Tirakat Mistis Antarkan Sutopo Purwo Nugroho Jadi Pejabat

Tirakat Mistis Antarkan Sutopo Purwo Nugroho Jadi Pejabat

Pecihitam.org – Sebagai umat Islam, kita tentu tak asing dengan istilah tirakat. Kegiatan yang juga disebut laku olah batin ini jamak diamalkan sebagian orang demi mencapai tujuan tertentu, seperti sukses dalam kehidupan, menempuh ilmu, dan hajat lainnya.

Mengutip Wikipedia, pengertian tirakat menurut kamus Bahasa Indonesia adalah menahan hawa nafsu, misalnya dengan berpuasa dan berpantang. Terkadang pantangan yang diambil dalam tirakat sangat berat, namun ada saja orang yang bersedia menempuhnya. Bisa jadi hal ini karena dorongan yang sangat kuat ingin mendapat restu dan pertolongan Allah SWT.

Ngomong-ngomong soal tirakat, barangkali sudah banyak contoh seseorang yang berhasil mencapai maksudnya dari menjalankan tirakat. Keluarga tokoh yang disegani di negeri ini salah satunya, yaitu almarhum Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Jika ada di antara pembaca yang belum familier dengan Sutopo, dia adalah orang pertama yang bertanggung jawab mengabarkan potensi bencana seperti tsunami, gempa, sekaligus penanggulangan pasca-kejadian. Namun, pada tulisan ini kita bukan akan mengulas tentang sosok Sutopo, melainkan kisah menarik di balik perjalanan hidupnya.

Baca Juga:  Cerita Santri Bandel Mancing Ikan Di Kolam Kyai

Sutopo meski sudah wafat pada 7 Juli 2019, hingga kini masih menjadi buah bibir bukan saja oleh masyarakat awam namun juga kalangan elit. Kanal YouTube yang dikelola jurnalis dan presenter Najwa Shihab bahkan baru saja merilis video berisikan nostalgia Sutopo, tepatnya Selasa, 24 September 2019. Buku yang mengisahkan perjalanan hidup Sutopo bahkan bertengger di rak best seller nomor satu alias paling laris di Gramedia.

Kembali ke soal tirakat, usut punya usut, pria asal kabupaten Boyolali kelahiran 7 Oktober 1969 hidup dalam kemiskinan sejak lahir. Sutopo kecil tinggal di sebuah kontrakan kecil berdinding gedhek (bambu) berlantai tanah. Ayahnya, Suharsono Harsosaputro adalah tamatan Sekolah Guru B (SGB), yang gajinya hanya cukup untuk beli 20 kilogram beras dalam sebulan. Namun ia menerapkan pakem pendidikan dan menanamkan nilai-nilai kehidupan terhadap kedua anaknya, Sutopo dan Menuk.

Kisah tersebut dituliskan dalam buku Sutopo Purwo Nugroho: Terjebak Nostalgia yang ditulis oleh Fetty Effendy (Agustus, 2019). Di tengah kehidupan yang sulit, Harsono menerima nasihat dari guru spiritualnya.

Baca Juga:  Kisah Malik bin Dinar dan Majusi yang Masuk Islam

“Kamu jalankan tirakat, tidur di makam selama tujuh hari tujuh malam. Kamu tidak makan dan tidak akan makan kalau tidak ada orang yang memberi.”

Harsono mengikuti nasihat itu. Siang hari ia mengajar, dan pulangnya langsung ke tengah pekuburan sampai pagi lagi. Tentunya sambil menahan lapar. Kalau dipikir-pikir pesan gurunya itu, siapa yang akan membawa makanan malam-malam buta ke kuburan? Duduk di tepi jalan siang hari saja belum tentu ada yang memberi makan.

Singkat cerita, pada malam terakhir, bertepatan dengan malam Jumat Kliwon, Harsono bermimpi seperti sedang mengantarkan kedua anaknya ke sekolah. Padahal waktu itu, Sutopo dan Menuk belum usia sekolah. Mereka berseragam tapi tidak memakai sepatu. Sekolahnya bertingkat, padahal waktu itu di Boyolali bahkan belum ada rumah bertingkat.

“Malam itu juga, ini kata orang-orang yang tirakatan juga di makam, seperti ada wahyu yang jatuh di tempat yang saya tiduri. Orang-orang bilang bentuknya seperti lampu petromaks, tapi saya tidak rasa, saya hanya mimpi ngantar anak-anak ke sekolah,” cerita Bapak Sutopo.

Baca Juga:  Siti Khadijah, Seorang Janda yang Menjadi Istri Pertama dan Tercinta Nabi Muhammad SAW

Harsono lantas bergegas menemui gurunya dan menceritakan perihal mimpi itu. Gurunya menafsirkan, “Anakmu orang sak baene (anakmu tidak sembarangan). Mudah-mudahan Tuhan meridai, tirakatmu diterima.”

Sutopo mengawali perjalanan hidupnya dari keluarga miskin dengan segala keterbatasan. Namun di akhir usia, namanya harum sebagai salah satu orang yang berjasa bagi negeri. Pada hari ia meninggal, alumni Universitas Gajah Mada dan Institut Pertanian Bogor ini mendapat bela sungkawa langsung dari Presiden Jokowi yang dituliskan dalam cuitannya:

“Hidup itu bukan soal panjang-pendeknya usia, melainkan seberapa besar kita dapat membantu orang lain’, kata Pak Sutopo, suatu ketika. Dan dia mengamalkan kalimat itu dengan baik.”

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *