Surah Az-Zukhruf Ayat 81-89; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Az-Zukhruf Ayat 81-89

Pecihitam.org – Kandungan Surah Az-Zukhruf Ayat 81-89 ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk mengatakan kepada orang-orang musyrik Mekah, bahwa seandainya ar-Rahman, Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak dan mereka dapat membuktikan kebenarannya dengan alasan-alasan yang kuat, maka Nabi Muhammad adalah orang pertama yang mengakui dan mengagungkan-Nya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kesucian Allah dari anggapan orang-orang musyrik itu dengan menyatakan, “Mahasuci Allah yang memiliki langit dan bumi beserta semua yang ada di dalamnya, Dia memiliki ‘Arsy yang agung, mustahil bagi Allah mempunyai seorang anak seperti yang dikatakan mereka.”.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Az-Zukhruf Ayat 81-89

Surah Az-Zukhruf Ayat 81
قُلۡ إِن كَانَ لِلرَّحۡمَٰنِ وَلَدٌ فَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡعَٰبِدِينَ

Terjemahan: Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu).

Tafsir Jalalain: قُلۡ إِن كَانَ لِلرَّحۡمَٰنِ وَلَدٌ (Katakanlah! Jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak) seumpamanya فَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡعَٰبِدِينَ (maka akulah orang yang mula-mula menyembahnya) menyembah anak Tuhan itu, akan tetapi telah ditetapkan, bahwa tiada anak bagi-Nya, sehingga tiada pula penyembahan itu.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: قُلۡ (“Katakanlah”) hai Muhammad. إِن كَانَ لِلرَّحۡمَٰنِ وَلَدٌ فَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡعَٰبِدِينَ (“Jika benar [Rabb] Yang Mahapemurah mempunyai anak, maka akulah [Muhammad] yang mula-mula memuliakan [anak itu].”) yaitu seandainya memang demikian, niscaya aku akan menyembahnya, karena aku adalah seorang hamba di antara hamba-hamba-Nya yang menaati seluruh apa yang diperintahkan-Nya kepadaku, tidak ada kesombongan dan keengganan sedikitpun dariku.

Seandainya pengandaian ini terjadi, niscaya itulah yang terjadi, akan tetapi tentu saja hal itu mustahil bagi hak Allah Ta’ala. Syarat itu tidak pasti dan juga tidak boleh terjadi. Sebagaimana Allah berfirman: “Kalau sekirannya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan-Nya. Dia-lah Allah Yang Mahaesa lagi Mahamengalahkan.” (az-Zummar: 4)

Dikatakan bahwa kata “in” di sini bukan sebagai syarat, akan tetapi sebuah nafyu [penolakan], sebagaimana ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah: قُلۡ إِن كَانَ لِلرَّحۡمَٰنِ وَلَدٌ (“Katakanlah: jika benar [Rabb] yang Mahapemurah mempunyai anak.”) yaitu Allah Yang Maharahman tidaklah memiliki anak dan aku orang yang pertama-tama bersaksi.”

Mujahid berkata: فَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡعَٰبِدِينَ (“Maka akulah [Muhammad] orang yang mula-mula memuliakan [anak itu].”) yaitu orang yang pertama mengabdi dan mengesakan-Nya, serta orang yang pertama-tama mendustakan kalian.” Al-Bukhari berkata: فَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡعَٰبِدِينَ (“Maka akulah [Muhammad] orang yang mula-mula memuliakan [anak itu].”) yaitu tunduk kepadanya.”

As-suddi berkata: قُلۡ إِن كَانَ لِلرَّحۡمَٰنِ وَلَدٌ فَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡعَٰبِدِينَ (“Katakanlah: jika benar [Rabb] yang Mahapemurah mempunyai anak. Maka akulah [Muhammad] orang yang mula-mula memuliakan [anak itu].”) yaitu, seandainya Dia memiliki anak, maka akulah yang pertama menyembahnya, tetapi Dia tidak memiliki anak.” Pendapat ini yang dipilih oleh Ibnu Jarir, ia menyebutkan ucapan yang mengatakan bahwa kata “in” adalah nafyu (penolakan).

Tafsir Kemenag: Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk mengatakan kepada orang-orang musyrik Mekah, bahwa seandainya ar-Rahman, Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak dan mereka dapat membuktikan kebenarannya dengan alasan-alasan yang kuat, maka Nabi Muhammad adalah orang pertama yang mengakui dan mengagungkan-Nya,

sebagaimana orang memuliakan anak seorang raja karena memuliakan bapaknya. Pendapat ini berdasar karena bahwa anak tuhan merupakan bagian dari Tuhan, karena itu kedudukan putranya itu sama dengan kedudukan-Nya sendiri.

Pengertian di atas menunjukkan suatu penegasan bahwa hal tersebut sangat mustahil bagi Allah. Firman Allah: Sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang Dia kehendaki dari apa yang telah diciptakan-Nya. Mahasuci Dia. Dialah Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa. (az-Zumar/39: 4).

Tafsir Quraish Shihab: Katakanlah kepada orang-orang musyrik, “Jika terbukti benar bahwa Tuhan Yang Maha Pemurah itu mempunyai anak, maka aku adalah orang pertama yang akan menyembah anak Tuhan itu. Tetapi alasan mereka bahwa Tuhan Sang Pemurah itu mempunyai anak, tidak terbukti benar karena begitu lemahnya. Allah Swt. Mahasuci dari segala kekurangan. Dia memiliki segala sifat sempurna.”

Surah Az-Zukhruf Ayat 82
سُبۡحَٰنَ رَبِّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبِّ ٱلۡعَرۡشِ عَمَّا يَصِفُونَ

Terjemahan: Maha Suci Tuhan Yang empunya langit dan bumi, Tuhan Yang empunya ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu.

Tafsir Jalalain: سُبۡحَٰنَ رَبِّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبِّ ٱلۡعَرۡشِ (Maha Suci Rabb Yang empunya langit dan bumi, Rabb Yang empunya Arasy) yakni Al-Kursi عَمَّا يَصِفُونَ (dari apa yang mereka sifatkan) dari apa yang telah mereka katakan itu, berupa kedustaan terhadap-Nya, yaitu menisbatkan kepada-Nya mempunyai anak.

Tafsir Ibnu Katsir: Untuk itu Allah berfirman: سُبۡحَٰنَ رَبِّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبِّ ٱلۡعَرۡشِ عَمَّا يَصِفُونَ (“Mahasuci Rabb Yang mempunyai langit dan bumi, Rabb Yang mempunyai ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu.”) yaitu, Mahatinggi lagi Mahakudus dan suci –Pencipta segala sesuatu- dari memiliki anak, karena Dia Mahaesa, segala sesuatu bergantung kepada-Nya, tidak ada yang sebanding dan semisal dengan-Nya, sehingga Dia tidak memiliki anak.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menyatakan kesucian Allah dari anggapan orang-orang musyrik itu dengan menyatakan, “Mahasuci Allah yang memiliki langit dan bumi beserta semua yang ada di dalamnya, Dia memiliki ‘Arsy yang agung, mustahil bagi Allah mempunyai seorang anak seperti yang dikatakan mereka.”.

Tafsir Quraish Shihab: Sungguh Mahasuci, Sang Pencipta langit dan bumi, Tuhan pencipta arasy yang mahamegah, dari semua yang digambarkan oleh orang-orang musyrik mengenai sesuatu yang tidak pantas bagi-Nya.

Surah Az-Zukhruf Ayat 83
فَذَرۡهُمۡ يَخُوضُواْ وَيَلۡعَبُواْ حَتَّىٰ يُلَٰقُواْ يَوۡمَهُمُ ٱلَّذِى يُوعَدُونَ

Terjemahan: Maka biarlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) dan bermain-main sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka.

Baca Juga:  Surah Asy-Syu'ara Ayat 221-227; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Jalalain: فَذَرۡهُمۡ يَخُوضُواْ (Maka biarlah mereka tenggelam) dalam kesesatannya atau dalam kebatilannya وَيَلۡعَبُواْ (dan bermain-main) di dalam dunia mereka حَتَّىٰ يُلَٰقُواْ يَوۡمَهُمُ ٱلَّذِى يُوعَدُونَ (sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka) yaitu azab yang dijanjikan kepada mereka pada hari kiamat nanti.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: فَذَرۡهُمۡ يَخُوضُواْ (“Maka, biarkanlah mereka tenggelam.”) dalam kebodohan dan kesesatan mereka. وَيَلۡعَبُواْ (“dan bermain-main”) di dalam dunia mereka. حَتَّىٰ يُلَٰقُواْ يَوۡمَهُمُ ٱلَّذِى يُوعَدُونَ (“Sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka.”) yaitu hari kiamat. Artinya mereka akan mengetahui bagaimana tempat kembali, tempat tinggal dan kondisi mereka pada hari itu.

Tafsir Kemenag: Karena orang-orang musyrik itu tidak mau mengubah kepercayaan mereka yang batil dan sesat itu, maka Allah menyampaikan pesan kepada Rasulullah, “Ya Muhammad, biarkanlah orang-orang yang membuat dusta tentang Allah dengan mengatakan bahwa Dia mempunyai anak, membincangkan kebohongan mereka dan biarkanlah mereka hidup bersenang-senang dalam kekafiran di dunia ini, sampai datang azab yang dijanjikan Allah kepada mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Oleh karena itu, biarkan mereka tenggelam dalam kebatilan dan bermain-main dengan dunia mereka–dengan tidak bersungguh-sungguh–dan jangan menoleh kepada mereka sampai datang hari kiamat yang dijanjikan agar dibalas semua perbuatan semua orang.

Surah Az-Zukhruf Ayat 84
وَهُوَ ٱلَّذِى فِى ٱلسَّمَآءِ إِلَٰهٌ وَفِى ٱلۡأَرۡضِ إِلَٰهٌ وَهُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡعَلِيمُ

Terjemahan: Dan Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Tafsir Jalalain: وَهُوَ ٱلَّذِى فِى ٱلسَّمَآءِ إِلَٰهٌ (Dan Dialah Tuhan yang disembah di langit) lafal Fis Samaa-i Ilaahun kedua huruf Hamzahnya dapat dibaca Tahqiq dan Tas-hil, yakni Tuhan yang disembah di langit وَفِى ٱلۡأَرۡضِ إِلَٰهٌ (dan Tuhan yang disembah di bumi) kedua Zharaf yang ada dalam ayat ini berta’alluq kepada lafal sesudahnya وَهُوَ ٱلۡحَكِيمُ (dan Dialah Yang Maha Bijaksana) di dalam mengatur makhluk-Nya ٱلۡعَلِيمُ (lagi Maha Mengetahui) kemaslahatan-kemaslahatan mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَهُوَ ٱلَّذِى فِى ٱلسَّمَآءِ إِلَٰهٌ وَفِى ٱلۡأَرۡضِ إِلَٰهٌ (“Dan Dia-lah Ilah [yang diibadahi] di langit dan Ilah [yang diibadahi] di bumi.”) artinya, Dia-lah Ilah yang ada di langit dan Ilah yang ada di bumi, dimana para penghuninya mengabdi kepada-Nya. Mereka seluruhnya tunduk dan rendah di hadapan-Nya.

وَهُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡعَلِيمُ (“Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Mahamengetahui.”) ayat ini seperti firman Allah: “Dan Dia-lah Allah [yang diibadahi], baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui [pula] apa yang kamu usahakan.” (al-An’am: 3). Yaitu, Dia-lah Allah Yang diseru di langit dan di bumi.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini ditegaskan lagi kemustahilan Allah mempunyai anak dengan menyatakan, “Hanya Dialah yang disembah oleh penghuni langit dan penghuni bumi, hanya Dia sajalah yang berhak disembah, tidak ada yang lain, karena Dialah Tuhan yang segala tindakan-Nya mempunyai hikmah dalam menciptakan dan melakukan sesuatu sesuai dengan sifat, guna dan faedahnya, dan hanya Dia pula yang Maha Mengetahui keadaan mereka, baik yang nampak maupun yang tidak nampak, dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati manusia.

Dalam ayat ini disebutkan dua macam sifat Allah yaitu hakim dan ‘alim. Bila Allah mempunyai sifat hakim dan ‘alim, tentulah putra-Nya mempunyai sifat-sifat itu pula. Namun jika diperhatikan sifat-sifat yang dipunyai oleh yang mereka katakan anak Tuhan itu, ternyata sifatnya berbeda dengan sifat-sifat Tuhan.

Sebagaimana patung-patung al-Lata, al-Uzza dan Manat yang disembah oleh orang-orang musyrik Mekah, semuanya adalah benda-benda mati yang tidak dapat berbuat dan mengetahui sesuatu pun. Demikian pula Nabi Isa yang dipercayai sebagai anak Allah oleh orang Nasrani, padahal orang Nasrani sendiri mengakui bahwa Isa itu kadang-kadang tidak mengetahui dan tidak mempunyai hikmah dalam melakukan segala tindakan-tindakannya. Bukanlah Isa pernah menangis ketika mendengar berita terbunuhnya seseorang yang tidak bersalah sehingga ia minta kepada pengikut-pengikutnya supaya menunjukkan kuburan orang yang terbunuh itu. Sifat yang demikian tentu tidak wajar pada seseorang yang diyakini sebagai putra Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Dialah Tuhan yang disembah di langit dan di bumi dengan sebenarnya. Hanya Dialah yang mempunyai hikmah amat sempurna dalam perbuatan dan kebijaksanaan-Nya, dan yang ilmu-Nya meliputi segala yang telah lalu dan yang akan datang.

Surah Az-Zukhruf Ayat 85
وَتَبَارَكَ ٱلَّذِى لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا وَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ

Terjemahan: Dan Maha Suci Tuhan Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nya-lah pengetahuan tentang hari kiamat dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

Tafsir Jalalain: وَتَبَارَكَ (Dan Maha Besar) Maha Agung ٱلَّذِى لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا وَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ (Tuhan Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat) yakni kapan ia akan terjadi وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ (dan hanya kepada-Nyalah kalian dikembalikan) lafal Turja’uuna dapat pula dibaca Yurja`uuna; berdasarkan qiraat kedua maka artinya: Dan hanya kepada-Nyalah mereka dikembalikan.

Tafsir Ibnu Katsir: وَتَبَارَكَ ٱلَّذِى لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا (“Dan Mahasuci [Rabb] Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya.”) Dia-lah Mahapencipta, Pemilik dan Pengatur keduanya, tanpa ada yang menolak dan membangkang.

Mahasuci serta Mahatinggi Allah dari memiliki anak. Tabaaraka; artinya, telah pasti keselamatan bagi-Nya dari berbagai cacat dan kekurangan karena Dia adalah Rabb Yang Mahatinggi lagi Mahabesar, Pemilik segala sesuatu yang di tangan-Nya berbagai urusan, baik dibatalkan atau dilanjutkan.

Baca Juga:  Surah Az-Zukhruf Ayat 9-14; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

وَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ (“Dan di sisi-Nya lah pengetahuan tentang hari kiamat.”) yaitu tidak ada yang mengetahui waktunya kecuali Dia. وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ (“Dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.”) lalu, semuanya dibalas sesuai dengan amalnya. Jika baik, akan dibalas dengan kebaikan. Dan jika buruk akan dibalas dengan keburukan.

Tafsir Kemenag: Mahasuci Allah yang memiliki dan menguasai kerajaan langit dan bumi beserta semua isinya, dan alam-alam lain yang tidak atau belum diketahui hakikat dan keadaannya. Dialah yang mempunyai pengetahuan tentang hari Kiamat. Tidak seorang pun yang mengetahui kapan terjadinya hari Kiamat itu. Kepada-Nyalah kembali segala sesuatu, kemudian Dia membalas semua amal perbuatan manusia dengan balasan yang setimpal.

Tafsir Quraish Shihab: Hanya Dialah yang Mahatinggi dan Mahabesar. Dia memiliki hak penuh untuk mengatur langit dan bumi dengan segala isinya, dan mengatur ruang antara langit dan bumi dengan segala makhluknya, baik yang dapat disaksikan maupun yang tidak dapat disaksikan. Dialah yang mengatur semua itu. Hanya Dia yang memiliki pengetahuan tentang datangnya hari kiamat. Hanya kepada-Nyalah kalian semua akan dikembalikan di akhirat untuk dihisab.

Surah Az-Zukhruf Ayat 86
وَلَا يَمۡلِكُ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِهِ ٱلشَّفَٰعَةَ إِلَّا مَن شَهِدَ بِٱلۡحَقِّ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

Terjemahan: Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya).

Tafsir Jalalain: وَلَا يَمۡلِكُ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ (Dan tidaklah memiliki apa-apa yang mereka seru) yang mereka sembah, dimaksud adalah orang-orang kafir pelakunya مِن دُونِهِ (selain Dia) selain Allah ٱلشَّفَٰعَةَ (suatu syafaat pun) bagi seseorang إِلَّا مَن شَهِدَ بِٱلۡحَقِّ (tetapi yang dapat memberi syafaat ialah orang yang mengakui yang hak) yakni orang yang telah mengatakan, “Laa Ilaaha Illallaah”/tiada Tuhan selain Allah.

وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ (dan mereka mengetahui) apa yang mereka akui dengan kalbunya, yaitu yang telah diucapkan oleh lisannya. Yang dimaksud antara lain ialah Nabi Isa, Nabi Uzair dan malaikat-malaikat, sesungguhnya mereka dapat memberi syafaat kepada orang-orang yang beriman.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَلَا يَمۡلِكُ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِهِ (“Dan tidaklah sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Dia.”) yaitu patung-patung dan berhala-berhala itu. ٱلشَّفَٰعَةَ (“dapat memberikan syafaat”) yaitu tidak mampu memberikan syafaat kepada mereka. إِلَّا مَن شَهِدَ بِٱلۡحَقِّ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ (“Akan tetapi [orang yang dapat memberi syafaat ialah] orang yang mengakui yang haq [tauhid] dan mereka meyakini[nya].”)

ini adalah istisna munqathi’ [pengecualian yang betul-betul kuat]. Artinya, akan tetapi syafaat orang yang mengakui kebenaran dengan ilmu pengetahuan yang mendalam dapat bermanfaat dengan izin Allah.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa semua berhala dan dewa-dewa disembah oleh orang-orang musyrik untuk mendapat syafaatnya, padahal berhala itu tidak kuasa berbuat dan tidak memiliki sesuatu pun, bahkan mereka itu sendiri dikuasai dan dimiliki oleh penyembah-penyembahnya. Mungkinkah mereka memberikan syafaat dalam keadaan demikian?

Adapun orang-orang yang mengucapkan kalimat tauhid, memahami serta meyakininya, ia berjalan sesuai dengan petunjuk Allah, seperti malaikat, Nabi Isa, maka syafaat mereka berfaedah di sisi Allah, dan Allah akan memberikan syafaat kepada orang-orang yang pantas menerimanya.

Sa’id bin Jubair berkata, “Maksud ayat ini ialah: berhala-berhala itu tidak memberi syafaat sedikit pun, yang bisa memberi syafaat itu hanyalah orang yang mengakui kebenaran, beriman kepada Allah berdasarkan ilmu yang dipelajari, dan pandangannya yang jauh.

Tafsir Quraish Shihab: Tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafaat untuk orang-orang yang menyembahnya. Tetapi orang-orang yang mengesakan Tuhan dan yakin bahwa Allah adalah Tuhan mereka yang sebenarnya, akan dapat memberikan syafaat terhadap orang-orang Mukmin yang dikehendaki Allah.

Surah Az-Zukhruf Ayat 87
وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَهُمۡ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ فَأَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ

Terjemahan: Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?,

Tafsir Jalalain: وَلَئِن (Dan sungguh jika) huruf Lam di sini bermakna Qasam سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَهُمۡ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ (kamu bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan mereka?” Niscaya mereka menjawab, “Allah”) lafal Layaquulunna dibuang daripadanya Nun alamat Rafa’ dan Wawu Dhamir jamak, karena asalnya adalah Layaquuluunanna فَأَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ (maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan) sehingga mereka tidak mau menyembah Allah?.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَهُمۡ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ فَأَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ (“Dan sungguh, jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’ Niscaya mereka menjawab: ‘Allah.’”) artinya mereka mengakui bahwa Dia-lah Pencipta segala sesuatu, Dia Mahaesa, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Akan tetapi, walaupun demikian mereka mengabdi kepada ilah lain yang tidak memiliki apapun dan tidak mempunyai kemampuan sedikitpun. Dengan demikian, mereka benar-benar berada dalam kebodohan, kepandiran dan kelemahan akal yang amat nyata. Untuk itu Allah berfirman: فَأَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ (“Maka, bagaimanakah mereka dapat dipalingkan [dari beribadah kepada Allah]?”)

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini diterangkan bahwa perkataan dan perbuatan orang-orang musyrik itu saling bertentangan. Jika ditanyakan kepada mereka, siapakah yang menciptakan seluruh makhluk ini, maka mereka menjawab dan mengakui, “Hanya Allah sajalah yang menciptakannya, tidak berserikat dengan seorang pun.”

Mereka tidak sanggup membantah kenyataan itu, tetapi perbuatan dan tindakan mereka membuktikan bahwa mereka mempersekutukan Allah. Mengapa orang-orang musyrik itu berpaling sehingga menyembah selain Allah atau hanya menyembah Allah saja sesuai dengan pengakuan mereka. Hal tersebut menunjukkan kebodohan mereka.

Baca Juga:  Surah An-Nisa Ayat 105-109; Seri Tadabbur Al Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Jika kamu, wahai Muhammad, bertanya kepada orang-orang musyrik tentang siapa yang menciptakan mereka, mereka tentu akan menjawab, “Allah.” Lalu mengapa mereka berpaling untuk menyembah tuhan selain Allah dan tidak menyembah-Nya, padahal mereka sendiri mengakui bahwa Allah adalah Tuhan yang menciptakan mereka? Sungguh, hal itu benar-benar aneh!

Surah Az-Zukhruf Ayat 88
وَقِيلِهِۦ يَٰرَبِّ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ قَوۡمٌ لَّا يُؤۡمِنُونَ

Terjemahan: dan (Allah mengetabui) ucapan Muhammad: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman”.

Tafsir Jalalain: وَقِيلِهِۦ (Dan ucapannya) ucapan Nabi Muhammad; dinashabkannya lafal Qiilihi karena menjadi Mashdar yang dinashabkan oleh Fi’ilnya yang Muqaddar atau diperkirakan keberadaannya; yakni, dan berkatalah dia, يَٰرَبِّ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ قَوۡمٌ لَّا يُؤۡمِنُونَ (“Ya Rabbku! Sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman.”).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَقِيلِهِۦ يَٰرَبِّ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ قَوۡمٌ لَّا يُؤۡمِنُونَ (“Dan [Allah mengetahui] ucapan Muhammad: ‘Ya Rabb-ku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman.”) Muhammad saw. berkata dengan ucapannya, yaitu mengadu kepada Rabb-nya tentang kaumnya yang mendustakan dirinya, dimana dia berkata:

“Ya Rabb-ku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman.” Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Mujahid dan Qatadah, dan atas dasar itu Ibnu Jarir menafsirkannya. Al-Bukhari meriwayatkan, ‘Abdullah bin Mas’ud membaca: wa qaalar rasuulu yaa rabbi.

Mujahid berkata tentang firman Allah: وَقِيلِهِۦ يَٰرَبِّ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ قَوۡمٌ لَّا يُؤۡمِنُونَ (“Dan [Allah mengetahui] ucapan Muhammad: ‘Ya Rabb-ku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman.”) yaitu Allah mengedepankan perkataan Muhammad saw. Qatadah berkata:

“Itulah perkataan Nabi kalian saw. yang mengadu tentang kaumnya kepada Rabb-nya. Kemudian dalam firman-Nya: وَقِيلِهِۦ يَٰرَبِّ; Ibnu Jarir menceritakan bahwa ada dua bacaan. Salah satunya dibaca nashab, dimana dia memiliki dua kedudukan, salah satunya ma’thuf [dihubungkan] atas firman Allah Ta’ala:

نَسۡمَعُ سِرَّهُمۡ وَنَجۡوَىٰهُم dan yang kedua adalah takdir fi’il yaitu “wa qaala qiiliHii”. Sedangkan bacaan yang kedua adalah khafadh. Dan kata “qiiliHi” sebagai ‘athaf ats firman-Nya: وَعِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ takdirnya yaitu: wa ‘alima qiiliHii.

Tafsir Kemenag: Muhammad saw berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya orang-orang yang aku seru untuk mengikuti ajaranmu sesuai dengan perintahmu adalah orang-orang yang telah terkunci mati hatinya sehingga mereka tidak mau beriman.”Firman Allah:

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman. (al-Baqarah/2: 6).

Tafsir Quraish Shihab: Aku bersumpah dengan ucapan Muhammad saw. yang meminta pertolongan sambil meratap, “Ya Tuhan,” bahwa para pembangkang itu adalah kaum yang tidak beriman.

Surah Az-Zukhruf Ayat 89
فَٱصۡفَحۡ عَنۡهُمۡ وَقُلۡ سَلَٰمٌ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ

Terjemahan: Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: “Salam (selamat tinggal)”. Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk).

Tafsir Jalalain: Lalu Allah swt. berfirman: فَٱصۡفَحۡ (Maka berpalinglah) artinya palingkanlah dirimu عَنۡهُمۡ وَقُلۡ سَلَٰمٌ (dari mereka dan katakanlah, “Salam”) selamat tinggal bagi kalian. Ayat ini diturunkan sebelum diperintah untuk memerangi mereka فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ (Kelak mereka akan mengetahui) ayat ini mengandung ancaman buat mereka; dan dapat dibaca Ya’lamuuna atau Ta’lamuuna, kalau dibaca Ta’lamuuna artinya, kelak kalian akan mengetahui.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: فَٱصۡفَحۡ عَنۡهُمۡ (“Maka berpalinglah [hai Muhammad] dari mereka.”) yaitu dari orang-orang musyrik. وَقُلۡ سَلَٰمٌ (“Dan katakanlah: ‘Salam [selamat tinggal].’”) yaitu janganlah engkau menjawab mereka –atas apa yang mereka katakan- dengan jawaban yang buruk. Akan tetapi, berlemah lembut dan ma’afkanlah mereka, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan.

فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ (“Kelak mereka akan mengetahui [nasib mereka yang buruk].”) ini merupakan ancaman dari Allah Ta’ala kepada mereka. Untuk itu, mereka ditimpa dengan adzab-Nya yang tidak dapat ditolak serta Dia tinggikan agama dan kalimat-Nya, serta Dia syariatkan jihad dan perjuangan setelah itu, hingga manusia memasuki agama Allah dengan berbondong-bondong, lalu serbarkanlah Islam di seluruh penjuru timur dan barat. wallaaHu a’lam.

Tafsir Kemenag: Setelah Allah mendengar ucapan Rasulullah saw itu, Dia berfirman, “Hai Muhammad, berpalinglah engkau dari mereka, janganlah engkau berputus asa karena keangkuhan mereka untuk beriman, janganlah engkau melayani perkataan-perkataan mereka yang buruk itu, dan tindakan-tindakan yang menghinakanmu dan pengikutmu, maafkanlah mereka, kelak mereka akan mengakui kesalahannya dan merasakan akibat kekafiran mereka.”

Ayat ini merupakan janji Allah kepada kaum Muslimin, dan janji itu ditepati-Nya, dengan penaklukan kota Mekah. Peristiwa tersebut menyebabkan manusia masuk Islam secara berbondong-bondong. Maka tersebarlah agama Islam ke seluruh penjuru dunia dalam waktu yang singkat.

Allah berfirman: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat. (an-Nasr/110: 1-3).

Tafsir Quraish Shihab: Oleh karena itu, berpaling dan tinggalkanlah mereka, hai Muhammad, karena mereka sangat keras kepala. Katakan kepada mereka, “Kami membiarkan kalian bebas dari kami dan kami pun terbenas dari kalian.” Kelak mereka akan mengetahui bahwa mereka sangat merugi akibat sikap keras kepala itu.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Az-Zukhruf Ayat 81-89 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S