Surah Yasin ayat 18-19; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Yasin Ayat 18-19

Pecihitam.org – Kandungan Surah Yasin Ayat 18-19 ini, dijelaskan bahwa penduduk Antakia tidak bisa lagi mematahkan alasan-alasan para rasul itu. Oleh karena itu, mereka mengancam dengan mengatakan bahwa kalau kesengsaraan menimpa mereka kelak, maka hal ini disebabkan perbuatan ketiga orang tersebut.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Yasin Ayat 18-19

Surah Yasin Ayat 18
قَالُوٓاْ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ

Terjemahan: Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami”.

Tafsir Jalalain: قَالُوٓاْ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا (Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami bernasib malang) mengalami kesialan بِكُمۡ (karena kalian) kami mengalami kekeringan dan tidak pernah turun hujan sebab ada kalian لَئِن لَّمۡ (sesungguhnya jika) huruf Lam di sini bermakna qasam تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ (kalian tidak berhenti -menyeru kami-, niscaya kami akan merajam kalian) dengan batu-batu وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (dan kalian pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.”) siksa yang menyakitkan.

Tafsir Ibnu Katsir: Ketika itu, penduduk kampong berkata kepada mereka: إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡ (“Sesungguhnya kami bernasib malang karenamu.”) yaitu kami tidak melihat kebaikan di wajah-wajah kalian bagi kehidupan kami.

Qatadah berkata: “Mereka menjawab: ‘Kami tertimpa keburukan hanya disebabkan oleh kalian.’” Mujahid berkata: “Mereka menjawab: ‘Tidak ada satu orangpun seperti kalian yang memasuki sebuah kampong kecuali dia akan menghukum penduduknya.”

لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ (“Sesungguhnya jika kamu tidak berhenti [menyeru kami] niscaya kami akan merajammu.”) Qatadah berkata: “Yaitu dengan batu.” Mujahid berkata: “Yakni dengan celaan.”

وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (“Dan pasti kamu akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami.” Yaitu siksaan yang dahsyat.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini dijelaskan bahwa penduduk Antakia tidak bisa lagi mematahkan alasan-alasan para rasul itu. Oleh karena itu, mereka mengancam dengan mengatakan bahwa kalau kesengsaraan menimpa mereka kelak, maka hal ini disebabkan perbuatan ketiga orang tersebut.

Baca Juga:  Surah Al-Hijr Ayat 51-56; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dengan demikian, kalau para rasul itu tidak mau menghentikan dakwah yang sia-sia ini, terpaksa mereka merajamnya dengan batu atau menjatuhkan siksaan yang amat pedih. Ketiga utusan itu menangkis perkataan mereka dengan mengatakan bahwa seandainya penduduk Antakia kelak terpaksa mengalami siksaan, itu adalah akibat perbuatan mereka sendiri.

Bukankah mereka yang mempersekutukan Allah, mengerjakan perbuatan maksiat, dan melakukan kesalahan-kesalahan? Sedangkan ketiga utusan itu hanya sekadar mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah, mengikhlaskan diri dalam beribadah, dan tobat dari segala kesalahan.

Apakah karena para rasul itu memperingatkan mereka dengan azab Allah yang sangat pedih dan mengajak mereka mengesakan Allah, lalu mereka menyiksa para rasul itu? Itukah balasan yang pantas bagi para rasul itu? Hal itu menunjukkan bahwa mereka adalah bangsa yang melampaui batas dengan cara berpikir dan menetapkan putusan untuk menyiksa dan merajam para rasul.

Mereka menganggap buruk orang-orang yang semestinya menjadi tempat mereka meminta petunjuk. Ayat yang mirip pengertiannya dengan ayat ini adalah:

Kemudian apabila kebaikan (kemakmuran) datang kepada mereka, mereka berkata, “Ini adalah karena (usaha) kami.” Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan pengikutnya. Ketahuilah, sesungguhnya nasib mereka di tangan Allah, namun kebanyakan mereka tidak mengetahui. (al-A’raf/7: 131).

Tafsir Quraish Shihab: Penduduk kota itu berkata, “Sungguh kami merasa muak dengan kalian. Kami bersumpah, bila kalian tidak menghentikan seruan itu, kami akan merajam kalian dengan bebatuan. Kalian akan mendapatkan suatu azab yang sangat menyakitkan dari kami.”

Surah Yasin Ayat 19
قَالُواْ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ أَئِن ذُكِّرۡتُم بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٌ مُّسۡرِفُونَ

Terjemahan: Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas”.

Tafsir Jalalain: قَالُواْ طَٰٓئِرُكُم (Utusan-utusan itu berkata, “Kemalangan kalian) yakni kesialan kalian itu مَّعَكُمۡ (adalah karena kalian sendiri”) disebabkan ulah kalian sendiri karena kafir. أَئِن (Apakah jika) Hamzah Istifham digabungkan dengan In Syarthiyah, keduanya dapat dibaca Tahqiq, dan dapat pula dibaca Tas-hil ذُكِّرۡتُم (kalian diberi peringatan) yakni diberi nasihat dan peringatan; jawab Syarath tidak disebutkan.

Baca Juga:  Surah Yasin Ayat 41-44; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Lengkapnya ialah apakah jika kalian diberi peringatan lalu kalian bernasib sial karenanya lalu kalian kafir? Pengertian terakhir inilah objek daripada Istifham atau kata tanya. Makna yang dimaksud adalah sebagai cemoohan terhadap mereka.

بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٌ مُّسۡرِفُونَ (Sebenarnya kalian adalah kaum yang melampaui batas) karena kemusyrikan kalian.

Tafsir Ibnu Katsir: Lalu para utusan mereka berkata: طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ (“Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri.”) yaitu kembali kepada kalian, seperti firman Allah Ta’ala tentang kaum nabi Shaleh: ٱطَّيَّرۡنَا بِكَ وَبِمَن مَّعَكَ قَالَ طَٰٓئِرُكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ (“’Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu.’ Shalih berkata:’Nasibmu ada pada sisi Allah.’”) (an-Naml: 47) Qatadah dan Wahb bin Munabbih berkata: “Yaitu amal-amal kalian bersama kalian.”

Dan firman Allah Ta’ala: أَئِن ذُكِّرۡتُم بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٌ مُّسۡرِفُونَ (“Apakah jika kamu diberi peringatan [kamu mengancam kami]? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.”) Yaitu, dikarenakan Kami mengingatkan dan memerintahkan kalian untuk mengesakan Allah dan mengikhlaskan pengabdian hanya kepada-Nya, maka kalian membalas, mengancam dan menggertak dengan kata-kata tersebut, bahkan kalian adalah kaum yang melampaui batas.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini dijelaskan bahwa penduduk Antakia tidak bisa lagi mematahkan alasan-alasan para rasul itu. Oleh karena itu, mereka mengancam dengan mengatakan bahwa kalau kesengsaraan menimpa mereka kelak, maka hal ini disebabkan perbuatan ketiga orang tersebut.

Dengan demikian, kalau para rasul itu tidak mau menghentikan dakwah yang sia-sia ini, terpaksa mereka merajamnya dengan batu atau menjatuhkan siksaan yang amat pedih.

Ketiga utusan itu menangkis perkataan mereka dengan mengatakan bahwa seandainya penduduk Antakia kelak terpaksa mengalami siksaan, itu adalah akibat perbuatan mereka sendiri. Bukankah mereka yang mempersekutukan Allah, mengerjakan perbuatan maksiat, dan melakukan kesalahan-kesalahan? Sedangkan ketiga utusan itu hanya sekadar mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah, mengikhlaskan diri dalam beribadah, dan tobat dari segala kesalahan.

Baca Juga:  Surah Yasin Ayat 74-76; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Apakah karena para rasul itu memperingatkan mereka dengan azab Allah yang sangat pedih dan mengajak mereka mengesakan Allah, lalu mereka menyiksa para rasul itu? Itukah balasan yang pantas bagi para rasul itu? Hal itu menunjukkan bahwa mereka adalah bangsa yang melampaui batas dengan cara berpikir dan menetapkan putusan untuk menyiksa dan merajam para rasul.

Mereka menganggap buruk orang-orang yang semestinya menjadi tempat mereka meminta petunjuk. Ayat yang mirip pengertiannya dengan ayat ini adalah:

Kemudian apabila kebaikan (kemakmuran) datang kepada mereka, mereka berkata, “Ini adalah karena (usaha) kami.” Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan pengikutnya. Ketahuilah, sesungguhnya nasib mereka di tangan Allah, namun kebanyakan mereka tidak mengetahui. (al-A’raf/7: 131).

Tafsir Quraish Shihab: Para rasul itu berkata, “Rasa muak yang ada pada kalian itu sebenarnya disebabkan oleh sikap kafir kalian. Pantaskah kalian merasa muak kepada kami serta mengancam kami dengan azab yang pedih, sementara kami memberikan kalian nasihat-nasihat yang membawa kepada kebahagiaan? Tetapi begitulah adanya, kalian merupakan sekelompok manusia yang melenceng dari kebenaran dan keadilan.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Yasin ayat 18-19 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S