Surah Ibrahim Ayat 9; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Ibrahim Ayat 9

Pecihitam.org – Kandungan Surah Ibrahim Ayat 9 ini mengabarkan tentang puncak pengingkaran para penentang nabi di sepanjang sejarah. Walaupun umat-umat terdahulu telah menyaksikan mukjizat yang nyata dan argumentasi yang terang, mereka masih merasa berada dalam keraguan dan mengatakan tidak akan beriman, bahkan menutupkan tangan mereka ke mulutnya sendiri.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Mereka diam dan tidak mengizinkan dirinya mendengarkan perkataan orang yang lain. Keraguan orang kafir terhadap kebenaran agama berdasarkan penentangan buta bukan karena mengkaji dan menelitinya secara logis.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Ibrahim Ayat 9

أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ ۛ وَالَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ ۛ لَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا اللَّهُ ۚ جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرَدُّوا أَيْدِيَهُمْ فِي أَفْوَاهِهِمْ وَقَالُوا إِنَّا كَفَرْنَا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ وَإِنَّا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَنَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ

Terjemahan: Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah. Telah datang rasul-rasul kepada mereka (membawa) bukti-bukti yang nyata lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian), dan berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu ajak kami kepadanya”.

Tafsir Jalalain: أَلَمْ يَأْتِكُمْ (Belumkah sampai kepada kalian) Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna menetapkan نَبَأُ (berita) kisah الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ (tentang orang-orang sebelum kalian, yaitu kaum Nuh dan Ad) kaum Nabi Hud وَثَمُودَ (dan Tsamud) kaum Nabi Saleh.

Baca Juga:  Surah Ibrahim Ayat 49-51; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

وَالَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ ۛ لَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا اللَّهُ (dan orang-orang sesudah mereka, yang tiada seorang pun mengetahui jumlah mereka selain Allah) karena saking banyaknya.

جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ (Telah datang rasul-rasul kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata) yakni dengan membawa hujah-hujah yang jelas untuk membuktikan kebenaran mereka .

فَرَدُّوا (lalu mereka menutupkan) yang dimaksud adalah umat-umat terdahulu itu أَيْدِيَهُمْ فِي أَفْوَاهِهِمْ (tangan mereka ke mulutnya) dengan menggigitnya sebagai pertanda kebencian mereka yang sangat terhadap ajakan para rasul itu.

وَقَالُوا إِنَّا كَفَرْنَا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ (dan berkata, “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kalian disuruh menyampaikannya) menurut anggapan kalian itu وَإِنَّا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَنَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ (dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kalian ajak kami kepadanya.”) artinya mereka benar-benar ragu terhadapnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Ibnu Jarir mengatakan, ayat ini merupakan lanjutan dari perkataan Musa kepada kaumnya, yakni peringatannya kepada mereka terhadap nikmat-nikmat Allah, dengan siksaan Allah terhadap umat-umat terdahulu yang mendustakan para Rasul.

Pendapat Ibnu Jarir ini perlu dipertimbangkan kembali, karena nampaknya ayat ini adalah berita baru dari Allah Ta’ala untuk umat ini karena ada yang mengatakan bahwa kisah Aad dan Tsamud ini tidak ada dalam Taurat. Kalau hal ini termasuk perkataan dan kisah-kisah Musa kepada kaumnya, pasti kedua kisah itu terdapat pula dalam Taurat, wallahu a’lam.

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat 147; Seri Tadabbur Al Qur'an

Namun pada pokoknya, Allah Ta’ala telah menceritakan kepada kita kisah kaum Nuh, Aad, Tsamud dan umat-umat lain yang mendustakan para Rasul yang jumlahnya banyak sekali sehingga hanya diketahui oleh Allah saja.

جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ (“Telah datang para Rasul kepada mereka [membawa] yang nyata.”) Maksudnya, dengan hujjah (argumentasi) dan dalil-dalil yang jelas, gamblang dan pasti. Tentang firman Allah: لَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا اللَّهُ (“Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah,”).

Firman Allah: فَرَدُّوا أَيْدِيَهُمْ فِي أَفْوَاهِهِمْ (“Lalu mereka menutupkan tangan mereka ke mulut mereka [karena kebencian].”) Para ulama tafsir berbeda pendapat tentang makna kalimat ini, ada yang mengatakan bahwa mereka menunjuk mulut para Rasul supaya diam setelah para Rasul itu mengajak mereka kepada agama Allah. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka meletakkan tangan mereka pada mulut mereka sebagai pendustaan terhadap para Rasul.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa setelah mendengar kalam Allah, mereka sangat heran dan menutupkan tangan mereka ke mulut mereka sambil berkata: “Kami kafir terhadap apa yang kalian sampaikan kepada kami.” Maksudnya, mereka mengatakan: “Kami tidak percaya terhadap apa yang kalian sampaikan, karena kami sangat meragukannya.”

Baca Juga:  Surah Ibrahim Ayat 10-12; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Belum sampaikah kepada kalian berita tentang orang-orang yang telah berlalu sebelum kalian, yaitu kaum Nûh, kaum Hûd (‘Ad), kaum Shâlih (Tsamûd), dan banyak bangsa setelahnya, yang hanya diketahui oleh Allah. Yaitu, pada saat mereka didatangi oleh para rasul dengan bukti-bukti yang jelas atas kebenaran mereka.

Sambil meletakkan tangan di depan mulut sebagai pertanda keheranan dan ketidakpercayaan, mereka berkata kepada para rasul itu, “Kami sungguh tidak mempercayai mukjizat-mukjizat dan bukti-bukti yang kalian bawa, dan ragu-ragu terhadap keimanan dan tauhid yang kalian serukan. Kami tidak mendapatkan kemantapan terhadap sesuatu dan bingung tentang hal itu.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Ibrahim Ayat 9 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S