Surah Az-Zukhruf Ayat 9-14; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Az-Zukhruf Ayat 9-14

Pecihitam.org – Kandungan Surah Az-Zukhruf Ayat 9-14 ini, Allah menerangkan bahwa Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan dan menyiapkannya bagi makhluk-Nya untuk tempat mereka menetap, berpijak dan mengayunkan kaki.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dia-lah yang menciptakan semua makhluk berpasang-pasangan, laki-laki perempuan, jantan-betina, baik dari jenis tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan, buah-buahan, bunga-bungaan dan lain-lain maupun dari jenis hewan dan manusia.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Az-Zukhruf Ayat 9-14

Surah Az-Zukhruf Ayat 9
وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡعَلِيمُ

Terjemahan: Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”.

Tafsir Jalalain: وَلَئِن (Dan sungguh jika) huruf Lam di sini bermakna Qasam سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ لَيَقُولُنَّ (kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Niscaya mereka akan menjawab,) dari lafal Layaquulunna terbuang Nun alamat Rafa’nya, karena jika masih ada, maka akan terjadilah huruf Nun yang berturut-turut, dan hal ini dinilai jelek oleh orang-orang Arab. Sebagaimana dibuang pula daripadanya Wawu Dhamir jamak, tetapi ‘Illatnya bukan karena bertemunya dua huruf yang disukunkan,

خَلَقَهُنَّ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡعَلِيمُ (“Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”) jawaban terakhir mereka adalah, “Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahuilah yang menciptakan kesemuanya itu.” Selanjutnya Allah swt. menambahkan:.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah bahwa: Sesungguhnya jika engkau, hai Muhammad, bertanya kepada kaum musyrikin itu tentang Allah yang mereka sembah bersama yang lain-Nya; مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡعَلِيمُ (“Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Niscaya mereka akan menjawab:

Semuanya diciptakan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha mengetahui.”) yaitu niscaya mereka mengakui bahwa Mahapencipta semua itu adalah Allah Mahaesa Yang tidak ada sekutu bagi-Nya, walaupun di samping itu mereka menyembah selain Allah berupa patung-patung dan berhala bersama-Nya.

Tafsir Kemenag: Ayat ini ditujukan Allah kepada Rasul-Nya bahwa apabila dia bertanya kepada orang-orang musyrik kaumnya, siapakah yang menjadikan alam semesta seperti langit, bumi dan lainnya, mereka dengan tandas menjawab, bahwa semuanya itu diciptakan oleh Allah, Tuhan yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui segalanya, tidak satu pun yang tersembunyi bagi-Nya. Firman Allah:

Bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan di langit. (Ali ‘Imran/3: 5)

Tafsir Quraish Shihab: Aku bersumpah bahwa jika kamu, Muhammad, bertanya kepada orang-orang kafir itu tentang siapa yang menciptakan langit dan bumi, mereka pasti akan mengatakan bahwa yang menciptakan langit dan bumi adalah Allah yang benar-benar Mahaperkasa dan Maha Mengetahui.

Surah Az-Zukhruf Ayat 10
ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ مَهۡدًا وَجَعَلَ لَكُمۡ فِيهَا سُبُلًا لَّعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ

Terjemahan: Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk.

Tafsir Jalalain: ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ مَهۡدًا (Yang menjadikan bumi untuk kalian sebagai tempat menetap) sebagai hamparan yang mirip dengan ayunan bayi وَجَعَلَ لَكُمۡ فِيهَا سُبُلًا (dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kalian) dilalui لَّعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ (supaya kalian mendapat petunjuk) untuk mencapai tujuan-tujuan di dalam perjalanan kalian.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah berfirman: ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ مَهۡدًا (“Yang menjadikan bumi untukmu sebagai tempat menetap.”) yaitu berupa hamparan yang kokoh, tempat kalian berjalan, berdiri, tidur dan beraktifitas di dalamnya. Walaupun dia diciptakan di atas gelombang air, akan tetapi dia dikokohkan oleh gunung-gunung, agar tidak menggoncangkan.

وَجَعَلَ لَكُمۡ فِيهَا سُبُلًا (“Dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untukmu”) yaitu jalan-jalan yang berada di antara gunung-gunung dan lembah. لَّعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ (“Agar kalian mendapatkan petunjuk.”) dalam menempuh perjalanan kalian dari suatu negeri ke negeri lain, dari satu daerah ke daerah lain dan dari satu benua ke benua lain.

Tafsir Kemenag: Allah menerangkan bahwa Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan dan menyiapkannya bagi makhluk-Nya untuk tempat mereka menetap, berpijak dan mengayunkan kaki, diperlengkapi dengan jalan-jalan agar mereka dapat berkunjung dari satu tempat ke tempat yang lain, baik yang dekat maupun yang jauh untuk kepentingan hidup dan penghidupan, kepentingan ekonomi dan perdagangan, dan lain-lain. Sejalan dengan ayat ini firman Allah: Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan. (an-Naba’/78: 6)

Firman Allah: Dan Kami jadikan (pula) di sana jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. (al-Anbiya’/21: 31).

Tafsir Quraish Shihab: Yatu Tuhan yang menjadikan bumi sebagai tempat yang penuh dengan kemudahan agar kalian dapat bertempat tinggal dan dapat memanfaatkannya, dan yang menciptakan jalan-jalan di atas bumi untuk kalian gunakan dalam perjalanan sehingga kalian pun dapat mencapai tempat tujuan.

Surah Az-Zukhruf Ayat 11
وَٱلَّذِى نَزَّلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءًۢ بِقَدَرٍ فَأَنشَرۡنَا بِهِۦ بَلۡدَةً مَّيۡتًا كَذَٰلِكَ تُخۡرَجُونَ

Terjemahan: Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).

Tafsir Jalalain: وَٱلَّذِى نَزَّلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءًۢ بِقَدَرٍ (Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar) yang diperlukan oleh kalian, dan Dia tidak menurunkannya dalam bentuk hujan yang sangat besar yang disertai dengan angin topan فَأَنشَرۡنَا بِهِۦ بَلۡدَةً مَّيۡتًا كَذَٰلِكَ (lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah) sebagaimana cara menghidupkan itulah تُخۡرَجُونَ (kalian akan dikeluarkan) dari dalam kubur kalian lalu kalian menjadi hidup kembali.

Tafsir Ibnu Katsir: وَٱلَّذِى نَزَّلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءًۢ بِقَدَرٍ (“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar [yang diperlukan].”) yaitu sesuai dengan apa yang diperlukan bagi tanam-tanaman dan buah-buahan, serta untuk minuman kalian dan binatang ternak kalian.

Firman Allah: فَأَنشَرۡنَا بِهِۦ بَلۡدَةً مَّيۡتًا (“Lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati.”) tanah gersang, dimana ketika air datang, dia tumbuh subur dan menumbuhkan setiap pohon yang indah. Kemudian dengan dihidupkannya tanah, Allah Ta’ala mengingatkan tentang dihidupkannya jasad-jasad pada hari kiamat setelah datangnya kematian. Dia berfirman: كَذَٰلِكَ تُخۡرَجُونَ (“Seperti itulah kamu akan dikeluarkan [dari dalam kubur].”)

Tafsir Kemenag: Allah menurunkan hujan dari langit sesuai dengan keperluan untuk menghidup-suburkan tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan. Dia menurunkan hujan tidak lebih dari yang diperlukan sehingga tidak melimpah ruah melampaui batas dan akhirnya menjadi bencana, seperti halnya air bah yang merusak dan membinasakan, dan tidak pula terlalu sedikit sehingga tidak mencukupi kebutuhan untuk kesuburan tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan yang menyebabkan kering dan layu, dan mengakibatkan timbulnya bencana kelaparan yang menimpa makhluk Allah di mana-mana.

Dengan turunnya hujan dari langit sesuai dengan kadar yang diperlukan, maka hidup dan makmurlah negeri yang telah mati yang tidak lagi ditumbuhi tanam-tanaman dan pohon-pohonan. Sebagaimana Allah kuasa menghidupkan negeri yang telah mati, begitu pula Dia kuasa menghidupkan dan mengeluarkan orang-orang mati itu dari kubur dalam keadaan hidup, sebagaimana firman Allah:

Dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air itu dihidupkannya bumi setelah mati (kering). (ar-Rum/30: 24)

Dan firman-Nya: Maka Kami arahkan awan itu ke suatu negeri yang mati (tandus) lalu dengan hujan itu Kami hidupkan bumi setelah mati (kering). Seperti itulah kebangkitan itu. (Fathir/35: 9)

Apa yang dikemukakan oleh ayat ini dibuktikan oleh ilmu pengetahuan yang ditemukan manusia saat ini. Diperkirakan dalam waktu satu detik, sebanyak 16 juta ton air menguap dari bumi. Menggunakan angka ini, maka diperhitungkan akan adanya 513 triliun ton air yang menguap dari bumi dalam setahun. Angka ini ternyata sama dengan perhitungan mengenai jumlah air hujan yang turun dalam setahun.

Baca Juga:  Surah Az-Zukhruf Ayat 15-20; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dengan demikian, air melakukan sirkulasi yang seimbang secara terus-menerus. Kehidupan di bumi sangat bergantung pada keberlanjutan siklus air yang demikian ini. Walaupun banyak teknologi mencoba mengintervensi siklus alami ini, seperti membuat hujan buatan, pada kenyataannya siklus air tidak dapat dibuat secara artifisial.

Proporsi air hujan tidak hanya penting dalam bentuk jumlahnya, tetapi juga kecepatan turunnya butir air hujan [menurut ukuran yang diperlukan]. Kecepatan butir air hujan tidak melebihi kecepatan standar, tidak peduli berapa ukuran butir air hujan itu.

Umumnya butiran air hujan mempunyai diameter 4,5 mm. Kecepatannya sekitar 8 meter per detik. Pada ukuran yang lebih kecil, tentunya kecepatannya lebih rendah. Pada ukuran butiran yang lebih besar dari 4,5 mm, tidak berarti kecepatannya makin tinggi. Kecepatannya tetap, yaitu sekitar 8 meter per detik.

Hal ini disebabkan karena bentuk butiran yang cair itu akan berinteraksi dengan udara dan angin sehingga bentuk butir air itu berubah sedemikian rupa yang mengakibatkan kecepatan jatuhnya menurun dan tidak melebihi kecepatan standar.

Menghidupkan negeri yang mati dengan air (hujan) dari langit telah difirmankan pada Surah Fussilat/41: 39, bahwasanya dengan diturunkan hujan di daerah yang tandus maka daerah tersebut akan (bisa, dengan kehendak Allah) ditumbuhi pepohonan. Pada ayat ini ditekankan bahwa air dari langit diturunkan menurut kadar tertentu.

Kebangkitan manusia setelah alam kubur sering diibaratkan dengan menghidupkan tanah yang tandus dengan air hujan. Perumpamaan ini dapat kita bandingkan dengan tumbuhnya biji-bijian atau spora liar yang terbawa tiupan angin dan terserak di atas tanah yang kering.

Apabila tanah yang kering ini mendapat siraman hujan dengan jumlah yang cukup [menurut ukuran yang diperlukan], maka biji-biji tersebut akan tumbuh menjadi kecambah-kecambah dan kemudian menjadi tumbuhan.

Apabila curah hujan sangat banyak maka biji-bijian atau spora yang menjadi bakal benih tumbuh-tumbuhan akan hanyut terbawa aliran air. Seandainya aliran air tidak sampai menghanyutkan, tetapi bila kadar kelembaban air dalam tanah terlalu berlebih maka biji-bijian tidak akan tumbuh menjadi kecambah, malahan akan membusuk. Semuanya menurut ukuran.

Tafsir Quraish Shihab: Yaitu Tuhan yang yang menurunkan air hujan dari langit sesuai dengan kadar yang dibutuhkan. Dengan air itu, Kami kemudian menghidupkan negeri yang kering kerontang tak bertanaman. Dengan cara menghidupkan seperti itulah kalian akan dihidupkan kembali dari dalam kubur untuk menerima pembalasan. Apakah kalian masih juga mengingkari?

Surah Az-Zukhruf Ayat 12
وَٱلَّذِى خَلَقَ ٱلۡأَزۡوَٰجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلۡفُلۡكِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ مَا تَرۡكَبُونَ

Terjemahan: Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi.

Tafsir Jalalain: وَٱلَّذِى خَلَقَ ٱلۡأَزۡوَٰجَ (Dan Yang menciptakan makhluk yang berpasang-pasangan) berbagai jenis makhluk berpasang-pasangan كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلۡفُلۡكِ (semuanya, dan menjadikan untuk kalian kapal) atau perahu-perahu وَٱلۡأَنۡعَٰمِ (dan binatang ternak) misalnya unta مَا تَرۡكَبُونَ (yang kalian tunggangi) di dalam lafal ayat ini dibuang daripadanya Dhamir yang kembali kepada lafal Ma demi untuk meringkas, Dhamir tersebut adalah lafal Fihi maksudnya, yang dapat kalian kendarai.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah berfirman: وَٱلَّذِى خَلَقَ ٱلۡأَزۡوَٰجَ كُلَّهَا (“Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan”) yaitu dari berbagai jenis yang tumbuh di muka bumi berupa tumbuh-tumbuhan, tanam-tanaman, buah-buahan, bunga-bunga dan lain-lain, serta berbagai hewan dengan berbagai jenis dan macam yang berbeda-beda.

وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلۡفُلۡكِ (“Dan menjadikan untukmu kapal”) yaitu kapal-kapal. وَٱلۡأَنۡعَٰمِ مَا تَرۡكَبُونَ (“dan binatang ternak yang kamu kendarai”) yaitu Dia tundukkan, Dia atur dan Dia mudahkan semua itu untuk kalian agar kalian dapat memakan dagingnya, dapat kalian minum susunya dan dapat kalian kendarai.

Tafsir Kemenag: Di antara sifat Allah yang disebut dalam ayat ini ialah Dia-lah yang menciptakan semua makhluk berpasang-pasangan, laki-laki perempuan, jantan-betina, baik dari jenis tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan, buah-buahan, bunga-bungaan dan lain-lain maupun dari jenis hewan dan manusia. Dia pula yang menjadikan kendaraan berupa perahu, kapal yang dapat dipergunakan untuk mengangkut manusia dan keperluan barang dagangan di laut, dan binatang ternak, seperti unta, kuda, himar, sapi dan lain-lain yang dapat dipergunakan sebagai alat pengangkutan di darat, dan lain-lain yang dapat menghubungkan satu tempat dengan tempat yang lain, baik di darat maupun di laut dengan macam alat perhubungan.

Sesuai dengan firman Allah: Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui. (an-Nahl/16: 8)

Penjelasan mengenai Allah menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan dapat dilihat penjelasannya pada Surah asy-Syura/42: 11. Beberapa ayat lain yang membicarakan hal yang sama adalah Yasin/36: 36, ar-Ra’d/13: 3, dan adh-dzariyat/51: 49.

Tafsir Quraish Shihab: Dialah Tuhan yang menciptakan segala jenis makhluk. Dia menjadikan bahtera dan binatang ternak tunduk kepada kalian sehingga dapat kalian pergunakan sebagai kendaraan dalam perjalanan memenuhi keperluam hidup kalian.

Surah Az-Zukhruf Ayat 13
لِتَسۡتَوُۥاْ عَلَىٰ ظُهُورِهِۦ ثُمَّ تَذۡكُرُواْ نِعۡمَةَ رَبِّكُمۡ إِذَا ٱسۡتَوَيۡتُمۡ عَلَيۡهِ وَتَقُولُواْ سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُۥ مُقۡرِنِينَ

Terjemahan: Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan: “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya,

Tafsir Jalalain: لِتَسۡتَوُۥاْ (Supaya kalian dapat duduk) tetap عَلَىٰ ظُهُورِهِۦ (di atas punggungnya) Dhamir yang ada pada ayat ini dimudzakkarkan, dan lafal Zhahr dikemukakan dalam bentuk jamak sehingga menjadi Zhuhur; hal ini karena memandang makna yang terkandung di dalam lafal Ma ثُمَّ تَذۡكُرُواْ نِعۡمَةَ رَبِّكُمۡ إِذَا ٱسۡتَوَيۡتُمۡ عَلَيۡهِ وَتَقُولُواْ سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُۥ مُقۡرِنِينَ (kemudian kalian ingat nikmat Rabb kalian apabila kalian telah duduk di atasnya dan supaya kalian mengatakan,

“Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya) tidak dapat menguasainya.

Tafsir Ibnu Katsir: Untuk itu Allah berfirman: لِتَسۡتَوُۥاْ عَلَىٰ ظُهُورِهِۦ (“Supaya kamu duduk di atas punggungnya”) agar kalian dapat duduk dengan tenang, mantap dan membonceng orang lain. عَلَىٰ ظُهُورِهِۦ (“Di atas punggungnya”) yaitu di atas punggung binatang jenis tersebut. ثُمَّ تَذۡكُرُواْ نِعۡمَةَ رَبِّكُمۡ (“Kemudian kamu ingat nikmat Rabb-mu”) yaitu dengan apa yang telah Dia tundukkan untuk kalian.

إِذَا ٱسۡتَوَيۡتُمۡ عَلَيۡهِ وَتَقُولُواْ سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُۥ مُقۡرِنِينَ (“Apabila kamu telah duduk di atasnya, dan supaya kamu mengucapkan: Mahasuci Dia yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya.”) yaitu tidak mampu mengendalikannya. Seandainya bukan karena Allah yang menundukkannya kepada kami, niscaya kami tidak mampu menguasainya. Ibnu ‘Abbas, Qatadah, as-Suddi dan Ibnu Zaid mengatakan: “Muqriniin; yaitu mampu.”

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa apabila manusia berada di atas punggung binatang, perahu, kapal, kereta api, pesawat terbang dan lain-lain hendaklah mengingat nikmat yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka, hendaklah mengagungkan Allah dan menyucikan-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak yang dituduhkan orang-orang musyrik kepada-Nya, dan hendaklah mereka membaca ayat ini sebagai doa:

Mahasuci (Allah) yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. (az-Zukhruf/43: 13-14)

Baca Juga:  Surah Az-Zukhruf Ayat 57-65; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Andaikata Allah tidak menundukkan alam semesta dengan ilmu yang dianugerahkan-Nya tentu manusia tidak dapat melakukannya, karena yang demikian itu di luar kemampuan mereka.

Bacaan doa itu mengingatkan manusia supaya selalu bersiap-siap menghadapi hari pembalasan saat seluruh manusia akan menghadapi dan mengalaminya dan jangan lalai mengingat Allah, baik di waktu bepergian atau tidak, di waktu berlayar atau tinggal di kampung halaman.

Sehubungan dengan tafsir di atas, diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasa’i bahwa Rasulullah saw, apabila bepergian dan berkendaraan mengucapkan tiga kali dan membaca doa tersebut di atas.

Apabila Nabi saw mengendarai kendaraannya untuk melakukan suatu perjalanan, maka beliau bertakbir tiga kali. Kemudian beliau membaca, “Mahasuci (Allah) yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.”(Riwayat Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasa’i)

Ayat di atas mengajarkan agar manusia mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan berupa binatang dan memperlakukannya dengan baik. Kesetaraan di antara makhluk, terutama antara binatang dan manusia, sangat ditekankan Tuhan.

Salah satu ayat di bawah ini menjelaskan bahwa binatang juga umat Tuhan, sama dengan manusia. Walau mereka mempunyai ciri, kekhususan dan sistem yang berbeda-beda, pada hakikatnya, mereka sama dengan manusia di mata Tuhan. Dan manusia diwajibkan untuk mengingatnya.

Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.” (al-An’am/6: 38)

Beberapa ayat Al-Qur’an menyinggung mengenai binatang, antara lain tentang bagaimana manusia harus bersikap terhadap binatang, kegunaan binatang untuk manusia, perilaku binatang yang harus ditiru manusia, dan banyak lagi lainnya.

Dalam hubungan kesetaraan antar makhluk ini, ada tulisan seorang arif, Muhammad Fazlur Rahman Ansari, berbunyi demikian, “Segala yang di muka bumi ini diciptakan untuk kita, maka sudah menjadi kewajiban alamiah kita untuk: menjaga segala sesuatu dari kerusakan; memanfaatkannya dengan tetap menjaga martabatnya sebagai ciptaan Tuhan; melestarikannya sebisa mungkin, yang dengan demikian, mensyukuri nikmat Tuhan dalam bentuk perbuatan nyata.”

Menyangkut hewan atau satwa peliharaan, Al-Qur’an dalam Surah an-Nahl/16: 5 menyebutkan beberapa manfaat binatang untuk manusia:

Dan hewan ternak telah diciptakan-Nya untuk kamu, padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan. (an-Nahl/16: 5)

Dalam hubungannya dengan ayat dari Surah an-Nahl di atas, kita harus memperhatikan bahwa, misalnya, kulit dan bulu binatang ternak boleh dimanfaatkan. Namun Nabi Muhammad saw melanjutkannya dengan satu hal yang sangat bijaksana.

Beliau melarang penggunaan kulit binatang liar walaupun sekedar untuk alas lantai. Jika aturan atau himbauan yang dikemukakan Nabi ini ditaati oleh semua orang, maka pembunuhan sia-sia terhadap beberapa jenis binatang liar demi meraih keuntungan semata niscaya tidak terjadi.

Demikian pula, kendati umat Islam diperbolehkan mengkonsumsi daging beberapa binatang tertentu, tapi perlu diingat bahwa hal ini tidak menghalalkan pembantaian secara kejam dan tak terkendali terhadap mereka.

Salah satu manfaat binatang adalah sebagai tunggangan. Kita harus ingat bahwa orang-orang Arab di masa lalu sepenuhnya bergantung pada unta untuk membantu membawa barang dalam perjalanan. Tuhan menyatakan hal tersebut dalam ayat di bawah:

Dan ia mengangkut beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup mencapainya, kecuali dengan susah payah. Sungguh, Tuhanmu Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui. (an-Nahl/16: 7-8)

Pada hakikatnya Islam mengajarkan pada umatnya untuk menyayangi binatang dan melestarikan kehidupannya. Di dalam Al-Qur’an, Allah menekankan bahwa Dia telah menganugerahi manusia wilayah kekuasaan yang mencakup segala sesuatu di dunia ini.

Dan Dia telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. (al-Jatsiyah/45: 13).

Dalam ayat ini, Al-Qur’an sama sekali tidak menunjukan bahwa manusia memiliki kekuasaan mutlak untuk berbuat sekehendak hatinya segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Mereka juga tidak pula memiliki hak tanpa batas untuk menggunakan alam sehingga merusak keseimbangan ekologisnya.

” …. semua itu dari Dia ….” Penggalan ayat di sini seharusnya disadari dan dimengerti sebagai pengingat-ingat dari Tuhan, bahwa manusia tidak memiliki apa-apa di dunia ini. Jadi bagaimana seharusnya kita memperlakukan barang orang lain harus selalu diingat di dalam benak “…orang-orang yang berpikir….”

Islam pada dasarnya tidak mendukung manusia untuk menyalahgunakan binatang untuk tujuan olahraga maupun untuk menjadikan binatang sebagai objek eksperimen yang sembarangan. Ayat ini mengingatkan umat manusia bahwa Sang Pencipta telah menjadikan semua yang ada di alam ini (termasuk satwa) sebagai amanah yang harus mereka jaga.

Tafsir Quraish Shihab: Agar kalian dapat merasa tenang saat berada di atas punggungnya kemudian mengingat-ingat nikmat Sang Pencipta dan Pembimbing kalian dalam menundukkan binatang-binatang itu. Juga agar kalian–sebagai pengagungan atas ditundukkannya bintang-binatang itu sekaligus sebagai pengakuan atas kelemahan kalian dalam mengendalikan dan menguasainya–berucap, “Sungguh Mahasuci Tuhan yang telah menundukkan semua ini untuk kami, sementara kami tidak akan pernah mampu mendundukkannya!

Surah Az-Zukhruf Ayat 14
وَإِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ

Terjemahan: dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami”.

Tafsir Jalalain: وَإِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ (Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami”) kami akan dikembalikan kepada-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: وَإِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ (“dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami”) yaitu akan menuju kepada-Nya setelah kami mati. Kepada-Nya lah perjalanan kami yang terbesar. Ini merupakan peringatan mengenai perjalanan di dunia akan adanya perjalanan di akhirat. Sebagaimana Dia mengingatkan tentang bekal dunia dengan bekal akhirat dalam firman Allah:

وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰ (“Berbekallah kalian, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”)(al-Baqarah: 197) . serta tentang pakaian dunia dengan pakaian akhirat dalam firman-Nya: وَرِيشًا وَلِبَاسُ ٱلتَّقۡوَىٰ ذَٰلِكَ خَيۡرٌ (“Pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang baik.”)(al-A’raaf: 26)

Imam Ahmad dari ‘Ali bin Rabi’ah, ia berkata: Aku melihat ‘Ali bin Abi Thalib dibawakan kendaraan untuk ia kendarai. Ketika ia meletakkan kakinya di kendaraan tersebut, ia berkata: “BismillaaH.” Dan ketika telah lurus di atasnya, ia mengucapkan: “AlhamdulillaaH (segala puji milik Allah)” kemudian membaca:

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُۥ مُقۡرِنِينَ وَإِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ (Mahasuci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami, tidaklah kami mampun menundukkannya, dan sungguh kelak kami kembali kepada-Nya)”. Setelah itu ia mengucapkan:

“AlhamdulillaaH” tiga kali. Kemudian “AllaaHu akbar.” Tiga kali. Lalu berdoa: “Subhaanaka laa ilaaHa illaa anta qad dhalamtu nafsii faghfirlii (Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku telah mendhalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku).” Kemudian ia tertawa, aku bertanya:

“Wahai Amirul Mukminin, apa yang membuatmu tertawa?” Ia menjawab: “Aku pernah melihat Rasulullah saw. melakukan seperti apa yang aku lakukan, kemudian beliau tertawa, aku [‘Ali] bertanya: ‘Wahai Rasulallah, apa yang membuatmu tertawa?’ Beliau menjawab:

‘Sesungguhnya Rabb-Mu Tabaraka wa Ta’ala merasa takjub dari hamba-Nya jika ia berkata: ‘Ampunilah dosa-dosaku,’ dan Dia berfirman: ‘Hamba-Ku tahu bahwa tidak ada yang mengampuni dosa selain Aku.’” Demikian yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i. At-Tirmidzi berkata: “Hasan shahih.”

Baca Juga:  Surah Az-Zukhruf Ayat 1-8; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah bila telah menaiki untanya untuk safar, beliau bertakbir tiga kali, kemudian mengucapkan: سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُۥ مُقۡرِنِينَ وَإِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ (“Mahasuci Allah yang telah menundukkan untuk kami kendaraan ini, tidaklah kami mampu menundukkannya dan kami pasti kembali kepada Rabb kami.”) Kemudian berkata:

AllaaHumma innii as-aluka fii safarii Haadzal birra wattaqwaa, wa minal wa minal ‘amali maa tardlaa, allaaHumma Hawwin ‘alainas safara wathwi lanal ba-‘iida, allaaHumma antash shaahibu fis safari wal khaliifatu fil aHli, allaaHummash-hibnaa fii safarinaa wakh-lifnaa fii aHlinaa (“Ya Allah, kami mohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan dan takwa, dan dari amalan yang Engkau ridlai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan ini dan dekatkan dari kami jarak yang jauh. Ya Allah, sertailah kami dalam perjalanan kami dalam mengurus keluarga kami.”) Dan apabila beliau kembali kepada keluarganya, beliau berkata:

aayibuuna ta-ibuuna insyaa-allaaHu ‘aabiduuna lirabbinaa haamiduun (“Kami kembali dan bertaubat, insya Allah. Kami tetap beribadah dan selalu memuji kepada Rabb kami.”) demikian yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud dan an-Nasa-i.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa apabila manusia berada di atas punggung binatang, perahu, kapal, kereta api, pesawat terbang dan lain-lain hendaklah mengingat nikmat yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka, hendaklah mengagungkan Allah dan menyucikan-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak yang dituduhkan orang-orang musyrik kepada-Nya, dan hendaklah mereka membaca ayat ini sebagai doa:

Mahasuci (Allah) yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. (az-Zukhruf/43: 13-14)

Andaikata Allah tidak menundukkan alam semesta dengan ilmu yang dianugerahkan-Nya tentu manusia tidak dapat melakukannya, karena yang demikian itu di luar kemampuan mereka.

Bacaan doa itu mengingatkan manusia supaya selalu bersiap-siap menghadapi hari pembalasan saat seluruh manusia akan menghadapi dan mengalaminya dan jangan lalai mengingat Allah, baik di waktu bepergian atau tidak, di waktu berlayar atau tinggal di kampung halaman.

Sehubungan dengan tafsir di atas, diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasa’i bahwa Rasulullah saw, apabila bepergian dan berkendaraan mengucapkan tiga kali dan membaca doa tersebut di atas.

Apabila Nabi saw mengendarai kendaraannya untuk melakukan suatu perjalanan, maka beliau bertakbir tiga kali. Kemudian beliau membaca, “Mahasuci (Allah) yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.”(Riwayat Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasa’i)

Ayat di atas mengajarkan agar manusia mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan berupa binatang dan memperlakukannya dengan baik. Kesetaraan di antara makhluk, terutama antara binatang dan manusia, sangat ditekankan Tuhan.

Salah satu ayat di bawah ini menjelaskan bahwa binatang juga umat Tuhan, sama dengan manusia. Walau mereka mempunyai ciri, kekhususan dan sistem yang berbeda-beda, pada hakikatnya, mereka sama dengan manusia di mata Tuhan. Dan manusia diwajibkan untuk mengingatnya.

Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.” (al-An’am/6: 38)

Beberapa ayat Al-Qur’an menyinggung mengenai binatang, antara lain tentang bagaimana manusia harus bersikap terhadap binatang, kegunaan binatang untuk manusia, perilaku binatang yang harus ditiru manusia, dan banyak lagi lainnya. Dalam hubungan kesetaraan antar makhluk ini, ada tulisan seorang arif, Muhammad Fazlur Rahman Ansari, berbunyi demikian,

“Segala yang di muka bumi ini diciptakan untuk kita, maka sudah menjadi kewajiban alamiah kita untuk: menjaga segala sesuatu dari kerusakan; memanfaatkannya dengan tetap menjaga martabatnya sebagai ciptaan Tuhan; melestarikannya sebisa mungkin, yang dengan demikian, mensyukuri nikmat Tuhan dalam bentuk perbuatan nyata.”

Menyangkut hewan atau satwa peliharaan, Al-Qur’an dalam Surah an-Nahl/16: 5 menyebutkan beberapa manfaat binatang untuk manusia:

Dan hewan ternak telah diciptakan-Nya untuk kamu, padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan. (an-Nahl/16: 5)

Dalam hubungannya dengan ayat dari Surah an-Nahl di atas, kita harus memperhatikan bahwa, misalnya, kulit dan bulu binatang ternak boleh dimanfaatkan. Namun Nabi Muhammad saw melanjutkannya dengan satu hal yang sangat bijaksana.

Beliau melarang penggunaan kulit binatang liar walaupun sekedar untuk alas lantai. Jika aturan atau himbauan yang dikemukakan Nabi ini ditaati oleh semua orang, maka pembunuhan sia-sia terhadap beberapa jenis binatang liar demi meraih keuntungan semata niscaya tidak terjadi.

Demikian pula, kendati umat Islam diperbolehkan mengkonsumsi daging beberapa binatang tertentu, tapi perlu diingat bahwa hal ini tidak menghalalkan pembantaian secara kejam dan tak terkendali terhadap mereka.

Salah satu manfaat binatang adalah sebagai tunggangan. Kita harus ingat bahwa orang-orang Arab di masa lalu sepenuhnya bergantung pada unta untuk membantu membawa barang dalam perjalanan. Tuhan menyatakan hal tersebut dalam ayat di bawah:

Dan ia mengangkut beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup mencapainya, kecuali dengan susah payah. Sungguh, Tuhanmu Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui. (an-Nahl/16: 7-8)

Pada hakikatnya Islam mengajarkan pada umatnya untuk menyayangi binatang dan melestarikan kehidupannya. Di dalam Al-Qur’an, Allah menekankan bahwa Dia telah menganugerahi manusia wilayah kekuasaan yang mencakup segala sesuatu di dunia ini.

Dan Dia telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. (al-Jatsiyah/45: 13).

Dalam ayat ini, Al-Qur’an sama sekali tidak menunjukan bahwa manusia memiliki kekuasaan mutlak untuk berbuat sekehendak hatinya segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Mereka juga tidak pula memiliki hak tanpa batas untuk menggunakan alam sehingga merusak keseimbangan ekologisnya.

” …. semua itu dari Dia ….” Penggalan ayat di sini seharusnya disadari dan dimengerti sebagai pengingat-ingat dari Tuhan, bahwa manusia tidak memiliki apa-apa di dunia ini. Jadi bagaimana seharusnya kita memperlakukan barang orang lain harus selalu diingat di dalam benak “…orang-orang yang berpikir….”

Islam pada dasarnya tidak mendukung manusia untuk menyalahgunakan binatang untuk tujuan olahraga maupun untuk menjadikan binatang sebagai objek eksperimen yang sembarangan. Ayat ini mengingatkan umat manusia bahwa Sang Pencipta telah menjadikan semua yang ada di alam ini (termasuk satwa) sebagai amanah yang harus mereka jaga.

Tafsir Quraish Shihab: Kami semua benar-benar akan kembali kepada Sang Pencipta kami setelah kehidupan ini berakhir, agar masing-masing kami diperhitungkan dengan perbuatan yang telah dilakukannya.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Az-Zukhruf Ayat 9-14 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S