung yang besar itulah yang memecahkannya. Setelah mendengar ucapan Ibrahim, kaumnya menundukkan kepala dan merenungkan diri masing-masing. Tidak ada yang dapat mereka perbuat terhadap patung besar itu, yang selama ini mereka sembah.

Tafsir Quraish Shihab: Mengapa kalian tidak mampu berkata ‘ya’ atau ‘tidak’?”

Surah As-Saffat Ayat 93
فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبًۢا بِٱلۡيَمِينِ

Terjemahan: Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat).

Tafsir Jalalain: فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبًۢا بِٱلۡيَمِينِ (Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya) artinya, dengan sekuat-kuatnya hingga berhala-berhala itu pecah berantakan. Berita penghancuran berhala-berhala itu sampai kepada kaumnya melalui orang-orang yang melihat Nabi Ibrahim sedang menghancurkannya.

Baca Juga:  Surah Al-Ahzab Ayat 57-58; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: فَرَاغَ عَلَيۡهِمۡ ضَرۡبًۢا بِٱلۡيَمِينِ (“Lalu, dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya [dengan kuat].”) al-Farra’ mengatakan: “Artinya menjatuhkan pukulan tangan kanan kepada berhala-berhal itu.”

Qatadah dan al-Jauhari mengatakan: “Maka Ibrahim mengarahkan pukulan tangan kanannya kepada mereka.” Ibrahim memukul dengan tangan kanannya karena ia lebih keras dan lebih mantap. Oleh karena itu ia meninggalkan berhala-berhala itu hancur berantakan, kecuali berhala yang besar saja, agar orang-orang itu kembali kepadanya, sebagaimana penafsiran mengenai hal itu telah diuraikan dalam surah al-Anbiyaa’.

Tafsir Kemenag: Sesudah kaumnya pergi, Ibrahim diam-diam menuju tempat patung-patung itu, lalu berkata dengan maksud mengejek, “Mengapa patung-patung itu tidak memakan makanan yang dihidangkan di hadapannya.” Sesajen itu disuguhkan oleh para penyembahnya pada hari-hari tertentu untuk mengharapkan berkah.

Tentu saja patung-patung itu tidak berkata apa-apa. Akan tetapi, Ibrahim bertanya lagi, “Mengapa patung-patung itu tidak menjawab pertanyaanku?” Kemudian patung-patung itu dipukulnya dengan keras sampai hancur kecuali sebuah patung yang paling besar.

Peristiwa ini menimbulkan kemarahan kaumnya. Lalu mereka mencari pelakunya dan memperoleh keterangan bahwa Ibrahimlah yang memecahkan patung-patung itu. Mereka cepat-cepat menemui Ibrahim dan menanyakan kepadanya, apakah benar dia memecahkan patung-patung itu.

Ibrahim mengelak dari pertanyaan itu dan mengatakan bahwa patung yang besar itulah yang memecahkannya. Setelah mendengar ucapan Ibrahim, kaumnya menundukkan kepala dan merenungkan diri masing-masing. Tidak ada yang dapat mereka perbuat terhadap patung besar itu, yang selama ini mereka sembah.

Tafsir Quraish Shihab: Kemudian dengan tangan kanannya–sebab tangan kanan lebih kuat–ia memukul mereka dan menghancurkannya.

Surah As-Saffat Ayat 94
فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ

Terjemahan: Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas.

Tafsir Jalalain: فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ (Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas) mereka berjalan dengan terburu-buru, lalu mereka berkata kepada Nabi Ibrahim, “Kami menyembahnya sedangkan kamu memecahkannya.”.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: فَأَقۡبَلُوٓاْ إِلَيۡهِ يَزِفُّونَ (“Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas.”) Mujahid dan juga beberapa ulama lainnya mengatakan: “Yakni bersegera.” Kisah ini disampaikan secara ringkas dalam surah ini, dan dalam surah al-Anbiyaa’ lebih rinci.

Ketika mereka kembali, mereka mencari tahu siapa gerangan yang melakukan penghancuran berhala-berhala tersebut. Lalu mereka berkesimpulan bahwa pelakukanya adalah Ibrahim.

Tafsir Kemenag: Sesudah kaumnya pergi, Ibrahim diam-diam menuju tempat patung-patung itu, lalu berkata dengan maksud mengejek, “Mengapa patung-patung itu tidak memakan makanan yang dihidangkan di hadapannya.” Sesajen itu disuguhkan oleh para penyembahnya pada hari-hari tertentu untuk mengharapkan berkah.

Tentu saja patung-patung itu tidak berkata apa-apa. Akan tetapi, Ibrahim bertanya lagi, “Mengapa patung-patung itu tidak menjawab pertanyaanku?” Kemudian patung-patung itu dipukulnya dengan keras sampai hancur kecuali sebuah patung yang paling besar.

Peristiwa ini menimbulkan kemarahan kaumnya. Lalu mereka mencari pelakunya dan memperoleh keterangan bahwa Ibrahimlah yang memecahkan patung-patung itu. Mereka cepat-cepat menemui Ibrahim dan menanyakan kepadanya, apakah benar dia memecahkan patung-patung itu.

Ibrahim mengelak dari pertanyaan itu dan mengatakan bahwa patung yang besar itulah yang memecahkannya. Setelah mendengar ucapan Ibrahim, kaumnya menundukkan kepala dan merenungkan diri masing-masing. Tidak ada yang dapat mereka perbuat terhadap patung besar itu, yang selama ini mereka sembah.

Tafsir Quraish Shihab: Dengan bergegas, setelah mengetahui bahwa yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka itu adalah Ibrâhîm, kaumnya menuju kepadanya. Mereka ingin segera menghukumnya atas perlakuannya terhadap tuhan-tuhan mereka.

Surah As-Saffat Ayat 95
قَالَ أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ

Terjemahan: Ibrahim berkata: “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu?

Tafsir Jalalain: قَالَ (Ibrahim berkata) kepada mereka dengan nada sinis, أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ (“Apakah kalian menyembah patung-patung yang kalian pahat itu?) dari batu dan dari bahan-bahan lainnya sebagai berhala-berhala yang kalian sembah.

Tafsir Ibnu Katsir: Dalam interograsi yang mereka lakukan, Ibrahim justru mengecam dan membongkar aib mereka dengan berkata: أَتَعۡبُدُونَ مَا تَنۡحِتُونَ (“Apakah kalian menyembah patung-patung yang kalian pahat itu?”) maksudnya, apakah kalian beribadah kepada selain Allah yang berupa patung-patung yang kalian pahat dan kalian buat dengan tangan kalian sendiri?

Tafsir Kemenag: Sesudah melihat keadaan kaumnya tertegun menunduk-kan kepala, Nabi Ibrahim lalu berkata lagi kepada mereka bahwa tidak patut mereka menyembah patung-patung yang mereka pahat dengan tangannya sendiri. Mereka mestinya bersyukur bahwa dari kalangan mereka sendiri, lahir seorang yang punya akal pikiran, yang mencegah penyembahan patung-patung itu.

Nabi Ibrahim menegaskan lagi bahwa yang patut disembah hanyalah Allah yang menciptakan mereka dan patung-patung sesembahan mereka itu. Tuhan Maha Pencipta lebih berhak disembah daripada makhluk-Nya. Firman Allah:

Dia (Ibrahim) berkata, “Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kamu? Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti?” (al-Anbiya’/21: 66-67)

Alasan yang disampaikan Nabi Ibrahim tidak dapat mereka bantah dengan alasan pula, sehingga mereka menempuh cara kekerasan menantang Ibrahim. Mereka merencanakan membunuh Ibrahim. Lalu didirikanlah sebuah bangunan untuk dijadikan tempat pembakaran Nabi Ibrahim. Ketika bangunan itu telah selesai dan apinya telah dinyalakan, lalu Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalamnya. Firman Allah:

Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat.” (al-Anbiya’/21: 68)

Kaum Ibrahim benar-benar menghendaki ia binasa dan hangus terbakar dalam unggun api itu. Akan tetapi, Allah berkehendak menyelamatkan dia dari kebinasaan dengan memerintahkan kepada api supaya tidak membakar Ibrahim, sebagaimana firman-Nya: Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (al-Anbiya’/21: 69)

Dengan demikian, Nabi Ibrahim selamat dari unggun api, dan mendapat kemenangan atas orang kafir.

Sesudah beliau tidak melihat lagi tanda-tanda kesediaan kaumnya untuk beriman, maka beliau bermaksud untuk meninggalkan mereka, hijrah dari kampung halaman. Barangkali di tempat yang baru itu, beliau dapat beribadah kepada Tuhan tanpa gangguan dari kaum yang ingkar, dan dapat mengembangkan agama dengan taufik dan hidayah Allah. Adapun negeri yang beliau tuju ialah Baitulmakdis.

Tafsir Quraish Shihab: Dengan nada mengejek, Ibrâhîm berkata kepada mereka, “Apakah kalian menyembah batu-batu yang kalian bentuk sendiri dengan tangan kalian? Di mana otak kalian?

Surah As-Saffat Ayat 96
وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ

Terjemahan: Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.

Tafsir Jalalain: وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ (Padahal Allahlah yang telah menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat itu”) yakni tentang apa yang kalian pahat dan hasil pahatan kalian itu, karenanya sembahlah Dia dan esakanlah Dia. Huruf Maa di sini menurut suatu pendapat adalah Maa Mashdariyah, menurut pendapat lainnya adalah Maa Maushulah, dan menurut pendapat lainnya lagi adalah Maa Maushufah.

Tafsir Ibnu Katsir: وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ (“Padahal Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat itu?”) kemungkinan huruf “maa” di sini berkedudukan sebagai mashdar, sehingga kalimat itu berarti: “Dia telah menciptakan kalian dan juga amal perbuatan kalian.” Dan mungkin juga berarti “alladzii” (yang), artinya: “Dan Allah yang telah menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan.”

Kedua pendapat tersebut saling menguatkan. Dan pendapat yang pertama adalah lebih jelas. Hal itu didasarkan pada hadits yang diriwAyatkan oleh al-Bukhari dalam kitab Af’aalul ‘Ibaad (Berbagai Amal Perbuatan Hamba) dari Hudzaifah secara marfu’ (disandarkan kepada Nabi saw.) dia berkata: “Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan setiap pelaku perbuatan dan perbuatannya.”

Tafsir Kemenag: Sesudah melihat keadaan kaumnya tertegun menunduk-kan kepala, Nabi Ibrahim lalu berkata lagi kepada mereka bahwa tidak patut mereka menyembah patung-patung yang mereka pahat dengan tangannya sendiri. Mereka mestinya bersyukur bahwa dari kalangan mereka sendiri, lahir seorang yang punya akal pikiran, yang mencegah penyembahan patung-patung itu.

Nabi Ibrahim menegaskan lagi bahwa yang patut disembah hanyalah Allah yang menciptakan mereka dan patung-patung sesembahan mereka itu. Tuhan Maha Pencipta lebih berhak disembah daripada makhluk-Nya. Firman Allah:

Baca Juga:  Surah As-Saffat Ayat 161-170; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dia (Ibrahim) berkata, “Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kamu? Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti?” (al-Anbiya’/21: 66-67)

Alasan yang disampaikan Nabi Ibrahim tidak dapat mereka bantah dengan alasan pula, sehingga mereka menempuh cara kekerasan menantang Ibrahim. Mereka merencanakan membunuh Ibrahim. Lalu didirikanlah sebuah bangunan untuk dijadikan tempat pembakaran Nabi Ibrahim. Ketika bangunan itu telah selesai dan apinya telah dinyalakan, lalu Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalamnya. Firman Allah:

Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat.” (al-Anbiya’/21: 68)

Kaum Ibrahim benar-benar menghendaki ia binasa dan hangus terbakar dalam unggun api itu. Akan tetapi, Allah berkehendak menyelamatkan dia dari kebinasaan dengan memerintahkan kepada api supaya tidak membakar Ibrahim, sebagaimana firman-Nya: Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (al-Anbiya’/21: 69)

Dengan demikian, Nabi Ibrahim selamat dari unggun api, dan mendapat kemenangan atas orang kafir.

Sesudah beliau tidak melihat lagi tanda-tanda kesediaan kaumnya untuk beriman, maka beliau bermaksud untuk meninggalkan mereka, hijrah dari kampung halaman. Barangkali di tempat yang baru itu, beliau dapat beribadah kepada Tuhan tanpa gangguan dari kaum yang ingkar, dan dapat mengembangkan agama dengan taufik dan hidayah Allah. Adapun negeri yang beliau tuju ialah Baitulmakdis.

Tafsir Quraish Shihab: Allah telah menciptakan kalian dan patung-patung yang kalian buat dengan tangan kalian. Maka hanya Dialah yang berhak untuk disembah.”

Surah As-Saffat Ayat 97
قَالُواْ ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنًا فَأَلۡقُوهُ فِى ٱلۡجَحِيمِ

Terjemahan: Mereka berkata: “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu”.

Tafsir Jalalain: قَالُواْ (Mereka berkata) di antara sesama mereka ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنًا (“Dirikanlah suatu bangunan untuknya) lalu kumpulkanlah kayu-kayu bakar di bawahnya, dan nyalakanlah api padanya, maka apabila ia telah menyala فَأَلۡقُوهُ فِى ٱلۡجَحِيمِ (lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu”) yakni ke dalam api yang telah membesar nyalanya itu.

Tafsir Ibnu Katsir: Maka ketika itu, setelah hujah disampaikan atas mereka, mereka beranjak [segera] menangkapnya dengan kasar seraya memaksanya dan berkata: ٱبۡنُواْ لَهُۥ بُنۡيَٰنًا فَأَلۡقُوهُ فِى ٱلۡجَحِيمِ (“Dirikanlah suatu bangunan untuk [membakar] Ibrahim; lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.”) lalu terjadilah apa yang terjadi, Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim as. serta memenangkan atas mereka dan meninggikan serta menegakkan hujjah-Nya.

Tafsir Kemenag: Sesudah melihat keadaan kaumnya tertegun menunduk-kan kepala, Nabi Ibrahim lalu berkata lagi kepada mereka bahwa tidak patut mereka menyembah patung-patung yang mereka pahat dengan tangannya sendiri. Mereka mestinya bersyukur bahwa dari kalangan mereka sendiri, lahir seorang yang punya akal pikiran, yang mencegah penyembahan patung-patung itu.

Nabi Ibrahim menegaskan lagi bahwa yang patut disembah hanyalah Allah yang menciptakan mereka dan patung-patung sesembahan mereka itu. Tuhan Maha Pencipta lebih berhak disembah daripada makhluk-Nya. Firman Allah:

Dia (Ibrahim) berkata, “Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kamu? Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti?” (al-Anbiya’/21: 66-67)

Alasan yang disampaikan Nabi Ibrahim tidak dapat mereka bantah dengan alasan pula, sehingga mereka menempuh cara kekerasan menantang Ibrahim. Mereka merencanakan membunuh Ibrahim. Lalu didirikanlah sebuah bangunan untuk dijadikan tempat pembakaran Nabi Ibrahim. Ketika bangunan itu telah selesai dan apinya telah dinyalakan, lalu Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalamnya. Firman Allah:

Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat.” (al-Anbiya’/21: 68)

Kaum Ibrahim benar-benar menghendaki ia binasa dan hangus terbakar dalam unggun api itu. Akan tetapi, Allah berkehendak menyelamatkan dia dari kebinasaan dengan memerintahkan kepada api supaya tidak membakar Ibrahim, sebagaimana firman-Nya: Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (al-Anbiya’/21: 69)

Dengan demikian, Nabi Ibrahim selamat dari unggun api, dan mendapat kemenangan atas orang kafir.

Sesudah beliau tidak melihat lagi tanda-tanda kesediaan kaumnya untuk beriman, maka beliau bermaksud untuk meninggalkan mereka, hijrah dari kampung halaman. Barangkali di tempat yang baru itu, beliau dapat beribadah kepada Tuhan tanpa gangguan dari kaum yang ingkar, dan dapat mengembangkan agama dengan taufik dan hidayah Allah. Adapun negeri yang beliau tuju ialah Baitulmakdis.

Tafsir Quraish Shihab: Ketika merasa kalah berargumentasi, mereka ingin menggunakan kekuatan. Mereka berketetapan untuk membakar Ibrâhîm. Lalu para penyembah berhala itu saling berkata satu sama lain, “Dirikanlah suatu bangunan untuknya, lalu isi dengan api yang menyala. Setelah itu lemparkan dia ke tengah-tengahnya.”

Surah As-Saffat Ayat 98
فَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدًا فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ

Terjemahan: Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina.

Tafsir Jalalain: (Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya) dengan melemparkannya ke dalam api yang menyala-nyala untuk membinasakannya (maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina) orang-orang yang dikalahkan; karena ternyata Nabi Ibrahim keluar dari dalam api itu dalam keadaan selamat tidak apa-apa.

Tafsir Ibnu Katsir: Oleh karena itu Allah berfirman: فَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدًا فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَسۡفَلِينَ (“Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina.”)

Tafsir Kemenag: Sesudah melihat keadaan kaumnya tertegun menunduk-kan kepala, Nabi Ibrahim lalu berkata lagi kepada mereka bahwa tidak patut mereka menyembah patung-patung yang mereka pahat dengan tangannya sendiri. Mereka mestinya bersyukur bahwa dari kalangan mereka sendiri, lahir seorang yang punya akal pikiran, yang mencegah penyembahan patung-patung itu.

Nabi Ibrahim menegaskan lagi bahwa yang patut disembah hanyalah Allah yang menciptakan mereka dan patung-patung sesembahan mereka itu. Tuhan Maha Pencipta lebih berhak disembah daripada makhluk-Nya. Firman Allah:

Dia (Ibrahim) berkata, “Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kamu? Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti?” (al-Anbiya’/21: 66-67)

Alasan yang disampaikan Nabi Ibrahim tidak dapat mereka bantah dengan alasan pula, sehingga mereka menempuh cara kekerasan menantang Ibrahim. Mereka merencanakan membunuh Ibrahim. Lalu didirikanlah sebuah bangunan untuk dijadikan tempat pembakaran Nabi Ibrahim. Ketika bangunan itu telah selesai dan apinya telah dinyalakan, lalu Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalamnya. Firman Allah:

Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat.” (al-Anbiya’/21: 68)

Kaum Ibrahim benar-benar menghendaki ia binasa dan hangus terbakar dalam unggun api itu. Akan tetapi, Allah berkehendak menyelamatkan dia dari kebinasaan dengan memerintahkan kepada api supaya tidak membakar Ibrahim, sebagaimana firman-Nya: Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (al-Anbiya’/21: 69)

Dengan demikian, Nabi Ibrahim selamat dari unggun api, dan mendapat kemenangan atas orang kafir.

Sesudah beliau tidak melihat lagi tanda-tanda kesediaan kaumnya untuk beriman, maka beliau bermaksud untuk meninggalkan mereka, hijrah dari kampung halaman. Barangkali di tempat yang baru itu, beliau dapat beribadah kepada Tuhan tanpa gangguan dari kaum yang ingkar, dan dapat mengembangkan agama dengan taufik dan hidayah Allah. Adapun negeri yang beliau tuju ialah Baitulmakdis.

Tafsir Quraish Shihab: Dengan itu mereka bermaksud menyakitinya. Kemudian Allah menyelamatkannya dari api setelah ia dilempar ke dalamnya. Allah Mahasuci dengan kemuliaan-Nya. Allah menjadikan mereka orang-orang yang hina dan rendah derajatnya.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah As-Saffat Ayat 88-98 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG