Surah Maryam Ayat 12-15; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Maryam Ayat 12-15

Pecihitam.org – Kandungan Surah Maryam Ayat 12-15 ini, mengisahkan Allah memerintahkan kepada Yahya supaya mengambil kitab Taurat yang merupakan nikmat terbesar dari Allah kepada Bani Israil dengan penuh perhatian dan sungguh-sungguh dan mengamalkan isinya dengan tulus ikhlas. Kemudian Allah mengungkapkan sifat-sifat Nabi Yahya yang sangat terpuji yang patut ditiru oleh sekalian pengikutnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah menjadikan Nabi Yahya itu seorang yang memiliki rasa belas kasihan kepada sesama manusia terutama fakir miskin sebagaimana Allah menjadikan Nabi Muhammad saw memiliki perasaan yang sama.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Maryam Ayat 12-15

Surah Maryam Ayat 12
يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا

Terjemahan: Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak,

Tafsir Jalalain: يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ (Hai Yahya! Ambillah Kitab itu) yakni kitab Taurat بِقُوَّةٍ (dengan sungguh-sungguh) secara sungguh-sungguh. وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ (Dan Kami berikan kepadanya hikmah) kenabian صَبِيًّا (selagi ia masih kanak-kanak) sewaktu berumur tiga tahun.

Tafsir Ibnu Katsir: Ayat ini pun mengandung kalimat yang dibuang, kalimat tersebut adalah bahwa anak laki-laki yang dijanjikan itu adalah Yahya as. Allah telah mengajarkan padanya al-Kitab, yaitu Taurat yang dahulu mereka pelajari serta dijadikan hukum oleh para Nabi yang patuh dari orang-orang Yahudi, para rahib dan pendeta. Di saat itu umurnya masih kecil. Untuk itu Allah memanggilnya dengan menyebutkan namanya serta nikmat yang diberikan kepada dirinya dan kedua orang tuanya.

Allah berfirman: يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ (“Hai Yahya, ambillah al-Kitab [Taurat] itu dengan sungguh-sungguh,” yaitu pelajarilah Kitab itu dengan kuat, yaitu dengan sungguh-sungguh, penuh antusias dan semaksimal mungkin.

وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا (“Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak,”) yaitu pemahaman, ilmu, kesungguhan, tekad, senang dan gemar kebaikan serta amat bersungguh-sungguh di dalamnya, padahal ia masih kanak-kanak.

Abdullah bin al-Mubarak berkata bahwa Ma’mar berkata: “Beberapa anak kecil berkata kepada Yahya bin Zakariya: ‘Pergilah main bersama kami.’ Yahya menjawab: ‘Kami diciptakan bukan untuk main.’”

Tafsir Kemenag: Allah memerintahkan kepada Yahya supaya mengambil kitab Taurat yang merupakan nikmat terbesar dari Allah kepada Bani Israil dengan penuh perhatian dan sungguh-sungguh dan mengamalkan isinya dengan tulus ikhlas.

Kemudian Allah mengungkapkan sifat-sifat Nabi Yahya yang sangat terpuji yang patut ditiru oleh sekalian pengikutnya. Di antaranya, Allah telah memberikan kepadanya hikmah dan pengertian yang sangat mendalam tentang agama dan kegairahan untuk mengamalkan segala amal kebaikan walaupun ketika itu Yahya masih sangat muda.

Baca Juga:  Surah Maryam Ayat 16-21; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Diriwayatkan bahwa beliau pernah dikerumuni oleh anak-anak sebayanya dan diajak supaya main bersama-sama, lalu beliau menjawab, “Kita ini diciptakan Tuhan bukan untuk bermain-main. Marilah ikut bersama saya salat.”

Surah Maryam Ayat 13
وَحَنَانًا مِّن لَّدُنَّا وَزَكَاةً وَكَانَ تَقِيًّا

Terjemahan: dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dan dosa). Dan ia adalah seorang yang bertakwa,

Tafsir Jalalain: وَحَنَانًا (Dan rasa belas kasihan yang mendalam) terhadap manusia مِّن لَّدُنَّا (dari sisi Kami) dari haribaan Kami وَزَكَاةً (dan zakat) yakni senang bersedekah kepada mereka وَكَانَ تَقِيًّا (Dan ia adalah seorang yang bertakwa) menurut suatu riwayat disebutkan, bahwa Nabi Yahya tidak pernah melakukan suatu dosa pun, dan hatinya tidak pernah mempunyai keinginan untuk melakukannya.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah: وَحَنَانًا مِّن لَّدُنَّا (“Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami,”) yaitu rasa kasih sayang dari sisi Kami. Demikian perkataan Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas. Demikian pula pendapat `Ikrimah, Qatadah dan adh-Dhahhak.

Dia (adh-Dhahhak) menambahkan: “Tidak ada yang sanggup selain Kami (Allah).” Ikrimah berkata: “Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami,” yaitu perasaan cinta kepadanya. Ibnu Zaid berkata bahwa al-Hanaan adalah perasaan cinta.

Maka al-Hannaan adalah cinta di dalam kasih sayang dan ketertarikan. Sebagaimana orang Arab berkata: “Unta itu hanan terhadap anaknya dan wanita itu hanaan terhadap suaminya.” Dari situ pula wanita dinamakan Hanah dari kata al-Haniyyah (kesayangan).

Di dalam Musnad Imam Ahmad, dari Anas, bahwa Rasulullah bersabda: “Tersisalah seorang laki-laki di api neraka yang berseru selama seribu tahun: Ya Hannan (wahai Yang Mahakasih), ya Mannan (wahai Yang Mahapemberi).”

Dia selalu memuji, dan sebagian mereka membuat lafazh yang datang itu sebagai bahasa dengan pengertian inti kasih sayang (rahmat). Seperti contoh perkataan Tharfah: Abu Mundzir, engkau telah menghancurkanku, dahulukanlah pada sebagian kami Kasih sayangmu, sebagian kejahatan lebih ringan dari sebagiannya.

Firman-Nya: “وَزَكَاةً” di’athafkan atas “hanaanan”. Zakat adalah suci/bersih dari kotoran, kesalahan dan dosa. Adh-Dhahhak dan Ibnu Juraij berkata: “Amal shalih yang zaki (yang suci).” Al-‘Aufi berkata dari Ibnu Abbas: “وَزَكَاةً”: Dan kesucian, yaitu berkah; wa kaana taqiyyan (“Dan ia adalah seorang yang bertakwa”) suci tidak melakukan suatu dosa.

Tafsir Kemenag: Allah menjadikan Nabi Yahya itu seorang yang memiliki rasa belas kasihan kepada sesama manusia terutama fakir miskin sebagaimana Allah menjadikan Nabi Muhammad saw memiliki perasaan yang sama, seperti tercantum dalam firman Allah: Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. (Ali ‘Imran/3: 159)

Baca Juga:  Surah Al-A’raf Ayat 55-56; Seri Tadabbur Al-Qur’an

Dan firman Allah: Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman. (at-Taubah/9: 128)

Sifat Nabi Yahya juga bersih dari syirik dan selalu menjauhkan diri dari setiap perbuatan yang menyebabkan kemurkaan Allah. Beliau selalu bertakwa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya.

Surah Maryam Ayat 14
وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُن جَبَّارًا عَصِيًّا

Terjemahan: dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.

Tafsir Jalalain: وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ (Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya) yaitu selalu berbuat baik kepada keduanya وَلَمْ يَكُن جَبَّارًا (dan bukanlah ia orang yang sombong) takabur عَصِيًّا (lagi bukan pula ia orang yang durhaka) terhadap Rabbnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُن جَبَّارًا عَصِيًّا (“Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya dan bukanlah ia seorang yang sombong lagi durhaka.”) Ketika Allah menyebutkan ketaatan Yahya kepada Rabbnya dan menciptakannya sebagai orang yang memiliki rahmat, suci dan bertakwa, Dia pun menyambungnya dengan menyebutkan ketaatan dan kebaktian Yahya kepada kedua orang tuanya serta jauh dari sikap mendurhakai keduanya, dengan perkataan dan perbuatan, baik perintah maupun larangan.

Karena itu, Dia berfirman: وَلَمْ يَكُن جَبَّارًا عَصِيًّا (Dan bukanlah ia seorang yang sombong lagi durhaka)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan sifat Nabi Yahya yang selalu berbakti kepada kedua orang tuanya, karena berbakti kepada mereka itu dijadikan amal kebajikan setelah beribadah kepada Allah, sesuai dengan firman-Nya:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.(al-Isra/17: 23)

Di antara sifat Nabi Yahya lainnya ialah tidak sombong terhadap manusia yang lain, selalu rendah hati, seperti sifat yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad saw dalam firman Allah: Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu. (asy-Syu`ara/26: 215)

Dan firman Allah: Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. (Ali ‘Imran/3: 159)

Oleh karena sifat sombong ini sangat buruk, sehingga menyebabkan Iblis dikutuk karena ia berlaku sombong, tidak mau sujud menghormati kepada Nabi Adam as, atas perintah Allah. Sifat yang terakhir di antara sifat Nabi Yahya yang terpuji adalah tidak pernah menentang perintah Allah.

Baca Juga:  Surah At-Taubah Ayat 122; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Surah Maryam Ayat 15
وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا

Terjemahan: Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.

Tafsir Jalalain: وَسَلَامٌ (Kesejahteraan) dari Kami عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا (terlimpahkan kepadanya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali) di saat-saat yang mengerikan yakni hari kiamat. Pada hari itu belum pernah ada pemandangan yang sengeri itu, maka Nabi Yahya selamat daripadanya.

Tafsir Ibnu Katsir:Kemudian Allah berfirman setelah (menerangkan) sifat-sifat yang indah ini, tentang balasan yang akan diterimanya: وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا (“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal serta pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.”) Yaitu, ia akan memperoleh rasa aman di tiga kondisi tersebut (lahir, mati dan hari berbangkit).

Sufyan bin Uyainah berkata: “Alangkah mencekamnya (keadaan) seseorang yang berada di tiga kondisi tersebut; pada saat ia dilahirkan, ia melihat dirinya keluar dari tempat yang selama ini di alaminya, pada saat ia mati ia akan melihat suatu keadaan yang belum pernah dialaminya, dan di saat ia dibangkitkan ia melihat dirinya berada di padang Mahsyar yang besar (luas)”.

Dia (Sufyan) pun berkata: “Allah telah menghormati Yahya bin Zakariya pada saat itu, lalu mengistimewakannya dengan salam sejahtera untuknya.

Tafsir Kemenag: Allah menerangkan pahala kebajikan Nabi Yahya itu karena ketaatan dan kesalehannya, keselamatan, kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan ke dunia, dan pada hari ia wafat meninggalkan dunia yang fana ini serta pada hari ia dibangkitkan hidup lagi pada hari Kiamat. Disebutkannya tiga peristiwa ini, karena setiap manusia pada ketiga masa itu sangat membutuhkan rahmat dan karunia Tuhan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Maryam Ayat 12-15 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S