Titik Temu Ajaran Tasawuf dan Mistik Kejawen

tasawuf kejawen

Pecihitam.org – Dari segi peristilahan, antara tasawuf dan mistik memang memiliki makna yang saling berdekatan. Tasawuf sering disejajarkan dengan mistisisme. Bahkan ada pula yang menyebut dengan istilah mistik Islam kejawen.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tasawuf merupakan bentuk mistik dalam Islam, yang berupaya agar hati manusia menjadi baik dan lurus dalam menuju Allah dengan cara olah batin secara terus-menerus.

Beberapa pakar tasawuf mengatakan istilah tasawuf berasal dari bahasa Yunani “sophos”, yang artinya hikmah atau keutamaan. Tasawuf adalah ajaran mistik yang diusahakan oleh segelongan umat Islam dan disesuaikan dengan ajaran Islam berbasis syari’at. Dalam bahasa Jawa, ajaran tasawuf ini disebut dengan kasunyatan atau dunia hakikat.

Tasawuf merupakan bentuk peningkatan akhlak, untuk membersihkan batin. Aktivitas tasawuf akan mendasarkan batin pengalaman intuitif secara langsung. Tujuan tasawuf adalah ketentraman rohani.

Mula-mula, ajaran tasawuf lebih menekankan tindakan zuhud, yang artinya menuju pada sikap hidup yang serba sederhana dan menari diri dari segala sesuatu yang bersifat keduniawian.

Sementara, seorang penganut ajaran tasawuf biasanya disebut dengan sufi. Sufi artinya suci; yakni manusia-manusia yang selalu menyucikan diri dengan latihan-latihan mental dan kejiwaannya.

Baca Juga:  Macam Kaidah Dzikir dalam Tarekat, Bagaimana Sajakah?

Secara bahasa, istilah sufi berasal dari kata Shafa atau Shafwun yang artinya bening dan jernih. Hati seorang sufi selalu dikarunia kejernihan, sebab ada kebersihan batin di hatinya.

Dalam ajaran mistik kejawen, para sufi ini biasanya disejajar dengan sebutan nimpuna, yakni manusia-manusia yang mengamalkan ajaran spiritual untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, yang dalam bahasa mistiknya dikenal dengan sebutan manunggaling kawula Gusti.

Memang, tidak semua ajaran sufi membenarkan ajaran manunggaling kawula Gusti, atau dalam istilah Ibnu Arabi dikenal dengan “Wahdatul Wujud” (penyatuan wujud antara manusia dan Allah”. Tapi, hakikat tertinggi dari semua ajaran tasawuf adalah bagaimana seorang hamba bisa selalu dekat dengan Allah, yang dalam artian lain seorang hamba bisa menyatu dengan kekasihnya. Dengan begitu, ajaran mistik kejawen tidak jauh berbeda dengan tasawuf Islam.

Dengan kata lain, tasawuf dan mistik kejawen memiliki titik temu yang jelas. Yakni sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jika tasawuf mengandalkan pemusatan batin melalui uzlah (meditasi/dzikir), maka ajaran mistik yang berkaitan dengan pengenalan seorang hamba kepada Tuhannya, dilakukan melalui jalan meditasi atau kesadaran spiritual yang bebas dari campur tangan akal manusia.

Baca Juga:  Bagaimana Korelasi Tasawuf dengan Keilmuan? Berikut Penjelasannya

Dalam hal ini, tujuan utama mistik Jawa dan tasawuf adalah pencapaian makrifat yang setinggi-tingginya. Jalan untuk sampai pada taraf ini bisanya melalui tarekat. Tarekat sendiri adalah cara penyucian hati dari segala bentuk ikatan duniawi yang dicapai melalui tujuh taraf peningkatan suasana hati yang dinamai sebagai maqam, di antaranya; taubat, fakir, wara, zuhud, sabar, tawakal, dan rela.

Ketujuh maqam itu merupakan langkah penyucian batin ke arah pembinaan pencapaian budi luhur. Bila hati sudah suci, maka ia bisa melangkah ke tahap selanjutnya, yakni meditasi atau semedi. Yakni pengkonsetrasikan seluruh pikiran dan kesadaran lahirian untuk menangkap keagungan Allah dengan bacaan-bacaan dzikir.

Bila manusia telah mencapai tahap meditasi dan mendapatkan hasil, maka ia akan melihat nur gaib dalam mata hatinya. Dengan begitu, seluruh kesadarannya telah terpusat ke alam batin, sehingga kesadaran akan dunia luar sedikit demi sedikit lenyap (fana).

Hal inilah yang dalam kepustakaan kejawen seperti Serat Centhini disebut dengan fana. Dalam tasawuf memang ada dualisme, di satu sisi menyakini dirinya menarik garis perbedaan tegas dengan Allah. Penganut ini mempercayai bahwa insan kamil hanyalah sampai ke hadhirat Allah, yakni ketika hidupnya diimbasi sifat ketuhanan.

Baca Juga:  Takhalli Tahalli dan Tajalli dalam Konsep Tasawwuf Imam Al-Ghazali

Sedangkan di sisi lain mempercayai paham panteisme dan monisme yang disebut dengan wahdatul wujud atau manunggaling kawula Gusti. Kedua konsep ini, juga sama-sama diyakini dalam ajaran mistik kejawen sebagaimana adanya dalam tasawuf.

Di lain hal, paham tasawuf sering memanfaatkan kekuatan magi (karomah), mistik kejawen pun juga begitu. Magi, awalnya bermakna religi, ajaran, dan pemimpin, namun lambat laun maknanya berkembang menjadi kekuatan sakti mandraguna.

Bila dalam mistik kejawen sering menerapkan Rajah Kala-cakra sebagai benda bertuah untuk menyembuhkan orang sakit, maka dalam tasawuf penggunaan hal-hal semacam itu dengan menggunakan asma al-husna. Keduanya seringkali mengharap sesuatu berupa karomah.

Dengan demikian, titik temu antara tasawuf dan mistik kejawen sulit sekali ditolak. Pemanfaatkan secara bersama-sama antara Primbon Betal Jemur Adam Makna dan Kitab Mujarabat, adalah bukti yang tidak bisa dipungkiri. Sebab, banyak yang menduga bahwa kedua kitab ini bersumber dari kitab tasawuf Ihya ‘Ulumuddin karya Imam Ghazali.

Rohmatul Izad

Leave a Reply

Your email address will not be published.