Surah Thaha Ayat 133-135; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Thaha Ayat 133-135

Pecihitam.org – Kandungan Surah Thaha Ayat 133-135 ini, menerangkan bahwa andaikata Allah membinasakan mereka sebelum mengutus Nabi Muhammad kepada mereka, mereka akan mengatakan pada hari Kiamat, bahwa Allah tidak mengutus kepada mereka seorang rasul yang akan diikuti ajaran-ajarannya sehingga mereka menjadi orang-orang yang beriman sebelum menemui hari perhitungan ini.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar mengatakan kepada orang kafir Mekah sebagai jawaban atas berbagai alasan dan cemoohan mereka terhadapnya. Kalau seandainya mereka tidak mau menerima petunjuk Allah dan tetap ingkar dan durhaka, maka Rasulullah bersama mereka menunggu keputusan Allah pada hari Kiamat.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Thaha Ayat 133-135

Surah Thaha Ayat 133
وَقَالُوا لَوْلَا يَأْتِينَا بِآيَةٍ مِّن رَّبِّهِ أَوَلَمْ تَأْتِهِم بَيِّنَةُ مَا فِي الصُّحُفِ الْأُولَى

Terjemahan: Dan mereka berkata: “Mengapa ia tidak membawa bukti kepada kami dari Tuhannya?” Dan apakah belum datang kepada mereka bukti yang nyata dari apa yang tersebut di dalam kitab-kitab yang dahulu?

Tafsir Jalalain: وَقَالُو (Dan mereka berkata,) orang-orang musyrik لَوْلَ (“Mengapa tidak) tidakkah يَأْتِينَا (ia datang kepada kami) yakni Nabi Muhammad بِآيَةٍ مِّن رَّبِّهِ (dengan membawa bukti dari Rabbnya?”) sesuai dengan apa yang diminta mereka.

أَوَلَمْ تَأْتِهِم (Dan apakah belum datang kepada mereka) dapat dibaca Ta-tihim dan Ya-tihim بَيِّنَةُ (bukti yang nyata) yakni penjelasan مَا فِي الصُّحُفِ الْأُولَى (dari apa yang tersebut di dalam kitab-kitab yang terdahulu?) yang kesemuanya disebutkan oleh Alquran, yaitu mengenai berita umat-umat terdahulu yang telah dibinasakan disebabkan mereka mendustakan para Rasul.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah menceritakan dalam firman-Nya tentang orang-orang kafir, yaitu mengenai ucapan mereka: lau laa (“Mengapa tidak,”) maksudnya, mengapa Muhammad tidak membawakan kepada kami tanda dari Rabbnya yang menunjukkan kebenarannya bahwa ia seorang Rasul Allah?

Allah Ta’ala berfirman: وَلَمْ تَأْتِهِم بَيِّنَةُ مَا فِي الصُّحُفِ الْأُولَى (“Dan apakah belum datang kepada mereka bukti yang nyata dari apa yang tersebut di dalam kitab-kitab yang dahulu?”) Yaitu, al-Qur’an yang agung, yang diturunkan Allah Ta’ala kepada Muhammad, seorang yang ummi, tidak dapat menulis dan tidak pernah belajar dari Ahlul Kitab.

Mengenai hal ini, telah banyak diceritakan di dalam al-Qur’an berita orang-orang terdahulu yang sesuai dengan kitab-kitab terdahulu yang benar, di antaranya bahwa al-Qur’an sebagai hakim atas kitab-kitab terdahulu, membenarkan yang benar dan menjelaskan kesalahan yang didustakan dan diselewengkan.

Dalam kitab ash-Shahihain telah disebutkan dari Rasulullah saw. di mana beliau bersabda: “Tidak ada seorang Nabi pun melainkan telah diberikan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kekuasaan, yang kepadanya manusia beriman. Sedangkan yang diberikan kepadaku adalah berupa wahyu yang diwahyukan oleh Allah kepadaku. Maka aku berharap, aku mempunyai pengikut yang paling banyak pada hari Kiamat kelak.”

Di sini disebutkan mukjizat besar (agung) yang diberikan kepada Rasulullah saw, yaitu al-Qur’an. Namun, beliau pun mempunyai mukjizat-mukjizat lain yang tidak terbatas dan tidak terhitung, sebagaimana yang disebutkan dan dijelaskan dalam kitab-kitab yang berkenaan dengan hal itu.

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 102-104; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Orang-orang kafir Mekah mencemoohkan Nabi Muhammad saw dengan mengatakan bahwa seruannya kepada agama yang dibawanya adalah omong kosong belaka. Kalau agama yang dibawanya benar tentulah dia membuktikannya dengan mukjizat-mukjizat seperti yang diberikan kepada Nabi Saleh yaitu unta betina, yang diberikan kepada Nabi Musa seperti tongkat dan yang diberikan kepada Isa yaitu menghidupkan orang mati dan menyembuhkan penyakit sopak.

Andaikata ada pada diri mereka sedikit saja kemauan untuk berpikir dan kecenderungan untuk menerima kebenaran tentulah mereka tidak akan mengucapkan kata-kata yang demikian, karena Al-Qur’an sendiri yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah mukjizatnya yang paling besar di antara mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw.

Berbagai bukti telah menunjukkan bahwa mereka tidak dapat meniru keindahan susunan kalimat dan kosakata Al-Qur’an, mereka juga tidak dapat mendatangkan satu Surah pendek pun yang setaraf balagah dan fashahah-nya dengan Surah-Surah dalam Al-Qur’an.

Bukankah di dalam Al-Qur’an terdapat kisah-kisah mengenai umat-umat yang terdahulu sedangkan Nabi Muhammad sendiri tidak mengenal kisah-kisah itu sebelumnya. Bukankah di dalam Al-Qur’an terdapat syariat-syariat dan peraturan-peraturan yang maksud dan tujuannya sama dengan syariat yang dibawa Nabi-nabi sebelumnya yaitu syariat-syariat untuk kepentingan dan kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat.

Sebenarnya Al-Qur’an itu saja sudah cukup menjadi bukti bagi kebenaran Muhammad saw dan sudah cukup sebagai mukjizat besar yang kekal dan abadi. Allah sangat menyesalkan sikap mereka yang menolak Al-Qur’an begitu saja tanpa alasan yang benar dan tidak mau memikirkannya walau sedikit pun. Pada ayat lain Allah berfirman pula:

Sebenarnya, (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu. Hanya orang-orang yang zalim yang mengingkari ayat-ayat Kami. Dan mereka (orang-orang kafir Mekah) berkata, “Mengapa tidak diturunkan mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?” Katakanlah (Muhammad), “Mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah.

Aku hanya seorang pemberi peringatan yang jelas.” Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) yang dibacakan kepada mereka? Sungguh, dalam (Al-Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. (al-‘Ankabut/29: 49-51).

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang kafir berkata dengan angkuh, “Mengapa Muhammad tidak mendatangkan kepada kita bukti dari Tuhannya yang dapat kita percaya?” Bagaimana mungkin mereka mengingkari al-Qur’ân, padahal al-Qur’ân itu telah didatangkan oleh Muhammad dengan mengandung berita bangsa-bangsa yang lalu yang juga dikandung dalam kitab-kitab suci sebelumnya, juga mengandung berita tentang kehancuran mereka akibat mendustakan para rasul? Muhammad sungguh tidak mengada-ada dalam hal itu!

Surah Thaha Ayat 134
وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُم بِعَذَابٍ مِّن قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِن قَبْلِ أَن نَّذِلَّ وَنَخْزَى

Terjemahan: Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum Al Quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah?”

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 83-89; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Jalalain: وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُم بِعَذَابٍ مِّن قَبْلِهِ (Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum ia diutus) sebelum Rasulullah diutus لَقَالُوا (tentulah mereka berkata) di hari kiamat nanti, رَبَّنَا لَوْلَا (“Ya Rabb kami! Mengapa tidak) أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ (Engkau utus seorang Rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau) yang dibawa olehnya أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ (sebelum kami menjadi hina) di hari kiamat وَنَخْزَى (dan rendah?”) dijebloskan ke dalam neraka Jahanam.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُم بِعَذَابٍ مِّن قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا (“Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu adzab sebelum al-Qur’an itu [diturunkan], tentulah mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, mengapa tidak Engkau utus seorang Rasul kepada kami,’”) maksudnya,

seandainya Kami binasakan para pendusta itu sebelum Kami mengutus Rasul yang mulia ini kepada mereka dan sebelum Kami menurunkan kepada mereka Kitab yang agung ini, niscaya mereka akan berkata: “Ya Rabb kami, mengapa tidak Engkau utus seorang Rasul kepada kami,” sebelum Engkau membinasakan kami sehingga kami beriman kepadanya dan mengikutinya?

Sebagaimana firman-Nya: “Lalu kami mengikuti ayat-ayat-Mu sebelum kami menjadi hina dan rendah?” Allah Ta’ala menjelaskan bahwa para pendusta itu enggan lagi menentang seraya tidak beriman. Allah telah beriman: “Meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan adzab yang pedih.” (QS. Yunus: 97)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa andaikata Allah membinasakan mereka sebelum mengutus Nabi Muhammad kepada mereka, mereka akan mengatakan pada hari Kiamat, bahwa Allah tidak mengutus kepada mereka seorang rasul yang akan diikuti ajaran-ajarannya sehingga mereka menjadi orang-orang yang beriman sebelum menemui hari perhitungan ini.

Oleh sebab itu Allah tidak membinasakan mereka seperti umat-umat yang dahulu agar tidak ada alasan bagi mereka ketika menghadapi hari Perhitungan pada hari Kiamat. Karena Allah telah mengutus kepada mereka rasul yang akan menerangkan kepada mereka ayat-ayat Allah. Kemudian terserah kepada mereka apakah mereka akan mengikuti petunjuk-petunjuk Allah ataukah mereka akan tetap dalam kekafiran dan selalu menghina dan memperolok-olokan Muhammad saw.

Tafsir Quraish Shihab: Kalau saja Allah menyegerakan siksa kepada orang-orang kafir sebelum Muhammad diutus kepada mereka, niscaya mereka akan berkilah di hari kiamat, “Ya Tuhan, mengapa tidak Engkau utus rasul kepada kami di dunia, yang dikuatkan dengan ayat-ayat untuk kami ikuti, sebelum kami merasakan siksaan dan hinaan di akhirat?” Namun kini, setelah rasul diutus kepada mereka, mereka tidak lagi mempunyai alasan.

Surah Thaha Ayat 135
قُلْ كُلٌّ مُّتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوا فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ أَصْحَابُ الصِّرَاطِ السَّوِيِّ وَمَنِ اهْتَدَى

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 74-76; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Terjemahan: Katakanlah: “Masing-masing (kita) menanti, maka nantikanlah oleh kamu sekalian! Maka kamu kelak akan mengetahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus dan siapa yang telah mendapat petunjuk”.

Tafsir Jalalain: قُلْ (Katakanlah:) kepada mereka, كُلٌّ (“Masing-masing) di antara kami dan kalian مُّتَرَبِّصٌ (menanti) menunggu apa yang bakal terjadi padanya di hari kiamat itu فَتَرَبَّصُوا فَسَتَعْلَمُونَ (maka nantikanlah oleh kamu sekalian! Kelak kalian akan mengetahui) di hari kiamat itu مَنْ أَصْحَابُ الصِّرَاطِ (siapa yang menempuh jalan) yakni tuntunan السَّوِيِّ (yang lurus) yang tidak menyimpang وَمَنِ اهْتَدَى (dan siapa yang telah mendapat petunjuk”) sehingga selamat dari kesesatan, kami ataukah kalian?.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: كُلٌّ (“Katakanlah,”) hai Muhammad, kepada orang-orang yang mendustakan dan menentangmu serta selalu berada dalam kekafiran dan keingkarannya; كُلٌّ مُّتَرَبِّصٌ (“Masing masing kita menanti,”) yaitu dari kalangan kami dan juga kalian.

فَتَرَبَّصُوا (“Maka nantikanlah oleh kamu.”) Maksudnya, tunggulah! فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ أَصْحَابُ الصِّرَاطِ السَّوِيِّ وَمَنِ اهْتَدَى (“Maka kamu kelak akan mengetahui, siapakah yang menempuh jalan yang lurus dan siapa yang telah mendapat petunjuk,”) kepada kebenaran dan jalan lurus.

Dan hal itu sama seperti firman-Nya: “Dan mereka kelak akan mengetahui pada saat mereka melihat adzab, siapakah yang paling sesat jalannya.” (QS. Al-Furgaan: 42)

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar mengatakan kepada orang kafir Mekah sebagai jawaban atas berbagai alasan dan cemoohan mereka terhadapnya. Kalau seandainya mereka tidak mau menerima petunjuk Allah dan tetap ingkar dan durhaka, maka Rasulullah bersama mereka menunggu keputusan Allah pada hari Kiamat.

Tentu mereka akan mengetahui siapa yang berada di jalan yang benar dan yang mendapat petunjuk. Mereka akan mengetahui bahwa merekalah yang sesat dan akan dilemparkan ke neraka Jahanam. Hal ini tersebut dalam firman Allah:

Dan kelak mereka akan mengetahui pada saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalannya. (al-Furqan/25: 42). Dan firman-Nya: Kelak mereka akan mengetahui siapa yang sebenarnya sangat pendusta (dan) sombong itu. (al-Qamar/54: 26).

Tafsir Quraish Shihab: Katakan, wahai Rasulullah, kepada para pembangkang itu, “Kita semua sedang menunggu bagaimanakah gerangan akhir perjalanan kita masing-masing. Kalian pasti akan mengetahui siapakah di antara kita pemeluk agama yang benar dan mendapatkan petunjuk Allah.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Thaha Ayat 133-135 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag, dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S