Surah Taha Ayat 11-16; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Taha Ayat 11-16

Pecihitam.org – Kandungan Surah Taha Ayat 11-16 ini, menerangkan Pertemuan pertama kali nabi Musa dengan Allah swt dan beberapa perintah yang disampaikan Allah swt kepada nabi Musa.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Taha Ayat 11-16

Surah Taha Ayat 11
فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ يَا مُوسَى

Terjemahan: Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa.

Tafsir Jalalain: فَلَمَّا أَتَاهَا (Maka ketika ia datang ke tempat api itu) yaitu di pohon ‘Ausaj نُودِيَ يَا مُوسَى (ia dipanggil, “Hai Musa!).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman: فَلَمَّا أَتَاهَا (“Maka, ketika ia datang ke tempat api itu,”) yakni, ia mendekati api itu; نُودِيَ يَا مُوسَى (“Ia dipanggil: Hai Musa.”)

Tafsir Kemenag: Ketika Musa a.s., sampai di tempat api, dia melihat api itu bercahaya putih bersih mengitari sebuah pohon berwarna hijau. Musa keheran-heranan melihat kejadian itu, karena cahaya api yang putih bersih itu, tidak mengurangi kehijauan warna pohon, begitu pula sebaliknya, warna hijau pohon itu tidak mengurangi cahaya putih api itu. Di kala itulah Musa a.s., mendengar suara memanggil, “Hai Musa.”.

Surah Taha Ayat 12
إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى

Terjemahan: Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa.

Tafsir jalalain: إِنِّي أَنَا (Sesungguhnya Aku) dibaca Innii karena dengan menganggap lafal Nudiya bermakna Qiila. Dan bila dibaca Annii maka diperkirakan adanya huruf Ba sebelumnya (inilah) lafal Anaa di sini berfungsi mentaukidkan makna yang terkandung di dalam Ya Mutakallim

رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ (Rabbmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci) lembah yang disucikan, atau lembah yang diberkati طُوًى (Thuwa) menjadi Badal atau ‘Athaf Bayan.

Kalau dibaca Thuwan maka dianggap sebagai nama tempat saja dan jika dibaca Thuwa dalam bentuk lafal yang Muannats, maka dianggap sebagai nama daerah dan ‘Alamiyah, sehingga tidak menerima harakat Tanwin.

Tafsir Ibnu Katsir: إِنِّي أَنَا رَبُّكَ (“Sesungguhnya Aku ini Rabbmu,”) yakni, yang berbicara dan berfirman langsung kepadamu; فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ (“Maka tanggalkanlah kedua terompahmu.”) ‘Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar, Abu Ayyub, dan tidak sedikit dari kaum Salaf mengatakan: “Kedua terompah itu berasal dari kulit keledai yang kurang baik.”

Ada juga yang mengatakan: “Allah menyuruh Musa menanggalkan kedua terompahnya itu sebagai penghormatan bagi tempat tersebut.” Sedangkan Sa’id bin Jubair mengatakan: “Sebagaimana seseorang diperintahkan untuk menanggalkan kedua terompahnya jika hendak memasuki Ka’bah.” Ada juga yang berpendapat:

“Agar Musa menginjak langsung tanah suci itu dengan kedua kakinya dalam keadaan tidak beralas kaki, tanpa terompah yang melapisinya.” Dan ada juga yang berpendapat lain. WallaHu a’lam.

Firman-Nya: طُوًى (“Thuwa.”) ‘Ali bin Abi Thalhah bercerita dari Ibnu `Abbas, “Yaitu nama lembah.” Demikian juga yang dikatakan beberapa ulama lainnya. Dan berdasarkan hal itu, penyambungan di sini sebagai penjelasan.

Tafsir Kemenag: Mendengar panggilan itu, Musa terkejut dan ragu, dari mana datangnya suara itu. Suara panggilan itu disusul kemudian dengan suara, yang menyatakan bahwa Allah adalah Tuhan yang telah menciptakan manusia dengan sempurna, kemudian suara itu memintanya agar Musa menanggalkan kedua alas kakinya karena ia berada di suatu lembah bernama “thuwa”, lembah yang suci dan sangat dihormati.

Surah Taha Ayat 13
وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى

Terjemahan: Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).

Tafsir Jalalain: وَأَنَا اخْتَرْتُكَ (Dan Aku telah memilih kamu) dari kaummu فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى (maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan kepadamu) dari-Ku.

Baca Juga:  Tafsir bi al Ra'yi; Memahami al Quran dengan Menggunakan Akal

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: وَأَنَا اخْتَرْتُكَ (“Dan Aku telah memilihmu.”) Penggalan ayat ini sama seperti firman-Nya: “Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihi an)mu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku.” (QS. Al-A’raaf: 144).

Yakni, kepada seluruh umat manusia yang ada pada masanya. Ada juga yang mengatakan, bahwa Allah Ta’ala berfirman: “Hai Musa, apakah kamu tahu mengapa Aku mengistimewakan dirimu di antara semua umat manusia untuk Aku ajak berbicara langsung dengan-Ku?” “Tidak,” jawab Musa. Allah berfirman, “Karena tidak ada seorang pun yang bertawadhu’ (merendahkan diri) kepada-Ku melebihi tawadhu’mu.”

Firman-Nya: فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى (“Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan [kepadamu].” Maksudnya, sekarang dengarkanlah apa yang akan Aku katakan dan wahyukan kepadamu.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia telah memilih dan menetapkan Musa a.s. menjadi nabi dan rasul lalu ia diminta untuk mendengarkan wahyu yang akan disampaikan kepadanya. Sejalan dengan ayat ini firman Allah:

(Allah) berfirman, “Wahai Musa! Sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) engkau dari manusia yang lain (pada masamu) untuk membawa risalah-Ku dan firman-Ku., sebab itu berpegangteguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.” (al-A`raf/7: 144).

Surah Taha Ayat 14
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Terjemahan: Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

Tafsir Jalalain: إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي (Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku) di dalam salat itu.

Tafsir Ibnu Katsir: “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Ilah (yang haq) selain Aku,” dan inilah kewajiban pertama yang dilimpahkan kepada para mukallaf, yaitu hendaklah mereka mengetahui bahwasanya tidak ada Ilah (yang haq) kecuali Allah, yang tiada sekutu bagi-Nya.

فَاعْبُدْنِ (“Maka sembahlah Aku,”) yakni, esakanlah diri-Ku dan sembahlah Aku dengan tidak menyandingkan sekutu selain diri-Ku. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي (“Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”) Ada yang mengatakan, artinya, dirikanlah shalat untuk mengingat diri-Ku.

Ada juga yang mengatakan lain, artinya, dirikanlah shalat pada saat engkau ingat kepada-Ku. Pendapat yang kedua itu didasarkan pada apa yang diriwayatkan Imam Ahmad, dari Anas, dari Rasulullah saw, di mana beliau bersabda:

“Jika salah seorang di antara kalian tertidur sehingga tertinggal shalat atau lupa mengerjakannya, maka hendaklah dia mengerjakannya pada saat dia ingat, karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman, `Dan dirikanlah shalat untuk mengingat diri-Ku.’”

Dan dalam kitab ash-Shahihain diriwayatkan dari Anas, dimana dia bercerita, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa tertidur sehingga tidak mengerjakan shalat atau lupa (mengerjakan)nya, maka kafaratnya adalah hendaklah dia mengerjakannya jika dia mengingatnya, dan tidak ada kafarat lain selain itu.”

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa wahyu yang utama dan yang disampaikan ialah bahwa tiada Tuhan yang sebenarnya melainkan Allah dan tiada sekutu bagi-Nya, untuk menanamkan rasa tauhid, mengesakan Allah, memantapkan pengakuan yang disertai dengan keyakinan dan dibuktikan dengan amal perbuatan.

Oleh karena itu hanya Dialah satu-satunya yang wajib disembah, ditaati peraturan-peraturan-Nya. Tauhid ini, adalah pokok dari segala yang pokok, dan tauhid ini juga merupakan kewajiban pertama dan harus diajarkan lebih dahulu kepada manusia, sebelum pelajaran-pelajaran agama yang lain.

Pada akhir ayat ini Allah menekankan supaya salat didirikan. Tentunya salat yang sesuai dengan perintah-Nya, lengkap dengan rukun-rukun dan syarat-syaratnya, untuk mengingat Allah dan berdoa memohon kepada-Nya dengan penuh ikhlas.

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 57-59; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Salat disebut di sini secara khusus, untuk menunjukkan keutamaan ibadat salat itu dibanding dengan ibadat-ibadat wajib yang lain, seperti puasa, zakat, haji dan lain-lain. Keutamaan ibadat salat itu antara lain ialah apabila dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan tata tertib yang telah digariskan untuknya, ia akan mencegah seseorang dari perbuatan yang keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah:

Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (al-‘Ankabut/29: 45)

Sebagian ahli Tafsir berpendapat bahwa penutup ayat ini, ditujukan kepada orang yang tidak menunaikan salat pada waktunya, apakah karena lupa atau yang lainnya, supaya melaksanakannya apabila ia sudah sadar dan mengingat perintah Allah yang ditinggalkan itu sebagaimana sabda Rasulullah saw.

Barang siapa yang tertidur dari salat atau lupa, maka imbangannya (kafaratnya) adalah salat ketika ia ingat. Tidak ada imbangan lain selain itu. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik) Dan sabdanya pula:

Apabila salah seorang kamu tidur sehingga tidak salat atau lupa salat hendaklah ia menunaikannya apabila ia telah mengingatnya, karena sesungguhnya Allah berfirman, “Dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Anas)

Salah satu fungsi salat adalah untuk mengingat Allah, namun bukan berarti boleh tidak menunaikan salat hanya cukup ingat kepada Allah, karena zikir itu dengan hati, lisan dan anggota badan.

Surah Taha Ayat 15
إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَى

Terjemahan: Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.

Tafsir Jalalain: إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَى (Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan waktunya) dari manusia dan menampakkan kepada mereka hanya dekatnya hari kiamat melalui alamat-alamatnya supaya mendapatkan balasan) di hari itu كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَى (tiap-tiap diri itu dengan apa yang ia usahakan) apakah kebaikan ataukah keburukan.

Tafsir Ibnu Kasir: Dan firman-Nya: إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ (“Sesungguhnya hari Kiamat itu akan datang.”) Maksudnya, hari Kiamat itu pasti terjadi, tidak diragukan lagi dan menjadi suatu keharusan. Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari IbnuAbbas,

“Aku merahasiakan (waktunya).” Dia menyatakan, “Aku tidak memperlihatkan kepada seorang pun selain diri-Ku. As-Suddi mengatakan: “Tidak seorang pun dari penduduk langit dan bumi ini melainkan telah disembunyikan darinya pengetahuan tentang hari Kiamat.”

Firman Allah: لِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَى (“Agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang diusahakannya.”) Maksudnya, Aku pasti mendatangkan hari Kiamat untuk memberikan balasan kepada setiap orang atas apa yang dikerjakannya.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa hari Kiamat itu pasti datang, tetapi Allah sengaja merahasiakan dan tidak menjelaskan waktunya, kapan hari Kiamat itu terjadi. Sengaja Allah merahasiakan waktu terjadinya hari Kiamat, agar dengan demikian manusia selalu berhati-hati dan waspada serta siap untuk menghadapinya.

Dirahasiakannya kedatangan hari Kiamat sama halnya dengan dirahasiakannya kapan ajalnya seseorang itu tiba. Tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui kapan dan di mana ia akan mati, sebagaimana firman Allah:

Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. (Luqman/31: 34). Apabila seseorang mengetahui kapan ajalnya tiba tentunya ia akan berbuat semau hatinya, menurutkan hawa nafsunya, mengerjakan segala macam maksiat yang dikehendakinya.

Baca Juga:  Surah Al-Kahfi Ayat 80-81; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Sesudah ajalnya dekat barulah ia tobat dan Allah akan menerima tobatnya sesuai dengan janji-Nya. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, sebagaimana firman-Nya: Sungguh, Allah tidak menyalahi janji. (Ali Imran/3: 9)

Tetapi kalau ia tidak tahu kapan ajalnya tiba, tentunya ia selalu hati-hati, perintah dikerjakannya, larangan dijauhinya. Apabila ia berbuat masiat, segera ia bertobat karena takut kalau ajalnya datang mendadak sebelum ia bertobat.

Jadi, gunanya kiamat dirahasiakan adalah supaya manusia giat berbuat baik, bila manusia yang seharusnya berbuat baik tetapi ia berbuat jahat, maka sangat pantaslah orang itu dihukum. Oleh karena itulah sangat adil bila yang berbuat baik itu diberi imbalan dan yang berbuat jahat diberi azab. Firman Allah:

Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (az-Zalzalah/99: 7-8)

Dan firman-Nya: Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan atas apa yang telah kamu kerjakan. (ath-thur/52: 16).

Surah Taha Ayat 16
فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَن لَّا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَتَرْدَى

Terjemahan: Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa”.

Tafsir Jalalain: فَلَا يَصُدَّنَّكَ (Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan) dibelokkan عَنْهَا (daripadanya) dari iman kepada adanya hari kiamat مَن لَّا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ (oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya) untuk ingkar kepada adanya hari kiamat فَتَرْدَى (yang menyebabkan kamu jadi binasa”) sedangkan mereka pasti akan binasa.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَن لَّا يُؤْمِنُ بِهَا (“Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh yang tidak beriman kepadanya.”) Yang menjadi sasaran dari khithab ini adalah setiap individu dari para mukallaf. Yakni, janganlah kalian mengikuti jalan orang-orang yang mendustakan hari Kiamat dan lebih memilih kenikmatan dunianya, mendurhakai tuannya serta mengikuti hawa nafsunya.

Barangsiapa mengikuti mereka dalam melakukan hal tersebut, maka dia benar-benar telah gagal lagi merugi; فَتَرْدَى (“Yang menyebabkan kamu binasa. “Yakni, hancur dan lenyap.

Tafsir Kemenag: Sekalipun ayat ini ditujukan kepada Nabi Musa a.s., tetapi itu merupakan pelajaran bagi kaum Muslimin. Allah meminta agar kita tidak terpengaruh oleh orang-orang yang tidak percaya kepada hari Kiamat dan orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya. Kalau kita ikuti keinginan orang-orang itu, maka kita akan merugi dan menyesal. Harta kekayaan, kemewahan tidak akan dapat menolong kita dari azab Allah, sebagaimana firman Allah:

“Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (al- Lail/92: 11), Juga keluarga kita tidak akan bisa dan mungkin menolong sebagaimana firman Allah:

Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. (‘Abasa/80: 34-37).

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Taha Ayat 11-16 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S