Surah Fussilat Ayat 46-48; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Fussilat Ayat 46-48

Pecihitam.org – Kandungan Surah Fussilat Ayat 46-48 ini, menerangkan balasan yang akan diberikan terhadap perbuatan-perbuatan yang dilakukan manusia. Barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dalam kehidupan dunia ini, melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan menghentikan larangan-larangan-Nya, berarti ia telah berusaha berbuat kebaikan untuk dirinya sendiri dengan memperoleh pahala yang besar.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

ilmu tentang hari Kiamat, waktu dan bagaimana peristiwanya hanya diketahui Allah. Demikian pula peristiwa-peristiwa gaib yang lain seperti keluarnya dengan baik atau rusaknya buah-buahan dari kelopaknya, dan janin yang dikandung oleh para ibu, apakah akan lahir dengan normal atau cacat anggota tubuhnya, semua itu hanya diketahui oleh Allah secara pasti.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Fussilat Ayat 46-48

Surah Fussilat Ayat 46
مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحًا فَلِنَفۡسِهِۦ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّٰمٍ لِّلۡعَبِيدِ

Terjemahan: Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.

Tafsir Jalalain: مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحًا فَلِنَفۡسِهِۦ (Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka pahalanya untuk dirinya sendiri) ia beramal untuk dirinya sendiri وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَا (dan barang siapa yang berbuat jahat maka dosanya atas dirinya sendiri) bahaya dari perbuatan jahatnya itu kembali kepada dirinya sendiri,

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّٰمٍ لِّلۡعَبِيدِ (dan sekali-kali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba-Nya) Dia bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Ayat lainnya, yaitu firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seorang pun walaupun sebesar dzarrah.” (Q.S. An-Nisa, 40).

Tafsir Ibnu Katsir: Allajh berfirman: مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحًا فَلِنَفۡسِهِۦ (“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih, maka [pahalanya] untuk dirinya sendiri.”) yakni manfaat amalnya itu akan kembali kepada dirinya sendiri. وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَا (“Dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka [dosanya] atas dirinya sendiri.”) yakni bahaya amalnya itupun akan kembali kepadanya.

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّٰمٍ لِّلۡعَبِيدِ (“Dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba-Nya.”) artinya, Dia tidak menghukum seorang pun kecuali disebabkan oleh dosanya dan Dia tidak akan menyiksa seorangpun kecuali setelah tegaknya hujjah dan diutusnya para Rasul kepadanya.

Tafsir Kemenag: Pada akhir Ayat surah ini, Allah menerangkan balasan yang akan diberikan terhadap perbuatan-perbuatan yang dilakukan manusia. Barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dalam kehidupan dunia ini, melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan menghentikan larangan-larangan-Nya, berarti ia telah berusaha berbuat kebaikan untuk dirinya sendiri dengan memperoleh pahala yang besar.

Barang siapa yang ingkar kepada Allah berarti ia telah berusaha berbuat keburukan untuk dirinya dengan memperoleh siksa yang sangat pedih di akhirat nanti. Seseorang dihukum sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya, mustahil Allah mengazab seseorang karena perbuatan orang lain.

Allah berfirman: Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitahukan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan. (al-An’am/6: 164)

Tafsir Quraish Shihab: Barangsiapa berbuat baik, akan menikmati sendiri pahalanya. Dan, sebaliknya, barangsiapa berbuat jahat, akan merasakan sendiri juga akibat dosanya. Tuhanmu sama sekali tidak curang terhadap hamba- hamba-Nya hingga menghukum seseorang karena dosa orang lain.

Surah Fussilat Ayat 47
إِلَيۡهِ يُرَدُّ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ وَمَا تَخۡرُجُ مِن ثَمَرَٰتٍ مِّنۡ أَكۡمَامِهَا وَمَا تَحۡمِلُ مِنۡ أُنثَىٰ وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلۡمِهِۦ وَيَوۡمَ يُنَادِيهِمۡ أَيۡنَ شُرَكَآءِى قَالُوٓاْ ءَاذَنَّٰكَ مَا مِنَّا مِن شَهِيدٍ

Baca Juga:  Surah Fussilat Ayat 30-32; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Terjemahan: Kepada-Nya-lah dikembalikan pengetahuan tentang hari Kiamat. Dan tidak ada buah-buahan keluar dari kelopaknya dan tidak seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan, melainkan dengan sepengetahuan-Nya.

Pada hari Tuhan memanggil mereka: “Dimanakah sekutu-sekutu-Ku itu?”, mereka menjawab: “Kami nyatakan kepada Engkau bahwa tidak ada seorangpun di antara kami yang memberi kesaksian (bahwa Engkau punya sekutu)”.

Tafsir Jalalain: إِلَيۡهِ يُرَدُّ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ (Kepada-Nyalah dikembalikan pengetahuan tentang hari kiamat) bila akan terjadi, tiada seorang pun yang mengetahuinya selain Dia. وَمَا تَخۡرُجُ مِن ثَمَرَٰتٍ (Dan tidak ada buah-buahan keluar) menurut suatu qiraat dibaca Tsamaraatin dalam bentuk jamak مِّنۡ أَكۡمَامِهَا (dari kelopaknya) dari kelopak-kelopaknya melainkan dengan sepengetahuan-Nya; lafal Akmaam adalah bentuk jamak dari lafal Kimmun.

وَمَا تَحۡمِلُ مِنۡ أُنثَىٰ وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلۡمِهِۦ وَيَوۡمَ يُنَادِيهِمۡ أَيۡنَ شُرَكَآءِى قَالُوٓاْ ءَاذَنَّٰكَ (dan tidak seorang perempuan pun mengandung dan tidak pula melahirkan, melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Pada hari Tuhan memanggil mereka, “Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu?” Mereka menjawab,

“Kami nyatakan kepada Engkau) artinya, sekarang Kami beritahukan kepada Engkau مَا مِنَّا مِن شَهِيدٍ (bahwa tidak ada seorang pun di antara kami yang memberikan kesaksian bahwa Engkau punya sekutu.”.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah berfirman: إِلَيۡهِ يُرَدُّ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ (“Kepada-Nya lah dikembalikan pengetahuan tentang hari kiamat.”) yaitu tidak ada seorangpun selain-Nya yang mengetahui hal tersebut, sebagaimana Allah berfirman: لَا يُجَلِّيهَا لِوَقۡتِهَآ إِلَّا هُوَ (“Tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia.”)(al-A’raaf: 187)

Firman Allah: وَمَا تَخۡرُجُ مِن ثَمَرَٰتٍ مِّنۡ أَكۡمَامِهَا وَمَا تَحۡمِلُ مِنۡ أُنثَىٰ وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلۡمِهِۦ (“Dan tidak ada buah-buahan dari kelopaknya dan tidak seorang perempuan pun mengandung dan tidak [pula] melahirkan, melainkan dengan pengetahuan-Nya.”) artinya, semua itu menurut sepengetahuan-Nya. tidak ada sesuatu seberat dzarrah pun di bumi dan di langit yang luput dari pengetahuan-Nya.

Firman Allah: وَيَوۡمَ يُنَادِيهِمۡ أَيۡنَ شُرَكَآءِى (“Pada hari [Rabb] memanggil mereka: ‘Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu?”) yaitu pada hari kiamat, Allah memanggil orang-orang musyrik di hadapan para makhluk-Nya: “Dimanakah sekutu-sekutu-Ku yang kalian sembah bersama-Ku?” قَالُوٓاْ ءَاذَنَّٰكَ (“Mereka menjawab: ‘Kami nyatakan kepada Engkau.”) yaitu, kami beritahukan kepada-Mu.

مَا مِنَّا مِن شَهِيدٍ (“Bahwa tidak ada seorang pun di antara kami yang memberi kesaksian.”) yakni, tidak ada seorangpun di antara kami yang dapat memberi kesaksian pada hari ini bahwa Engkau mempunyai sekutu.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini Allah menerangkan bahwa ilmu tentang hari Kiamat, waktu dan bagaimana peristiwanya hanya diketahui Allah. Demikian pula peristiwa-peristiwa gaib yang lain seperti keluarnya dengan baik atau rusaknya buah-buahan dari kelopaknya, dan janin yang dikandung oleh para ibu, apakah akan lahir dengan normal atau cacat anggota tubuhnya, semua itu hanya diketahui oleh Allah secara pasti.

Beberapa hal memang ada yang diketahui oleh manusia seperti bulan apa buah-buahan akan masak, kapan kira-kira bayi akan lahir, tetapi pengetahuan itu masih sangat sederhana tidak serinci pengetahuan Allah dan tidak selengkap pernyataan-Nya.

Baca Juga:  Surah Fussilat Ayat 19-24; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Pada Ayat lain Allah menegaskan bahwa hanya Dialah yang mengetahui dengan tepat hari Kiamat itu. Allah berfirman:

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia.” (al-A’raf/7: 187)

Nabi Muhammad saw sendiri dalam hadis yang diriwAyatkan ‘Umar bin al-Khaththab ketika ditanya Malaikat Jibril tentang kapan hari Kiamat, beliau menjawab:

Sesungguhnya Jibril bertanya kepada Rasulullah tentang hari Kiamat, Rasulullah menjawab: orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya (RiwAyat Muslim dari ‘Umar bin al-Khaththab)

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan sekarang ini memang banyak hal-hal baru yang diketahui manusia seperti waktu musim berbuahnya beberapa macam buah-buahan, kondisi tentang janin dalam kandungan seperti jenis kelamin, kesehatan, dan kapan waktu janin akan lahir.

Tetapi pengetahuan manusia ini masih sedikit sekali dibanding pengetahuan Allah dan masih bersifat perkiraan sehingga tidak pasti. Berbeda dengan pengetahuan Allah yang rinci dan pasti. Firman Allah swt:

Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, apa yang kurang sempurna dan apa yang bertambah dalam rahim. Dan segala sesuatu ada ukuran di sisi-Nya.(Allah) Yang mengetahui semua yang gaib dan yang nyata; Yang Mahabesar, Mahatinggi. (ar-Ra’d/13: 8-9)

Di atas telah diterangkan bahwa hanya Allah yang mengetahui tentang hari Kiamat dan kapan terjadinya. Dia mengetahui semua wanita yang hamil dan yang melahirkan anak. Dari keterangan ini dapat dipahami bahwa pengetahuan Allah itu ada yang mustahil diketahui oleh manusia dan ada yang mungkin diketahuinya bila Dia memberikan izin-Nya kepada manusia.

Tentu saja hal ini ada hikmah dan tujuannya, tetapi hanyalah Allah yang mengetahui dengan pasti hakikat dari hikmah dan tujuannya itu. Sekalipun manusia diberikan sebagian pengetahuan Allah, namun sifat dan bentuk pengetahuan itu tidak sama dan berbeda pada setiap orang.

Allah mengetahui kandungan semua wanita yang sedang hamil dan yang melahirkan. Pengetahuan Allah tentang wanita yang mengandung dan yang melahirkan adalah pengetahuan yang lengkap dan pasti, menyeluruh sampai kepada yang sekecil-kecilnya. Pengetahuan itu ada hubungannya dengan proses kejadian alam seluruhnya, dari dahulu sampai sekarang dan sampai kepada masa yang akan datang.

Lain halnya dengan pengetahuan seorang dokter ahli kandungan terhadap kandungan seorang wanita. Ia hanya mengetahui secara umum saja, tidak secara rinci. Bahkan pengetahuannya itu terbatas dan bersifat dugaan semata, bukan pengetahuan yang pasti karena pengetahuan yang pasti dan menyeluruh itu hanya pada Allah.

Selanjutnya Allah menerangkan peristiwa yang akan dialami oleh orang-orang musyrik pada hari Kiamat. Pada hari itu Allah akan menanyakan kepada mereka secara tegas dan jelas serta meminta pertanggungjawaban mereka tentang sekutu-sekutu-Nya yang mereka sembah di dunia; di mana mereka berada sekarang, mengapa mereka tidak bersama-sama dengan berhala-berhala itu. Akhirnya orang-orang musyrik itu menjawab dengan jawaban yang tegas,

“Wahai Tuhan kami, kami nyatakan kepada-Mu pada hari ini tidak seorang pun di antara kami yang mengakui bahwa Engkau mempunyai sekutu; hanya Engkau sajalah yang kami sembah, tidak ada yang lain.”

Firman Allah yang lain yang sama artinya dengan Ayat ini:Kemudian tidaklah ada jawaban bohong mereka, kecuali mengatakan, “Demi Allah, ya Tuhan kami, tidaklah kami mempersekutukan Allah.” (al-An’am/6: 23).

Baca Juga:  Surah Al-Hijr Ayat 78-79; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Hanya kepada Allah semata pengetahuan tentang datangnya hari kiamat akan dikembalikan. Tidak ada buah-buahan yang keluar dari kelopaknya, atau wanita yang mengandung kemudian melahirkan, yang tidak diketahui oleh Allah.

Ingatlah ketika Allah mengejek orang-orang musyrik dengan mengatakan, “Mana sekutu-sekutu-Ku yang dulu pernah kalian sembah itu?” Dengan memohon maaf dari Allah, mereka menjawab, “Kami beritahukan kepada-Mu, ya Allah, tidak ada seorang pun dari kami yang bersaksi bahwa Engkau mempunyai sekutu.”

Surah Fussilat Ayat 48
وَضَلَّ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَدۡعُونَ مِن قَبۡلُ وَظَنُّواْ مَا لَهُم مِّن مَّحِيصٍ

Terjemahan: Dan hilang lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka sembah dahulu, dan mereka yakin bahwa tidak ada bagi mereka satu jalan keluarpun.

Tafsir Jalalain: وَضَلَّ (Dan lenyaplah) hilanglah عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَدۡعُونَ (dari mereka apa yang selalu mereka seru) yang selalu mereka sembah مِن قَبۡلُ (dahulu) di dunia yaitu berhala-berhala وَظَنُّواْ (dan mereka yakin) merasa yakin مَا لَهُم مِّن مَّحِيصٍ (bahwa tidak ada bagi mereka sesuatu jalan keluar pun) jalan selamat dari azab. Huruf Nafi pada dua tempat tidak beramal, dan jumlah yang dinafikan menduduki tempatnya Maf’ul.

Tafsir Ibnu Katsir: وَضَلَّ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَدۡعُونَ مِن قَبۡلُ (“Dan lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka sembah dahulu.”) yakni mereka hilang dan tidak bermanfaat bagi mereka (para penyembahnya). وَظَنُّواْ مَا لَهُم مِّن مَّحِيصٍ (“Dan mereka yakin bahwa tidak ada bagi mereka suatu jalan keluar pun.”) artinya, orang-orang musyrik meyakini pada hari kiamat, kata dhann di sini memiliki makna meyakini: مَا لَهُم مِّن مَّحِيصٍ (“Tidak ada bagi mereka suatu jalan keluar pun.”) yaitu, tidak ada tempat berlari bagi mereka dari adzab Allah.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa pada hari Kiamat orang-orang musyrik yang sesat itu tidak melihat adanya manfaat dari sembahan-sembahan yang mereka sembah di dunia dahulu, yaitu pada hari mereka merasakan tidak ada faedahnya semua yang telah mereka lakukan di dunia dahulu.

Tidak ada seorang pun yang dapat menghindarkan mereka dari azab Allah. Ketika itu barulah mereka yakin akan keesaan dan kekuasaan Allah dan mereka juga yakin bahwa tidak ada satu jalan keluar pun untuk menghindarkan diri dari azab Allah itu.

Tafsir Quraish Shihab: Para sekutu yang dulu pernah mereka sembah pun kemudian menghilang. Dan mereka sendiri yakin, tidak ada jalan keluar.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Fussilat Ayat 46-48 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S