Surah Asy-Syu’ara Ayat 83-89; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Asy-Syu'ara Ayat 83-89

Pecihitam.org – Kandungan Surah Asy-Syu’ara Ayat 83-89 ini, menjelaskan ketika Ibrahim bermohon agar dianugerahi hikmah. Hikmah berarti ilmu pengetahuan yang diamalkan dengan baik. Dalam hubungannya dengan kepribadian orang yang saleh, hikmah diartikan sebagai petunjuk Tuhan dalam beramal, dengan taufik Allah ia terlepas dari segala perbuatan dosa besar maupun dosa kecil. Ayat-ayat selanjutkan menjelaskan tentang doa nabi Ibrahim as.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’ara Ayat 83-89

Surah Asy-Syu’ara Ayat 83
رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

Terjemahan: (Ibrahim berdoa): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh,

Tafsir Jalalain: رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا (Ya Rabbku! Berikanlah kepadaku hikmah) yakni ilmu وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ (dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh) golongan para nabi.

Tafsir Ibnu Katsir: Ini merupakan permintaan Ibrahim as. agar Rabb-nya memberikan hikmah. Ibnu ‘Abbas berkata: “[Hikmah] yaitu ilmu.”
As-Suddi berkata: “[Hikmah] yaitu kenabian.” وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ (“dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih.”) yaitu jadikanlah aku bersama golongan orang-orang yang shalih di dunia dan di akhirat,

sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda di saat sakaratul maut: “Ya Allah jadikanlah aku beserta-Mu teman [Rabb] Yang Mahatinggi.” Beliau mengucapkan sebanyak tiga kali. (Muttafaq ‘alaiHi)

Tafsir Kemenag: Ibrahim bermohon agar dianugerahi hikmah. Hikmah berarti ilmu pengetahuan yang diamalkan dengan baik. Dalam hubungannya dengan kepribadian orang yang saleh, hikmah diartikan sebagai petunjuk Tuhan dalam beramal, dengan taufik Allah ia terlepas dari segala perbuatan dosa besar maupun dosa kecil.

Sementara itu ahli tafsir yang lain ada yang mengartikan hikmah dengan perlakuan yang adil terhadap sesama manusia dalam memutuskan suatu perkara. Dalam kaitannya dengan doa Ibrahim ini, hikmah ditafsirkan sebagai pengetahuan tentang sifat-sifat ketuhanan dan ilmu pengetahuan tentang kebenaran yang akan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, beliau berdoa pula agar dimasukkan ke dalam lingkungan orang-orang yang baik-baik, dan pada golongan yang senantiasa bertawakal kepada-Nya. Permohonan tersebut dikabulkan oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam ayat lain: Dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang saleh. (al-Baqarah/2: 130)

Diriwayatkan dalam sebuah hadis, Rasulullah berdoa seperti doa Nabi Ibrahim, yakni: “Ya Allah, matikanlah kami dalam keadaan muslim, hidupkanlah kami dalam keadaan muslim, dan masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang saleh, bukan golongan orang-orang yang hina dan tertimpa musibah (fitrah).” (Riwayat Ahmad dari Rifa’ah bin Rafi’).

Tafsir Quraish Shihab: Kemudian Ibrahim ‘alaihis salam. memanjatkan doa, “Ya Tuhanku, anugerahilah kesempurnaan ilmu dan amal kepadaku, sehingga–dari sekian banyak hamba-Mu–aku layak mengemban risalah dan hikmah. Dan terimalah diriku untuk berada dalam golongan orang yang saleh.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 84
وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ

Terjemahan: dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian,

Tafsir Jalalain: وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ (Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik) pujian yang baik فِي الْآخِرِينَ (bagi orang-orang yang datang kemudian) maksudnya orang-orang yang datang sesudahku hingga hari kiamat.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya tentang doa Ibrahim: وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ (“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang [yang datang] kemudian.”) yakni jadikanlah untukku sebutan yang indah setelahku sebagai kenangan bagiku dan tauladan dariku dalam kebaikan.
Mujahid dan Qatadah berkata: وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ (“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang [yang datang] kemudian.”) yakni pujian yang baik.

Mujahid berkata seperti firman-Nya: “Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia.” (an-Nahl: 122). Al-Laits bin Abu Sulaim berkata: “Lisaana shidqin yaitu millah yang dicintai dan diikuti, demikian komentar ‘Ikrimah.”

Tafsir Kemenag: Selanjutnya Ibrahim berdoa agar nama baik beliau menjadi buah bibir yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian, sehingga beliau menjadi suri teladan yang utama sampai hari Kiamat, ini pun dikabulkan Allah, sebagaimana firman-Nya:

Baca Juga:  Surah Muhammad Ayat 1-3; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, “Selamat sejahtera bagi Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (as-saffat/37: 108-110).

Janji Allah dalam ayat di atas dibuktikan kebenarannya dalam lembaran sejarah kenabian. Banyak sekali dari keturunan Nabi Ibrahim yang menjadi nabi dan rasul Allah, baik dari keturunan Ismail ataupun dari keturunan Ishak. Agama-agama besar di dunia (Islam, Kristen dan Yahudi) masing-masing menggolongkan agamanya kepada Nabi Ibrahim.

Oleh sebab itu, beliau dimuliakan dan dihormati oleh berbagai agama menurut caranya masing-masing. Berdasarkan keterangan ini, wajarlah andaikata mereka menganggap Ibrahim adalah seorang Yahudi (menurut pengakuan orang Yahudi). Demikian

lah pula halnya Ibrahim dipandang sebagai orang Nasrani (menurut kepercayaan agama Nasrani), sebab Isa Almasih putra Maryam juga masih keturunan Nabi Ibrahim. Tegasnya dalam sejarah kenabian, ia dianggap sebagai bapak para nabi. Akan tetapi, semua dugaan bahwa Ibrahim penganut Yahudi atau penganut agama tertentu tidak benar. Al-Qur’an membantah keyakinan demikian:

Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, muslim dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik. (ali ‘Imran/3: 67)

Adapun pengertian buah tutur yang baik dalam doa ini ialah Nabi Muhammad. Beliau memang keturunan Nabi Ibrahim (dari pihak Ismail) yang terakhir yang diangkat sebagai nabi dan rasul. Risalah Nabi Muhammad (dan juga para nabi) adalah risalah agama tauhid. Rasulullah sendiri dalam sebuah hadis mengatakan: Aku ini (pelaksanaan bagi terkabulnya) doa Ibrahim. (Riwayat Muslim dari ‘Aisyah)

Pada hakikatnya agama yang disampaikan Nabi Muhammad merupakan lanjutan dari ajaran yang disampaikan Nabi Ibrahim.

Tafsir Quraish Shihab: Dan jadikanlah diriku sebagai buah bibir yang baik dan kesan yang indah bagi umat-umat yang datang setelah aku, sehingga keharumanku tetap tercatat sampai hari kiamat nanti.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 85
وَاجْعَلْنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ

Terjemahan: dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan,

Tafsir Jalalain: وَاجْعَلْنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ (Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan) yakni di antara orang-orang yang memperolehnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah Ta’ala: وَاجْعَلْنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ (“Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga dan kenikmatan.”) yakni berikanlah nikmat kepadaku di dunia dengan kekalnya sebutan indah diriku sepeninggalanku. Dan di akhirat Engkau jadikan aku termasuk pewaris Jannah yang penuh kenikmatan.

Tafsir Kemenag: Setelah Nabi Ibrahim memohon pahala keduniawian, yakni dengan dijadikan nama baiknya sebagai suri teladan bagi orang-orang sesudahnya, ia pun berdoa pula agar menikmati balasan amalnya di akhirat. Yakni nikmat kesenangan surga beserta orang-orang yang diperkenankan masuk ke dalamnya.

Ungkapan ayat ini memakai kata-kata “yang mewarisi surga”, karena diserupakan dengan kesenangan yang diperoleh seorang raja dalam kerajaan yang diwarisi dari bapaknya.

Tafsir Quraish Shihab: Masukkanlah aku ke dalam golongan hamba-Mu yang dianugerahi kenikmatan surga, sebagai balasan dari keimanan dan ibadah mereka kepada-Mu.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 86
وَاغْفِرْ لِأَبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ

Terjemahan: dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat,

Tafsir Jalalain: وَاغْفِرْ لِأَبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ (Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk orang-orang yang sesat) umpamanya, Engkau memberikan jalan bertobat kepadanya, lalu Engkau mengampuninya. Doa ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim sebelum jelas baginya, bahwa dia adalah musuh Allah, sebagaimana yang telah diterangkan dalam surah Al Bara’ah atau surah At Taubah.

Tafsir Ibnu Katsir: وَاغْفِرْ لِأَبِي (“dan ampunilah bapakku.”) seperti firman-Nya: rabbanaghfirlii wa liwaalidayya (“Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku.”) (Ibrahim: 41). Ini adalah hal yang telah diralat oleh Ibrahim as. sebagaimana firman Allah yang artinya:

Baca Juga:  Surah Hud Ayat 45-47; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

“Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, Maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi Penyantun.” (at-Taubah: 114)

Sesungguhnya Allah telah menghalangi sampainya permohonan ampunan Ibrahim as. untuk ayahnya. Allah berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka:

“Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. kecuali Perkataan Ibrahim kepada bapaknya[1470]:

“Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah Kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah Kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah Kami kembali.” (Mumtahanah: 4)

Tafsir Kemenag: Kemudian ia berdoa pula untuk kesejahteraan dan keselamatan bapaknya (azar) yang tetap musyrik. Namun setelah Nabi Ibrahim mengetahui bahwa ayahnya adalah musuh Allah karena menyekutukan-Nya, akhirnya Ibrahim berlepas diri dari ayahnya. Firman Allah:

Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya. Maka ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sungguh, Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (at-Taubah/9: 114).

Tafsir Quraish Shihab: Jadikanlah bapakku sebagai orang yang layak mendapatkan ampunan-Mu, dengan memberi petunjuk kepadanya untuk memeluk Islam. (Dahulu, saat perpisahan, Ibrahim menjanjikan bapaknya dapat masuk Islam). Sebab, ia adalah salah seorang yang menyimpang dari petunjuk dan kebenaran.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 87
وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ

Terjemahan: dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan,

Tafsir Jalalain: وَلَا تُخْزِنِي (Dan janganlah Engkau hinakan aku) janganlah Engkau jelek-jelekkan aku يَوْمَ يُبْعَثُونَ (pada hari mereka dibangkithan) di hari semua manusia dibangkitkan.

Tafsir Ibnu Katsir: وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ (“Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.”) yaitu peliharalah aku dari kehinaan di hari kiamat dan di hari seluruh makhluk dibangkitkan dari awal hingga akhir.

Al-Bukhari berkata pada ayat ini: Ibrahim bin Thuhman berkata dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Pada hari kiamat Ibrahim melihat ayahnya dalam keadaan tertutup debu dan debu.”

Di dalam riwayat lain dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Pada hari kiamat Ibrahim berjumpa ayahnya dan berkata: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya Engkau telah berjanji kepadaku untuk tidak menghinakanku pada hari berbangkit.’ Maka Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengharamkan jannah bagi orang-orang kafir.’”

Tafsir Kemenag: Selanjutnya Ibrahim bermunajat kepada Allah agar ia tidak mengalami penghinaan di hari Kiamat kelak. Ini memberi kesan betapa rendah hatinya seorang nabi, sekalipun ia telah memperoleh derajat yang begitu tinggi di sisi Allah, namun ia masih bermohon agar tidak dihinakan pada hari Kiamat.

Ibrahim mengadu kepada Tuhan seraya berkata, “Wahai Tuhan, bukankah engkau telah menjanjikan bahwa aku tidak akan dihinakan di hari Kiamat. Manakah penghinaan yang lebih berat lagi rasanya bagiku daripada penghinaan bertemu dengan bapakku dalam keadaan begini?” Allah merespon doanya dengan berfirman, “Hai Ibrahim, sesungguhnya aku haramkan surga bagi orang-orang kafir.”.

Tafsir Quraish Shihab: Janganlah Engkau mempermalukan dan membuat aku terhina di hadapan manusia pada hari dibangkitkannya manusia dari kubur untuk mendapatkan perhitungan dan balasan.

Baca Juga:  Surah Asy-Syu'ara Ayat 136-140; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah Asy-Syu’ara Ayat 88
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ

Terjemahan: (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,

Tafsir Jalalain: Yang pada hari itu Allah berfirman, يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (“Di hari ini harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna) bagi seorang pun.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (“[yaitu] di hari harta dan anak-anak lelaki tidak berguna.”) yakni harta seseorang tidak dapat menjaga dirinya dari adzab Allah, sekalipun dia menebusnya dengan emas sepenuh bumi.

وَلَا بَنُونَ (“tidak pula anak-anak”) yakni sekalipun ia menebusnya dengan seluruh penghuni bumi. Saat itu tidak ada yang bermanfaat kecuali beriman kepada Allah, memurnikan ketundukan kepada-Nya dan membebaskan diri dari perilaku syirik dan para penganutnya.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan tentang kehebatan hari Kiamat. Tiada yang selamat pada hari itu dari siksaan Allah, kecuali orang yang bebas dari dosa dan kesalahan. Harta dan anak keturunan yang dimiliki waktu di dunia tidak satu pun yang bisa menolong.

Secara khusus Allah menyebutkan “anak” dalam ayat ini, karena anak-anak itulah yang paling dekat dan paling banyak memberi manfaat kepada orang tuanya di dunia. Pada ayat lain, Allah menerangkan bahwa anak-anak adalah harta perhiasan kehidupan keduniawian. Sebaliknya amal yang saleh dan baik pahalanya akan kekal sampai kiamat.

Ketika Allah menurunkan ayat tentang emas dan perak (Surah at-Taubah/9: 34), para sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang harta apakah yang sebaiknya dimiliki agar mendatangkan faedah (untuk kehidupan ukhrawi). Rasulullah menjawab:

(Kekayaan) yang paling baik ialah lidah yang selalu zikir kepada Allah, hati yang senantiasa bersyukur, dan istri yang saleh menolong suaminya tetap beriman.” (Riwayat Ahmad dan at-Tirmidzi dari sauban)

Tafsir Quraish Shihab: Pada hari ketika harta yang dikeluarkan dan pertolongan anak keturunan tidak berguna lagi.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 89
إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Terjemahan: kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,

Tafsir Jalalain: إِلَّا (Kecuali) lain halnya dengan مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”) dari syirik dan munafik, yang dimaksud adalah hati orang Mukmin, maka sesungguhnya imannya itu dapat memberi manfaat kepada dirinya.

Tafsir Ibnu Katsir: Untuk itu Dia berfirman: إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (“Kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”) yaitu selamat dari kotoran dan syirik.

Ibnu Sirin berkata: “Qalbun salim; yaitu ia mengetahui bahwa Allah swt. adalah haq dan sesungguhnya hari kiamat tidak ragu lagi pasti akan tiba, serta Allah akan membangkitkan para penghuni kubur.”

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa kesenangan yang bakal diperoleh di akhirat, tidak dapat dibeli dengan harta yang banyak. Juga tidak mungkin ditukar dengan anak dan keturunan yang banyak. Sebab masing-masing manusia hanya diselamatkan oleh amal dan hatinya yang bersih. Tetapi orang yang diselamatkan hanyalah mereka yang akidahnya bersih dari unsur-unsur kemusyrikan dan akhlaknya mulia.

Tafsir Quraish Shihab: Kecuali bagi mereka yang beriman dan mengharap Allah dengan jiwa yang bersih dari kekufuran, kemunafikan dan sikap pamer.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Asy-Syu’ara Ayat 83-89 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky Syafri
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi, menyedekahkan sebagian harta kamu di Jalan Dakwah

DONASI SEKARANG