Teori Ru’yatullah (Melihat Allah) Menurut Imam al-Ghazali

ru'yatullah adalah

Pecihitam.org – Banyak cara untuk mengenal Allah, salah satunya adalah dengan kita memahami sifat-sifat nya serta memahami ciptaannya. Namun masalah ru’yatullah, Apakah seseorang bisa melihat Allah di dunia dengan mata telanjang? Atau mungkin hanya sekedar merasakannya dalam jiwa? Begini teori al-Ghazali mengenai ru’yatullah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Saya yang selalu dikagumkan dengan teori al-Ghazali merasa tertantang untuk mengambil judul ini, karena Imam al-Ghazali selalu dapat memberikan perumpamaan terhadap teorinya. Dengan begitu orang seperti kita pun dapat memahaminya. Salah satunya adalah teori al-Ghazali mengenai ru’yatullah.

Terlebih dahulu kita perlu tau bahwa hukum optik tabiat melihat itu ada 3, yaitu: adanya mata sebagai alat untuk melihat, adanya objek yang kita liat, adanya sinar atau cahaya sebagai pantulan agar dapat melihat objek tersebut.

Namun menurut Imam al-Ghazali, tidak selamanya 3 hukum tersebut berlaku dalam proses melihat, sebab menurut beliau tidak semua yang ditangkap oleh mata itu realita. Seperti contoh, saat kita melihat ke cermin, apa yang kita liat rupanya bukan realita. Karena pantulan diri kita yang ada di cermin tidak mempunyai arah.

Maka menurut Imam al-Ghazali melihat Allah di dunia sangatlah mungkin dari segi akal dan naql. Pendapat ini ditentang oleh Mu’tazilah. Mereka mengatakan bahwa melihat Allah (ru’yatullah) di dunia ataupun di akhirat adalah tidak mungkin. Dengan dalil jika Allah terlihat, berarti Allah mempunyai arah, jika Allah mempunyai arah maka itu mustahil, berarti melihat Allah adalah mustahil.

Baca Juga:  Ragam Makna "Kafir"

Juga dengan mengambil dalil Al-Qur’an di surat Surat Al-An’am ayat 103

لَّا تُدۡرِكُهُ ٱلۡأَبۡصَـٰرُ وَهُوَ یُدۡرِكُ ٱلۡأَبۡصَـٰرَۖ وَهُوَ ٱللَّطِیفُ ٱلۡخَبِیرُ

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Maha halus, Maha teliti.”

Menurut Mu’tazilah, Allah telah menafikan seseorang untuk melihat Nya dengan menggunakan mata. Maka melihat Allah dengan mata adalah perkara yang mustahil.

Begitu juga dalam cerita Nabi Musa, saat ingin melihat Tuhannya.

وَلَمَّا جَاۤءَ مُوسَىٰ لِمِیقَـٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِیۤ أَنظُرۡ إِلَیۡكَۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِی وَلَـٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِیۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ للۡجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكࣰّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقࣰاۚ فَلَمَّاۤ أَفَاقَ قَالَ سُبۡحَـٰنَكَ تُبۡتُ إِلَیۡكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ

“Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” (Allah) berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.” (Surat Al-A’raf 143)

Baca Juga:  Ilmu Tauhid Dasar Ahlussunnah wal Jama'ah; Baqa, Sifat Wajib Ketiga Bagi Allah SWT

Saat nabi Musa berdoa agar dirinya dapat melihat Allah, maka Allah menjawab dengan lafadz لن تراني (kamu tidak akan bisa melihat). Menurut mereka لن disitu bermakna التأبيد (selamanya). Berarti seseorang selamanya tidak akan bisa melihat Allah.

Namun pernyataan tersebut dibantah oleh Imam Ghazali menurut beliau, Allah memberi keistimewaan kepada hamba Nya yang terpilih. Dengan dalil, bahwa cerita nabi Musa mengenai ru’yatullah adalah beliau (Musa) tidak mungkin meminta sesuatu yang mustahil kepada Allah.

Nabi Musa tahu bahwa melihat Allah adalah sesuatu yang mungkin, oleh sebab itu beliau meminta agar Allah memperlihatkan diriNya untuk nabi Musa. Jika itu perkara yang mustahil, tentu nabiyullah Musa lebih tau ditimbang golongan Mu’tazilah.

Dalil yang kedua adalah bahwa permintaan nabi Musa di dunia, menandakan bahwa beliau tidak mengetahui kapan ru’yah itu terjadi. Sebab itu adalah sesuatu yang ghaib, maka siapapun tidak mengetahui sesuatu yang ghaib, melainkan Allah yang akan membuat dia tau.

Maka permintaan nabiyullah Musa untuk melihat Allah dapat dijawab kapan saja olehNya. Dan ternyata Allah memperlihatkan dirinya melalui gunung yang dihancurkan. Dari kejadian ini maka dapat diambil kesimpulan bahwa ru’yatullah adalah perkara yang mungkin saja terjadi. Dan kata لن pada ayat tersebut bukan bermakna selamanya akan tetapi bermakna تأكيد (penguat).

Baca Juga:  Sifat Sama' dan Bashar, Sifat ke-11 dan 12 dari 20 Sifat Yang Wajib Bagi Allah SWT

Dalam kita al-Iqtishad wal I’tiqad karya al-Ghazali disebutkan bahwa, Imam Ahmad bin Hambal pernah bermimpi melihat Tuhannya sebanyak 99 kali. Dan ini adalah beberapa bukti bahwa Allah itu bisa di lihat di dunia.

Menurut al-Ghazali penglihatan terhadap Allah di dunia, akan disempurnakan di akhirat kelak. Sebab Allah telah menjanjikan nikmat terbesar di suga adalah, dapat melihat Allah. Seperti yang dijelaskan dalam surat Yunus ayat 26:

لِّلَّذِینَ أَحۡسَنُوا۟ ٱلۡحُسۡنَىٰ وَزِیَادة

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah).”

Maka menurut Imam al-Ghazali seseorang dapat melihat Allah ketika berada di dunia, dan akan disempurnakan penglihatnnya di akhirat kelak. Begitulah beberapa ulasan mengenai teori al-Ghazali dalam masalah ru’yatullah. Wallahu A’lam bisshowab.

Nur Faricha