Tinta Ulama Laksana Darah Para Syuhada’

Tinta Ulama Laksana Darah Para Syuhada'

Pecihitam.org – Berdakwah melalui tulisan pada era digital hari ini perlu digalakkan. Karena dengan dakwah melalui tulisan, melalui media, jangkauannya lebih luas dibanding dakwah dengan lisan. Oleh karena, itu wajar jika ada istilah tinta ulama laksana darah para syuhada’.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud

العلماء ورثة الأنبياء

Ulama adalah pewaris Nabi (HR. Abu Dawud)

Maka cara yang sangat efektif bagi para ulama untuk mewasiatkan warisan ilmu dari Nabi untuk disampaikan kepada ummatnya adalah dengan menulis.

Begitulah yang dipraktekkan oleh para ulama pewaris Nabi. Sebut saja Imam Al-Ghazali, Imam Nawawi atau ulama asal Indoensia seperti Syaikh Nawawi Banten.

Kitab-kitab atau tulisan mereka begitu banyak dan menjadi rujukan utama dalam Islam. Andai saja mereka tidak menulis kitab-kitab, tidak ada yang menggaransi bahwa kita yang hidup hari ini akan mengenal Islam secara komprehensif.

Baca Juga:  Hidup Bermewah-mewahan dalam Islam, Telaah Atas Kisah Kaum Add dalam al-Quran

Melalui karya-karya mereka baik dalam bidang Al-Qur’an, Hadis, Fiqh hingga tasawwuf, kita menjadi mengenal Islam yang rahmah ini.

Tak mengherankan jika kemudian tinta seorang ulama dinilai laksana bahkan lebih berharga daripada darah para syuhada’, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali bahwa “setetes tinta ulama lebih berat timbangannya di sisi Allah daripada darah ribuan para syuhada’ yang meninggal di medan perang.”

Maka, bagi kita aktivis muda Ahlussunnah Wal Jamaah, baik kiranya mengamalkan anjuran Imam Al-Ghazali untuk menjadi penulis. “Jika kau bukan anak seorang raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”

Kenapa? Karena seorang penulis akan tetap abadi. Walaupun badan sudah berkalang tanah, namun tulisannya akan terus hidup sebagai ruh, semangat dalam dakwah.

Baca Juga:  Fii Amanillah, Kalimat Perpisahan yang Memiliki Banyak Kebaikan Namun Jarang Digunakan

Pedang tajam seorang pasukan perang fi sabilllah mungkin hanya bisa menebas satu kepala musuh. Tapi guratan pena, tetesan tinta atau tulisan seorang ulama di media sosial bisa menebus jutaan kepala.

Dengan penuh puitis, Qatadah berkata sebagaimana dinukil oleh Imam Qurthubi dalam tafsirnya.

“Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah. Ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya agama tidak akan berdiri. Kehidupan menjadi tidak terarah.”

KH. Hanafi Khalil, kyai Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Al-Khaliliyah saat manjadi pembina pada upacara HSN 2019 di hadapan sekitar 1.000 kaum santri mengajak para aktivis muda NU untuk menebarkan dakwah melalui tulisan.

“Bagi Anda yang mempunyai keterampilan di bidang menulis, penuhilah media dengan informasi tentang kita, tentang NU dan tentang paham kita”

Baca Juga:  Jangan Pelit Berbagi, Ini Keutamaan Sifat Dermawan yang Harus Kamu Tahu!

Beliau pun mengutip sabda Nabi yang diriwayatkan Ibnu Abdul Barr berikut

يوزن يوم القيامة مداد العلماء بدم الشهداء

Pada Hari Kiamat tinta para ulama ditimbang setara dengan darah para syuhada’.

Faisol Abdurrahman

Leave a Reply

Your email address will not be published.