Tadabbur Surah An Nisa Ayat 13-14; Tafsir dan Terjemahan

An Nisa Ayat 13-14

Pecihitam.org – Surah An Nisa Ayat 13-14 menegaskan bahwa segala ketentuan yang telah Allah sebutkan pada ayat-ayat sebelumnya merupakan aturan-aturan dari Allah SWT. Bagi yang mentaatinya akan diberinya imbalan yang sangat besar yaitu Surga dan ia kekal di dalamnya. Dan barangsiapa yang durhaka dan tidak taat pada aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya maka neraka tempatnya abadi.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Surah An Nisa Ayat 13-14

Surah An Nisa Ayat 13
تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Terjemahan: (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.

Tafsir: Hukum-hukum yang telah disebutkan tentang warisan itu merupakan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan Allah kepada hamba-Nya agar dikerjakan dan tidak dilanggar. Barangsiapa taat kepada hukum- hukum Allah dan Rasul-Nya, maka ganjarannya adalah surga yang dialiri sungai-sungai. Mereka akan kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar(1).

(1) Sistem pembagian warisan yang telah dijelaskan al-Qur’ân merupakan aturan yang paling adil dalam semua perundang-undangan di dunia. Hal itu diakui oleh seluruh pakar hukum di Eropa. Ini merupakan bukti bahwa al-Qur’ân adalah benar-benar datang dari Allah, sebab saat itu belum ada sistem hukum yang mengatur hal-hal seperti itu, termasuk dalam sistem hukum Romawi, Persia atau sistem hukum yang ada sebelumnya.

Penjelasan:

  1. تِلْكَ dalam bahasa arab adalah isim isyarah (kata yang berfungsi untuk menunjuk sesuatu) yang menunjuk ke sesuatu yang jauh. Dalam ayat ini تِلْكَ menunjuk ke ayat sebelumnya. Artinya semua hukum dan aturan Allah yang berada di ayat-ayat sebelumnya, mulai hukum yang berkaitan dengan ayat yatim, hukum warisan, pernikahan, semuanya disebut dengan حُدُودُ اللَّهِ hududullah atau batas-batas syari’at-syari’at Allah.
  2. Dalam istilah fiqh, kata “hudud” digunakan untuk menunjukkan pada hukuman yang sudah ditentukan batasan hukumnya secara jelas dan tegas. Seperti hukuman bagi pezina, pemabuk, pencuri dll. Lawan dari hudud adalah ta’zir, yaitu hukuman yang batasan hukumannya tergantung pada keputusan hakim. Karena itu dalam hukum Islam ada kaidah “tudra’ul hududu bisy syubuhat”, yang artinya hukuman had itu bisa saja dihapuskan apabila ada sesuatu yang -berhubungan dengan hukuman itu- diragukan, sehingga perlu ditabayyun atau diperjelas lagi. Misalkan, apabila ada seseorang yang berzina tetapi hal itu masih diragukan kebenarannya maka hukuman jilid 100 kali dan pengasingan 1 tahun (bagi yang belum menikah) atau rajam (bagi yang sudah menikah), tidak dapat dilaksanakan, sampai terdapat kejelasan status perzinaan tersebut.
  3. جَنَّاتٍ : surga-surga. Disebutkan dalam bentuk jamak karena surga itu memiliki banyak tingkatan-tingkatan yang akan dimasuki seseorang sesuai dengan tingkat amalan mereka masing-masing.
  4. Seorang hamba dapat masuk ke dalam jannah pada hakekatny hanya karena fadhlullah (karunia Allah) saja. Amalan sebanyak apapun yang kita lakukan tidak bisa dijadikan tiket masuk jannah. Karena kalau kita mau jujur, berapa persen amalan kita yang diterima Allah? lalu pantaskan amalan itu untuk menebus perbgai keistimewaan yang diberikan oleh Allah kelak disurga? Karena itu apabila ada orang yang berpikir bahwa tidak perlu beramal, maka itu adalah salah besar. Salah satu cara agar bisa mendapatkan fadhlullah adalah dengan banyak-banyak amal shalih. Amalan-amalan shalih seorang hamba yang diterima oleh Allah, akan digunakan untuk menentukan di tingkat manakah jannah yang akan dimasuki oleh seseorang.
  5. Jannah Allah itu sangat indah. Keindahannya: tak ada mata yang pernah melihat, telinga yang pernah mendengar dan tak pernah pula terbesit dalam hati seseorang. Apa yang Allah sebutkan dalam Al-Qur`an tentang jannah, itu hanya gambaran saja. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat jannah. Bila kita mampu untuk mengkhayalkan indahnya jannah sampai pada puncak khayalan, berarti jannah lebih indah dari puncak khayalan kita tentangnya.
  6. وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ dan itulah kemenangan yang besar. Dzalika di dalam ayat ini merujuk kepada masuknya seorang hamba ke dalam surga. Orang yang bisa masuk ke dalam surga berarti telah mendapatkan kemenangan yang hakiki. Mengapa disebut menang? Karena di dunia dulu sudah bersusah payah memerangi hawa nafsu dan mengikuti syari’at Allah. Tidak ada kebahagiaan yang hakiki selain masuk ke dalam jannah dan selamat dari neraka. Karena keadaan di akhirat itu kekal.
  7. Allah memulai surah ini dengan kalimat perintah kepada orang-orang beriman untuk bertakwa kepada-Nya. Mengapa demikian? Sebab, syari’at-syari’at Allah hanya bisa dilakukan oleh orang yagn bertakwa. Orang yang selalu mengedepankan iman dan takwanya, pasti akan menomersatukan Allah di atas segalanya. Apa yang diperintahkan oelh Allah akan dia laksanakan dengan baik dan apa yang dilarang Allah akan dia hindari semampunya.
Baca Juga:  Surah An-Najm Ayat 56-62; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah An Nisa Ayat 14
وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ

Terjemahan: Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.

Tafsir: Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya serta melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, maka neraka merupakan ganjaran baginya dan ia kekal di dalamnya. Tubuhnya akan disiksa dengan api. Bagitu pula jiwanya akan menderita karena siksa yang pedih.

Penjelasan:

  1. Apa yang ada di ayat 14 ini adalah kebalikan dari apa yang ada di ayat sebelumnya. Allah memberikan 2 gambaran kelompok orang dan kita seharusnya bisa berpikir mana yang akan kita pilih. Kita memilih surga atau neraka? Kalau taat kepada Allah, dia akan masuk surga. Kalau tidak taat, dia akan masuk neraka.
  2. وَيَتَعَدَّ Kata yata’adda artinya tidak mau melaksankan aturan-aturan Allah. Bisa dengan menambah dan mengurangi. Barang siapa yang mengurangi dan menambahi syari’at Allah, maka secara tidak langsung dia sudah mengecap bahwa aturan yang dibuat Allah itu kurang sempurna. Misalnya: seseorang mengganti-ganti sendiri bagian-bagian warisan atau menambah rekaat shalat-shalat yang sudah ditentukan dll.
  3. وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ orang-orang yang masuk ke dalam neraka akan mendapatkan adzab yang menghinakan orang tersebut. Maka tidak ak ada manfaatnya jaya di dunia tetapi merana di akhirat.
  4. Dalam ayat 13 ada kalimat وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ dan di dalam ayat 14 ada kalimat وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ . Ini menunjukkan bahwa orang beriman diwajibkan untuk mentaati Allah dan Rasulullah. Perintah Rasulullah adalah perintah Allah. Sehingga ketaatan kepada Rasulullah harus sama dengan ketaatan kepada Allah. Salah besar bila ada orang yang mengingkari sunnah, padahal sudah jelas sekali bahwa Allah mewajibkan untuk mentaati Rasulullah.
Baca Juga:  Surah An-Nisa Ayat 172-173; Seri Tadabbur Al Qur'an

Demikian sekilas Tadabbur Al Qur’an kita seputar surah An Nisa ayat 13-14. Semoga bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

M Resky S