Surah Taha Ayat 22-35; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Taha Ayat 22-35

Pecihitam.org – Kandungan Surah Taha Ayat 22-35 ini, menerangkan tentang mukjizat kedua yang Allah swt berikan kepada Musa, berikutnya perintah agar berdakwah kepada Firaun. Dijelaskan juga terdapat doa nabi Musa agar dikuatkan hatinya dan agar saudaranya Harun diutus bersamanya menghadap firaun.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Taha Ayat 22-35

Surah Taha Ayat 22
وَاضْمُمْ يَدَكَ إِلَى جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ آيَةً أُخْرَى

Terjemahan: dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia ke luar menjadi putih cemerlang tanpa cacad, sebagai mukjizat yang lain (pula),

Tafsir Jalalain: وَاضْمُمْ يَدَكَ (Dan kepitkanlah tanganmu) yang sebelah kanan, yang dimaksud adalah telapak tangannya إِلَى جَنَاحِكَ (ke ketiakmu) yakni dijepitkan pada tubuhmu yang sebelah kiri, yaitu pada tempat antara ketiak dan lenganmu, kemudian keluarkanlah ia تَخْرُجْ (niscaya ia keluar) dalam keadaan berbeda dengan warna kulit yang sebelumnya, yaitu

بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ (menjadi putih cemerlang tanpa cacat) putih bersinar dengan cemerlang sebagaimana sinar matahari, dan sinarnya itu menyilaukan pandangan mata آيَةً أُخْرَى (sebagai mukjizat yang lain) tangan itu bisa menjadi putih bersinar; lafal Baidhaa’a dan lafal Aayatan Ukhraa keduanya menjadi Hal atau kata keterangan keadaan bagi Dhamir yang terkandung di dalam lafal Takhruj.

Tafsir Ibnu Katsir: Inilah bukti kedua bagi Musa as, yaitu bahwa Allah telah memerintahkannya untuk memasukkan tangannya ke leher baju, sebagaimana yang ditegaskan dalam ayat yang lain. Di sini pun hat itu diungkapkan dengan jelas melalui firman-Nya:

وَاضْمُمْ يَدَكَ إِلَى جَنَاحِكَ (“Dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu.”) Di ayat yang lain, Dia berfirman: وَاضْمُمْ إِلَيْكَ جَنَاحَكَ مِنَ الرَّهْبِ فَذَانِكَ بُرْهَانَانِ مِن رَّبِّكَ إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ (“Dan dekapkanlah kedua tanganmu [ke dada]-mu bila ketakutan, maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari Rabbmu [yang akan kamu hadapkan] kepada Fir’aun dan pembesar pembesarnya.”) (QS. Al-Qashash: 32)

Mujahid mengatakan: “Masukkanlah tanganmu ke ketiakmu, telapak tanganmu berada di bawah lenganmu. Jika Musa as. memasukkan tangannya ke leher bajunya, lalu mengeluarkannya kembali, maka akan keluar warna putih yang berkilauan, seakan-akan ia adalah potongan dari bulan.”

Firman-Nya: تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ (“Niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat,”) yakni, tanpa belang dan tidak juga penyakit serta tanpa cela. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid,Ikrimah, Qatadah, adh-Dhahhak, as-Suddi, dan selain mereka. Dengan demikian, Musa mengetahui bahwa dirinya telah bertemu dengan Rabbnya.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah memerintahkan Musa a.s. supaya memasukkan tangan kanannya dari lengan bajunya dan meletakkannya di bawah ketiak kirinya, maka setelah dikeluarkan tangannya itu akan menjadi putih bersih bercahaya dan tanpa cacat sedikit pun. Ini adalah mukjizat kedua sesudah mukjizat pertama yang mengubah tongkat menjadi ular yang gesit, untuk menunjukkan kebenaran kerasulannya bagi umat yang ia diutus kepada-Nya.

Surah Taha Ayat 23
لِنُرِيَكَ مِنْ آيَاتِنَا الْكُبْرَى

Terjemahan: untuk Kami perlihatkan kepadamu sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar,

Tafsir Jalalain: لِنُرِيَكَ (Untuk Kami perlihatkan kepadamu) Kami sengaja melakukan hal itu bilamana kamu sewaktu-waktu mau menggunakannya, untuk memperlihatkan kepadamu مِنْ آيَاتِنَا (sebagian tanda-tanda kekuasaan Kami) bukti kekuasaan Kami

الْكُبْرَى (yang sangat besar) bukti yang besar bagi kerasulanmu. Apabila Nabi Musa hendak mengembalikan tangannya seperti semula, maka ia mengepitkannya lagi pada ketiaknya seperti yang dilakukannya semula, kemudian mengeluarkannya kembali.

Tafsir Ibnu Katsir: Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: لِنُرِيَكَ مِنْ آيَاتِنَا الْكُبْرَى (“Untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar.”) Wahab mengatakan: “Rabbnya berkata kepadanya, ‘Mendekatlah kepadanya.’

Dia masih terus mendekatinya sampai dia menyandarkan punggungnya ke sebuah batang pohon, sehingga dia bisa menguasai diri dan rasa takut pun hilang. Dia pun menyatukan tangannya pada tongkat itu seraya menundukkan kepala dan lehernya.”

Tafsir Kemenag: Allah melakukan itu semua untuk memperlihatkan bukti-bukti kesempurnaan kekuasaan-Nya dan keajaiban perbuatan-Nya di langit dan di bumi.

Surah Taha Ayat 24
اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى

Terjemahan: Pergilah kepada Fir’aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas”.

Tafsir Jalalain: اذْهَبْ (Pergilah) sebagai seorang Rasul إِلَى فِرْعَوْنَ (kepada Firaun) dan orang-orang yang mengikutinya إِنَّهُ طَغَى (sesungguhnya ia telah melampaui batas)” sangat keterlaluan di dalam kekafirannya, hingga ia berani mengaku menjadi tuhan.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (“Pergilah kepada Fir’aun; sesungguhnya ia telah melampai batas.”) Maksudnya, pergilah kepada Fir’aun, raja Mesir yang engkau telah pergi melarikan diri darinya. Serulah dia untuk beribadah kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya.

Perintahkan dia untuk berbuat baik kepada Bani Israil dan tidak menyiksa mereka, karena sesungguhnya dia benar-benar telah melampaui batas, serta lebih mengutamakan kehidupan dunia dan melupakan Rabb yang Mahatinggi.

Tafsir Kemenag: Setelah Allah menampakkan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya, kemudian Ia memerintahkan Musa untuk pergi kepada Firaun yang kejam dan mengajaknya agar ia mau menyembah Allah serta mengancamnya akan mendapat murka dan siksa dari Allah jika ia membangkang, dan melampaui batas, durhaka dan sombong, bahkan ia berani mengaku bahwa dirinya adalah tuhan dengan ucapannya,”Sayalah tuhan kalian yang tinggi.”

Diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih bahwa setelah perintah itu datang, Musa diam tidak berkata-kata selama tujuh hari memikirkan beratnya tugas yang dibebankan kepadanya. Setelah ia didatangi malaikat dengan ucapan, “Taatilah Tuhanmu sesuai dengan perintah-Nya,”

Baca Juga:  Surah Al-Fath Ayat 1-3; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

barulah ia bangkit melaksanakan perintah dan mengharapkan agar Allah melapangkan dadanya untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan berani dalam menghadapi Firaun. Ia merasa bahwa beban yang dipikulkan atasnya adalah suatu urusan besar dan amat berat, tidak dapat dilaksanakan kecuali dengan keberanian yang mantap dan dada yang lapang.

Ia diperingatkan untuk menghadapi seorang raja yang kekuasaannya paling besar, paling kejam, sangat ingkar sangat banyak tentaranya, makmur kerajaannya, berlebihan dalam segala hal. Puncak kesombongan itu ialah dia tidak mengenal tuhan selain dirinya sendiri.

Surah Taha Ayat 25
قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي

Terjemahan: Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku,

Tafsir Jalalain: قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي (Berkata Musa, “Ya Rabbku! Lapangkanlah untukku dadaku,) maksudnya lapangkanlah dadaku supaya mampu mengemban risalah-Mu.

Tafsir Ibnu Katsir: قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي (“Musa berkata: ‘Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku.’”) Hal itu merupakan permintaan dari Musa as. kepada Rabbnya, agar Dia melapangkan dadanya dalam mengemban apa yang dengannya dia diutus. Di mana Allah telah menyuruhnya dengan suatu hal yang sangat agung.

Dia mengutusnya kepada raja yang paling berpengaruh di muka bumi ini pada saat itu, paling bengis, paling kufur, paling banyak memiliki bala tentara, paling sewenang-wenang, dan paling ingkar. Dia sungguh keterlaluan, di mana dia mengaku bahwa dia tidak mengenal Allah dan tidak juga memperkenalkan bagi rakyatnya Rabb lain selain dirinya.

Demikianlah, sedang Musa pernah tinggal di kediaman Fir’aun ketika kecil, di kamar Fir’aun dan bahkan tidur di atas kasurnya. Kemudian dia membunuh seseorang di antara mereka, sehingga dia takut mereka juga akan membunuhnya.

Lalu dia pun lari dari mereka, selama sekian masa ini. Setelah itu, Rabbnya mengutusnya kepada mereka lagi untuk memberikan peringatan seraya mengajak mereka kepada Allah A agar mereka beribadah kepada-Nya semata, yang tiada sekutu bagi-Nya.

Tafsir Kemenag: Perintah Allah kepada Musa untuk menghadap dan menemui Firaun adalah merupakan tugas yang sangat berat, oleh sebab itu Musa berdoa dan memohon kepada Allah untuk dilapangkan dadanya dan dikuatkan mentalnya ketika ia berhadapan dengan Firaun. Firman Allah :

Sehingga dadaku terasa sempit dan lidahku tidak lancar, maka utuslah Harun (bersamaku). (asy-Su`ara/26: 13)

Di samping itu, ia juga memohon kepada Allah supaya dimudahkan segala urusannya, terutama dalam menyampaikan berita kerasulannya kepada Firaun, serta diberi kekuatan yang cukup untuk dapat menyebarkan agama dan memperbaiki keadaan umat, sebab tanpa bantuan dan pertolongan Allah, Musa tidak akan mampu untuk berbuat sesuatu.

Surah Taha Ayat 26
وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي

Terjemahan: dan mudahkanlah untukku urusanku,

Tafsir Jalalain: وَيَسِّرْ (Dan mudahkanlah) permudahlah لِي أَمْرِي (untukku urusanku) supaya aku dapat menyampaikannya.

Tafsir Ibnu Kasir: Oleh karena itu, Musa berkata: وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي (“Musa berkata: ‘Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku.’”) Yakni, jika Engkau tidak menjadi penolong, pembela, pembantu dan pengayomku, niscaya tidak ada kekuatan padaku untuk melakukan hal tersebut.

Tafsir Kemenag: Perintah Allah kepada Musa untuk menghadap dan menemui Firaun adalah merupakan tugas yang sangat berat, oleh sebab itu Musa berdoa dan memohon kepada Allah untuk dilapangkan dadanya dan dikuatkan mentalnya ketika ia berhadapan dengan Firaun. Firman Allah :

Sehingga dadaku terasa sempit dan lidahku tidak lancar, maka utuslah Harun (bersamaku). (asy-Su`ara/26: 13)

Di samping itu, ia juga memohon kepada Allah supaya dimudahkan segala urusannya, terutama dalam menyampaikan berita kerasulannya kepada Firaun, serta diberi kekuatan yang cukup untuk dapat menyebarkan agama dan memperbaiki keadaan umat, sebab tanpa bantuan dan pertolongan Allah, Musa tidak akan mampu untuk berbuat sesuatu.

Surah Taha Ayat 27
وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي

Terjemahan: dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,

Tafsir Jalalain: وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي (Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku) keadaan ini terjadi sejak lidahnya terbakar bara api yang ia masukkan ke dalam mulutnya sewaktu masih kecil.

Tafsir Ibnu Katsir: وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي (“Dan lepaskanlah kekakuan lidahku.“) Yang demikian itu, karena dia pernah mengalami pelat (cadel), yakni ketika ditawarkan kepadanya tamrah (kurma) dan jamrah (bara api), lalu dia mengambil bara api dan meletakkannya di atas lidahnya, sebagaimana yang akan dijelaskan lebih lanjut.

Dia tidak meminta hal itu dihilangkan secara keseluruhan, tetapi hanya dihilangkan kesulitan berbicara dan dapat memahamkan kepada mereka apa yang dikehendakinya, yaitu sesuai dengan kebutuhan. Jika dia meminta dihilangkan hal itu secara keseluruhan, niscaya semuanya itu akan hilang, tetapi para Nabi itu tidak meminta kecuali sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu masih ada sisa-sisa cadel itu padanya.

Allah Ta’ala berfirman seraya menceritakan tentang Fir’aun, di mana dia berkata: أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِّنْ هَذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلَا يَكَادُ يُبِينُ (“Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan [perkataannya].”) (QS. Az-Zukhruf: 52). Yakni, fasih berbicara.

Mengenai firman-Nya: وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِ (“Dan lepaskanlah kekakuan lidahku,”) al-Hasan al-Basliri mengatakan: “Yakni, pelepasan satu kekakuan saja, seandainya Musa meminta lebih dari itu, pasti Allah akan memberinya.”

Ibnu Abbas mengatakan: “Musa pernah mengadukan kepada Rabbnya tentang apa yang ditakutkan dari pembunuhan pengikut Fir’aun dan kekakuan lidahnya, karena pada lidahnya terdapat kekakuan yang menghalanginya dari banyak bicara.

Lalu dia meminta Rabbnya agar dibantu oleh saudaranya, Harun, yang akan menjadi pendukung baginya dan menyampaikan kata-kata darinya yang mana lidahnya sendiri tidak begitu lancar berbicara. Maka Allah Ta’ala pun mengabulkan permintaannya, lalu dia melepaskan kekakuan lidahnya.

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 105-108; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Musa memohon agar lidahnya fasih dan tidak kelu, sehingga ia lancar dan tegas dalam berbicara, supaya kata-katanya mudah dicerna dan dipahami oleh pendengarnya, hingga mereka memperoleh hidayah Allah. Sebab jika lidah Musa kelu mengakibatkan ia tidak lancar bicaranya.

Para mufassir berbeda pendapat tentang sebab ketidakfasihan (kelunya) lisan Musa, sebagai berikut: a. Bahwa Musa di waktu kecilnya, ia mencabut selembar rambut dari dagu Firaun, maka marahlah Firaun dan ia berencana untuk melampiaskan kemarahannya itu.

Kemudian ia meminta kepada istrinya supaya membawakan balah (kurma mentah) dan se-onggok bara api. Istri Firaun membela Musa dengan mengatakan, “Musa masih kecil, belum tahu apa-apa.” Sekalipun ada pembelaan, tetapi Firaun tetap melaksanakan maksud jahatnya, dan bara itu diletakkan di atas lidah Musa. Sejak itulah lidah Musa menjadi kaku. Oleh karena itu Musa a.s. meminta kepada Allah supaya kekeluan lidahnya itu dihilangkan.

b. Kekeluan lidahnya diakibatkan karena faktor psykologis yang membebani Musa, akibat dari tindakan dan perbuatannya menampar dan membunuh seorang Qibty. c. Menurut pendapat lain, bahwa kekeluan tersebut akibat bawaan sejak lahir.

Surah Taha Ayat 28
يَفْقَهُوا قَوْلِي

Terjemahan: supaya mereka mengerti perkataanku,

Tafsir Jalalain: يَفْقَهُوا (Supaya mereka mengerti) yakni dapat memahami قَوْلِي (perkataanku) di waktu aku menyampaikan risalah kepada mereka.

Tafsir Ibnu Kasir: Lalu Allah mengabulkan permintaannya dan melenyapkan sebagian dari kekakuan lidahnya. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Umar ibnu Usman bahwa telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, dari Artah ibnul Munzir; telah menceritakan kepadaku salah seorang teman Muhammad ibnu Ka’b,

dari Muhammad ibnu Ka’b yang mengatakan bahwa pada suatu hari salah seorang kerabatnya datang kepadanya dan berkata kepadanya, “Tidak menjadi masalah bagimu seandainya kamu tidak kaku dalam bicaramu dan kurang jelas (fasih) bila melakukan bacaan.”

Maka Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi menjawab, “Hai anak saudaraku, bukankah aku dapat memberikan pengertian kepadamu jika aku berbicara kepadamu?” Ia menjawab, “Ya”.

Ka’b berkata, “Sesungguhnya Musa pun hanya meminta kepada Tuhannya agar melenyapkan sebagian dari kekakuan lidahnya agar ia dapat memberikan pengertian dan pemahaman kepada Bani Israil melalui pembicaraannya. Ia tidak meminta lebih dari itu.”

Demikianlah menurut teks yang dikemukakan oleh Ibnu Abu Hatim. Firman Allah Swt.: dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun saudaraku. (Thaha: 29-30) Ini pun merupakan permintaan Musa a.s. sehubungan dengan urusan lain di luar dirinya, yaitu agar saudaranya itu kelak menjadi pembantu yang mendukungnya; dialah Harun, saudara sekandungnya.

Tafsir Kemenag : Musa memohon agar lidahnya fasih dan tidak kelu, sehingga ia lancar dan tegas dalam berbicara, supaya kata-katanya mudah dicerna dan dipahami oleh pendengarnya, hingga mereka memperoleh hidayah Allah. Sebab jika lidah Musa kelu mengakibatkan ia tidak lancar bicaranya.

Para mufassir berbeda pendapat tentang sebab ketidakfasihan (kelunya) lisan Musa, sebagai berikut: a. Bahwa Musa di waktu kecilnya, ia mencabut selembar rambut dari dagu Firaun, maka marahlah Firaun dan ia berencana untuk melampiaskan kemarahannya itu. Kemudian ia meminta kepada istrinya supaya membawakan balah (kurma mentah) dan se-onggok bara api. Istri Firaun membela Musa dengan mengatakan,

“Musa masih kecil, belum tahu apa-apa.” Sekalipun ada pembelaan, tetapi Firaun tetap melaksanakan maksud jahatnya, dan bara itu diletakkan di atas lidah Musa. Sejak itulah lidah Musa menjadi kaku. Oleh karena itu Musa a.s. meminta kepada Allah supaya kekeluan lidahnya itu dihilangkan.

b. Kekeluan lidahnya diakibatkan karena faktor psykologis yang membebani Musa, akibat dari tindakan dan perbuatannya menampar dan membunuh seorang Qibty. c. Menurut pendapat lain, bahwa kekeluan tersebut akibat bawaan sejak lahir.

Surah Taha Ayat 29
وَاجْعَل لِّي وَزِيرًا مِّنْ أَهْلِي

Terjemahan: dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku,

Tafsir Jalalain: وَاجْعَل لِّي وَزِيرًا (Dan jadikanlah untukku seorang pembantu) orang yang membantuku di dalam menyampaikan risalah-Mu مِّنْ أَهْلِي (dari keluargaku).

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman-Nya: وَاجْعَل لِّي وَزِيرًا مِّنْ أَهْلِي (“Dan jadikanlah aku seorang pembantu dari keluargaku.”) Ini pun merupakan permintaan Musa as, mengenai hal di luar dirinya, yaitu bantuan saudaranya, Harun. Ats-Tsauri menceritakan dari Ibnu `Abbas, di mana dia mengatakan: “Harun diangkat menjadi Nabi pada saat itu, ketika Musa diangkat menjadi Nabi.

Tafsir Kemenag: Oleh karena Musa merasa bahwa tugas yang diamanatkan kepadanya cukup besar dan berat, ia meminta supaya Allah mengangkat seorang pembantu dari keluarganya sendiri, untuk bersama-sama melancarkan dakwah, senasib dan sepenanggungan di dalam suka duka yang akan dihadapinya dari kaumnya.

Surah Taha Ayat 30
هَارُونَ أَخِي

Terjemahan: (yaitu) Harun, saudaraku,

Tafsir Jalalain: هَارُونَ (Yaitu Harun) lafal Haaruna menjadi Maf’ul Tsani أَخِي (saudaraku) lafal Akhii menjadi ‘Athaf Rayan.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman-Nya: هَارُونَ أَخِي (“[yaitu] Harun saudaraku.”) Ini pun merupakan permintaan Musa as, mengenai hal di luar dirinya, yaitu bantuan saudaranya, Harun. Ats-Tsauri menceritakan dari Ibnu Abbas, di mana dia mengatakan: “Harun diangkat menjadi Nabi pada saat itu, ketika Musa diangkat menjadi Nabi.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa Musa a.s. mengusulkan agar yang diangkat menjadi pembantunya itu ialah Harun, saudaranya sendiri yang lebih tua dari dia, Musa memilih Harun antara lain karena Harun itu seorang yang saleh, ucapannya fasih, intonasi bicaranya seperti orang Mesir, karena ia banyak bergaul dengan orang-orang Mesir, tempat untuk melaksanakan dakwahnya bersama Musa a.s.,

Baca Juga:  Surah Al-Fath Ayat 15; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Perbuatan Musa ini adalah satu hal yang baik dicontoh dan diteladani, karena seorang pemimpin atau penguasa hendaknya mempunyai pembantu untuk melaksanakan tanggung jawabnya, tetapi tentunya pembantu yang baik yang dapat diandalkan i’tikad baiknya di dalam melaksanakan tugasnya sebagai pembantu. Nabi Muhammad saw sendiri mempunyai pembantu sebagaimana sabdanya:

Sesungguhnya saya mempunyai dua pembantu di langit dan dua pembantu di bumi, Adapun dua pembantu saya di langit ialah Jibril dan Mikail, dan dua pembantu saya di bumi Abu Bakar dan Umar. (Riwayat al-hakim dari Abi Sa’id).

Surah Taha Ayat 31
اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي

Terjemahan: teguhkanlah dengan dia kekuatanku,

Tafsir Jalalain: اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي (Teguhkanlah dengan dia kekuatanku) kemampuanku.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman-Nya: اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي (“Teguhkanlah ke kuatanku dengannya.”) Mujahid mengatakan: “Punggungku.”

Tafsir Kemenag: Musa a.s. memohon kepada Allah, agar dengan ditunjuknya Harun sebagai pembantunya diharapkan dapat meningkatkan kekuatan dan kemampuannya. Juga supaya Harun selalu bersama dengan dia di dalam segala urusannya, bahu membahu di dalam melaksanakan tugasnya yang berat dan suci itu, agar berhasil baik, tidak meleset dari sasaran yang dituju, dan tercapai cita-cita yang diidam-idamkan dengan baik.

Surah Taha Ayat 32
وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي

Terjemahan: dan jadikankanlah dia sekutu dalam urusanku,

Tafsir Jalalain: وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي (Dan jadikanlah ia sekutu dalam urusanku) yakni ikut mengemban risalah ini. Kedua Fi’il tadi yaitu Usydud dan Asyrik dapat pula dibaca sebagai Fi’il Mudhari’ yang dijazamkan sehingga menjadi Asydud Bihi dan Usyrik-hu, keduanya merupakan Jawab dari Thalab atau permintaan.

Tafsir Ibnu Katsir: وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي (“Dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku”) yakni dalam memberikan pendapatnya kepadaku.

Tafsir Kemenag: Musa a.s. memohon kepada Allah, agar dengan ditunjuknya Harun sebagai pembantunya diharapkan dapat meningkatkan kekuatan dan kemampuannya. Juga supaya Harun selalu bersama dengan dia di dalam segala urusannya, bahu membahu di dalam melaksanakan tugasnya yang berat dan suci itu, agar berhasil baik, tidak meleset dari sasaran yang dituju, dan tercapai cita-cita yang diidam-idamkan dengan baik.

Surah Taha Ayat 33
كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيرًا

Terjemahan: supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau,

Tafsir Jalalain: كَيْ نُسَبِّحَكَ (Supaya kami dapat bertasbih kepada-Mu) yakni melakukan tasbih كَثِيرًا (dengan banyak).

Tafsir Ibnu Katsir: كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيرًا (“Supaya kami banyak bertasbih.”) Mujahid mengatakan: “Tidaklah seorang hamba termasuk orang-orang yang berdzikir kepada Allah sehingga dia mengingat Allah baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring.

Tafsir Kemenag: Pada ayat-ayat ini Allah menerangkan latar belakang dari permohonan Musa a.s., supaya ia selalu ditemani dan didampingi oleh Harun di dalam mensukseskan tugas kenabiannya, ialah agar dapat banyak bertasbih kepada Allah, mengagungkan dan mensucikan-Nya dari sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan yang tidak layak bagi-Nya, seperti pengakuan Firaun yang mengumumkan dirinya sebagai tuhan. Di samping itu, agar dia selalu ingat kepada Allah, serta selalu mengharapkan rida-Nya.

Surah Taha Ayat 34
وَنَذْكُرَكَ كَثِيرًا

Terjemahan: dan banyak mengingat Engkau.

Tafsir Jalalain: وَنَذْكُرَكَ (Dan dapat mengingat-Mu) berzikir kepada-Mu كَثِيرًا (dengan banyak pula).

Tafsir Ibnu Katsir: وَنَذْكُرَكَ كَثِيرًا (“dan banyak mengingat-Mu.”) Mujahid mengatakan: “Tidaklah seorang hamba termasuk orang-orang yang berdzikir kepada Allah sehingga dia mengingat Allah baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring.

Tafsir Kemenag: Pada ayat-ayat ini Allah menerangkan latar belakang dari permohonan Musa a.s., supaya ia selalu ditemani dan didampingi oleh Harun di dalam mensukseskan tugas kenabiannya, ialah agar dapat banyak bertasbih kepada Allah, mengagungkan dan mensucikan-Nya dari sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan yang tidak layak bagi-Nya, seperti pengakuan Firaun yang mengumumkan dirinya sebagai tuhan. Di samping itu, agar dia selalu ingat kepada Allah, serta selalu mengharapkan rida-Nya.

Surah Taha Ayat 35
إِنَّكَ كُنتَ بِنَا بَصِيرًا

Terjemahan: Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami”.

Tafsir Jalalain: إِنَّكَ كُنتَ بِنَا بَصِيرًا (Sesungguhnya Engkau adalah Maha Mengetahui keadaan kami)” Maha Mengetahuinya, oleh sebab itu maka Engkau akan memberikan nikmat-Mu kepadaku dengan mengangkat Harun menjadi Rasul.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman-Nya lebih lanjut: إِنَّكَ كُنتَ بِنَا بَصِيرًا (“Sesungguhnya Engkau adalah Mahamelihat [keadaan] kami.”) Yakni, dalam pemilihan-Mu bagi kami dan pemberian-Mu kepada kami berupa kenabian dan pengutusan-Mu kepada musuh-Mu, Fir’aun. Dan segala puji hanya bagi-Mu dalam hal itu.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Musa a.s. menandaskan bahwa segala apa yang dimohonkannya kepada Allah, Dia lebih mengetahui hakekat dan tujuannya. Semoga bersama Harun penyebaran agama dapat dilaksanakan dengan baik, lancar, sukses, serta dapat melumpuhkan berbagai usaha dari orang-orang yang sesat dan menyesatkan, dapat membimbing mereka ke jalan yang benar.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Taha Ayat 22-35 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S