Syekh Siti Jenar: Sejarah Sang Wali Kontroversial Hingga Dijatuhi Hukum Mati

Syekh Siti Jenar

Pecihitam.org – Syekh Siti Jenar atau artinya Syekh Tanah Merah, memiliki nama asli Raden Abdul Jalil, Hasan Ali ada yang menyebut dengan nama Sunan Jepara, dan Syekh Lemah Abang. Ia adalah seorang tokoh yang dianggap sebagai sufi dan salah seorang penyebar agama Islam di Pulau Jawa, khususnya di Kabupaten Jepara yang cukup kontroversial di masanya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Asal usul dan sebab kematian Syekh Siti Jenar tidak diketahui dengan pasti karena ada banyak versi mengenai diri dan akhir hayatnya. Demikian pula dengan berbagai versi lokasi makam tempat ia dimakamkan untuk terakhir kalinya, ada yang bilan di Jepara ada juga yang bilang di Cirebon.

Ajaran Syekh Siti Jenar yang dikenal kontroversi, yaitu Manunggaling Kawula Gusti (penjawaan dari Wahdatul wujud). Ajaran tersebut membuat dirinya dianggap sesat karena terlalu jauh dalam menafsirkan tasawuf.

Sementara ada juga pengikutnya yang menganggap ia sebagai seorang yang telah memperoleh esensi Islam. Ajaran Syekh Siti Jenar ini tertuang dalam karya sastranya sendiri yang disebut Pupuh, yang berisi tentang ajaran budi pekerti.

Siti Jenar mengembangkan ajaran hakikat dan ma’rifat dianggap mengancam proses perkembangan Islam yang sedang subur-suburnya di Jawa selepas runtuhnya Majapahit. Selain itu masyarakat yang masih awan dan baru mengenal Islam belum siap menerima ajaran tentang Tasawuf.

Pertentangan praktik sufi Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariat yang dilakukan oleh Walisongo. Apalagi Siti Jenar juga punya banyak murid dan pengikut yang beberapa di antaranya cukup berpengaruh.

Nama dan Julukan

Menurut KH. Shahibul Faraji Ar-Rabbani, nama asli Siti Jenar adalah Sayyid Hasan ‘Ali Al Husaini (masih memiliki garis keturunan Nabi Muhammad Saw) dan setelah dewasa mendapat gelar Syekh Abdul Jalil atau Raden Abdul Jalil.

Pada saat berdakwah di Caruban (sebelah tenggara Cirebon), ia mendapat beberapa julukan lain yaitu Syekh Siti Jenar, Syaikh Lemah Abang, Syaikh Lemah Brit. Adapun makna julukan itu adalah:

Julukan Syekh Siti Jenar

Ada beberapa asumsi mengenai julukan ini, yang diambil dari kata menurut beberapa bahasa, “Syekh” berasal dari bahasa arab شيخ adalah sebuah gelar bagi seorang ahli atau pemimpin atau tetua dalam lingkup muslim.

“Siti” dalam bahasa jawa berarti tanah, namun ada yang berpendapat kata Siti berasal dari kata Sayyidi/Sidi (yang artinya Junjunganku), dan “Jenar” dalam bahasa Indonesia berarti merah, dalam bahasa Jawa berari Kuning Kemerahan. Namun ada pula yang berpendapat kata Jenar dari bahasa arab “Jinnar” yang ditafsirkan “ilmu yang dimilikinya selalu membara seperti api.

Namun ada pula yang mungkin pernah melihat film Walisongo dan menghubungkan kata Jenar (dalam kehidupan masyarakat jawa, kata Jenar disebutkan untuk sebuah binatang Cacing dengan ukuran sangat besar).

Baca Juga:  Ubay bin Ka'ab, Sahabat Ahli Al-Qur'an yang Menjadi Notulen Nabi

Julukan Sunan Jepara

Gelar atau julukan ini muncul karena kedudukannya sebagai seorang sunan yang waktu itu tinggal di Kadipaten Jepara Jawa Tengah.

Julukan Syekh Lemah Abang / Lemah Brit

Sebutan ini diberikan masyarakat Jepara karena ia tinggal di sebuah Dusun yang bernama Lemah Abang, Kecamatan Keling. Adapun Lemah Brit dalam bahasa Jawa artinya tanah yang berwarna merah (Brit = Abrit = Merah).

Silsilah Syekh Siti Jenar

Diyakini pula bahwa Siti Jenar masih keturunan Rasulullah Saw. Berikut adalah silsilah Syekh Siti Jenar yang bersambung seterusnya hingga Imam Husain, cucu Nabi Muhammad SAW.

  1. Nabi Muhammad SAW, berputeri
  2. Sayidah Fatimah az-Zahra menikah dengan Ali bin Abi Thalib, berputera
  3. Imam Husain r.a, berputera
  4. Ali Zainal Abidin, berputera
  5. Muhammad al-Baqir, berputera
  6. Imam Ja’far ash-Shadiq, berputera
  7. Ali al-Uraidhi, berputera
  8. Muhammad al-Naqib, berputera
  9. Isa al-Rumi, berputera
  10. Ahmad al-Muhajir, berputera
  11. Ubaidillah, berputera
  12. Alawi, berputera
  13. Muhammad, berputera
  14. Alawi, berputera
  15. Ali Khali’ Qosam, berputera
  16. Muhammad Shahib Mirbath, berputera
  17. Sayid Alwi, berputera
  18. Sayid Abdul Malik, berputera
  19. Sayid Amir Abdullah Khan (Azamat Khan), berputera
  20. Sayid Abdul Kadir, berputera
  21. Maulana Isa, berputera
  22. Syekh Datuk Soleh, berputera
  23. Syekh Siti Jenar (Sayyid Hasan ‘Ali Al Husaini)

Kontroversi Syekh Siti Jenar

Ajaran Syekh Siti Jenar selalu menjadi kontroversi yaitu tentang konsep hidup dan mati, Tuhan dan kebebasan, dan tempat berlakunya syariat tersebut. Siti Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya kematian, justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi.

Dampak dari ajaran ini adalah membuat orang malas dalam berusaha karena hidup hanya menunggu mati dan enjadikan manusia kurang produktif. Padahal saat itu, dibutuhkan orang-orang yang suka bekerja keras untuk membangun peradaban Islam yang disokong oleh kerajaan Demak. Sehingga para Wali Songo khususnya Sunan Kali Jogo melihat ajaran Siti Jenar ini sangat berbahaya terhadap kemajuan dakwah Islam

Manunggaling Kawula Gusti

Para pendukung Syekh Siti Jenar menegaskan bahwa ia tidak pernah mengatakan dirinya sebagai Tuhan. Ajaran ini bukan dianggap sebagai bercampurnya Dzat Tuhan dengan makhluk-Nya, melainkan sifat-sifat Tuhan yang memancar pada diri manusia ketika sudah melakukan proses wusul.

Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan sifat-sifat Tuhan dikala manusia sudah melakukan proses fana’ tersebut (Manunggaling Kawula Gusti). Perbedaan penafsiran ayat Al-Qur’an ini yang menimbulkan polemik, yaitu bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan.

Masa Pendidikan Syekh Siti Jenar

Naskah Negara Kretabhumi Sargha III Pupuh 77, menyebutkan bahwa Raden Abdul Jalil ketika dewasa pergi menuntut ilmu ke Persia dan tinggal di Baghdad selama 17 tahun. Konon ia berguru kepada seorang mullah Syiah Muntadhar dan menguasai berbagai jenis ilmu pengetahuan agama.

Menurut kalangan penganut tarekat Akmaliyah, orang Syiah Muntadhar itu bernama Abdul Malik Al-Baghdadi dan kelak menjadi mertua Syekh Siti Jenar. Dikisahkan, selama menuntut ilmu di Baghdad, ia lebih banyak mendalami ilmu tasawuf sehingga Abdul Jalil sangat mendalam penguasaannya atas ilmu tersebut.

Baca Juga:  Sekilas Mengenali Asal-Usul dan Nasab Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Bahkan ketertarikannya pada ilmu tasawuf tersebut, Abdul Jalil berguru dan mendapat silsilah Tarekat Akmaliyah pada Syaikh Ahmad al Baghdadi yang jalur hingga kepada Abu Bakar as-Shiddiq ra. Selain menganut Tarekat Akmaliyah, Abdul Jalil juga menganut tarekat Syathariyah yang diperoleh dari saudara sepupunya Syekh Datuk Kahfi.

Perjalanan menguasai berbagai disiplin keilmuan di Baghdad yang saat itu merupakan pusat peradaban, telah menjadikan pandangan-pandangan Syekh Lemah Abang berbeda dari kelaziman. Ilmu tasawuf yang berdiri tegak di atas fenomena pengetahuan intuitif diformulasikan oleh Syekh Abdul Jalil sedemikian rupa dengan ilmu filsafat dan manthiq (logika).

Sebab, Syekh Siti Jenar beranggapan bahwa pengetahuan makrifat (gnostik) yang bersifat irasional tidak harus dijabarkan dengan sistem isyarat dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara masuk akal. Sebaliknya, pengetahuan gnostik harus bisa dijelaskan secara rasional yang bisa diterima akal. (Agus Sunyoto, Atlas Walisongo, Depok: Pustaka Iman, 306.)

Kehidupannya Hingga Dihukum Mati

Syekh Siti Jenar sebenarnya juga memiliki andil dalam menyebarkan agama Islam pasca runtuhnya Majapahit di tangan Raden Patah Raja Kesultanan Demak. Namun oleh para wali apa yang diajarkan Siti Jenar dianggap salah lagi menyimpang. Akibat ajaran kontroversialnya tentang Manunggaling Kawula Gusti yang dianggap sesat itulah Siti Jenar akhirnya harus berhadapan dengan hukum mati.

Ajaran Siti Jenar terungkap saat para wali dan sejumlah tokoh Islam kala itu menggelar pertemuan di Istana Argapura, Giri (Gresik). Hadir saat itu diantaranya Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Ampel, Tan Go Wat alias Syekh Bentong, Pangeran Palembang, Panembahan Madura dan juga Syekh Siti Jenar.

Saat itu masing-masing dari mereka itu menyampaikan pemahaman dan pengetahuan mereka tentang agama. Akan tetapi tiba giliran Syekh Siti Jenar, apa yang sampaikannya itu justru membuat seluruh wali sontak tercengang. Siti Jenar mengatakan:

“Menyembah Allah dengan bersujud beserta ruku’nya, pada dasarnya sama dengan Allah, baik yang menyembah maupun yang disembah. Dengan demikian, hambalah yang berkuasa dan yang menghukum pun hamba juga,”

Beberapa wali langsung meminta Syekh Siti Jenar untuk bertobat karena telah menyamakan dirinya dengan Tuhan. Namun Siti Jenar tetap pada pendiriannya dan bahkan ia secara tegas menjawab,

“Biar jauh tapi benar, sementara yang dekat belum tentu benar.”

Karena ucapannya itu Sunan Giri (Prabu Satmata) hendak menghukum Syeh Siti Jenar agar ajaran yang dinilai sesat dan telah melanggar syariat itu tak tersebar. Di samping itu belum waktunya mengajarkan ilmu hakikat untuk orang-orang yang baru masuk Islam sehingga para Wali khawatir nantinya umat malah akan menjadi sesat.

Setelah pertemuan tersebut, para wali mengadakan pertemuan kedua untuk membahas hukuman kepada Syekh Siti Jenar. Dalam kesempatan itu Siti Jenar malah semakin berani, saat ditanya Syekh Maulana Magribi dengan lantang ia menjawab,

Baca Juga:  Hingga Nabi Wafat, Rahasia Ini Benar-benar Disimpan Hudzaifah bin al Yaman

“Ya, Allah nama hamba, tidak ada Allah selain Siti Jenar, sirna Siti Jenar, maka Allah yang ada.”

Karena itulah akhirnya Syekh Siti Jenar kemudian dihukum mati. Tentang bagaimana ia dieksekusi tidak diketahui secara pasti, karena ada banyak versi yang mengiringi kepergiannya.

Ada yang menyebut Syekh Siti Jenar tewas di tangan Sunan Kalijaga dalam suatu duel pertarungan. Namun ada pula dalam beberapa literatur yang mengatakan jika hidup Siti Jenar berakhir dengan cara dipenggal kepala bersama tiga orang pengikutnya.

Di sisi lain, ada yang berpendapat tentang terungkapnya ambisi Syekh Siti Jenar yang ingin menguasai Kerajaan Cirebon dan Kerajaan Demak. Sehingga, dengan mempertimbangkan pemikirannya yang dinilai melenceng dari syariat Islam, ditambah kemungkinan kudeta yang dilakukan, akhirnya Siti Jenar pun ditangkap pasukan Kerajaan Cirebon dan Demak.

Perintah penangkapan dikeluarkan Sunan Gunung Jati yang ketika itu memimpin Kerajaan Cirebon dan Wali Songo lainnya. Siti Jenar ditangkap di Cirebon Girang (sekarang Kecamatan Talun, Cirebon). Proses peradilan agung terhadap Siti Jenar selanjutnya dilaksanakan di Masjid Agung Sang Cipta Rasa (dekat Keraton Kasepuhan Cirebon).

Dalam peradilan itu, Sunan Gunung Jati bertindak sebagai Hakim dan Sunan Kudus bertindak sebagai Jaksa. Meski demikian, Siti Jenar tetap pada pemikirannya. Dengan pertimbangan ajaran sesat serta ambisi atas kekuasaan, dia pun dijatuhi hukuman mati. Sanksi yang diberikan berupa penikaman keris ke tubuh Syekh Siti Jenar.

Selain bagaimana kematiannya, lokasi makam tempat Siti Jenar dimakamkan masih simpang siur. Para pengikutnya maupun masyarakat saat ini pun juga tidak mengetahui pusara Syekh Siti Jenar berada. Ada yang menyebutkan ia dimakamkan di Cirebon namun juga ada yang berpendapat di Jepara.

Namun dalam cerita wali ada pula yang menyebutkan jika tiga hari sepeninggal Siti Jenar, Sunan Giri melihat jasadnya masih utuh. Ia mendengar suara Syekh Siti Jenar memberinya salam kemudian menghilang.

Menurut manuskrip Caruban Nagari karya Pangeran Wangsakerta yang ditulis pada 1970, walau dianggap sesat namun para pengikut Siti Jenar tetap menganggap Manunggaling Kawula Gusti tidak menyimpang. Menurut mereka, Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan.

Dalam ajaran Siti Jenar, Manunggaling Kawula Gusti bermakna di dalam diri manusia terdapat roh yang berasal dari roh Tuhan. Hal ini sesuai dengan ayat Al Quran yang menerangkan tentang penciptaan manusia.

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى خَٰلِقٌۢ بَشَرًا مِّن طِينٍ
فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِى فَقَعُوا۟ لَهُۥ سَٰجِدِينَ

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat : Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (QS Shad 71-72).

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik