Surah Taha Ayat 1-8; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Taha Ayat 1-8

Pecihitam.org – Kandungan Surah Taha Ayat 1-8 ini, sebelum kita membahas kandungan surah Taha terlebih dahulu kita memahami isi kandungan surah tersebut, seluruh ayat yang berjumlah 135, dalam surah ini diturunkan di Mekah, kecuali ayat 130 dan 131.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Surah ini dimulai dengan penyebutan dua huruf yang digunakan untuk menunjukkan kemukjizatan al-Qur’ân dan untuk menarik perhatian orang-orang yang mendengarnya. Setelah itu, dijelaskan kedudukan al-Qur’ân yang mulia dan terhormat karena diturunkan oleh Allah swt., Sang Penguasa langit dan bumi yang mengetahui semua rahasia.

Selanjutnya, dijelaskan kisah Nabi Mûsâ dengan Fir’aun, awal mula diutusnya Mûsâ, permohonan Mûsâ agar Hârûn dijadikan penolong dan pembantunya, serta keadaan mereka berdua saat bertemu dengan Fir’aun setelah sebelumnya mereka merasa takut bertemu karena kezalimannya. Di sela-sela itu Allah menjelaskan perjalanan hidup Nabi Mûsâ a. s.

Allah mengisyaratkan agar kisah Mûsâ dan kisah-kisah lainnya dapat dijadikan pelajaran. Pada bagian akhir surat ini terdapat beberapa wasiat untuk bersabar, menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik, perintah melaksanakan salat, kerancuan tuntutan orang-orang musyrik ketika meminta mukjizat selain al-Qur’ân dan petunjuk Allah tentang hikmah diutusnya para rasul. Sebagai khatimah, surat ini ditutup dengan penjelasan bahwa orang-orang kafir akan mendapat siksa, dan orang-orang Mukmin akan mendapat pahala.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Taha Ayat 1-8

Surah Taha Ayat 1
طه

Terjemahan: Thaahaa.

Tafsir Jalalain: Thaa Haa

Tafsir Ibnu Katsir: Thaahaa Termasuk huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian daripada surat-surat Al Quran, ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya.

diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian Para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu,

dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.

Tafsir Kemenag: thaha termasuk huruf-huruf hijaiyyah yang terletak pada permulaan beberapa surah Al-Qur’an. Para Mufassirin berbeda pendapat tentang maksud huruf-huruf itu. Untuk jelasnya dipersilahkan menela`ah kembali uraian yang ada pada permulaan surah al-Baqarah jilid I “Al-Qur’an dan tafsirnya” dengan judul “Fawatihus Suwar”.

Surah Taha Ayat 2
مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى

Terjemahan: Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah;

Tafsir Jalalain: (Kami tidak menurunkan Alquran ini kepadamu) hai Muhammad (agar kamu menjadi susah) supaya kamu letih dan payah disebabkan apa yang kamu kerjakan sesudah ia diturunkan, sehingga kamu harus berkepanjangan berdiri di dalam melakukan salat malam. Maksudnya berilah kesempatan istirahat bagi dirimu.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah Ta’ala: مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى (“Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.”) Juwaibir meriwayatkan dari adh-Dhahhak, setelah Allah menurunkan al-Qur’an kepada Rasul-Nya, maka beliau dan juga para shahabatnya.

melaksanakannya, lalu orang-orang musyrik dari kaum Quraisy berkata: “Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada Muhammad agar dia menadi susah.” Maka Allah ta’ala menurunkan ayat ini: ThaaHaa. مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى, إِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَن يَخْشَى (“Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut [kepada Allah].”)

kenyataan yang terjadi tidak seperti yang diakui oleh orang-orang sesat itu, tetapi barangsiapa yang diberi ilmu oleh Allah, berarti Dia telah menghendaki kebaikan yang banyak baginya, sebagaimana yang ditegaskan di dalam kitab ash-Shahihain dari Mu’awiyah, dimana dia bercerita, Rasulullah saw. berabda: “Barangsiapa yang Allah mengehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan memahamkan ilmu agama kepadanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan bukanlah untuk menyusahkan dan mencelakakan. Bagi Nabi Muhammad saw, ayat ini adalah sebagai hiburan.

Ditegaskan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan kepadanya bukanlah untuk menyusahkan, juga bukan untuk dipaksakan kepada orang-orang yang keras kepala, tetapi Al-Qur’an diturunkan kepadanya untuk disampaikan kepada umatnya dan untuk menjadi peringatan kepada mereka tentang perbuatannya yang sesat.

Kalau tugas Nabi Muhammad itu telah dilaksanakan dan dakwahnya telah dilakukan, tetapi umatnya masih juga membangkang dan tidak mau taat kepadanya, maka itu diserserahkan kepada Allah, karena kewajiban Nabi hanya menyampaikan apa yang menjadi tugasnya, sebagaimana firman Allah:

Maka jika mereka berpaling, maka ketahuilah kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (an-Nahl/16: 82)

Baca Juga:  Surah At-Taubah Ayat 40; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Oleh karena itu, Nabi Muhammad tidak perlu merasa gelisah, apalagi menghancurkan diri sendiri karena manusia tidak mau mengikuti seruannya, sebagaimana digambarkan Allah di dalam firman-Nya:

Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an). (al-Kahf/18: 6)

Begitu juga Nabi Muhammad tidak perlu merasa susah dalam menyampaikan Al-Qur’an kepada manusia, sebagaimana firman Allah:

(Inilah) Kitab yang diturunkan kepadamu (Muhammad); maka janganlah engkau sesak dada karenanya, agar engkau memberi peringatan dengan (Kitab) itu dan menjadi pelajaran bagi orang yang beriman. (al-A`raf/7: 2)

Al-Qurthubi menjelaskan tentang masuk Islamnya Umar bin al-Khaththab, saat itu Umar bin al-Khaththab masuk ke rumah iparnya Sa’id bin Zaid, ia sedang membaca Surah thaha bersama isterinya Fatimah binti al-Khaththab (adik Umar), dan Umar memintanya namun tidak diberikan sehingga ia marah dan merampas naskah tersebut. Ketika Umar membacanya, lunak dan lembutlah hatinya untuk menerima Islam.

Surah Taha Ayat 3
إِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَن يَخْشَى

Terjemahan: tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),

Tafsir Jalalain: إِلَّا (Tetapi) Kami turunkan Alquran ini تَذْكِرَةً (sebagai peringatan) melalui apa yang dikandungnya لِّمَن يَخْشَى (bagi orang yang takut) kepada Allah.

Tafsir Ibnu Katsir: ”إِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَن يَخْشَى (“tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut [kepada Allah].”) sesungguhnya Allah menurunkan kitab-Nya dan mengutus Rasul-Nya agar orang yang ingat semakin ingat, dan orang yang mendengar bisa mengambil manfaat dari apa yang didengarnya dari kitab Allah. Dan al-Qur’an merupakan peringatan yang diturunkan oleh Allah yang memuat ketetapan halal dan haram-Nya.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan untuk menjadi peringatan dan pelajaran bagi manusia. Manusia yang takut kepada Allah akan segera menerimanya dan memanfaatkan peringatan dan pelajaran itu baginya.

Sedang orang yang tidak takut kepada Allah, karena jiwanya beku, mempunyai hati yang keras seperti batu atau lebih keras lagi, tidak akan membekas sedikit pun peringatan dan pelajaran yang terkandung di dalam Al-Qur’an itu kepadanya.

Mereka itu seakan-akan tuli, bisu dan buta tidak berakal, seperti halnya makhluk-makhluk yang lain. Mereka itu akan dimasukkan ke dalam neraka kelak. Seperti tersebut dalam firman Allah:

Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah. (al-A’raf/7: 179).

Surah Taha Ayat 4
تَنزِيلًا مِّمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَى

Terjemahan: yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.

Tafsir Jalalain: تَنزِيلًا (Yaitu diturunkan) lafal تَنزِيلًا ini menjadi Badal dari lafal Fi’il yang menashabkannya, yakni Nazzalahu Tanziilan ِّمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَى (dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi). Lafal Al ‘Ula merupakan bentuk jamak dari kata ‘Ulyaa, keadaannya sama dengan lafal Kubraa dan Kubar.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: تَنزِيلًا مِّمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَى (“Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.”) artinya al-Qur’an yang datang kepadamu, hai Muhammad, adalah diturunkan dari Rabbmu, Rabb pemelihara segala sesuatu sekaligus pemiliknya yang kuasa atas segala yang Dia kehendaki, yang Dia telah menciptakan bumi dengan kerendahan dan kepadatannya, juga menciptakan langit yang tinggi dengan ketinggiannya dan juga kelembutannya.

Telah disebutkan dalam hadits yang dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan juga perawi lainnya, bahwa ketebalan setiap langit itu sama dengan perjalanan lima ratus tahun, dan jarak antara satu langit dengan langit lainnya sama dengan perjalanan lima ratus tahun.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Al-Qur’an yang dibawa oleh Nabi Muhammad itu berasal dari Allah, Tuhan yang menciptakan alam, Yang Mahakuasa atas segala apa yang Dia kehendaki. Dialah yang menciptakan bumi dan semua apa yang terdapat di dalamnya. Dialah yang menciptakan langit yang amat luas beserta segala isinya.

Surah Taha Ayat 5
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Terjemahan: (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.

Tafsir Jalalain: الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ Yaitu (Tuhan Yang Maha Pemurah, yang di atas Arasy) lafal Arasy ini menurut pengertian bahasa diartikan singgasana raja سْتَوَى (berkuasa) yakni bersemayam sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya.

Tafsir Ibnu Kasir: Firman-Nya: الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (“[yaitu] Yang Mahapemurah, yang bersemyam di atas ‘Arsy.”) pembahasan mengenai masalah ini telah diberikan di surah al-A’raaf. Jalan yang paling selamat dalam hal tersebut adalah manhaj Salaf, yaitu menetapkan apa yang terdapat di dalam al-Qur’an dan al-Hadits tanpa takyif [menanyakan bagaimana], tahrif [penyimpangan], tasybih [penyerupaan], ta’thil [penolakan], dan tamtsil [persamaan].

Baca Juga:  Surah Al-A'raf Ayat 82-84; Seri Tadabbur Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Pencipta langit dan bumi itu, adalah Yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arsy. Allah bersemayam di atas ‘Arsy, janganlah sekali-kali digambarkan seperti halnya seorang raja yang duduk di atas singgasananya, karena menggambarkan yang seperti itu, berarti telah menyerupakan Khaliq dengan makhluk-Nya. Anggapan seperti ini, tidak dibenarkan sama sekali oleh ajaran Islam, sesuai dengan firman Allah:

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat. (asy-Syura/42: 11)

Ibnu Kasir berkata di dalam kitab tafsirnya, bahwa cara yang paling baik dalam memahami ayat ini ialah cara yang telah ditempuh oleh Ulama Salaf, yaitu mempercayai ungkapan sebagaimana tercantum di atas ‘Arsy (duduk di atas tahta) tetapi cara atau kaifiatnya (duduk di atas tahta) tidak boleh disamakan dengan cara duduknya makhluk, seperti seseorang yang duduk di atas kursi. Hal itu sepenuhnya adalah wewenang Allah semata-mata, manusia tidak dapat mengetahui hakikatnya.

Surah Taha Ayat 6
لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى

Terjemahan: Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.

Tafsir Jalalain: لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا (Kepunyaan-Nyalah semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, semua yang ada di antara keduanya) yakni makhluk-makhluk yang ada di antara keduanya

وَمَا تَحْتَ الثَّرَى (dan semua yang di bawah tanah) yaitu lapisan tanah yang masih basah, yang dimaksud adalah di bawah semua lapisan bumi yang tujuh, karena lapisan bumi yang berjumlah tujuh itu berada di bawah lapisan tanah yang basah.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya selanjutnya: لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى (“Kepunyaan-Nya lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.”) maksudnya, segala sesuatu adalah milik-Nya, berada di bawah kendali, kehendak, keinginan, dan keputusan-Nya,

dan Dialah Pencipta semua itu sekaligus Rajanya dan juga Rabbnya, yang tidak ada ilah [yang berhak diibadahi] selain Dia, dan tidak juga ada Rabb selain Dia semata.

Firman-Nya: وَمَا تَحْتَ الثَّرَى (“Dan semua yang ada di bawah tanah.”) Muhammad bin Ka’ab mengatakan, yakni, apa yang terdapat di bawah bumi ketujuh. wallaaHu a’lam.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa semua yang ada di langit, di bumi, di antara langit dan bumi, begitu juga semua yang ada di dalam tanah, baik yang sudah diketahui maupun yang belum diketahui adalah kepunyaan Allah.

Dialah yang menguasai semuanya, dan mengatur sekehendak-Nya. Dialah yang mengetahui segala yang ada, baik yang gaib maupun yang nyata. Tidak ada sesuatu yang bergerak, diam, berubah, tetap, dan lain-lain sebagainya kecuali dengan izin-Nya, sesuai dengan kodrat iradat-Nya. Firman Allah:

Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkannya (tentang perbuatan itu) bagimu. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (al-Baqarah/2: 284).

Surah Taha Ayat 7
وَإِن تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى

Terjemahan: Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.

Tafsir Jalalain: وَإِن تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ (Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu) di dalam berzikir atau berdoa, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan suara keras engkau sewaktu melakukan hal tersebut

فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى (maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi) daripada rahasia, maksudnya adalah semua apa yang ada dalam hati manusia yang tidak diungkapkannya, maka janganlah engkau memayahkan dirimu dengan mengeraskan suaramu.

Tafsir Ibnu Kasir: Firman-Nya: وَإِن تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى (“Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia yang telah tersembunui.”) maksudnya, yang menurunkan al-Qur’an ini adalah Rabb yang telah menciptakan bumi dan langit yang tinggi, dan Dia mengetahui segala rahasia yang lebih tersembunyi lagi.

‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas: ya’lamus sirra wa akhfaa (“Dia mengetahui rahasia yang telah tersembunyi.”) Dia mengetahui: assirru; adalah yang dirahasiakan oleh anak cucu Adam di dalam dirinya. وَأَخْفَى; yakni apa yang tersembunyi pada anak cucu Adam yang dia akan menjadi pelakunya sebelum dia mengetahuinya.

Baca Juga:  Surah An-Nur Ayat 32-34; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dengan demikian Allah Ta’ala mengetahui semuanya itu. Ilmu-Nya tentang hal-hal yang telah berlalu dan yang masih berjalan adalah satu. Dan bagi-nya, dalam hal itu semua makhluk adalah seperti satu jiwa. Itulah makna firman-Nya:

maa khalqukum wa laa ba’tsukum illaa kanafsiw waahidatin (“Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkanmu [dari dalam kubur] itu melainkan hanyalah seperti [menciptakan dan membangkitkan] satu jiwa saja.”)( Luqman: 28)

Mengenai firman-Nya: يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى (“Dia mengetahui segala rahasia dan yang telah tersembunyi.”) adh-Dhahhak mengatakan, yang disebut rahasia adalah yang terbetik di dalam jiwamu, sedangkan yang tersembunyi adalah apa yang belum terbetik di dalam dirimu.

Sedangkan menurut Sa’id bin Jubair, artinya kamu mengetahui apa yang kamu rahasiakan hari ini, tapi tidak mengetahui apa yang kamu rahasiakan besok. Sedangkan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan hari ini dan apa yang kamu rahasiakan besok.

Mujahid mengatakan: وَأَخْفَى (“dan yang telah tersembunyi.”) yakni rasa was-was.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa di waktu mengucapkan doa atau zikir, tidak perlu dengan suara keras. Bagi Allah sama saja baik itu dengan suara keras atau tidak. Allah mengetahui apa-apa yang dirahasiakan begitu juga yang lebih tersembunyi dari rahasia itu, seperti bisikan hati, atau sesuatu yang melintas di dalam pikiran. Doa dan zikir itu diucapkan dengan lidah hanya untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hati kita. Allah berfirman:

Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati. (al-Mulk/67: 13)

Sejalan dengan ayat ini, firman Allah: Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah. (al- A’raf/7: 205).

Surah Taha Ayat 8
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى

Terjemahan: Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik),

Tafsir Jalalain: اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى (Dialah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Dia mempunyai Asmaulhusna) jumlahnya sebanyak yang disebutkan di dalam hadis yaitu sembilan puluh sembilan nama-nama yang baik. Lafal Al Husna bentuk Muannats daripada lafal Al Ahsan.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى (“Dialah Allah, tidak ada ilah [yang berhak diibadahi] melainkan Dia. Dia mempunyai al-Asmaa-ul husna [nama-nama yang baik].”) maksudnya Rabb yang telah menurunkan al-Qur’an kepadamu itu adalah Allah yang tiada Ilah [yang berhak diibadahi] selain Dia, yang mempunyai nama-nama yang baik [Asmaul husna] dan sifat-sifat yang tinggi. Dan telah dikemukakan penjelasan beberapa hadits yang berkenaan dengan Asmaul husna pada bagian akhir surah al-A’raaf. alhamdulillaaH.

Tafsir Kemenag: Allah yang menurunkan Al-Qur’an itu adalah yang menciptakan dan Pemilik alam ini, karena itu Al-Qur’an itu tidak diragukan kebenarannya. Allah Mahakuasa dan tempat manusia meminta. Untuk memanggil-Nya, Allah memiliki banyak nama. Semua nama itu baik, karena menunjukkan kepada kesempurnaan-Nya, keperkasaan dan keagungan-Nya.

Namun demikian, zat-Nya tetap, tidak terbilang. Di dalam hadis yang mutawatir, disebutkan bahwa Allah mempunyai 99 nama. Sabda Nabi Muhammad saw: Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, seratus kurang satu. Barangsiapa menghafalkannya (menyesuaikannya) masuk surga. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Diriwayatkan bahwa ketika Abu Jahal mendengar Nabi Muhammad saw di dalam seruannya menyebut, “Ya Allah! Ya Rahman!” Berkata Abu Jahal kepada Walid bin Mugirah, “Muhammad melarang kita menyeru bersama Allah dengan Tuhan yang lain, padahal dia sendiri menyeru Allah bersama Ar Rahman.”

Maka turunlah ayat yang menegaskan bahwa Allah itu mempunyai banyak nama, sebagaimana firman Allah: Katakanlah (Muhammad), “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asma’ul husna) dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam salat dan janganlah (pula) merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu.”. (al-Isra`/17: 110)

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Taha Ayat 1-8 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S