Surah Hud Ayat 106-107; Terjemahan dan Tafsir Al Qur’an

Surah Hud Ayat 106-107

Pecihitam.org – Kandungan Surah Hud Ayat 106-107 ini menjelaskan bahwa orang-orang yang mendapat siksaan dan azab Allah adalah mereka yang selalu ingkar kepada Allah. Mereka akan dijatuhkan ke dalam neraka dan di sana mereka akan menjerit kesakitan, namun semua itu sudah terlambat dan mereka akan kekal di dalamnya, kecuali jika Allah menghendaki.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al Qur’an Surah Hud Ayat 106-107

Surah Hud Ayat 106
فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ

Terjemahan: Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih),

Tafsir Jalalain: فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا (Adapun orang-orang yang celaka) menurut pengetahuan Allah SWT, فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ (maka tempatnya di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan jeritan) suara yang sangat keras, وَشَهِيقٌ (dan rintihan) suara yang lemah.

Tafsir Ibnu Katsir: لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ (Di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas [dengan merintih]). Ibnu Abbas berkata: “Az-Zafair tempatnya di tenggorokan dan asy-SyaHiiq tempatnya di dada, maksudnya, mereka mengeluarkan nafas dengan merintih dan menarik nafas dengan sesak, karena siksaan yang menimpa mereka, semoga Allah melindungi kita dari siksa itu.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang celaka, tempat mereka adalah neraka. Di situ mereka bernafas dengan disertai rintihan sakit ketika menghirup dan mengeluarkan nafas dari dada.

Surah Hud Ayat 107
خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ

Terjemahan: mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.

Baca Juga:  Surah Al-Ahzab Ayat 45-48; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Jalalain: خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ (Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi) artinya selama keberadaan langit dan bumi di alam dunia, إِلَّا (kecuali) melainkan,

مَا شَاءَ رَبُّكَ (jika Rabbmu menghendaki yang lain) yaitu perpanjangan waktu yang melebihi umur langit dan bumi. Makna yang dimaksud adalah tidak terbatas; mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ (Sesungguhnya Rabbmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.)

Tafsir Ibnu Katsir: خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ (Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi) Imam Abu Ja’far bin Jarir berkata: “Kebiasaan orang Arab, jika hendak memberi sifat kepada sesuatu dengan sifat abadi, mereka selalu berkata:

‘Ini kekal seperti kekalnya langit dan bumi,’ begitu juga mereka berkata: ‘Ia adalah tetap selama malam dan Siang silih berganti,’ dan ‘selama orang yang begadang berbicara sepanjang malam,’ juga selama keledai menggerakkan ekornya,’ bahwa yang dimaksud dengan semua itu adalah abadi, Allah yang Mahaterpuji berbicara kepada mereka dengan sesuatu yang mereka saling mengetahuinya.

Maka Allah berfirman: خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ (Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi). Aku (Ibnu Katsir) berkata: “Dan bisa juga yang dimaksud dengan ‘selama langit dan bumi masih ada’ adalah jenisnya, karena di alam akhirat ada langit dan bumi.” Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “[Yaitu] pada hari [ketika] bumi diganti dengan bumi yang lain dan [demikian pula] langit.”) (QS. Ibrahim: 48)

Baca Juga:  Surah Al-Fath Ayat 15; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Untuk itu al-Hasan al-Bashri berkata tentang firman-Nya: مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ (selama ada langit dan bumi) ia berkata: yang bukan langit ini dan bumi yang bukan bumi ini, karena langit dan bumi itu adalah tidak kekal.”

Ibnu Abi Hatim berkata, disebutkan dari Sufyan bin Husain dari al-Hakam, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, bahwa firman-Nya: مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ (selama ada langit dan bumi) Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Bahwa senantiasa bumi adalah bumi dan langit adalah langit.”

Firman-Nya: إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ (Kecuali jika Rabbmu menghendaki [yang lain]. Sesungguhnya Rabbmu Mahapelaksana terhadap apa Allah kehendaki) Seperti firman-Nya yang artinya: “Neraka itu tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali jika Allah menghendaki (yang lain) Sesungguhnya Rabbmu Mahabijaksana lagi Mahamengetahui.” (QS. Al-An’am: 128)

Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud dari pengecualian ini, mereka mempunyai banyak pendapat, hal ini menurut Syaikh Abu: Faraj bin al-Jauzi dalam kitabnya “Zadul Masir” dan ulama-ulama tafsir lainnya. Imam Abu Ja’far bin Jarir rahimahullah telah banyak menukilnya dalam kitabnya dan ia memilih pendapat yang dinukilnya dari Khalid bin Ma’dan, adh-Dhahhak, Qatadah dan Ibnu Sinan.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan juga al-Hasan, bahwa pengecualian itu adalah kembali kepada ahli maksiat dari ahli tauhid, yaitu orang-orang yang dikeluarkan oleh Allah dari neraka dengan syafaatnya orang yang memberi syafa’at, yaitu Para Malaikat, Para Nabi dan orang-orang mukmin, hingga mereka memberi syafa’at kepada para pelaku dosa besar.

Baca Juga:  Surah Al-Anfal Ayat 25; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Kemudian, datanglah rahmat Allah yang Mahapenyayang, maka dikeluarkanlah orang yang tidak melakukan kebaikan sama sekali dan ia berkata: “Suatu dalam suatu masa: Laa Ilaaha Illallaah”. Sebagaimana telah diriwayatkan dalam hadits-hadits shahih yang masyhur dari Rasulullah tentang dari hadits Anas, Jabir, Abu Said, Abu Hurairah dan sahabat-sahabat lainnya, yaitu: “Tidak ada dalam neraka setelah itu, kecuali orang yang harus kekal di dalamnya dan yang tidak ada keringanan lama sekali baginya.”

Qatadah berkata: “Allah lebih mengetahui dengan kandungannya.”

Tafsir Quraish Shihab: Mereka kekal selama-lamanya di neraka, selama ada langit dan bumi. Mereka tidak akan keluar kecuali pada waktu yang dikehendaki Allah untuk diberi siksa yang lain. Sesungguhnya Tuhanmu, wahai Nabi, Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki, tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi-Nya.

Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Hud Ayat 106-107 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S