Syekh Anom Sidakarsa Kebumen; Keturunan Kerajaan Demak yang Mewakafkan Dirinya Untuk Berdakwah

Syekh Anom Sidakarsa Kebumen; Keturunan Kerajaan Demak yang Mewakafkan Dirinya Untuk Berdakwah

PeciHitam.org – Kebumen merupakan salah satu pusat penyebaran Islam pertama di Jawa, khususnya Jawa bagian selatan. Wajar jika banyak tokoh-tokoh ulama besar yang terkenal dari daerah tersebut.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Seperti Syekh Muhammad Asnawi al-Karim, Syekh Abdul Awwal, Syekh Mahfudz al-Hasani, Syekh Anom Sidakarsa, Syekh Sonhaji dan masih banyak lagi.

Kali ini, kami akan mencoba memfokuskan pembahasan pada Syekh Anom Sidakarsa yang notabene nya masih merupakan keturunan dari Raden Fatah Kerajaan Demak. Semasa hidupnya, Syekh Anom Sidakarsa memiliki andil besar dalam penyebaran Islam di Kota Kebumen dan sekitarnya.

Bahkan sepeninggalnya, makam Syekh Anom tersebut masih selalu ramai dikunjungi oleh berbagai peziarah dari berbagai penjuru negeri. Terlebih pada bulan Suro ataupun Ruwah, para peziarah membanjiri area makam tersebut tak henti-hentinya.

Nasab Syekh Anom

Menurut penuturan Juru Kunci Makam tersebut, Muhyidin, Silsilah beliau bersambung juga dengan Kerajaan Majapahit. Muhyidin merupakan keturunan ke-12 Syekh Anom Sidakarsa yang bertugaa untuk mengurus makam sekaligus mengurus kegiatan madrasah, meneruskan apa yang telah dicontohkan oleh Syekh Anom semasa hidupnya.

Adapun urutan nasab Syekh Anom sebagai berikut: Prabu Kertabhumi (Brawijaya V) – Raden Patah – Sultan Trenggono – Sunan Prawoto – Pangeran Kediri – Pangeran Sudarmo – Pangeran Anom atau Syekh Anom Sidakarsa.

Kedatangan Syekh Anom di Kebumen

Keputusan Syekh Anom untuk meninggalkan kerajaan Demak dan pindah hingga mewakafkan seluruh hidupnya untuk menyebarkan agama Islam di daerah Kebumen merupakan keputusan yang besar.

Beliau tidak jumawa sebagai seorang keturunan Ningrat, justru malah senang berbaur dengan masyarakat di daerah tersebut.

Kedatangan Syekh Anom ke daerah Kebumen membawa niat untuk nyantri kepada Syekh Abdul Awwal, Kebumen. Hubungan guru dan murid antara Syekh Abdul Awwal dengan Syekh Anom begitu dekat.

Bahkan dapat dibuktikan dengan letak makam Syekh Anom yang lokasinya berada tidak jauh dari Makam Syekh Abdul Awwal, kurang lebih sekitar 1,5 kilometer dari makamnya.

Letak Makam Syekh Anom

Letak makam Ki Anom atau Syekh Anom tepatnya berada di Grogol Penatus, Beningsari, Kecamatan Petanahan, Kab. Kebumen, Jawa Tengah. Jika dari pusat Kota Kebumen, jaraknya sekitar 12 kilometer dan 6 kilometer dari Pantai Petanahan, Kebumen.

Baca Juga:  Karomah KH Bisri Musthofa, Meralat Tafsir al Ibriz Setelah Wafat

Setiap harinya, banyak peziarah datang silih berganti. Warung-warung makanan, jajanan serta oleh-oleh menjamur di sekelilingnya. Hal ini tentu menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat sekitar.

Mushalla di Makam Syekh Anom

Pada area makam Syekh Anom Sidakarsa, terdapat sebuah mushalla. Dimana para peziarah berwudhu dan shalat sunnah terlebih dahulu sebelum memasuki makam. Mushalla ini diberi nama Mushalla Agung Al Waliyyu Syekh Anom Sidakarsa.

Mushalla tersebut memang tidak begitu besar ukurannya, dibangun permanen dengan tembok bata yang disemen dan atap genteng serta kemuncak kuncup bunga empat tingkat dan aksara Arab berbunyi “Allah” di puncaknya.

Di samping kiri terdapat pintu unik dan elok berdaun satu berbentuk lengkung. Di sisi kiri dan kanan bawah pintu ini terdapat hiasan suluran, sedangkan di dasar lengkung atasnya terdapat aksara Arab berbunyi “Muhammad” di kiri, “Allah” di kanan, dan “Bismillahirrahmanirrahim” pada bagian lengkungnya.

Pada bagian bawah lengkungnya ada sepotong bentuk matahari yang memancarkan tujuh berkas sinar, dan di dalam matahari terdapat tulisan “Mushalla Agung Al Waliyyuh Syekh Anom Sidakarsa, Putra Wayah Dalem Sunan Demak”.

Kaligrafi tulisan Arab di mushalla yang di bawahnya terdapat tulisan “Sesungguhnya yg memakmurkan masjid Allah hanya orang- yg beriman kepada Allah dan hari Qiamat”.

Di bawah tulisan ada kaligrafi lagi, dan paling bawah ada lagi tulisan berbunyi “Sodaqoh itu menutup tujuh puluh pintu kejahatan”.

Tulisan kaligrafi tersebut mengajak pembacanya agar lebih semangat dalam memakmurkan masjid sekaligus beramal atau bersedekah. Salah satu keutamaan sedekah salah satunya yaitu menutup pintu kejahatan.

Pintu utama di tengah berdaun dua yang juga sangat indah, dengan lengkung bertaut di bagian atasnya, ornamen suluran warna metalik, huruf Arab “Allah”, “Muhammad”, kaligrafi ayat suci, dan tulisan “Pangkat ilmu di atas Segala pangkat, Al Hadits”, serta tulisan ayat Al-Quran yang berbunyi

Baca Juga:  Gus Mus, Ulama Pertama Raih Penghargaan Yap Thiam Hien

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا 

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Ada beberapa makam di sekitar area makam Syekh Anom, antara lain seperti makam Bu Nyai Romini, makam Nyai Chasan Abdullah yang wafat pada 1955, KH Bachri wafat 1957, dan makam Kyai Chasan Abdullah yang wafat pada 1943.

Sejumlah makam lainnya tidak memiliki penanda. Mereka yang dimakamkan di serambi adalah keturunan Syekh Anom Sidakarsa.

Sedangkan makam Syekh Anom Sidakarsa terletak di dalam sebuah cungkup yang ditutup kain berwarna putih dan kerangka besi. Dindingnya berupa kaca dengan ornamen kaligrafi ayat al-Quran.

Cungkup tersebut digembok oleh pengelola untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Berdasarkan pengalaman, pernah ada orang yang dengan sengaja mencoba mencuri sesuatu di dalam Makam tersebut untuk digunakan sebagai jimat.

Makam Shekh Anom Sidakarsa saat ini selain sebagai tempat ziarah, juga menjadi cagar budaya sebagai bukti keberadaan Ulama yang giat menyebarkan syariat Islam di masa lampau.

Pemugaran makam ini dilakukan pada tahun 1982, dan terus berlanjut dengan membangun pendopo, mushalla, serta taman pendidikan al-Quran dan madrasah yang diberi nama Madrasah Al-Asna yang berarti bersinar.

Di sekitar area makam, juga terdapat masjid yang konon masih peninggalan Syekh Anom. Masjidnya memang tidak begitu besar, namun cukup terawat.

Di depan masjid tersebut terdapat prasasti yang tertulis “Masjid Surnodupes” dengan aksara arab. Dibawah terdapat tulisan “Wadas Grogolbeningsari masjide Mbah Syekh Anom Sidakarsa pengikut Surnodupes sedoyo penderek Mbah Syekh Anom Sidakarsa” yang tertulis dengan aksara latin.

Ada juga petilasan berupa sumur dan bekas pondasi rumah Syekh Anom Sidakarsa. Bangunan depan gapura pada bagian atasnya berbentuk atap pelana, pagar tak terkunci dicat warna tembaga dengan anak panah berwarna keemasan, serta tengara yang berbunyi “Sumur Tua Petilasan Syekh Anom Sidokarso, Dukuh Wadas, Desa Grogolbeningsari, Kecamatan Petanahan, Kab. Kebumen, Provinsi Jawa Tengah”

Baca Juga:  KH Abdul Karim Lirboyo, Seorang Anak Petani yang Manjadi Ulama Besar

Semasa hidupnya, Syekh Anom tidak membuka pesantren dan hanya menerima Santri Kalong (pulang pergi), yang mengaji hanya pada malam hari.

Syekh Anom tidak membutuhkan tempat yang luas untuk menerima dan mengajar murid-muridnya. Masjid pun mungkin cukup untuk memenuhi kebutuhan menampung para santri yang jumlahnya ratusan.

Sumur yang dibuat sendiri oleh Syekh Anom Sidakarsa juga sering diambil airnya sebagai oleh-oleh para peziarah. Banyak orang percaya bahwa airnya membawa berkah, dari mulai mengobati penyakit sampai untuk mendapatkan keturunan.

Kepercayaan adalah kekuatan, sugesti yang dapat membawa orang kepada apa yang ia ingin atau idam-idamkan. Namun usaha juga harus tetap dilakukan sebagai bentuk ikhtiarnya.

Melihat area petilasan yang tak begitu luas itu saya teringat kisah legenda yang diceritakan Muhyidin, yaitu ketika rumah Syekh Anom Sida Karsa disatroni gerombolan berandal Ambal yang berjumlah 200-an orang.

Rumah Syekh Anom disebutkan kecil saja, namun meski kecil rumah itu mampu menampung seluruh anggota berandal dan bahkan mereka hanya memenuhi satu sudut rumahnya saja.

Banyaknya peziarah yang datang biasanya ingin menapak tilas jejak para ulama Kebumen. Sekaligus juga merupakan wujud syukur dan ungkapan terima kasih kepada Syekh Anom yang telah berjasa besar dalam mendakwahkan ajaran Islam di daerah Kebumen. Sebagaimana slogan warga Nadliyin, “Jas Hijau, Jangan sekali-kali hilangkan jasa para ulama.”

Ash-Shawabu Minallah.

Mohammad Mufid Muwaffaq