Surat Al Kautsar; Luasnya Kandungan Surat Terpendek dalam Al Quran

Surat Al Kautsar; Luasnya Kandungan Surat Terpendek dalam Al Quran

PeciHitam.org – Sudah tiga bulan ini, wabah pandemic Covid-19 mengharuskan kita untuk melakukan aktivitas di rumah saja. Demi mencegah luasnya penyebaran virus tersebut.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hal ini berdampak pada aspek ibadah. Dimana biasanya, umat Islam berjamaah di masjid. Namun dengan adanya virus tersebut, kita lebih sering berjamaah atau shalat di rumah.

Hal ini juga sekaligus menguji hapalan surat pendek bapak-bapak, selaku kepala rumah tangga yang kebagian tugas untuk mengimami shalat. Walhasil, setelah sekian puluh tahun tidak pernah menjadi imam, apalagi melancarkan hapalan surat pendeknya, biasanya hanya surat itu-itu saja. Misalnya surat-surat pendek, seperti surat al-Ikhlas, Mu’awidzatain (surat al-Falaq dan an-Nas), surat al-Kautsar, dan sebagainya.

Meskipun memang tergolong surat pendek, namun kesemuanya memiliki keluasan makna yang terkandung di dalamnya. Jika kita selami, boleh jadi seumur hidup pun tak akan ada habisnya.

Oleh karena itu, pada artikel kali ini, kami mencoba untuk menggali kandungan makna yang terdapat dalam surat terpendek dalam al-Quran, yaitu surat al-Kautsar.

Selayang Pandang Surat al-Kautsar

Surat Al Kautsar (الكوثر) merupakan surat ke-108 dalam al-Quran. Surat ini merupakan surat terpendek dalam Al Quran, karena hanya terdiri dari 3 ayat saja. Surat al-Kautsar sendiri tergolong Surat Makkiyah, menurut mayoritas ulama. Surat al-Kautsat menjadi surat ke-14 atau ke-15 yang diturunkan kepada Rasulullah saw setelah Surat Al Adiyat dan sebelum surat At Takatsur.

Meski mayoritas ulama menggolongkannya sebagai surat Makkiyah, namun ada juga sebagian ulama yang berpendapat bahwa surat tersebut tergolong surat Madaniyah.

Sebab di dalamnya terdapat perintah berqurban melalui kata inhar yang artinya berkorbanlah. Sebagaimana yang kita ketahui, perintah ibadah qurban disyariatkan setelah hijrah ke Madinah.

Namun pendapat dibantah atau ditolak ulama lainnya, karena memang sudah sejak di Makkah, penyembelihan binatang sebagai pengorbanan telah dikenal dan berlangsung turun temurun.

Penamaan surat Al Kautsar sendiri yang merupakan nama sungai di surga atau bisa juga diartikan sebagai nikmat yang banyak, diambil dari ayat pertama dari surat ini. Selain itu, surat ini juga dinamakan Surat An-Nahr, penamaan tersebut diambil dari ayat kedua.

Lafadz Surat Al-Kautsar, Transliterasi dan Terjemahnya

Berikut ini kami cantumkan pula Lafadz Surat Al Kautsar, transliterasi dan terjemahnya:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ . إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Innaa a’thoinaa kal kautsar. Fasholli lirobbika wanhar. Inna syaani,aka huwal abtar

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.”

Asbabun Nuzul

Menurut Imam Ahmad, sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, asbabun nuzul Surat Al Kautsar yaitu pada saat surat al-Kautsar ini turun, Rasulullah sedang menundukkan kepalanya sejenak, lalu beliau mengangkat kepalanya seraya tersenyum. Para sahabat pun bertanya, “Mengapa engkau tersenyum ya Rasulullah?”

Baca Juga:  Surah Al-Kahfi Ayat 37-41; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Maka Rasulullah pun menjawab, “Sesungguhnya telah diturunkan kepadaku suatu surat.” Lalu beliau membaca Surat Al Kautsar.  “Tahukah kalian apakah Al Kautsar itu?”

Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah saw bersabda:

هُوَ نَهْرٌ أَعْطَانِيهِ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ فِى الْجَنَّةِ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ يَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ الْكَوَاكِبِ يُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُم فَأَقُولُ يَا رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِى. فَيُقَالُ لِى إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Artinya: Al Kautsar adalah sebuah sungai (telaga) yang diberikan kepadaku oleh Tuhanku di dalam surga. Padanya terdapat kebaikan yang baik. Umatku kelak akan mendatanginya di hari kiamat. Jumlah wadah-wadah (bejana-bejana)nya sama dengan bilangan bintang-bintang. Diusir darinya seseorang hamba, maka aku berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya dia dari umatku.” Maka dikatakan, “Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang telah dibuat-buatnya sesudahmu.” (HR. Ahmad)

Berdasarkan asbabun nuzul di atas, sebagian ulama berpendapat bahwa surat Al Kautsar tergolong surat Madaniyah. Hal ini disebabkan karena Anas bin Malik masuk Islam setelah Rasulullah hijrah ke Madinah.

Namun ada juga ulama yang berpendapat bahwa surat ini turun di Makkah, lalu diturunkan lagi di Madinah. Dalam Tafsir Ibnu Katsir pun juga tidak ada penjelasan mengenai kepastian hal tersebut, apakah Al Kautsar ini tergolong surat Makkiyah atau Madaniyah.

Asbabun nuzul yang lain, surat ini turun berkenaan dengan Ash bin Wail. Dia menghina Rasulullah sebagai abtar (terputus) karena putra beliau meninggal sehingga nasabnya terputus.

Lalu Allah menurunkan surat ini memberitakan bahwa Ash bin Wail yang telah memusuhi Rasulullah itulah yang abtar. Peristiwa itu terjadi di Makkah sehingga menjadi hujjah bahwa surat ini merupakan surat Makkiyah.

Tafsir Surat Al-Kautsar

Berikut ini kami jelaskan tafsir surat al-Kautsar, merujuk pada kitab-kitab tafsir seperti Tafsir Al Misbah, Tafsir Ibnu KatsirTafsir Fi Zhilalil QuranTafsir Al Azhar dan Tafsir Al Munir. Berikut penjelasan yang dapat kami rangkum:

Tafsir Ayat ke-1

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Artinya: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.

Kata a’thainaaka (أعطينك) berasal dari kata a’tha (أعطى) yang artinya adalah memberi. Biasa digunakan untuk pemberian yang menjadi milik pribadi seseorang.

Baca Juga:  Surah At-Taubah Ayat 80; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Kata al kautsar (الكوثر) berasal dari kata katsir (كثير) yang artinya adalah banyak. Bisa digunakan untuk menunjuk sesuatu yang bilangannya banyak, bisa pula untuk menunjuk sesuatu yang tinggi nilainya.

Kata al-kautsar dalam ayat ini, oleh beberapa ulama ditafsirkan berbeda. Ada yang berpendapat maknanya adalah sungai di surga dengan berhujjah pada hadis di atas dan hadis-hadis sejenis yang menerangkan al-kautsar. Ada pula yang berpendapat maknanya adalah nikmat yang banyak.

Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa makna kata al-kautsar dalam surat tersebut ialah keturunan Rasulullah sangat banyak. Merupakan dari lawan abtar, pada ayat terakhir.

Meskipun putra-putra beliau meninggal semasa kecil, putri beliau Fatimah telah memberikan keturunan yang darinya Ali Zainal Abidin -yang selamat dari pembantaian di Karbala- kemudian memiliki banyak keturunan hingga saat ini.

Sebenarnya makna-makna tersebut di atas tidak saling bertentangan. Kata al-kautsar sendiri artinya ialah nikmat yang banyak, yang diberikan Allah kepada Rasulullah, di antaranya adalah keturunan yang banyak dan telaga al-Kaustar di surga.

Oleh sebab itu, Sayyid Qutb dalam kitabnya yang berjudul Tafsir Fi Zilalil Quran menjelaskan sebagai berikut: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak dan melimpah ruah, yang tidak bisa dihalangi dan tidak putus-putusnya.

Tafsir Ayat ke-2

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya: Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.

Kata shalli (صل) merupakan fiil amr (bentuk perintah) dari kata shalat (صلاة). Sedangkan kata inhar (انحر) berasal dari kata nahr (نحر) yang artinya pangkal leher, sekitar tempat meletakkan kalung.

Oleh sebab itu, muncullah makna penyembelihan karena menyembelih unta itu dilakukan pada pangkal leher hewan yang akan dikurbankan.

Setelah diberi penegasan nikmat yang demikian banyak, maka Rasulullah diarahkan untuk mensyukuri nikmat itu dengan shalat dan berqurban.

Menurut Qatadah, Atha’ dan Ikrimah bahwa yang dimaksud ayat ini adalah mendirikan shalat Idul Adha dan menyembelih hewan qurban.

Sedangkan Ibnu Jarir menjelaskan bahwa maknanya yaitu jadikan seluruh shalatmu untuk Tuhanmu, dengan niat ikhlas hanya kepada-Nya, tidak kepada siapapun selain-Nya.

Demikian pula jadikan hewan sembelihanmu hanya untuk-Nya, bukan untuk berhala-berhala. Itu semua kamu lakukan demi rasa syukur atas segala yang telah Dia berikan kepadamu berupa kemuliaan dan kebaikan yang tiada tandingannya. Dia mengkhususkan hal itu hanya untukmu.

Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam kitabnya yang berjudul Tafsir Al-Munir menjelaskan, melalui ayat ini Allah SWT memerintahkan untuk senantiasa shalat.

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 71-73; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Ini merupakan kebalikan dari sifat orang yang meninggalkan shalat pada Surat Al-Ma’un. Allah memerintahkan shalat dengan ikhlas (melalui kata lirabbika), lawan dari shalat yang riya’ pada Surat Al-Ma’un.

Tafsir Ayat ke-3

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

Kata syani’aka (شانئك) berasal dari kata syana’aan (شنآن) yang artinya adalah kebencian. Kata ini digunakan untuk menunjukkan kebencian yang bukan pada tempatnya dan yang lahir dari iri hati.

Ayat pertama menetapkan bahwa Rasulullah bukanlah orang yang terputus dari nikmat Allah. Ayat terakhir ini menegaskan bahwa orang yang membencinya justru yang terputus dari nikmat Allah.

Ayat pertama menetapkan bahwa Rasulullah memiliki keturunan yang banyak, yang bertolak belakang dari hinaan orang-orang musyrikin Makkah yang menyebut Rasulullah abtar.

Ayat terakhir ini menegaskan bahwa orang yang menghina Rasulullah itu justru orang yang pada akhirnya abtar.

Ash bin Wail yang suka menghina Rasulullah “biarkan dia, sesungguhnya dia abtar” akhirnya justru menjadi orang abtar karena semua anaknya mati. Ia juga abtar karena terputus dari sejarah, namanya tidak dikenal kecuali dengan kejelekan. Juga abtar karena terputus dari nikmat Allah.

Para pembenci Nabi pasti abtar sebagaimana ayat ini, walaupun ia punya anak banyak. Walid bin Mughirah yang membenci Nabi, ia punya sebelas anak. Tapi anaknya tidak melanjutkan misi dan pandangan Walid sehingga ia bisa disebut abtar. Terputus dari keturunannya dan terputus pula dari kebajikan.

Orang yang abtar, jika dihubungkan dengan al kautsar yang bermakna telaga surga, ia juga tidak akan bisa meminum dari sana.

Sebagai penutup, surat Al Kautsar ini merupakan surat yang menjelaskan bahwa Allah memberikan nikmat yang banyak kepada Rasulullah saw, meliputi pemberian Allah atas keturunan yang banyak kepada Rasulullah dan telaga kautsar di surga nanti.

Surat ini juga memberikan petunjuk agar Rasulullah mensyukuri nikmat tersebut dengan shalat dan berqurban semata-mata hanya karena Allah.

Demikian penjelasan singkat mengenai keluasan makna yang terdapat dalam surat terpendek al-Quran. Semoga dapat memotivasi kita agar lebih giat dalam menjalankan shalat dan berqurban. Ash-Shawabu Minallah.

Mohammad Mufid Muwaffaq