Takhalli Tahalli dan Tajalli dalam Konsep Tasawwuf Imam Al-Ghazali

Takhalli Tahalli dan Tajalli dalam Konsep Tasawwuf Imam Al-Ghazali

Pecihitam.org – Manusia diciptakan sebagai makhluk dengan penuh kekurangan. Tapi ia juga mempunyai potensi untuk menjadi sosok sempurna (insan kamil). Tasawwuf adalah jalan yang umumnya ditempuh bagi mereka yang ingin mereguk nikmat ruhani. Berbagai metode pun bisa dipilih dalan hal ini, salah satunya adalah metode takhalli, tahalli dan tajalli sebagaimana dijelaskan Imam Al-Ghazali dalam Al-Munqidz min al-Dlalal.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dunia Tasawuf memang merupakan jalan khusus. Tidak semua orang cocok menempuh jalan ini. Misalnya konsep Hulul dari Al-Halaj dengan istilah alam nasut dan lahutnya. Atau konsep Ittihad ala Syaikhul Akbar Ibnu Arabi.

Konsep kedua wali besar ini tidak cocok bahkan tidak bisa dipahami dan kerap dianggap sesat oleh sebagian yang meniti jalan dzahir.

Nah, jika Anda hidup dalam kekeringan dan kehampaan dan ingin menempuh jalan tasawwuf, salah satu metode yang cocok adalah tahalli, takhalli dan tajalli. Bagaimanakah konsep atau metode ini; apa pengertian dan bagaimana mempraktekkannya?

Baca Juga:  Bukan Jumat, Ternyata Inilah Hari yang Paling Utama bagi Seorang Muslim

Pertama, takhalli

Secara sederhana, takhalli bermakna pengosongan. Dalam ilmu tasawuf, takhalli bermakna pengosongan hati dan pikiran dari hal-hal yang bisa mengotori. Misalnya berupa penyakit hati atau gangguan pikiran yang masih berkecamuk sebelum memulai melakukan ibadah.

Karena hati yang masih diselimuti kekotoran, tidak bisa diisi dengan sifat-sifat mahmudah. Kita ambil contoh dalam beribadah, misalnya.

Saat melakukan salat, Jika hati atau pikiran kita masih terpaut dengan hal-hal keduniaan atau dengan pekerjaan-pekerjaan yang masih belum tuntas, saat itulah hati kita tidak bisa diisi dengan kekhusyuan dan memahami setiap bacaan atau amaliah salat yang kita lakukan.

Saat melafalkan dzikir La Ilaha Illallah, Jika hati kita masih belum dikosongkan dari Jika hati dan fikiran kita masih belum dikosongkan dari Gejolak dan kecamuk hal-hal dunia, maka La Ilaha Illallah yang diucapkan hanya terjadi hanya terucap di lisan tidak tertancap dalam hati.

Baca Juga:  3 Golongan Penuntut Ilmu Menurut Imam Al-Ghazali, Semoga Kita Tidak Menjadi yang Ketiga

Kedua, Tahalli

Secara bahasa, tahalli berarti pengisian. Dalam ilmu tasawuf, tahalli bermakna pengisian hati dengan sifat-sifat mahmudah atau dengan kalimat-kalimat zikir setelah sebelumnya hati dilakukan pengosongan atau pembersihan dari sifat sifat madzmumah.

Maka orang yang berdzikir La Ilaha Illallah dalam rangka mengisi atau memberikan nutrisi pada hati akan lebih mudah khsyuk dalam proses tahalli ini jika proses sebelumnya yakni takhalli telah dilakukan. Orang yang pernah melakukan dosa, setelah itu ia bertaubat. Maka jalan yang ia tempuh berikutnya adalah jalan ini, yakni tahalli berupa melakukan amal-amal sholeh.

Ketiga, Tajalli

Setelah takhalli dan tahalli dilalui, maka sampailah pada tajalli atau mengkoneksikan diri dengan Allah. Di sinilah, manusia bisa mencapai derajat insan kamil saat ia benar meraakan nikmat dari suluknya.

Firman Allah SWT dalam Surat Thaha


وَاِنِّيْ لَغَفَّارٌ لِّمَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدٰى

Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk.

Betaubat dari kesyirikan maupun hal yang mengotori hati lainnya adalah pengamalan dari takhalli. Beriman dan beramal shaleh adalah salah satu manifestasi dari tahalli. Dan tetap istiqamah dalam petunjuk merupakan wujud dari tajalli. Karenanya, orang yang seperti ini layak untuk mendapatkan ampunan dan ridha Allah.

Baca Juga:  Belajar Tasawuf: Falsafah dari Pohon Tebu (manTeb ing kalBu)

Saat itulah, seorang manusia yang lemah dan hina menjadi sempurna dan mulia. Wallahu a’lam bisshawab!

Faisol Abdurrahman