Surah Saba Ayat 18-19; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Saba Ayat 18-19

Pecihitam.org – Kandungan Surah Saba Ayat 18-19 ini, diterangkan Kaum Saba’ yang masih tinggal di negerinya, walaupun mengalami kesulitan hidup karena negeri mereka telah menjadi lekang dan tandus, mengadakan perjalanan untuk berdagang dari suatu negeri ke negeri yang lain, terutama ke negeri-negeri yang agak besar, seperti Mekah dan Syam di utara dan barat laut.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Oleh karena itu, mereka meminta kepada Allah supaya di sepanjang perjalanan antara suatu negeri dengan negeri lain tidak ada tempat singgah untuk beristirahat, sehingga perjalanan harus dilanjutkan walaupun akan menderita berbagai macam kesulitan.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Saba Ayat 18-19

Surah Saba Ayat 18
وَجَعَلۡنَا بَيۡنَهُمۡ وَبَيۡنَ ٱلۡقُرَى ٱلَّتِى بَٰرَكۡنَا فِيهَا قُرًى ظَٰهِرَةً وَقَدَّرۡنَا فِيهَا ٱلسَّيۡرَ سِيرُواْ فِيهَا لَيَالِىَ وَأَيَّامًا ءَامِنِينَ

Terjemahan: Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman.

Tafsir Jalalain: وَجَعَلۡنَا بَيۡنَهُمۡ (Dan Kami jadikan antara mereka) yakni penduduk negeri Saba yang berada di Yaman وَبَيۡنَ ٱلۡقُرَى ٱلَّتِى بَٰرَكۡنَا فِيهَا (dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya) dengan melimpahnya air dan banyaknya pohon-pohonan, yang dimaksud adalah kampung-kampung negeri Syam tempat lalu mereka untuk tujuan berdagang قُرًى ظَٰهِرَةً (beberapa negeri yang berdekatan) mulai dari Yaman sampai ke Syam.

وَقَدَّرۡنَا فِيهَا ٱلسَّيۡرَ (dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu jarak-jarak perjalanan) hingga mereka dapat beristirahat pada suatu tempat, kemudian menginap pada tempat lainnya sampai pada akhir perjalanan mereka. Di dalam perjalanan, mereka tak perlu lagi membawa bekal dan air. Kami katakan,

سِيرُواْ فِيهَا لَيَالِىَ وَأَيَّامًا ءَامِنِينَ (“Berjalanlah kalian di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman”) tanpa merasa takut lagi, baik kalian melakukan perjalanan pada malam hari maupun pada siang hari.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala menyebutkan kondisi mereka yang penuh kenikmatan, kesenangan dan kehidupan yang tenteram dan makmur, negeri yang hijau, tempat-tempat yang aman tenteram, daerah-daerah yang antara satu bagian dengan bagian lainnya saling menyambung dan berdekatan, dipenuhi banyak pohon, tanam-tanaman dan buah-buahan dimana orang yang melakukan perjalanan tidak lagi membutuhkan bekal dan air.

Bahkan dimana saja mereka singgah, mereka pasti mendapatkan air dan buah serta dapat pula beristirahat siang di satu daerah dan bermalam di daerah lain sesuai yang dibutuhkan oleh mereka dalam perjalanan mereka.

Untuk itu Allah berfirman: وَجَعَلۡنَا بَيۡنَهُمۡ وَبَيۡنَ ٱلۡقُرَى ٱلَّتِى بَٰرَكۡنَا فِيهَا (“Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan barokah kepadanya.”) Wahab bin Munabbih berkata: “Yaitu suatu daerah di Shan’a.” Demikian pula yang dikatakan oleh Abu Malik.

Adapun Mujahid, al-Hasan, Sa’id bin Jubair dan Malik dari Zaid bin Aslam, Qatadah, adl-Dlahhak, as-Suddi, Ibnu Zaid dan lain-lain, yaitu dari daerah Syam. Yang dimaksud adalah mereka melakukan perjalanan dari kota Yaman ke Kota Syam di suatu daerah yang terkenal dan saling menyatu.

Al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Negeri yang Kami limpahkan berkah kepadanya adalah Baitul Maqdis.” قُرًى ظَٰهِرَةً yaitu yang jelas dan tampak, dimana para musafir dapat mengetahuinya. Mereka dapat tidur siang di satu tempat dan bermalam di tempat lain. Untuk itu Allah berfirman:

Baca Juga:  Surah Al-Hasyr Ayat 1-5; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

وَقَدَّرۡنَا فِيهَا ٱلسَّيۡرَ (“Dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu [jarak-jarak] perjalanan.”) yaitu Kami jadikan hal itu sesuai yang dibutuhkan oleh musafir. سِيرُواْ فِيهَا لَيَالِىَ وَأَيَّامًا ءَامِنِينَ (“Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman.”) yaitu keamanan mereka rasakan dalam perjalanan mereka di waktu malam dan siang.

Tafsir Kemenag: Kaum Saba’ yang masih tinggal di negerinya, walaupun mengalami kesulitan hidup karena negeri mereka telah menjadi lekang dan tandus, mengadakan perjalanan untuk berdagang dari suatu negeri ke negeri yang lain, terutama ke negeri-negeri yang agak besar, seperti Mekah dan Syam di utara dan barat laut.

Negeri-negeri tersebut pada waktu itu termasuk negeri yang makmur yang menjadi pusat perdagangan. Perjalanan di antara negeri-negeri itu mudah dan aman karena adanya kampung-kampung tempat singgah para musafir bila kemalaman dan kehabisan bekal atau merasa letih.

Mereka dapat bertahan hidup dan dapat pula bercocok tanam sekadarnya pada waktu musim hujan. Mereka juga memelihara binatang ternak ketika di sana masih banyak padang rumput. Ini adalah suatu nikmat dari Allah kepada mereka walaupun tidak sebesar nikmat yang dianugerahkan-Nya ketika Bendungan Ma’rib belum hancur dan musnah.

Allah menyuruh mereka mempergunakan nikmat itu dengan sebaik-baiknya dan berjalan dengan membawa barang dagangan di antara negeri-negeri dengan aman, walaupun jarak yang ditempuh mereka kadang-kadang amat jauh.

Mereka dapat singgah di kampung-kampung yang ada di sekitar kota-kota besar itu bila merasa lelah. Bila mereka kemalaman mereka dapat berhenti di kampung yang terdekat dan demikianlah seterusnya.

Tafsir Quraish Shihab: Kami telah membangun perkampungan yang saling berdekatan dan saling terlihat satu sama lain di antara kampung halaman mereka, di Yaman, dan negeri yang Kami berkahi. Kami jadikan jarak antarperkampungan itu sedemikian rupa sehingga dapat dicapai melalui perjalanan yang mudah, tanpa rintangan. Kami firmankan kepada mereka, “Berjalanlah kalian dalam perkampungan itu dengan aman di waktu siang atau malam hari.”

Surah Saba Ayat 19
فَقَالُواْ رَبَّنَا بَٰعِدۡ بَيۡنَ أَسۡفَارِنَا وَظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ فَجَعَلۡنَٰهُمۡ أَحَادِيثَ وَمَزَّقۡنَٰهُمۡ كُلَّ مُمَزَّقٍ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

Terjemahan: Maka mereka berkata: “Ya Tuhan kami jauhkanlah jarak perjalanan kami”, dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.

Tafsir Jalalain: فَقَالُواْ رَبَّنَا بَٰعِدۡ (Mereka berkata, “Ya Rabb kami! Jauhkanlah) menurut suatu qiraat huruf ‘Ain-nya di-tasydid-kan بَيۡنَ أَسۡفَارِنَا (jarak perjalanan kami”) ke negeri Syam, maksudnya jadikanlah tempat-tempat yang dilalui itu menjadi padang sahara, supaya jarak perjalanan itu dianggap sangat jauh bagi orang-orang yang miskin, yaitu karena membutuhkan bekal-bekal yang banyak dan persediaan air yang cukup. Maka mereka mengingkari nikmat tersebut,

وَظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ (dan mereka menganiaya diri mereka sendiri) dengan melakukan kekafiran فَجَعَلۡنَٰهُمۡ أَحَادِيثَ (maka Kami jadikan mereka buah mulut) bagi orang-orang yang sesudah mereka dalam hal itu وَمَزَّقۡنَٰهُمۡ كُلَّ مُمَزَّقٍ (dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya) Kami cerai-beraikan mereka dari negeri tempat tinggal mereka.

إِنَّ فِى ذَٰلِكَ (Sesungguhnya pada yang demikian itu) pada yang telah disebutkan itu لَءَايَٰتٍ (benar-benar terdapat tanda-tanda) yakni pelajaran لِّكُلِّ صَبَّارٍ (bagi setiap orang yang sabar) menahan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat شَكُورٍ (lagi bersyukur) atas nikmat-nikmat-Nya.

Baca Juga:  Surah Saba Ayat 3-6; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: فَقَالُواْ رَبَّنَا بَٰعِدۡ بَيۡنَ أَسۡفَارِنَا وَظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ulama lain membaca: ba’-‘id baina asfaarinaa; hal itu disebabkan mereka mengingkari nikmat ini, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, al-Hasan dan lainnya. Mereka menyenangi padang pasir dan gurun, dimana dalam menempuhnya memerlukan bekal, kendaraan dan berjalan di waktu terik disertai rasa takut.

Sebagaimana Bani Israil meminta kepada Musa agar Allah mengeluarkan bagi mereka tanam-tanaman yang ditumbuhkan bumi berupa sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah. Padahal mereka berada di dalam kehidupan yang makmur dengan manna dan salwa, serta makanan, minuman dan pakaian mewah yang mereka nikmati.

Untuk itu Allah berfirman kepada mereka: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pastikan kamu memperoleh apa yang kamu minta.’ Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah.” (al-Baqarah: 61) dan Allah berfirman tentang mereka:

فَقَالُواْ رَبَّنَا بَٰعِدۡ بَيۡنَ أَسۡفَارِنَا وَظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ (“Maka mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami.’ Dan mereka menganiaya diri mereka sendiri.”) yaitu oleh sebab kekufuran mereka.

فَجَعَلۡنَٰهُمۡ أَحَادِيثَ وَمَزَّقۡنَٰهُمۡ كُلَّ مُمَزَّقٍ (“Maka kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya.”) yaitu Kami jadikan mereka cerita bagi manusian dan sebagai dongeng yang dituturkan tentang kisah mereka. Bagaimana Allah menipu daya mereka dan menghancurkan mereka setelah mereka bersatu, bersaudara dan berada dalam kehidupan yang baik serta memecah-belah mereka di berbagai negeri.

Firman Allah: إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.”) sesungguhnya dalam peristiwa yang menimpa mereka berupa kemurkaan, siksaan, perubahan nikmat dan ‘afiat menjadi hukuman dikarenakan kekufuran dan dosa-dosa yang mereka lakukan sungguh mengandung pelajaran dan petunjuk bagi setiap hamba yang bersabar terhadap berbagai musibah serta bersyukur terhadap segala nikmat.

Di dalam ash-Shahihain dinyatakan dari hadits Abu Hurairah: “Sungguh menakjubkan urusan orang Mukmin. Tidak ada satu ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah baginya, kecuali itu pasti merupakan kebaikan. Jika ia mendapatkan kesenangan, dia pun bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika dia mendapatkan kesedihan/ kesulitan, dia pun bersabar, maka itu baik baginya. Dan itu semua hanya dimiliki oleh orang Mukmin.”

Tafsir Kemenag: Oleh karena itu, mereka meminta kepada Allah supaya di sepanjang perjalanan antara suatu negeri dengan negeri lain tidak ada tempat singgah untuk beristirahat, sehingga perjalanan harus dilanjutkan walaupun akan menderita berbagai macam kesulitan.

Beginilah watak mereka dan watak orang-orang sombong, sudah mendapat kemudahan, justru mereka menginginkan kesulitan dan penderitaan. Tidak ubahnya seperti Bani Israil yang telah diberi Allah makanan yang baik yaitu Manna dan Salwa, lalu mereka meminta makanan biasa, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja, maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti: sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merah.”

Baca Juga:  Surah Saba Ayat 31-33; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dia (Musa) menjawab, “Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke suatu kota, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.” Kemudian mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan, dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah. (al-Baqarah/2: 61)

Sebenarnya dengan permintaan itu, kaum Saba’ telah menganiaya diri sendiri dan tidak puas dengan karunia yang dianugerahkan Allah kepada mereka. Mereka telah lupa bahwa Allah menghancurkan negeri mereka yang subur dan makmur tiada lain karena mereka tidak mau beriman dan bersyukur atas karunia Allah.

Oleh sebab itu, Allah memenuhi permintaan mereka dengan meniadakan tempat singgah dalam perjalanan mereka, sehingga mereka kesulitan melakukan perdagangan, dan kehidupan mereka menjadi susah.

Mereka harus hijrah ke negeri lain meninggalkan negeri mereka dan berpencar-pencar ke sana kemari. Kabilah Jafnah bin Amr terpaksa tinggal di negeri Syam, Aus dan Khazraj di Medinah, dan Azad (Uman) tinggal di Oman. Demikian pula kabilah-kabilah yang lain.

Hilanglah wujud mereka sebagai suatu umat yang dahulunya sangat masyhur sebagai suatu umat yang mulia yang mempunyai peradaban dan kebudayaan yang tinggi. Yang tinggal hanya cerita-cerita yang diriwAyatkan dari mulut ke mulut dan kemasyhuran mereka hanya menjadi bahan penghibur, dibicarakan pada waktu mereka berjaga di malam hari.

Sesungguhnya yang dialami kaum Saba’ ini patut menjadi pelajaran bagi setiap orang yang sabar dan tahu bersyukur atas setiap nikmat yang diterimanya dari Allah. Setiap hamba harus bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya dan bersabar menerima cobaan-Nya. Bahkan ia harus bersyukur kepada Allah walaupun mendapat cobaan dari-Nya.

Diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash bahwa Rasulullah bersabda: Aku mengagumi ketetapan Allah untuk seorang mukmin. Bila ia mendapat kebaikan ia memuji dan bersyukur kepada-Nya. Bila ia ditimpa musibah ia memuji dan bersyukur kepada-Nya. Orang mukmin mendapat pahala dalam segala hal walaupun hanya sesuap makanan yang ia berikan untuk istrinya. (RiwAyat Ahmad).

Tafsir Quraish Shihab: Dengan nikmat kedamaian dan keamanan yang Kami berikan itu, mereka menjadi sombong dan berkata dengan bangga, “Ya Tuhan, jadikanlah jarak perjalanan kami menjadi jauh. Janganlah Engkau pertemukan kami dengan kota yang ramai di tengah perjalanan kami!” Mereka telah menganiaya diri sendiri dengan kesewenang-wenangan, sehingga Kami jadikan sebagai bahan perbincangan bagi orang lain. Mereka Kami ceraiberaikan sejadi-jadinya.

Sesungguhnya apa yang tengah menimpa diri mereka merupakan pelajaran berharga bagi orang yang bersabar atas musibah dan bagi orang yang mau mensyukuri karunia Tuhan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Saba Ayat 18-19 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S