Surah Thaha Ayat 83-89; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Thaha Ayat 83-89

Pecihitam.org – Kandungan Surah Thaha Ayat 83-89 ini, dijelaskan Allah menerangkan bagaimana bodohnya kaum Musa itu karena tidak dapat mempertimbangkan sesuatu dengan seksama apakah ia buruk atau baik, dapat diterima akal atau suatu yang mustahil.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Thaha Ayat 83-89

Surah Thaha Ayat 83
وَمَا أَعْجَلَكَ عَن قَوْمِكَ يَا مُوسَى

Terjemahan: Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?

Tafsir Jalalain: وَمَا أَعْجَلَكَ عَن قَوْمِكَ (Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu) lebih cepat dari janji yang telah ditentukan untuk mengambil kitab Taurat يَا مُوسَى (hai Musa?).

Tafsir Ibnu Katsir: Musa berjalan bersama Bani Israil setelah dibinasakannya Fir’aun serta dijanjikan untuk bermunajat kepada Rabbnya selama tiga puluh malam lalu ditambah lagi sepuluh malam sehingga menjadi empatpuluh malam tepat, yakni dia berpuasa Siang malam pada keempat puluh hari tersebut. Dalam hadits al-futuun terdapat penjelasan mengenai hal itu.

Kemudian Musa as bergegas menuju ke gunung Thur dan mengangkat saudaranya Harun sebagai pemimpin bagi Bani Israil. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: وَمَا أَعْجَلَكَ عَن قَوْمِكَ يَا مُوسَى ( Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?)

Tafsir Kemenag: Allah memberi teguran kepada Musa, karena ia cepat-cepat mendaki gunung itu dan meninggalkan kaumnya di bawah, padahal Allah telah memerintahkan supaya dia naik ke bukit itu bersama-sama dengan kaumnya untuk menerima sebagian dari kitab Taurat yang berupa kepingan dan lembaran-lembaran.

Sebenarnya dia sudah ingin sekali bermunajat dengan Tuhannya untuk menerima kepingan-kepingan Taurat. Karena keinginan yang amat sangat itulah dia berangkat tanpa mengajak kaumnya hingga dia naik seorang diri ke bukit itu.

Ia tinggalkan kaumnya di bawah dan dia berpesan kepada Harun supaya menjaga dan mengawasi mereka selama dia tidak berada di antara mereka. Sesampainya di atas bukit itu dia mengonsentrasikan jiwa dan pikiran menunggu-nunggu apa yang akan diwahyukan Tuhan kepadanya sebagaimana telah dijanjikan-Nya.

Tiba-tiba Allah berfirman menanyakan dengan nada teguran atau celaan. Mengapa dia bergegas-gegas naik ke bukit seorang diri tanpa membawa kaumnya bersama dengan dia, padahal dia telah diperintahkan supaya datang bersama mereka.

Memang tepat teguran Allah atas kekhilafannya itu, karena selain tidak melaksanakan perintah Allah secara keseluruhan, Musa telah meninggalkan kaumnya tanpa pimpinan meskipun ada saudaranya Harun yang akan mengawasi mereka. Seakan-akan Musa karena didorong oleh keinginan yang kuat untuk bermunajat dengan Tuhannya telah melepaskan tanggung jawabnya terhadap kaumnya dan tidak memperdulikan lagi apa yang akan terjadi dengan mereka selama ditinggalkannya.

Hal ini bagi seorang Nabi yang diserahi Allah memimpin dan mengawasi kaumnya adalah suatu kelalaian atau pengabaian terhadap tugasnya yang utama yang patut disesalkan dan pantaslah dia menerima teguran atau celaan dari Tuhannya.

Tafsir Quraishb Shihab: Mûsâ mendahului kaumnya ke bukit Thûr agar dapat bermunajat kepada Tuhannya. Allah kemudian bertanya kepadanya mengenai sebab kedatanganya yang lebih dahulu tanpa membawa kaumnya.

Surah Thaha Ayat 84
قَالَ هُمْ أُولَاءِ عَلَى أَثَرِي وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى

Terjemahan: Berkata, Musa: “Itulah mereka sedang menyusuli aku dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)”.

Tafsir Jalalain: قَالَ هُمْ أُولَاءِ (Berkata Musa, “Itulah mereka) dekat denganku berdatangan عَلَى أَثَرِي وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى (sedang menyusul aku dan aku bersegera kepada-Mu, Ya Rabbku, supaya Engkau rida”) kepadaku, lebih daripada keridaan-Mu kepadaku sebelumnya.

Sebelum menjawab pertanyaan Allah, Nabi Musa terlebih dahulu memohon maaf kepada-Nya, hal ini dia lakukan menurut dugaannya. Akan tetapi ternyata kenyataannya berbeda dengan apa yang diduga sebelumnya, yaitu ketika Allah berfirman pada ayat selanjutnya.

Tafsir Ibnu Katsir: قَالَ هُمْ أُولَاءِ عَلَى أَثَرِي (“Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?’ Musa menjawab: ‘Itulah mereka telah menyusuliku.’”) Maksudnya, mereka sedang datang dan menempati tempat yang dekat gunung. وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى (“Dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Rabbku, agar supaya Enggkau ridha [kepadaku].”) Maksudnya, agar Engkau lebih ridha lagi kepadaku.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menyuruh supaya mereka memakan di antara rezeki yang baik, yang lezat cita rasanya dan yang telah Allah karuniakan kepada mereka, jangan sekali-kali mereka menyalahgunakannya, seperti menafkahkannya dengan boros, tidak mensyukurinya, mendermakan kepada kemaksiatan, dan lain-lain sebagainya, karena kalau demikian berarti mereka telah mengundang kemurkaan Allah yang akan menimpakan siksa-Nya.

Celaka dan binasalah orang-orang yang telah ditimpa kemurkaan AllahMusa menjawab teguran Tuhannya dengan mengatakan bahwa kaumnya itu ada di belakangnya dan jarak antara dia dan kaumnya tidak begitu jauh.

Jika ia mendahului naik ke atas gunung ini beberapa langkah bukanlah dengan maksud meninggalkan mereka dan kalau mereka dipanggil pasti dalam waktu yang singkat akan dapat berkumpul bersamanya. Memang ia bergegas-gegas menaiki bukit ini, karena ingin melaksanakan perintah Allah dengan segera, tepat pada waktunya sebagaimana yang telah ditetapkan, yaitu sesudah ia dan kaumnya berada di sekitar bukit Tur ini selama 40 malam.

Ia datang dengan tergesa-gesa karena ingin cepat-cepat memperoleh keridaan Allah. Karena keinginan yang kuat untuk mencapai keridaan itulah ia menjadi lalai dan alpa terhadap perintah Allah supaya datang bersama-sama mereka.

Tafsir Quraishb Shihab: Mûsâ menjawab, “Kaumku sudah dekat dan segera menyusulku. Aku mendahului mereka mendatangi-Mu, wahai Tuhanku, hanya karena aku ingin mendapatkan keridaan-Mu.”

Surah Thaha Ayat 85
قَالَ فَإِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِن بَعْدِكَ وَأَضَلَّهُمُ السَّامِرِيُّ

Terjemahan: Allah berfirman: “Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri.

Tafsir Jalalain: قَالَ (Berfirman Allah) subhaanahu wa taala, فَإِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِن بَعْدِكَ (“Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan) sesudah kamu berpisah meninggalkan mereka وَأَضَلَّهُمُ السَّامِرِيُّ (dan mereka telah disesatkan oleh Samiri”) yang menjerumuskan mereka sehingga mereka menyembah anak sapi.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: قَالَ فَإِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِن بَعْدِكَ وَأَضَلَّهُمُ السَّامِرِيُّ (“Allah berfirman: ‘Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri.’”) Allah Ta’ala memberitahu Nabi-Nya, Musa as mengenai kejadian yang dialami Bani Israil setelah dia (Musa) tinggalkan, serta penyembahan mereka terhadap anak sapi yang dibuat oleh Samiri untuk mereka. Dan selama itu, Allah Ta’ala menuliskan lembaran-lembaran untuk Musa yang memuat Taurat.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini diterangkan bahwa setelah Musa pergi meninggalkan kaumnya untuk bermunajat dengan Tuhannya, kaumnya telah menyeleweng dari agama Tauhid dan telah menyembah patung anak sapi buatan Samiri.

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 113-114; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Memang Allah hendak menguji iman kaum Nabi Musa apakah benar-benar mereka telah mempunyai iman yang kuat dan membaja ataukah masih terdapat dalam hati dan jiwa mereka bekas-bekas syirik atau kepercayaan menyembah berhala.

Ternyata keimanan mereka belum begitu kuat dan mendalam karena hanya beberapa hari saja mereka ditinggalkan Musa dan masih dalam pengawasan Harun, mereka dengan mudah teperdaya dan masuk perangkap Samiri yang berasal dari kaum penyembah sapi. Namun Allah tidak akan membiarkan atau menerima begitu saja bila manusia menyatakan dirinya beriman tanpa diuji lebih dahulu sesuai dengan firman-Nya:

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta. (al-‘Ankabut/29: 2 dan 3)

Ternyata kaum Musa itu tidaklah termasuk orang-orang yang kuat dan mendalam imannya karena baru sebentar saja mereka ditinggalkan Musa (menurut riwayat hanya 20 hari) mereka telah meninggalkan agama tauhid dan kembali menganut agama penyembah-penyembah berhala.

Hal ini tidak dapat disesalkan dan mungkin sekali terjadi karena mereka telah lama di bawah kekuasaan Firaun. Karena itu mental mereka sudah rusak dan moral mereka pun menjadi lemah sehingga tidak bisa diharapkan dari mereka kesetiaan dan kesabaran memperThahankan suatu prinsip.

Maka dengan mudah Samiri memperdayakan mereka dengan membuat patung berbentuk anak sapi dari emas yang dapat berbunyi sendiri seperti suara anak sapi, maka mereka tertarik dengan omongan Samiri bahwa inilah Tuhan yang sebenarnya. Adapun Tuhan Musa dan Harun yang tidak dapat dilihat mengapa kita mau menyembahnya?.

Tafsir Quraishb Shihab: Allah berfirman kepada Mûsâ, “Kami telah menurunkan ujian kepada kaummu setelah kamu meninggalkan mereka. Mereka terjerumus ke dalam fitnah akibat ulah Sâmiriy yang menyesatkan.”

Surah Thaha Ayat 86
فَرَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ يَا قَوْمِ أَلَمْ يَعِدْكُمْ رَبُّكُمْ وَعْدًا حَسَنًا أَفَطَالَ عَلَيْكُمُ الْعَهْدُ أَمْ أَرَدتُّمْ أَن يَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبٌ مِّن رَّبِّكُمْ فَأَخْلَفْتُم مَّوْعِدِي

Terjemahan: Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa: “Hai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu menimpamu, dan kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?”.

Tafsir Jalalain: فَرَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ (Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah) disebabkan tingkah laku kaumnya itu أَسِفًا (dan bersedih hati) yakni dengan hati yang sangat sedih

قَالَ يَا قَوْمِ أَلَمْ يَعِدْكُمْ رَبُّكُمْ وَعْدًا حَسَنًا (Berkata Musa, “Hai kaumku! Bukankah Rabb kalian telah menjanjikan kepada kalian suatu janji yang baik?) janji yang benar, bahwa Dia akan memberi kitab Taurat kepada kalian.

أَفَطَالَ عَلَيْكُمُ الْعَهْدُ (Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagi kalian) yakni masa perpisahanku dengan kalian أَمْ أَرَدتُّمْ أَن يَحِلَّ (atau kalian menghendaki agar menimpa)

عَلَيْكُمْ غَضَبٌ مِّن رَّبِّكُمْ (kalian kemurkaan dari Rabb kalian) disebabkan kalian menyembah anak sapi فَأَخْلَفْتُم مَّوْعِدِي (dan kalian melanggar perjanjian kalian dengan aku?”) padahal sebelumnya kalian telah berjanji akan datang sesudahku, tetapi ternyata kalian tidak mau datang.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya; فَرَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا (“Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati.”) Yakni, setelah Allah Ta’ala memberitahukan hal itu kepada Musa, maka dia benar-benar marah kepada mereka.

Padahal dia telah memberikan perhatian yang besar terhadap masalah mereka serta menerima Taurat yang di dalamnya memuat syari’at mereka, juga mengandung kehormatan bagi mereka, sedang mereka kaum yang telah menyembah selain Allah, yang setiap orang yang berakal mengetahui ketidakbenaran apa yang telah mereka lakukan itu serta kebodohan otak dan akal pikiran mereka.

Oleh karena itu, Musa pulang kembali kepada mereka dalam keadaan murka lagi benar-benar marah. Kata al-asf berarti benar-benar marah. Qatadah dan as-Suddi mengatakan: “Al-asf berarti bersedih atas apa yang dilakukan oleh kaumnya setelah dia tinggalkan.”

قَالَ يَا قَوْمِ أَلَمْ يَعِدْكُمْ رَبُّكُمْ وَعْدًا حَسَنًا (“Musa berkata, Hai kaumku, bukankah Rabbmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik?”) Maksudnya, bukankah Rabb kalian telah menjanjikan melalui lisanku segala kebaikan di dunia dan akhirat kepada kalian serta tempat kembali yang baik, sebagaimana yang telah kalian saksikan sendiri pertolongan yang telah Dia berikan kepada kalian dalam menghadapi musuh kalian serta memenangkan kalian atasnya dan berbagai hal lainnya?

أَفَطَالَ عَلَيْكُمُ الْعَهْدُ (“Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu?”) Yakni, dalam menunggu apa yang dijanjikan Allah dan melupakan berbagai nikmat-Nya padahal hal itu belum lama berlangsung.

أَمْ أَرَدتُّمْ أَن يَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبٌ مِّن رَّبِّكُمْ (“Atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Rabbmu menimpamu.”) Kata am di sini berarti bal (tetapi), yang ia dimaksudkan untuk menyisihkan kalimat pertama dan adanya kecenderungan pada kalimat yang kedua, seakan-akan Dia hendak mengatakan: “Tetapi dengan tindakan kalian itu kalian menginginkan penimpaan murka Rabb kalian kepada kalian.” فَأَخْلَفْتُم مَّوْعِدِي (“Lalu kamu melanggar perjanjianmu denganku”)

Tafsir Kemenag: Mendengar firman Tuhannya yang menerangkan bahwa kaumnya telah disesatkan oleh Samiri dengan cepat dia kembali kepada kaumnya dalam keadaan sangat jengkel dan marah. Didapatinya kaumnya sedang berlutut di hadapan patung emas berbentuk anak sapi, menyembah dan memujanya.

Mereka berkata di antara sesama mereka, “Inilah tuhan kita dan juga tuhan Musa. Sesungguhnya Musa telah lupa sehingga ia pergi menemui Tuhannya ke puncak bukit, padahal Tuhannya ada di sini.” Tidaklah dapat dilukiskan betapa sedihnya hati Musa melihat kaumnya dengan sekejap saja dan dengan mudah dapat disesatkan oleh Samiri dan betapa hebatnya kemarahan di dalam dadanya melihat suasana dan keadaan kaumnya.

Menurut satu riwayat setelah melihat kaumnya menyembah berhala dia lalu mendengar suara hiruk pikuk dan berbagai macam teriakan dari kaumnya dan melihat mereka menari-nari di sekeliling patung itu.

Qurtubi meriwayatkan bahwa Abu Bakar ath-Turthusy pernah ditanya orang tentang sekumpulan orang berdzikir menyebut nama Allah dan berselawat menyebut nama Nabi Muhammad dengan cara menari-nari serta memukul gendang dan karena asyiknya ada di antara mereka yang jatuh pingsan, kemudian mereka mengambil makanan yang mereka bawa dan telah disiapkan, bagaimanakah hukum perbuatan mereka? Apakah hal itu dibolehkan oleh Islam atau tidak?

ath-Turthusy menjawab, “Mazhab Sufi, yang seperti itu adalah batil, suatu kejahilan dan kesesatan. Islam itu adalah (ajaran) kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Adapun memukul gendang (dan menari-nari) sampai seperti orang kesurupan maka orang yang mula-mula mengadakannya ialah Samiri di waktu dia membuat patung anak sapi untuk disembah kaum Musa dengan menari-nari di sekelilingnya. Maka perbuatan seperti itu adalah perbuatan orang-orang kafir dan penyembah anak sapi.”

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 95-98; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Selanjutnya Musa berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu menyembah patung itu padahal Allah telah menjanjikan kepadamu janji-janji yang baik dan menguntungkan sesudah mengaruniakan kepadamu berbagai nikmat seperti membebaskan kamu dari kaum Firaun menempatkan kamu di tempat ini, memberimu makanan yang lezat dan berkhasiat.

Allah menjanjikan akan menurunkan Al-Kitab kepadamu, di dalamnya terdapat syariat dan peraturan untuk kebaikan dan kebahagiaan kamu di dunia dan di akhirat. Dia menjanjikan pula akan memberikan pahala yang banyak kepadamu kalau kamu tetap beriman dan beramal saleh dan menjanjikan pula bahwa kamu akan memasuki tanah suci Palestina dengan mengalahkan penghuni-penghuninya yang kuat dan perkasa. Kenapa kamu cepat sekali berpaling dari agama Allah padahal belum berapa lama janji itu dinyatakan Allah kepadamu, dan tanda-tanda janji itu pasti akan terwujud dan terlaksana seperti yang kamu lihat dan kamu alami sendiri? Apakah kamu menyangka bahwa kamu telah lama menunggu-nunggu terwujudnya janji itu ataukah kamu sengaja menunggu kemurkaan Allah atasmu dengan perbuatan ini. Bukankah kamu telah berjanji kepadaku bahwa kamu akan tetap beriman sampai aku kembali kepadamu, dan tidak akan mengada-adakan sesuatu yang merusak akidah kamu atau bertentangan dengan akidah itu.”.

Tafsir Quraish Shihab: Mûsâ pun kembali kepada kaumnya dengan kemarahan yang memuncak dan kesedihan yang sangat. Seraya tidak membenarkan perbuatan mereka, Mûsâ berkata, “Tuhan telah menjanjikan keselamatan dan memberikan petunjuk kepada kalian dengan turunnya Tawrât, dan menjanjikan kemenangan kepada kalian dengan memasuki tanah suci (Jerusalem).

Belum lama waktu berselang, kalian sudah melupakan janji Allah kepada kalian. Dengan perbuatan kalian yang buruk itu, berarti kalian menginginkan agar murka Allah turun, karena kalian bersikap tiran, padahal Allah telah memperingatkan hal itu. Tetapi kalian malah melanggar janji kalian kepadaku untuk selalu mengikuti jalan dan jejakku.”

Surah Thaha Ayat 87
قَالُوا مَا أَخْلَفْنَا مَوْعِدَكَ بِمَلْكِنَا وَلَكِنَّا حُمِّلْنَا أَوْزَارًا مِّن زِينَةِ الْقَوْمِ فَقَذَفْنَاهَا فَكَذَلِكَ أَلْقَى السَّامِرِيُّ

Terjemahan:ُ Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya”,

Tafsir Jalalain: قَالُوا مَا أَخْلَفْنَا مَوْعِدَكَ بِمَلْكِنَا (Mereka berkata, “Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri) lafal Bimalkinaa dapat pula dibaca Bimilkinaa atau Bimulkinaa, artinya dengan kehendak kami sendiri, atau dengan kemauan kami sendiri وَلَكِنَّا حُمِّلْنَا (tetapi kami disuruh membawa) dapat dibaca Hammalnaa atau Hummilnaa أَوْزَارًا (beban-beban) yakni beban yang berat-berat

مِّن زِينَةِ الْقَوْمِ (dari perhiasan kaum itu) yakni perhiasan milik kaum Firaun, yang mereka pinjam dahulu untuk keperluan pengantin, kini perhiasan itu masih berada di tangan mereka فَقَذَفْنَاهَا (maka kami telah melemparkannya) kami mencampakkannya ke dalam api atas perintah Samiri فَكَذَلِكَ (dan demikian pula) sebagaimana kami melemparkannya أَلْقَى السَّامِرِيُّ (Samiri melemparkannya”) yakni ia pun ikut melemparkan perhiasan kaum Firaun yang masih ada padanya dan ia melemparkan pula tanah Yang ia ambil dari bekas teracak kuda malaikat Jibril dengan cara seperti berikut ini.

Tafsir Ibnu Katsir: mereka berkata, “yakni, Bani Israil dalam rangka menjawab peringatan dan kecaman yang diberikan Musa kepada mereka: مَا أَخْلَفْنَا مَوْعِدَكَ بِمَلْكِنَا (“Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri,”) yakni dengan kemampuan dan kehendak kami sendiri. Kemudian mereka memberikan alasan yang dingin (tidak bisa diterima) seraya memberitahukan kepadanya tentang keberatan mereka dalam membawa berbagai perhiasan bangsa Qibti yang berada di tangan mereka yang telah diambil dari bangsa Qibti tersebut, ketika keluar dari Mesir, maka kami melemparkannya.

Dan pada saat itu Samiri berkata: “Aku memohon kepada Allah agar hal itu menjadi anak sapi.” Lalu hal itu pun menjadi anak sapi yang mempunyai suara, sebagai cobaan dan ujian dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, Allah berfirman: فَكَذَلِكَ أَلْقَى السَّامِرِيُّ (dan demikian pula Samiri melemparkannya )

Tafsir Kemenag: Kaumnya menjawab, “Kami melanggar janji itu bukanlah dengan kemauan dan kehendak kami, karena kami tidak dapat menguasai diri kami. Andaikata kami dibiarkan saja menurut kemauan kami, tentulah kami tidak akan berbuat seperti ini. Tetapi Samiri telah memperdayakan kami yang bodoh ini sehingga kami tertarik oleh kata-kata dan bujuk rayunya yang mempesona hati kami. Samiri telah memaksa kami memikul beban yang berat yang terdiri dari perhiasan-perhiasan yang dipinjamkannya dari bangsa Mesir sewaktu kami akan berangkat meninggalkan Mesir.

Dia mengatakan bahwa nanti akan diadakan hari raya, karena perhiasan-perhiasan itu harus dibawa dan kamilah yang diperintahkan untuk memikulnya. Hal ini disembunyikannya terhadapmu hai Musa karena dia takut akan dilarang membawanya.

Sepeninggal engkau kami disuruhnya menggali lubang yang besar di tanah dan menyalakan api untuk membakar perhiasan itu, maka kami lemparkan semua perhiasan yang kami bawa.”.

Tafsir Quraishb Shihab: Dengan meminta maaf, pengikut Mûsâ berkata, “Kami tidak melanggar janjimu atas kemauan kami sendiri. Ketika keluar dari Mesir, kami diberi beban membawa perhiasan-perhiasan kaum kami yang cukup berat.

Kemudian kami berpendapat–karena takut barang-barang perhiasan itu akan membawa sial bagi kami–untuk membuangnya.” Lalu Sâmiriy menyalakan api di sebuah lobang dan melemparkan perhiasan- perhiasan itu ke dalamnya. Sâmiriy sendiri ikut melemparkan perhiasan yang dibawanya.

Surah Thaha Ayat 88
فَأَخْرَجَ لَهُمْ عِجْلًا جَسَدًا لَّهُ خُوَارٌ فَقَالُوا هَذَا إِلَهُكُمْ وَإِلَهُ مُوسَى فَنَسِيَ

Terjemahan: kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa”.

Tafsir Jalalain: فَأَخْرَجَ لَهُمْ عِجْلًا (Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka anak lembu) yang berhasil ia cetak dari perhiasan itu جَسَدًا لَّهُ (yang bertubuh) yakni ada daging dan darahnya خُوَارٌ (dan bersuara) suaranya dapat didengar. Anak lembu itu menjadi demikian disebabkan pengaruh tanah bekas teracak kuda malaikat Jibril, sehingga ia dapat hidup. Tanah itu diletakkan oleh Samiri ke dalam mulut lembu itu sesudah dicetak, lalu anak lembu itu menjadi hidup

فَقَالُوا (maka mereka berkata) yakni Samiri dan para pengikutnya, هَذَا إِلَهُكُمْ وَإِلَهُ مُوسَى فَنَسِيَ (“Inilah Tuhan kalian dan Tuhan Musa, tetapi ia telah lupa”) Musa telah lupa akan Tuhannya, bahwa Dia ada di sini, lalu pergi mencari-Nya. Maka Allah berfirman:.

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 99-101; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: فَأَخْرَجَ لَهُمْ عِجْلًا جَسَدًا لَّهُ خُوَارٌ (“Dan demikian pula Samiri melemparkannya. Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka [dari lobang itu] anak sapi yang bertubuh dan bersuara.”) Mereka berkata: “Yakni, orang-orang yang sesat dari mereka yang tertipu karena anak sapi dan menyembahnya.”

فَقَالُوا هَذَا إِلَهُكُمْ وَإِلَهُ مُوسَى فَنَسِيَ (“Inilah Ilahmu dan Ilah Musa, tetapi Musa telah lupa.”) Maksudnya, dia melupakannya, lalu dia pergi untuk mencarinya. Penafsiran itu juga dikemukakan oleh Mujahid.

Samak berkata dari Ikrimah, dari IbnuAbbas: “Lalu dia lupa mengingat kalian bahwa ini adalah Ilah kalian.” Sedangkan Muhammad bin Ishaq bercerita, dari Ibnu Abbas, mereka berkata: “Inilah Ilahmu dan Ilah Musa.” Maka mereka pun senantiasa berada di dekat anak sapi itu untuk menyembahnya dan mereka mencintainya dengan kecintaan yang belum pernah mereka lakukan pada sesuatu pun sepertinya.

Allah berfirman: فَنَسِيَ (“Lalu dia lupa,”) yakni, meninggalkan Islam yang dulu dipeluknya, yaitu Samiri. Firman Allah yang merupakan banThahan dan kecaman kepada mereka serta menjelaskan kebodohan otak mereka atas aka yang mereka kerjakan:

Tafsir Kemenag: Kemudian Samiri mengeluarkan dari lubang itu sebongkah emas berbentuk anak sapi dan mengeluarkan bunyi seperti suara sapi. Memang Samiri adalah seorang ahli; dan dia dapat membuat pipa dalam patung itu sehingga apabila angin berhembus keluarlah suara anak sapi.

Samiri mengatakan kepada kami bahwa inilah tuhan yang sebenarnya tuhan kita semua dan juga tuhan Musa, dialah yang akan kita sembah dan kita puja, kepadanyalah kita memohonkan sesuatu bila kita menginginkan atau memerlukannya.

Samiri mengatakan pula bahwa engkau hai Musa naik ke gunung itu untuk menemui Tuhan padahal tuhan yang akan ditemui Musa itu ada di sini. Sungguh Musa itu amat pelupa sehingga ia berpayah-payah mencari sesuatu ke tempat yang jauh padahal yang dia cari itu berada di sini.

Tafsir Quraishb Shihab: Setelah itu Sâmiriy membuat patung anak lembu dari bekas emas perhiasan tadi untuk pengikut- pengikut Mûsâ itu. Di bagian perut patung lembu itu dibuat sebuah lobang saluran angin sehingga menimbulkan suara seperti suara sapi, agar tipu dayanya semakin sempurna.

Ia mengajak mereka untuk menyembahnya, kemudian mereka pun mengikuti seruan Sâmiriy. Ia dan pengikut-pengikutnya berkata, “Inilah sembahan kalian dan sembahan Mûsâ.” Sâmiriy lupa bahwa dengan melakukan perenungan dan pembuktian, akan mudah diketahui bahwa anak sapi itu bukanlah Tuhan.

Surah Thaha Ayat 89
أَفَلَا يَرَوْنَ أَلَّا يَرْجِعُ إِلَيْهِمْ قَوْلًا وَلَا يَمْلِكُ لَهُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا

Terjemahan: Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan?

Tafsir Jalalain: أَفَلَا يَرَوْنَ أَلَّا يَرْجِعُ (Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu) lafal Allaa merupakan gabungan daripada Ann yang ditakhfif dari Anna dan Laa, sedangkan isim Ann tidak disebutkan, asalnya Annahu Laa, artinya, bahwasanya anak lembu itu

أَلَّا يَرْجِعُ (tidak dapat memberi) tidak dapat memberikan إِلَيْهِمْ قَوْلً (jawaban kepada mereka) yakni tidak dapat menyahuti perkataan mereka وَلَا يَمْلِكُ لَهُمْ ضَرًّا (dan tidak dapat memberi kemudaratan kepada mereka) maksudnya tidak dapat menolak kemudaratan yang menimpa mereka وَلَا نَفْعًا (dan tidak pula kemanfaatan?) tidak dapat mendatangkan kemanfaatan buat mereka. Maksudnya, mengapa mereka menjadikannya sebagai Tuhan?.

Tafsir Ibnu Katsir: َفَلَا يَرَوْنَ أَلَّا يَرْجِعُ إِلَيْهِمْ قَوْلًا وَلَا يَمْلِكُ لَهُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا (“Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan?”
Yakni, anak sapi itu, apakah mereka tidak memperhatikan bahwa ia tidak bisa memberi jika mereka meminta, atau tidak dapat menjawab jika mereka bertanya, juga tidak bisa memberikan mudharat dan manfaat kepada mereka, yakni di dunia maupun di akhirat.

Ibnu Abbas mengatakan: “Tidak demi Allah, suara anak sapi itu tiada lain adalah masuknya angin dari lubang duburnya, lalu angin itu keluar dari mulutnya sehingga mengeluarkan suara. Hasil dari pemberian alasan orang-orang bodoh itu, di mana mereka merasa keberatan membawa perhiasan bangsa Qibti, lalu mereka melemparkannya dan kemudian menyembah anak sapi, maka dengan demikian mereka telah merasa berat dengan sesuatu yang hina dan melakukan suatu hal yang amat besar (kesyirikan).

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih, dari Abdullah binUmar dia pernah ditanya oleh seseorang dari penduduk Irak mengenai darah nyamuk jika mengenai pakaian, yakni, apakah dia boleh shalat dengan mengenakannya atau tidak? Maka Ibnu Umar menjawab: “Lihatlah penduduk Irak, mereka membunuh putera dari puteri Rasulullah saw.” Yakni, Husain, sedang mereka menanyakan tentang darah nyamuk.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menerangkan bagaimana bodohnya kaum Musa itu karena tidak dapat mempertimbangkan sesuatu dengan seksama apakah ia buruk atau baik, dapat diterima akal atau suatu yang mustahil. Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung itu adalah benda mati yang tidak berdaya apa-apa tidak dapat berbicara dan tidak dapat menjawab pertanyaan apalagi akan memberikan pertolongan atau menolak suatu bahaya.

Sedangkan sapi yang sebenarnya yang bernyawa, bergerak sendiri dapat menanduk dan menyepak dapat mengangkat barang atau menarik gerobak tak ada orang yang berakal sehat yang mau menyembahnya, tetapi mereka menerima dan mau saja disuruh menyembah patung anak sapi yang berupa benda mati itu.

Tafsir Quraishb Shihab: Penglihatan mereka sungguh telah buta ketika mereka menganggap anak sapi itu sebagai Tuhan! Apakah mereka tidak tahu bahwa anak lembu itu tidak dapat merespons ucapan-ucapan mereka, menolak kesengsaraan dan mendatangkan manfaat kepada mereka?.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Thaha Ayat 83-89 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag, dan Tafsir Quraishb Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S