Terkuak! Ternyata Kopi Selama Ini adalah Minuman Para Sufi

Kopi Minuman Para Sufi

Pecihitam.org – Siapa yang tidak kenal kopi, minuman ini menjadi favorit orang-orang yang ahlul melek alias gemar begadang. Walaupun sekarang kopi juga sudah menjadi minuman umum yang hampir digemari setiap kalangan. Namun tahukah kamu kalau ternyata kopi juga termasuk minuman para sufi? Belum percaya? berikut ulasannya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kopi ternyata sudah terkenal pada masa ulama terdahulu, sebagaimana kesaksian dari ilmuwan Muslim Ar-Roziy (865 – 925 M) dan Ibnu Sina (980 – 1037 M). Mereka menyatakan kopi telah dikenal di kalangan umat Islam pada awal abad ke-10 M. Minuman ini pertama kali dinikmati dan dibudidayakan oleh masyarakat Yaman. Mereka menyebut minuman kopi sebagai Al-Qahwah.

Konon katanya, peminum pertama kopi adalah kaum sufi yang menggunakannya sebagai stimulan agar tetap terjaga selama berdzikir pada malam hari. Hal ini terbukti setelah ditemukan beberapa karya para ulama sufi yang khusus membahas mengenai kopi, khususnya mengenai hukum minuman kopi dan faidah meminum kopi.

Diantaranya Sayyid Al Allamah Abdurrohman bin Muhammad Al Aidrus dalam Risalah Inusi as-Shofwah bi Anfusi al-Qohwah, juga Al Imam Al Faqih Syeh Bamakhromah mengarang syair tentang kopi yang Syairnya di komentari oleh banyak ulama.

Tak lupa di Indonesia sendiri juga ada Syekh Ikhsan Jampes Kediri dengan karyanya kitab Kopi dan Rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan fi Syurbil Qohwah wa Ad Dukhon. Ada pula Syekh Abdul Qadir bin Syekh dalam kitab Shofwatu As Shofwah fi Bayan Hukmi al Qohwah, dalam kitab Tarikh Ibnu Toyyib mengenai keutamaan Kopi serta masih banyak lagi ulama yang menjelaskan tentang kopi.

Baca Juga:  Istimewanya Idul Fitri 2020, Meski Sholat Ied pun Harus di Rumah Aja

Adapun berikut komentar para ulama terkait dengan kopi:

Al Imam Ibnu Hajar Al Haitami mengatakan;

ثم اعلم ايها القلب المكروب أن هذه القهوه قد جعلها اهل الصفاء مجلبة للأسرار مذهبة للأكدار وقد اختلف في حلها اولا وحاصل ما رجحه ابن حجر في شرح العباب بعد ان ذكر أنها حدثت في اول قرن العاشر . ان للوسائل حكم المقاصد ،فمهما طبخت للخير كانت منه وبالعكس فافهم الأصل

“Lalu ketahuilah duhai hati yang gelisah bahwa kopi ini telah dijadikan oleh orang-orang yang bersih hatinya (ahli shofwah) sebagai pengundang akan datangnya cahaya dan rahasia Tuhan penghapus kesusahan. Para ulama berbeda pendapat akan kehalalannya, akan tetapi hasil yang diunggulkan oleh Ibnu Hajar dalam kitab Syarhul Ubab setelah penjelasan bahwa asal usul kopi di awal abad ke-10 Hijriah memandang berdasarkan Qaidah “Bagi perantara menjadi hukum tujuannya” maka selama kopi ini dimasak untuk kebaikan maka akan mendapat kebaikannya, begitu juga sebaliknya, maka fahami asalnya.”

Syaikh Abdul Mu’thiy bin Hasan bin Abdullah bin Ahmad Bakatsir Al-Hadromi, juga putra beliau bernama Ahmad serta beberapa nama lain menuliskan bait nadhom yang berisi sanjungan terhadap kopi sebagai minuman yang banyak manfaat dan untuk penambah semangat ibadah kepada sang Pencipta.

قَدْ أَقْبَلَتْ وَ سَوَادُهَا يَتَوَقَّدُ وَ مِنَ الْعَجَائِبْ أَنْ يُضِيْئَ اْلأَسْوَدُ
بِسَوَادِهَا ابْيَضَّتْ قُلُوْبُ أُولِي النُّهَى بِسَوَادِهَا سَادَ السَّوَادَ وَ يُحْمَدُ

Baca Juga:  Mengapa Mesir Disebut Sebagai Bumi Para Nabi? Ternyata Ini Alasannya!

“Kopi memang hitam namun menyalakan semangat, bahkan memancarkan cahaya.”
“Hitamnya kopi membuat hati orang-orang kelas tinggi memutih, sehingga mereka terpuji melebihi kebanyakan manusia.”

Ada pula Syaikh Bamakhromah beliau berkata :

“Dalam cangkir kerinduan itu membuat orang yang meminumnya berada dalam tingkatan para perindu dan mengenakannya pakaian ahli pecinta dalam kedekatan kepada Allah. Bahkan jika seandainya diminum oleh seorang Yahudi maka niscaya hatinya akan mendapatkan tarikan hidayah dan inayah Tuhan.”

Begitupun al-Habib Abdurrahman Shofi Assegaf, al Arif billah mengatakan : “…Bahwa kopi yang disiapkan oleh para Sufi ini esensinya untuk menarik hati kepada Allah SWT maka pahamilah isyarah serta bedakan antara setiap argumentasi”.

Imam Ahmad As-Subki juga berkata:

قال احمد بن علي السبكى ; واما منافعها يعني القهوه تقريبا … فالنشاط للعبادة والأشغال المهمة وهضم الطعام وتحليل الرياح والقولنج والبلغم كثيرا

“Kopi manfaatnya yaitu kira-kira untuk membuat semangat ibadah dan pekerjaan, penting juga untuk menghancurkan makanan, agar tidak masuk angin dan menghilangkan dahak yang banyak.”

Adapun, orang yang mengatakan bahwa kopi (qahwah) mirip dengan nama khomer sebab namanya, maka dalam kitab Inasus Shafwah, ulama juga memberikan jawaban sebagai berikut:

“Penamaan qohwah bagi sebagian orang menganggap serupa dengan khomer, tentu tuduhan ini tidak berdasar sebab tidak harus kesamaan nama juga menunjukkan sama maknanya, bahkan para sholihin dan shadat membuktikan bahwa kopi digunakan untuk beribadah kepada Allah SWT.”

Dalam Tarikh Ibnu Thayyib dikatakan:

Baca Juga:  Makna Islam Kaffah dalam Pandangan Nadirsyah Hosen dan Ibnu Asyur

يا قهوة تذهب هم الفتى # انت لحاوى العلم نعم المراد
شراب اهل الله فيه الشفا # لطالب الحكمة بين العباد
حرمها الله على جاهل # يقول بحرمتها بالعناد

“Kopi adalah penghilang kesusahan pemuda, senikmat-nikmatnya keinginan bagi engkau yang sedang menuntut ilmu.”
“Kopi adalah minuman orang yang dekat pada Allah di dalamnya ada kesembuhan bagi para pencari hikmah di antara manusia.”
“Kopi diharamkan bagi orang bodoh dan mengatakan keharamannya dengan keras kepala.”

Dari banyaknya para ulama Sufi yang berkomentar tentang minuman kopi, pada prinsipnya mereka menggemari kopi tersebut karena dengan meminumnya mereka bisa menahan rasa kantuk dan lebih giat beribadah, terutama pada malam hari ketika banyak manusia yang tertidur lelap.

Maka dapat disimpulkan, bahwa kopi merupakan minuman para sufi yang digunakan untuk taqarrub, mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal inilah yang seharusnya di contoh pula oleh manusia-manusia zaman ini. Sehingga esensi nongkrong dan ngumpul ditemani kopi akan lebih berfaedah dan memiliki nilai ibadah disisi Allah. Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik