Membaca Manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani, Tradisi Mayoritas Umat Islam

manaqib syekh abdul qodir jailani

Pecihitam.org – Beragam tradisi yang berkembang di masyarakat Umat Islam, ada salah satu tradisi yang biasanya disebut dengan istilah manaqiban.  Yaitu pembacaan manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani yang umumnya dilaksanakan setiap tanggal 11 dari bulan bulan hijriyah.

Pembacaan manaqib ini  merupakan ajaran yang telah diturunkan dari para ulama zaman dulu sebagai langkah taqarruban. sehingga dibeberapa tradisi masyarakat banyak yang menggunakan manaqiban sebagai wasilah doa dalam membangun rumah mereka, ada hajat pernikahan, dan kegiatan hajat lainnya. Lantas bagaimana tianjauan kajian dari pembacaan manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani tersebut ?

Syaikh Abdul Qadir al Jilani adalah waliyullah dan merupakan dari sebagian hamba yang mendapatkan keutamaan dari Allah SWT. Beliau dipilih oleh Allah sendiri sebagai kekasihnya. Banyak kisah dan sejarah hidup dari para waliyullah yang kemudian dirangkum dalam satu kisah yang disebut dengan istilah manaqib, Kisah ini kemudian dibukukan sebagai tuntunan hidup bagi siapaun yang membacanya, salah satunya adalah manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani.  

Salah satu fungsi dari pembacaan manaqib ini adalah sebagai sarana menambah rasa cinta kita kepada para awliya’. Dari kegiatan ini, diharapkan bagi mereka yang membaca dapat mengambil pelajaran dari kisah tersebut dan semakin dekat dengan Allah SWT .

Baca Juga:  Begini Strategi Dakwah Wali Songo Dalam Islamisasi Di Jawa

Dari penjelasan diatas dapat kita ambil pemahaman bahwa membaca manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani merupakan kegiatan yang baik. Kegiatan ini akan banyak mendatangkan manfaat dan pelajaran hidup yang dapat diambil dari kisah dan perjalanan hidup belau.  Selain itu, beliau yang disemati gelar sebagai sulthan al-awliya`  merupakan kekasih Allah SWT, sehingga ketika seseorang mencintai kekasih-Nya maka ridho Allah akan selalu menaunginya.

اِعْلَمْ يَنْبَغِي لِكُلِّ مُسْلِمٍ طَالِبِ الْفَضْلِ وَالْخَيْرَاتِ أَنْ يَلْتَمِسَ الْبَرَكَاتِ وَالنَّفَحَاتِ وَاسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ وَنُزُوْلِ الرَّحْمَاتِ فِيْ حَضَرَاتِ اْلأَوْلِيَآءِ فِيْ مَجَالِسِهِمْ وَجَمْعِهِمْ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا وَعِنْدَ قُبُوْرِهِمْ وَحَالَ ذِكْرِهِمْ وَعِنْدَ كَثْرَةِ الْجُمُوْعِ فِيْ زِيَارَاتِهِمْ وَعِنْدَ مُذَاكَرَاتِ فَضْلِهِمْ وَنَشْرِ مَنَاقِبِهِمْ

“Ketahuilah! Seyogyanya bagi setiap muslim yang mencari keutamaan dan kebaikan, agar ia mencari berkah dan anugrah, terkabulnya doa dan turunnya rahmat di depan para wali, di majelis-majelis dan kumpulan mereka, baik yang masih hidup ataupun sudah mati, di kuburan mereka, ketika mengingat mereka, dan ketika banyak orang berkumpul dalam berziarah kepada mereka, serta ketika mengingat keutamaan mereka, dan pembacaan riwayat hidup mereka”. (Alawi al-Haddad, Mishbah al-Anam wa Jala` azh-Zhulam, Istanbul-Maktabah al-Haqiqah, 1992 M, h. 90)

Baca Juga:  Nahdliyyin Senang Tahlilan, Ternyata Ini 4 Keistimewaan Membaca Tahlil

Dalam tradisi pembacaan manaqib tersebut para ulama nusantara melengkapinya dengan menambahkannya unsur sedekah di dalamnya. Ini merupakan bentuk hubungan sosial yang coba dimasukkan nilai-nilainya dalam sebuah tradisi agama. Dari sini seseorang dapat mengambil pelajaran tentang bagaimana cara  menghormati tamu undangan..

Memuliakan tamu merupakan bentuk dari tanda kesempurnaan keimanan. Keterangan tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah saw; “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir (dengan iman yang sempurna) maka hendaknya ia memuliakan tamunya” (H.R. Bukhari-Muslim).

رَغَّبَ الإْسْلاَمُ فِي كَرَامَةِ الضَّيْفِ وَعَدَّهَا مِنْ أَمَارَاتِ صِدْقِ الإْيمَانِ ، فَقَدْ وَرَدَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَال : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآْخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Baca Juga:  Betulkah Islam Nusantara Itu Agama Baru dan Anti Arab? Itu FITNAH

“Islam sangat menganjurkan kepada umatnya untuk memuliakan tamu, dan mengkategorikan pemulian kepada tamu sebagai salah satu tanda benarnya keimanan. Sungguh, Nabi saw telah bersabda; ‘Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir (dengan iman yang sempurna) maka hendaknya ia memuliakan tamunya” (Lihat, Wizarah al-Awqaf wa asy-Syu`un al-Islamiyyah-Kuwait, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Mesir-Mathabi` Dar ash-Shafwah, cet ke-1, juz, 24, h. 218)   

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa pembacaan manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani merupakan tradisi yang baik dan benar. Kisah-kisah yang tertulis didalamnya memberikan kita ibrah dan pembelajaran hidup yang kompleks. Ditambah dengan unsur sedekah dan bentuk keutamaan memuliakan tamu menambah nilai kemanfaatan dari tradisi tersebut. 

Wallahua’lam Bissowab

Habib Mucharror

Content Creator at Pecihitam.org
Santri Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Habib Mucharror
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi, menyedekahkan sebagian harta kamu di Jalan Dakwah

DONASI SEKARANG