Teungku Abu Bakar Aceh, Ulama Nusantara yang Produktif

Teungku Abu Bakar Aceh

Pecihitam.org – Beliau bernama lengkap Prof. Dr. Tgk. H. Abu Bakar bin Tgk. H. Abdurrahman. Ayahnya berasal dari Peureumbeu, Aceh Barat, sedangkan ibunya bernama Hj. Naim, berasal dari Peulanggahan, Banda Aceh. Teungku Abu Bakar Aceh lahir dari keluarga Ulama di Peureumbeu, Aceh Barat pada tanggal 7 Rabiul Akhir 1327 H atau bertepatan dengan 28 April 1909 M. (Biografi Ulama Aceh Abad 19, Jilid 2, Cet. ke-2)

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Beliau memiliki dua orang istri, dari istri pertama yang bernama Suwarni beliau dikarunian enam orang anak, sedangkan dari istrinya yang kedua tidak mempunyai anak.

Pendidikannya

Masa kecilnya lebih banyak dihabiskannya dengan belajar membaca Al-Quran pada orang tuanya ketimbang menghabiskan waktu dengan bermain. Disamping itu beliau juga memperdalam ilmu agama lainnya dari bebrapa Teungku (Kiyai) di Desanya.

Semenjak kecil bakatnya sudah mulai menunjukkan ketertarikan untuk mempelajari ilmu-ilmu agama. Oleh karena itu ia juga sempat memperdalam ilmu agama pada Teungku H. Abdussalam Meuraxa dan di Dayah Manyang Tuanku Raja Keumala di desa Peulanggahan, Banda Aceh, setelah lulus dari Volkschool di Meulaboh.

Setelah mempelajari ilmu agama di Dayah-dayah di Aceh, kemudian beliau melanjutkan pendidikannya ke Kweekschool Islamiyah di Sumatera Barat. Kemudian Teungku Abu Bakar Aceh berangkat ke Jakarta untuk menimba ilmu lainnya, khususnya dalam bidang ilmu Bahasa.

Baca Juga:  Biografi Syaikh Kholil al Bangkalani al Maduri

Cakrawalanya semakin terbuka semenjak berada di Jakarta. Disana beliau berinteraksi dengan berbagai orang serta bersentuhan dengan berbagai cabang ilmu pengetahuan. Beliau sangat menyadari bahwa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, mestilah menguasai Bahasa asing, khususnya Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.

Karena itulah beliau memutuskan untuk mendalami berbagai Bahasa asing selama berada di Jakarta, melalui kursus-kursus yang ada disana kala itu. Sehingga akhirnya beliau dapat menguasai beberapa Bahasa asing seperti Arab, Inggris dan Belanda.

Teungku Abu Bakar Aceh masih sangat haus akan ilmu pengetahuan, sehingga beliau pun berusaha untuk melanjutkan pendidikannya ke Mekkah sekaligus melaksanakan Ibadah Haji ke Baitullah Yang Mulia. Selama di Mekkah dan Madinah, beliau mengikuti orang tuanya dan sempat berkenalan dengan dengan beberapa Ulama besar disana dan mempelajari ilmu dari mereka.

Kiprahnya Untuk Agama dan Bangsa

Pengetahuannya yang luas dalam bidang ilmu agama Islam sebisa mungkin diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Teungku Abu Bakar Aceh pernah menjabat sebagai Departemen Agama Republik Indonesia dan hingga akhir hayatnya beliau menetap di Jakarta.

Baca Juga:  Nashirudin al Bani, Ulama Hadits Panutan Wahabi dan Kontroversinya

Sebelum menetap di Jakarta, beliau sempat terlebih dulu tinggal beberapa lama di Yogyakarta dalam rangka menjalani tugas sebagai pegawai Depag dan menimba ilmu pengetahuan disana. Dikarenakan dirinya yang berwibawa besar dan memiliki ilmu agama yang luas, beliau menjadi pemimpin masyarakat Aceh di Yogyakarta kala itu dan menjadi tempat bertanya seputar agama dan juga masalah lainnya.

Teungku Abu Bakar Aceh adalah Ulama yang produktif, hal ini bisa kita lihat dari berbagai karya tulisnya yang beliau sumbangkan untuk ummat dimasa yang akan datang. Diantara karya-karya beliau adalah:

  1. Sejarah Al-Quranul Karim
  2. Sejarah Mesjid
  3. Sejarah Ka’bah
  4. Riwayat Hidup Nabi Muhammad
  5. Teknik Khutbah
  6. Islam dan Kemerdekaan Beragama
  7. Pengantar Ilmu Tarekat
  8. Ibnu ‘Arabi Tokoh Tasawuf dan Filsafat Agama
  9. Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf
  10. Ilmu Fiqih Islam dalam Lima Madzhab
  11. Perjuangan Wanita Islam
  12. Ahlussunnah Wal-Jama’ah
  13. Sekitar Masuknya Islam ke Indonesia
  14. Ilmu Ketuhanan
  15. Pendidikan Sufi
  16. Islam Sumber Jihad dan Ijtihad
  17. Syiah Rasionalisme dalam Islam
  18. Tarekat dalam Tasawuf
  19. Wasiat Ibn Arabi
  20. dan lain-lain.

Suri tauladan yang baik yang diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari serta sikap kepekaannya dalam berbagai bidang kehidupan sosial masyarakat telah membuatnya menjadi orang yang dicintai oleh rakyat.

Baca Juga:  Ini Warisan-Warisan Syekh Wahbah Zuhaili

Dalam Setiap konflik, beliau juga selalu muncul sebagai salah seorang penengah yang bijak. Oleh karenanya, pemerintah daerah pernah mengundang beliau untuk menjadi penengah dalam penyelesaian “Peristiwa Aceh” tahun 1953.

Akhir Hayat

Sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT, setiap yang bernyawa pasti akan mengalami yang namanya maut. Teungku Abu Bakar Aceh rahimahullah menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 27 Muharram 1400 H, bertepatan dengan 17 Desember 1979.

Beliau meninggal dunia setelah beberapa waktu lamanya menderita sakit. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Karet Jakarta pada keesokan harinya, yakni 18 Desember 1979.

Demikian biografi singkat Ulama Nusantara asal Aceh yang dikagumi oleh Presiden Soekarno terkait keluasan ilmu pengetahuannya, yang kemudian Sang Presiden pertama RI tersebut  membubuhkan nama “Atjeh/Aceh” diujung nama Teungku Abu Bakar sehingga terkenallah beliau dengan sebutan “Teungku Haji Abu Bakar Aceh”. Sekian, semoga bermanfaat. Wallahua’lambisshawab!

Muhammad Haekal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *