Surah Thaha Ayat 95-98; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Thaha Ayat 95-98

Pecihitam.org – Kandungan Surah Thaha Ayat 95-98 ini, menjelaskan Musa mengatakan bahwa patung itu bukanlah tuhan, Tuhan mereka ialah Tuhan Yang Maha Esa. Yang tiada Tuhan selain Allah. Dialah yang patut disembah dan dimuliakan hanya kepada-Nya sajalah dipanjatkan segala doa dan permohonan, semua makhluk berkehendak kepada-Nya karena Dialah Yang Maha Pencipta dan Mahakuasa. Ilmunya sangat luas tiada batasnya meliputi segala sesuatu, tak ada yang luput dari ilmunya baik di bumi di langit maupun yang ada di antara keduanya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Thaha Ayat 95-98

Surah Thaha Ayat 95
قَالَ فَمَا خَطْبُكَ يَا سَامِرِيُّ

Terjemahan: Berkata Musa: “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?”

Tafsir Jalalain:Berkata Musa, “Apakah yang mendorongmu) berbuat demikian (hai Samiri?”).

Tafsir Ibnu Katsir: Musa berkata kepada Samiri, apa yang menyebabkanmu berbuat seperti itu, dan apa pula yang menimpamu sehingga kamu berani melakukan apa yang telah kamu lakukan.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Musa menghardik Samiri dengan pertanyaan, “Mengapa engkau melakukan perbuatan yang sangat tercela dan dimurkai Allah itu sehingga sebagian Bani Israil telah menjadi kafir setelah beriman dan menyembah berhala yang sengaja engkau bikinkan untuk mereka, engkau telah merusak akidah kaumku yang benar dan telah menyesatkan mereka. Tahukah engkau apa akibat perbuatanmu yang sangat mungkar itu?”.

Tafsir Quraish Shihab: Mûsâ berkata kepada Sâmiriy, “Ada apa denganmu, Sâmiriy?”

SurahThaha Ayat 96
قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوا بِهِ فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِّنْ أَثَرِ الرَّسُولِ فَنَبَذْتُهَا وَكَذَلِكَ سَوَّلَتْ لِي نَفْسِي

Terjemahan: Samiri menjawab: “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku”.”

Tafsir Jalalain: قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوا بِهِ (Samiri menjawab, “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya) dapat dibaca Yabshuruu dan Tabshuruu, artinya, aku mengetahui apa yang tidak mereka ketahui فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِّنْ (maka aku ambil segenggam dari) tanah أَثَرِ (bekas) jejak teracak kuda الرَّسُولِ (rasul) yakni malaikat Jibril,

فَنَبَذْتُهَا (lalu aku melemparkannya) yakni aku menaruhnya pada patung anak lembu yang telah dicetak وَكَذَلِكَ سَوَّلَتْ (dan demikianlah telah menggoda) telah membujuk لِي نَفْسِي (aku hawa nafsuku”) untuk menaruhnya ke dalam tubuhnya, yaitu setelah terlebih dahulu aku mengambil segenggam tanah bekas jejak teracak kuda malaikat Jibril.

Lalu tanah itu aku taruh ke dalam patung yang tidak bernyawa, hingga patung itu menjadi hidup bagaikan ada rohnya. Kemudian aku melihat bahwa kaummu meminta kepadamu untuk menjadikan tuhan buat mereka. Lalu hatiku menggodaku untuk menjadikan patung anak lembu itu sebagai tuhan mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوا بِهِ (“Samiri menjawab: ‘Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya,’”) yakni, aku melihat Jibril ketika datang untuk membinasakan Fir’aun. Faqabadl-tu qab-dlatam min atsarir rasuuli

فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِّنْ أَثَرِ الرَّسُولِ (“Maka aku ambil segenggam dari jejak Rasul,”) yakni, dari jejak kudanya (Jibril). Demikianlah pendapat yang masyhur dari kalangan ahli tafsir atau mayoritas dari mereka.

Kata al-qabdhah berarti sepenuh telapak tangan, dan hal itu dengan seluruh ujung jari. Mujahid mengatakan: “Samiri melemparkan apa yang ada di tangannya pada perhiasan Bani Israil sehinga berubah menjadi anak sapi yang berbadan dan mempunyai suara;

فَنَبَذْتُهَا (“Lalu aku melemparkannya,”) yakni, melemparkannya bersama orang-orang yang melempar. وَكَذَلِكَ سَوَّلَتْ لِي نَفْسِ (“Dan demikianlah nafsuku membujukku.”) Maksudnya, nafsunya telah membuat hal itu tampak indah dan menarik.

Tafsir Kemenag: Samiri menjawab bentakan dan hardikan Musa. Aku telah mengetahui sesuatu yang belum diketahui oleh kaummu, maka aku buatlah sebuah patung dari emas yang dibawa dari Mesir berbentuk anak sapi dan aku jadikan patung itu seindah-indahnya untuk menarik perhatian mereka. Demikianlah pendapatku dan tindakan itulah yang paling baik menurut pikiranku.

Baca Juga:  Surah Al-Muzammil Ayat 19-20; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Menurut sebagian Mufasirin, Samiri menjawab bentakan Musa dengan jawaban yang aneh sehingga dapat meninggalkan kesan seolah-olah dia telah mendapat wahyu pula dari Tuhan dan telah berhubungan dengan Jibril serta telah mengenalnya. Samiri mengatakan bahwa ia membakar emas yang dibawa mereka dari Mesir di dalam lubang yang mereka buat sendiri dia mengambil segenggam tanah bekas jejak telapak kaki Jibril maka keluarlah dari lubang itu sesuatu yang serupa anak sapi.

Dengan demikian tertariklah sebagian Bani Israil kepada bujukan dan tipu daya Samiri untuk menyembah patung berbentuk anak sapi itu. Karena patung anak sapi itu bukanlah sembarang patung, tetapi benar-benar telah dikirim Allah untuk disembah dan dipujanya.

Tafsir Quraish Shihab: Sâmiriy menjawab, “Aku memiliki keterampilan dan cara-cara pembuatan yang tidak diketahui Banû Isrâ’îl. Aku telah membuat patung dalam bentuk anak sapi yang mengeluarkan suara seperti ini, dan aku ambil segenggam dari Tawrât, lalu aku lemparkan ke dalam perut patung anak sapi itu, agar manusia ragu. Demikianlah nafsuku membujukku untuk melakukan apa yang aku lakukan.”

Surah Thaha Ayat 97
قَالَ فَاذْهَبْ فَإِنَّ لَكَ فِي الْحَيَاةِ أَن تَقُولَ لَا مِسَاسَ وَإِنَّ لَكَ مَوْعِدًا لَّن تُخْلَفَهُ وَانظُرْ إِلَى إِلَهِكَ الَّذِي ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا لَّنُحَرِّقَنَّهُ ثُمَّ لَنَنسِفَنَّهُ فِي الْيَمِّ نَسْفًا

Terjemahan: Berkata Musa: “Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: “Janganlah menyentuh (aku)”. Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan).

Tafsir Jalalain: قَالَ (Berkata Musa) kepada Samiri, فَاذْهَبْ (“Pergilah kamu) dari kalangan kami ini فَإِنَّ لَكَ فِي الْحَيَاةِ (maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini) selama kamu hidup di dalamnya أَن تَقُولَ (hanya dapat mengatakan) kepada orang-orang yang kamu bertemu dengannya,

لَا مِسَاسَ (‘Janganlah menyentuhku’) janganlah kamu mendekat kepadaku. Dan disebutkan bahwa sejak saat itu Samiri mengembara tanpa tujuan dan jika ada seseorang menyentuhnya atau dia menyentuhnya, maka semuanya kena penyakit demam.

وَإِنَّ لَكَ مَوْعِدًا (Dan sesungguhnya bagimu telah ada ketentuan waktu) bagi hukumanmu لَّن تُخْلَفَهُ (yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya) jika dibaca Lan tukhlifahu artinya, kamu tidak dapat selamat dari azab itu. Dan jika dibaca Lan Tukhlafahu artinya, kamu dibangkitkan kelak di hari kiamat untuk diazab

وَانظُرْ إِلَى إِلَهِكَ الَّذِي ظَلْتَ (dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap) lafal Zhalta asalnya dibaca Zhalilta, kemudian Lam yang pertama dibuang sehingga jadilah Zhalta artinya yang kamu selamanya عَلَيْهِ عَاكِفًا (menyembah kepadanya) tetap menyembahnya. لَّنُحَرِّقَنَّهُ (Sesungguhnya kami akan membakarnya) dengan api

ثُمَّ لَنَنسِفَنَّهُ فِي الْيَمِّ نَسْفًا (kemudian kami sungguh-sungguh akan menghambur-hamburkannya ke dalam laut) berupa abu yang berserakan terbawa oleh angin laut. Dan Nabi Musa mengerjakan apa yang telah dikatakannya itu setelah terlebih dahulu menyembelihnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Pada saat itu: قَالَ فَاذْهَبْ فَإِنَّ لَكَ فِي الْحَيَاةِ أَن تَقُولَ لَا مِسَاسَ (“Musa berkata: ‘Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalan kehidupan di dunia ini [hanya dapat] mengatakan: Janganlah menyentuh [aku].’”) Yakni, sebagaimana kamu mengatakan telah mengambil dan memegang bekas urusan [Jibril] yang sebenarnya tidak pernah kamu ambil dan pegang, sehingga siksaanmu di dunia adalah dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu menyentuh(ku)!’ Artinya, kamu tidak bisa menyentuh orang-orang dan orang-orang pun tidak akan menyentuhmu.

Baca Juga:  Surah Al-Maidah Ayat 116-118; Seri Tadabbur Al Qur'an

وَإِنَّ لَكَ مَوْعِدً (“Dan sesungguhnya bagimu hukuman,”) yakni, pada hari Kiamat kelak: لَّن تُخْلَفَهُ (“Yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya,”) maksudnya, kamu tidak akan dapat mengelak darinya.

Qatadah mengatakan tentang firman-Nya: أَن تَقُولَ لَا مِسَاسَ (“[Hanya dapat] mengatakan: ‘Janganlah menyentuh’”) dia mengatakan: “Musa menyatakan hal ini sebagai hukuman bagi mereka, dan sisa-sisa mereka pada hari itu juga mengatakan, ‘Jangan menyentuh (ku)!’”

Firman-Nya: وَانظُرْ إِلَى إِلَهِكَ (“Dan lihatlah ilahmu,”) yakni sembahanmu itu; الَّذِي ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا (“Yang kamu tetap menyembahnya.”) Yakni telah menyembahnya, yaitu anak sapi tersebut. لَّنُحَرِّقَنَّهُ (“Sesungguhnya kami akan membakarnya.”)

Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu `Abbas dan as-Suddi: “Dia mendinginkanya dengan alat pendingin dan melemparkannya ke dalam api. Dan menurut Qatadah: “Sapi yang terbuat dari emas itu berubah menjadi daging dan darah, sehingga dia membakarnya dengan api dan kemudia abunya di buang ke laut.”

Oleh karena itu, dia mengatakan: ثُمَّ لَنَنسِفَنَّهُ فِي الْيَمِّ نَسْفًا (“Kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut [berupa abu yang berserakan]”)

Tafsir Kemenag: Musa berkata kepada Samiri pergilah engkau jauh-jauh dari sini, engkau tidak berhak bergaul dengan siapapun dan tak ada seorang pun yang dibolehkan bergaul dengan engkau. Bila ada orang yang bertanya kepadamu mengenai halmu maka engkau harus menjawab “Aku tidak dibolehkan mendekat seseorang dan siapapun tidak boleh mendekatiku.” Inilah tindakan Musa yang amat keras dan tegas terhadapnya. Ke mana Samiri akan pergi, tak ada tempat yang akan didiami karena sekeliling tempat itu hanya ada padang pasir yang amat luas dan tandus, tak ada sebidang tanah pun di gurun sahara itu yang dapat didiami manusia.

Sedang binatang liar dan buas pun akan merasa sulit dan akan menderita tinggal di padang pasir yang tak bertepi itu. Diriwayatkan bahwa Samiri setelah diusir oleh Musa, dia pergi dari tempat itu tanpa diketahuinya ke mana arah dan tujuan yang akan dicapainya.

Dia berpetualang di gurun sahara yang amat luas itu dan tidak ada yang dijumpainya kecuali binatang-binatang buas dan liar. Maka terbuktilah apa yang dikatakan Musa kepadanya bila ia bertemu dengan seseorang menanyakan halnya dia harus menjawab “La misasa”.

Biarpun dia tidak pernah mengucapkan kata “La misasa” itu tetapi dalam praktek pengalamannya bertualang di padang pasir seakan-akan dia sendiri meneriakkan kata itu sehingga tak ada seorang pun yang berani mendekat kepadanya.

Kemudian Musa mengucapkan kata-kata perpisahan kepadanya bahwa dia akan menemui hari yang tidak dapat dihindarinya yaitu hari kiamat, hari pembalasan di mana dia akan menerima balasan amal perbuatannya setimpal dengan besar dosa yang diperbuatnya.

Kemudian Musa memerintahkan kepada Samiri supaya dia menoleh kepada tuhan buatannya yang disembah dan dipujanya dan berkata, “Patung ini akan aku hancur leburkan sampai menjadi debu dan debunya akan aku sebarkan ke laut sehingga hilang lenyap tidak berbekas.”.

Tafsir Quraish Shihab:  Musa berkata lagi, “Keluarlah kamu dari kelompok kami dan jauhilah kami! Kau akan mendapat balasan di dunia sebagai orang terhina dan dijauhi manusia. Dengan begitu, tak ada hubungan lagi antara kamu dengan mereka.

Tidak ada seorang pun akan mendekatimu dan kau un tidak dapat mendekati seseorang. Lebih dari itu, siksaanmu di Akhirat sudah pula ditentukan. Dan kamu tidak akan dapat menghindarinya.” Musa kemudian mencemooh Samiriy dan tuhanya seraya berkata, “Lihatlah sekarang apa yang akan kami perbuat terhadap tuhan yang kamu sembah dan kamu jadikan alat untuk menggoda manusia. Kami akan membakar dan menghamburkannya ke laut.”

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 133-135; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah Thaha Ayat 98
إِنَّمَا إِلَهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا

Terjemahan: Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu”.

Tafsir Jalalain: إِنَّمَا إِلَهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا (Sesungguhnya Tuhan kalian hanyalah Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu) lafal ‘Ilman adalah Tamyiz yang dipindahkan dari bentuk Fa’ilnya, artinya, pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah Ta’ala: إِنَّمَا إِلَهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا (“Sesungguhnya Ilahmu hanyalah Allah, yang tidak ada ilah [yang berhak diibadahi] selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.”) Musa as. berkata kepada mereka:

“Bukan ini Ilah kalian, tetapi Ilah kalian adalah Allah yang tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali hanya Dia, tidak layak ibadah itu diberikan oleh hamba kecuali hanya kepada-Nya semata. Sebab, segala sesuatu selalu membutuhkan-Nya sekaligus sebagai hamba bagi-Nya.

Firman-Nya: وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا (“Dan pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.”) Kata `ilma dengan menggunakan harakat fat-hah pada huruf “mim” dengan pengertian bahwa Dia Mahamengetahui atas segala sesuatu. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu dan Dia mampu menghitung jumlah segala sesuatu, tidak ada yang terlepas meski hanya seberat biji sawi.

Tidak satu daun yang jatuh melainkan Dia mengetahuinya dan tidak ada satu biji pun kegelapan bumi, tidak yang basah dan tidak pula yang kering melainkan tertulis di dalan Kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).

“Dan tidak ada satu binatang melata pun di muka bumi ini melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” (QS. Huud: 6) Dan ayat al-Qur’an yang membahas mengenai masalah itu cukup banyak.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Musa mengatakan bahwa patung itu bukanlah tuhan, Tuhan mereka ialah Tuhan Yang Maha Esa. Yang tiada Tuhan selain Allah. Dialah yang patut disembah dan dimuliakan hanya kepada-Nya sajalah dipanjatkan segala doa dan permohonan, semua makhluk berkehendak kepada-Nya karena Dialah Yang Maha Pencipta dan Mahakuasa.

Ilmunya sangat luas tiada batasnya meliputi segala sesuatu, tak ada yang luput dari ilmunya baik di bumi di langit maupun yang ada di antara keduanya, sesuai dengan firman-Nya:

Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat zarrah baik yang di langit maupun yang di bumi, yang lebih kecil dari itu atau yang lebih besar, semuanya (tertulis) dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfudz),” (Saba`/34: 3).

Tafsir Quraish Shihab: Musa benar-benar melaksanakan apa yang diucapkannya. Setelah mengambil pelajaran dari peristiwa ini, ia kemudian menemui Bani Israil dan berkata, “Sesungguhnya Tuhan kalian Yang Mahaesa, adalah Tuhan yang tidak boleh disembah bersama tuhan-tuhan lain. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu, baik yang lampau maupun yang akan datang.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Thaha Ayat 95-98 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag, dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S