Mengapa Surat Al-Fatihah Diletakkan Terakhir dalam Tafsir Jalalain?

Surat Al-Fatihah dalam Tafsir Jalalain

Pecihitam.org – Salah satu kitab tafsir yang cukup terkenal dan telah dicetak dalam mungkin jutaan eksamplar dan hampir dikaji di seluruh pesantren dan lembaga-lembaga keislaman baik di nusantara maupun internasional adalah kitab Tafsir Jalalain.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kitab yang awalnya ditulis oleh Jalaluddin Al-Mahalli kemudian dilanjutkan oleh Jalaludin As-Suyuthi ini, diberi nama Tafsir Jalalain karena ditulis oleh dua seorang imam besar yang sama-sama bergelar Jalaluddin yang telah disebutkan, yakni Al-Hafidz Ahmad Jalaluddin Al-Mahalli (791 – 864 H) dan Al-Hafidz Muhammaf Jalaluddin As-Suyuthi (849 – 911 H)

Keduanya merupakan tokoh utama Mazhab Syafi’i yang multidisiplin ilmu. Mulai dari ilmu Al-Qur’an, hadits, Ushul hingga Fiqh.

Selain karena ringkas dan padatnya, hal menarik lainnya dari kitab tafsir yang terbagi dalam dua jilid ini adalah posisi Surat Al-Fatihah yang ada di akhir. Sebagaimana kita tahu, bahwa dalam Mushaf Al-Qur’an posisi Surat Al-Fatihah adalah di awal. Karenanya, di dalam kitab-kitab tafsir lain selain kitab tafsir ini posisi penafsiran Surat Al-Fatihah diletakkan di awal.

Baca Juga:  Tiga Keutamaan Membaca Surat Al-Fatihah

Lalu apa cerita dibalik adanya posisi Surat Al-Fatihah pada bagian akhir di dalam Tafsir Jalalain ini?

Disebutkan oleh beberapa ulama yang menulis kitab hasyiah atas Tafsir Jalalain, bahwa Imam Jalaluddin Al-Mahalli membagi kitab tafsir ini menjadi dua jilid. Bagian pertama dimulai dari Surah Al Kahfi hingga surah Annas.

Bagian atau jilid kedua dimulai dari surat Al-Fatihah hingga Surat Al-Isra. Namun, belum sempat beliau mulai jilid yang kedua Allah telah memanfaatkan nya. Kemudian kitab tafsir ini dilanjutkan oleh muridnya yang bernama Jalaluddin As-Suyuthi. Maka kemudian sang murid melanjutkan tafsir ini yang di mulainya dari Surat Al-Baqarah hingga Surat Al-Isra’.

Lalu meletakkan surah penafsiran Surah Al-Fatihahdi bagian akhir. Ini beliau lakukan dalam rangka mengikuti sunah atau jejak Sang Guru.

Hal demikian sebagaimana dijelaskan oleh Ahmad bin Muhammad As-Shawi (w. 1241 H). Beliau adalah pakar di bidang tafsir, hadis, fiqih dan qiraat.

Baca Juga:  Fatwa Ulama Tentang Arah Kiblat, Sejarah dan Cara Mencarinya

Salah satu Imam Al-Azhar dan sufi Mesir ini, menjelaskan di dalam kitab hasyiyahnya atas Tafsir Jalalain yang diberi judul حاشية الصاوي على الجلالين

Beliau menulis:

ثم إنه لما فرغ من تفسير سورة  الفاتحة توفي الى رحمة الله تعالى, فقيض الله تعالى تلميذه الجلال السيوطي  لتتميم تفسيره فابتدأ بأول سورة البقرة وختم بالإسراء كما ذكر في خطبته.  فصار تفسير الفاتحة في نسخ الجلال مضموما لتفسير آخر القرآن لا أوله ليكون  تفسير المحلى مضموما بعضه لبعض, رضي الله عن الجميع ونفعنا بهم

Kemudian setelah Jalaluddin Al-Mahalli rampung dari menyelesaikan tafsir surat al-fatihah maka ia wafat menghadap rahmat Allah ta’ala. Kemudian Allah menetapkan muridnya, Jalaluddin as-suyuthi untuk menyempurnakan Tafsir Jalalain Udin al-mahalli. Maka Jalaluddin as-suyuthi memulai dari surat Al Baqarah hingga Al Isra, sebagaimana disebutkan dalam pengantarnya.

Maka jadilah jadilah Surat Al-Fatihah dalam tulisan As-Suyuthi pada bagian akhir Al-Qur’an, bukan pada bagian awal penafsiran Jalaluddin Al-Mahalli saling menghimpun antara bagian satu dengan bagian yang lainnya. Semoga Allah meridhai mereka semua dan memberikan manfaat kepada kita.

Demikianlah ulasan kami mengenai posisi Surat Al-Fatihah yang ada di bagian akhir dalam Kitab Tafsir Jalalain. Wallahu a’lam bisshawab!

Faisol Abdurrahman