Surat al Ikhlas; Tulisan Arab, Manfaat dan Hadis Tentang Keutamaannya

Surat al Ikhlas; Tulisan Arab, Manfaat dan Hadis Tentang Keutamaannya

PeciHitam.org – Al-Quran al-Karim memiliki 114 surat, diawali dengan surat Al-Fatihah, Ummul Kitab, dan diakhiri dengan surat An-Naas. Diksi/ pesan tersirat dari dua surat tersebut adalah menunjukan keluasan agama Islam sebagai agama bagi seluruh Umat manusia.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dari sekian banyak surat-surat dalam Al-Quran, al-Ikhlas menempati tempat tersendiri dihati Umat Muslim di Nusantara. Kiranya inilah surat terfavorit yang dibaca orang Islam dalam shalat mereka setelah surat Al-Fatihah. Kebanyakan membaca surat ini karena pendek dan sangat mudah dihafal.

Selain mudah dihafal dan cepat dalam pembacaannya, ternyata surat al-Ikhlas memiliki kandungan dan keutamaan yang sangat besar.

Profil Surat al Ikhlas; Tulisan Arab dan Terjemahannya

Surat al-Ikhlas dalam urutan mushaf Usmani menempati nomor 112 dan setelah surat Al-Lahab dan sebelum surat Al-Falaq. Surat ini memiliki 4 ayat yang menerangkan tentang keadaan Allah SWT (wujudillah). Surat ini diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW setelah surat An-Naas.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Transliterasi; Qul huwallāhu Aḥad

Artinya; Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa

اللَّهُ الصَّمَدُ

Transliterasi; Allāhu ṣamad

Artinya; Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

Transliterasi; Lam yalid wa lam yụlad

Artinya; Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Transliterasi; Wa lam yakul lahụ kufuwan aḥad

Artinya; Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”

Surat ini secara resmi dinamakan surat Al-Ikhlas yang bermakna surat Kemurnian. Penamaan ini mendasar pada kandungan surat yang menerangkan tentang kemurnian aqidah/ Teologi bagi seorang Muslim.

Akan tetapi surat al ikhlas ini juga sering disebut juga dengan surat Qulhu, diambil dari permulaan ayat pertama surat ini. Sampai-sampai KH. Anwar Zahid dari Bojonegoro terkenal karena dalam ceramah beliau yang berjudul Qulhu ae Lek (sudah Surah Qulhu saja).

Baca Juga:  Pembangunan Piramida Ternyata Dijelaskan dalam Al Quran

Manfaat Surat al Ikhlas

Allah SWT menerangkan untuk diriNya tentang Keesaan/ Tauhid dalam surat Al-Ikhlas. Beberapa budaya dimasyarakat Nusantara banyak sekali yang menggunakan surat ini sebagai wirid atau bacaan dalam acara tertentu. Bisa di pastikan dalam acara-acara seperti tahlilan, manaqiban, kenduri dan doa bersama pasti disertai membaca surat ini berulang kali.

Bukan tanpa sebab surat ini dibaca berulang kali. Karena surat Al Ikhlas memiliki keistimewaan atau manfaat saat dibaca berulang kali. Manfaat yang terkandung dalam surat ini pernah dirasakan oleh salah seorang Sahabat Nabi Muawiyah bin Muawiyah al-Laytsi selalu membaca surat Al-Ikhlas ketika hendak melakukan sesuatu.

Acap kali beliau keluar-maupun masuk rumah, pasti akan membaca surat Al-Ikhlas. Ketika Muawiyah wafat, Rasulullah datang untuk takziah dan kaget melihat ada ribuan malaikat di sekitar Sahabat Muawiyah. Rasulullah pun tahu selama hidupnya sang sahabat rutin membaca surat Al-Ikhlas.

Hadis Tentang Keistimewaan Surat al Ikhlas

Penuturan KH Lukman Hakim, bahwa keutamaan surat al-Ikhlas bernilai sepertiga Al-Quran. Maka jika kita membaca Al-Ikhlas tiga kali, pahalanya sama dengan mengkhatamkam al-Quran.

Keterangan ini beliau sarikan dari kitab Tassawuf al-Qashdu al-Mujarrad fi Ma’rifati al-Ismi al-Mufrad karya Syeikh Ahmad ibn Athaillah al-Sakandari. Seorang tokoh yang juga mengarang kitab Al-Hikam yang fenomenal itu.

Yang pasti, al-Ikhlas menerangkan tentang Keesan Allah SWT/ Tauhid dan adab pandangan manusia kepada TuhanNya. Keteranga KH Lukman Hakim selaras dengan keterangan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab syarah Sahih Bukhari;

قوله ثلث القرآن حمله بعض العلماء على ظاهره فقال هي ثلث باعتبار معاني القرآن لأنه أحكام وأخبار وتوحيد وقد اشتملت هي على القسم الثالث فكانت ثلثا بهذا الاعتبار

Artinya; Sabda Nabi Muhammad SAW, Senilai sepertiga al-Quran dipahami sebagian ulama sesuai makna dzahirnya. Mereka menyatakan, bahwa surat al-Ikhlas senilai sepertiga dilihat dari kandungan makna al-Quran. Karena isi Quran adalah hukum, berita, dan tauhid. Sementara surat al-Ikhlas mencakup pembahasan tauhid, sehingga dinilai sepertiga berdasarkan tinjauan ini  (Fathul Bari)

Keterangan Imam Ibnu Hajar ini berkaitan dengan Hadits Rasulullah SAW;

Baca Juga:  Inilah 4 Fungsi Masjid Dilihat dari Perspektif Al-Quran dan Sunnah

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

Artinya; Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, surat al-Ikhlas itu senilai sepertiga al-Quran (HR. Bukhari)

Isi Kandungan dan Tafsir Surat

Ayat Pertama;

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ 

Transliterasi; Qul huwallāhu Aḥad

Terkait dengan isi kandungan ayat pertama ini, ada kajian menarik dalam ilmu Tassawuf. Penyebutan (هُوَ) diawal dalam bahasa Arab dinamakan Dlamir Syaan.

Yaitu sebuah kata ganti yang sudah diketahui dan sudah maklum pengetahuannya. Artinya Allah memang sudah terkenal sebagai Tuhan, diakui atau tidak.

(هُوَ) juga masuk dalam kategori isim mufrad (kata Tunggal) Allah SWT. Dalam Isim Mufrad ada rahasia hikmah pengetahuan yang sangat luhur dan agung.

Kata ini mengandung gambaran bahwa ketika seseorang dipahamkan tentang Keesaan Allah SWT. Kata Esa adalah kata yang tiada taranya dan tidak ada bandingannya, pokok dari segala dasar.

Sama dengan sebuah angka, tidak akan ada angka 2, 3, 4 dan seterusnya jika tanpa angka 1. Dan Allah menempati posisi angka satu tersebut. Tidak ada yang membandingi Allah SWT, bahkan alam semesta ini. Segala sesuatu selain Allah hanyalah pancaran dari Allah SWT.

Ayat Kedua;

اللَّهُ الصَّمَدُ

Transliterasi; Allāhu ṣamad

Artinya; Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu

Pada ayat kedua dilanjutkan dengan Allāhu ṣamad yang bermakna Allah adalah Tuhan bergantung segala sesuatu. Hal ini bisa kita buktikan bahwa tidak ada yang pantas untuk bergantung selain Allah SWT.

Dalam dunia, sering kita merasa kecewa dengan manusia, karena kita terlalu banyak berharap dan bergantung pada makhluk. Dan memang sifat dunia adalah mengecewakan. Sayangnya, hati manusia mengingkarinya.

Baca Juga:  Sejarah Penamaan Bulan Syawal dan Peristiwa Penting yang Terjadi

“Hati kita sangat sukar untuk bergantung kepada Allah semata”.

Padahal darah yang mengalir ini saja bergantung kepada Allah, atau makanan yang kita makan saja tidak bisa kita arahkan kemana. Pada tahap ini hati manusia gagal mempraktikkan kita mengadu dan bergantung hanya kepada Allah SWT.

Ayat Ketiga;

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

Transliterasi; Lam yalid wa lam yụlad

Artinya; Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan

Ayat yang menerangkan tentang keadaan Allah SWT, sebagai sindiran ajaran Akidah yang beranggapan bahwa Allah mempunyai anak. Sebuah nalar yang dibantai habis dalam ayat ini.

Allah SWT menciptakan semua segala sesuatu dari ketiadaan, dan itu tidak sulit bagi Allah SWT. Apalagi menciptakan Isa AS, yang dianggap Anak Tuhan, dengan tanpa ayah. Menciptakan Adam dengan tanpa ayah dan ibu saja mudah bagi Allah SWT.

Sifat dasar Allah inilah yang menjadikan Dia tanpa sekutu dan pembanding yang menyamai. Dia lah dzat yang maha Agung dan Esa.

Ayat keempat;

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Transliterasi; Wa lam yakul lahụ kufuwan aḥad

Artinya; Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”

Ayat terakhir surat al-Ikhlas menerangkan sebuah tantangan, jika ingin menyami Allah SWT haruslah bisa menyamai apa yang Dia ciptakan. Tantangan yang berjalan sepanjang zaman ini bisa dipastikan tidak ada yang mampu untuk menandinginya. Ash-Shawabu Minallah

Mohammad Mufid Muwaffaq