Tiga Tujuan Allah Menciptakan Manusia, Apa Sajakah Itu? Ini Penjelasannya dalam Al-Quran

Tiga Tujuan Allah Menciptakan Manusia, Apa Sajakah Itu? Ini Penjelasannya dalam Al-Quran

PeciHitam.org – Segala hal yang diciptakan oleh Allah memiliki manfaat dan tujuan. Bahkan setan sekalipun yang notabenenya selalu menggoda dan menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan. Ibnu Athaillah As Sakandari dalam kitab Al-Hikam menjelaskannya sebagai berikut:

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

جعله لك عدوا ليوحشك به إليه وحرك عليك النفس ليدوم إقبالك عليه

“Allah menjadikan setan sebagai musuhmu agar kau benci kepadanya dan berlindung kepada-Nya. Dia juga tetap menggerakkan nafsumu supaya kau selalu menghadap kepada-Nya”

Terlebih lagi manusia, tentu memiliki tujuan diciptakannya. Kita mungkin sering bertanya-tanya, mengapa Allah menciptakan manusia? Syekh Ali Jumuah pernah membahas mengenai pertanyaan “mengapa Allah menciptakan manusia?”.

Menurut Syekh Ali Jumuah, sedikitnya ada 3 tujuan Allah menciptakan manusia, antara lain untuk beribada kepada Allah, merawat dan memakmurkan bumi, dan tidak membuat kerusakan di dalamnya, serta untuk Tadzkiyat al-Nafs (penyucian diri). Berikut ini kami jelaskan rinciannya:

Pertama, tujuan utama Allah menciptakan manusia ialah untuk beribadah kepada Allah, menjalankan perintah-Nya, meninggalkan segala larangan-Nya sebagai hamba yang menjalankan tanggung jawab taklif dan untuk melewati ujian kehidupan sebagai hamba-Nya. Hal ini terekam jelas dalam firman Allah:

Baca Juga:  Mengapa Sepanjang Sejarah Wahabi dan Syiah Selalu Berseteru?

وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون,

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka mau menjadi hamba yang menyembah-Ku” (QS: al-Dzariyat: 56)

Gus Dur pernah menafsirkan ayat di atas. Menurutnya dengan adanya konteks ini, manusia selalu merasakan kebutuhan akan Tuhan, dan dengan demikian ia tidak berbuat sesuka hati.

Karena itulah, akan ada kendali atas prilakunya selama hidup. Sehingga sebenarnya kehidupan dunia ini adalah ladang tempat beramal untuk kehidupan akhirat.

Kedua, tujuan Allah menciptakan manusia selanjutnya yaitu agar merawat dan melestarikan bumi serta tidak membuat kerusakan di dalamnya. Seperti firman Allah berikut:

ولا تعتدوا إن الله لايحب المعتدين

“Janganlah melampaui batas, karena Allah tidak suka pada orang yang melampaui batas” (QS. Al-Baqarah: 190)

Rasulullah Saw juga mengingatkan dalam sabdanya:

الظلم ظلمات يوم القيامة

“Kelaliman adalah kegelapan yang berlipat di hari kiamat”

Jadi kita diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah ini bermakna luas, karena ibadah disini tidak hanya diartikan sebagai ibadah ritual saja, melainkan juga mencakup ibadah memakmurkan bumi dan mengembangkan kehidupan yang dengan melakukan hal tersebut kita juga dapat mendapatkan pahala.

Baca Juga:  Inilah Contoh-contoh Bid'ah Hasanah Menurut Mayoritas Ulama

Memakmurkan bumi bukan hanya melindungi hewan dan tumbuhan. Melainkan juga melindungi ‘ciptaan Tuhan’ yaitu manusia. Manusia adalah ‘ciptaan Tuhan’, terkutuk siapa pun yang mencoba melenyapkannya.

Ketiga, kita juga diciptakan untuk Tazkiyatun Nafsi (Penyucian diri). Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (*) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh sengsara orang yang mengotori jiwanya” (QS. Al-Syams: 9-10 ).

Adapun Tazkiyah ini akan bisa dicapai dengan sedikit makan, sedikit tidur, sedikit bicara, sedikit berinteraksi dengan manusia.

Maka kita harus menyucikan diri dengan tarbiyah (pendidikan jiwa), berzikir, berpikir, mengosongkan hati dari sifat tercela, dan menghiasnya dengan segala sifat terpuji.

Dalam Tafsir Departemen Agama, pada surat Al-Syams ayat 9 & 10 ini dijelaskan bahwa, Allah SWT menerangkan tentang betapa beruntungnya orang-orang yang menyucikan jiwanya dan memupuknya sehingga dapat mencapai kesempurnaan akal dan perbuatan yang membuahkan kebaikan untuk dirinya dan orang lain.

Baca Juga:  Pembunuh Ali Bin Abi Tholib Ternyata Seorang Hafidzh Qur'an

Dan sebaliknya orang tidak beruntung ialah orang yang merugikan dan menjatuhkan diri ke dalam jurang kebinasaan disebabkan melakukan perbuatan maksiat dan menjauhkan amal kebaikan dan akan mendapat siksaan di akhirat nanti.

Demikian kiranya gambaran mengenai tujuan diciptakannya manusia. Kita sebagai manusia yang diutus oleh Allah utamanya untuk beribadah kepada-Nya. Sudah sepantasnya menjalankan apa-apa yang diperintahkan, dan menjauhi segala larangan-Nya.

Mohammad Mufid Muwaffaq